
Aneska merasa malu, dia tidak bisa membayangkan wajahnya ketika di beri kenikmatan sama suaminya.
"Abian." Ucap Anes pelan.
"Iya." Abian menatap wajah istrinya dengan lembut.
"Boleh aku tanya."
"Apa sayang." Ucap Abian sambil mengelus pipi istrinya.
"Apa kamu melakukan yang tadi karena napsu atau karena ingin mengambil hak kamu." Tanya Aneska.
"Melakukan hubungan itu pasti karena adanya suatu napsu, tapi bukan itu saja, aku meminta hakku karena aku sayang sama kamu. Aku ingin terus bersama dengan kamu. Aku cinta sama kamu." Ucap Abian.
Aneska membelalakkan matanya dan merasa terharu, dia meneteskan air matanya.
"Kenapa menangis." Ucap Abian sambil memeluk istrinya.
"Maafkan aku yang tidak tau diri ini. Aku belum tau tentang perasaanku." Aneska menangis.
"Kamu tidak salah sayang, pernikahan kita karena ide gilaku. Aku tau akan sulit untuk mencintaiku. Tapi aku berharap di dalam relung hatimu yang paling dalam akan ada namaku di sana." Ucap Abian sambil menunjuk dada istrinya dengan gerakan kepalanya.
"Hiks hiks." Aneska nangis sesegukan.
"Apa kamu akan meninggalkanku." Tanya Aneska langsung sambil menangis.
"Mana mungkin aku meninggalkan orang yang aku cintai tapi enggak tau kalau kamu." Ucap Abian.
"Ah kamu." Rengek Aneska sambil memukul suaminya.
Abian terus memeluk erat istrinya. Rasa lapar melanda tak di hiraukan keduanya.
"Jika Vania datang apa yang akan kamu perbuat." Tanya Aneska.
"Tidak ada." Jawab Abian singkat.
"Kenapa tidak ada? bukannya pernikahan ini awalnya untuk mencari Vania." Tanya Aneska.
"Awalnya iya, aku akui Vania cinta pertamaku, tapi ketika memelukmu pertama kali ada rasa yang aneh dalam diriku. Aku tidak tau apa artinya. Ketika aku mendengar kamu mau menikah aku marah, karena semua yang aku putuskan harus menjadi milikku tidak ada pengecualian." Jelas Abian.
"Kamu egois banget." Ucap Aneska.
"Iya aku memang egois. Perlakuan mami membuatku jadi egois. Aku benci di perlakukan seperti orang gila. Makanya semua perawat yang masuk ke kamar ini aku hajar." Jelas Abian.
"Iya kamu juga pernah menghajarku."
"Maafkan aku ya, coba hari pertama masuk kamu langsung peluk pasti tanganku tidak akan melayang."
"Seharusnya aku langsung cium aja jadi kamu langsung jatuh cinta samaku."
"Hahaha, kamu genit juga." Ucap Abian sambil menarik hidung istrinya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan kepada nenek sihir kalau kamu tidak gila." Tanya Aneska lagi.
"Untuk apa? dia yang membuat aku jadi gila. Karena perlakuan dia aku seperti orang gila." Ucap Abian marah.
Aneska menenangkan suaminya dengan mengelus pipi Abian.
"Tapi kalau tidak seperti ini kita tidak akan pernah bertemu." Ucap Aneska.
"Iya kamu benar, mungkin kita di pertemukan dengan cara yang berbeda." Ucap Abian masih dengan pelukannya.
"Kapan kamu mencintaiku." Tanya Aneska lagi.
"Aku mencintaimu sejak kamu di cekik Farid."
"Ya ampun kamu suka karena aku mau mati." Ucap Aneska marah.
"Bukan begitu sayang, aku sudah mulai suka ketika kamu menghilang dan ketika kamu pingsan karena ulah Farid, aku semakin cinta dan takut kehilangan kamu." Abian mengecup dahi istrinya.
__ADS_1
"Seberapa besar cinta kamu kepadaku." Tanya Anes lagi.
"Sebesar rasa sayang kamu kepada keluargamu maka sebesar itu cintaku kepadamu." Ucap Abian.
"Oh so sweet, tapi kamu pernah mencintai Vania?"
"Iya tapi dulu. Sekarang kamulah penantian terakhir dan cinta terakhir." Ucap Abian sambil mengecup istrinya.
Aneska merasa berbunga-bunga. Rayuan suaminya membuatnya bahagia.
"Aku lupa." Ucap Abian sambil berlari ke meja kerjanya dan mengambil sesuatu.
"Ini untuk kamu." Abian memberikan ponsel baru untuk istrinya.
"Ya ampun ini kan ponsel keluaran terbaru." Ucap Aneska kegirangan.
"Bukalah."
Aneska membuka kotak ponsel pemberian suaminya.
"Makasih, enggak pernah kepikiran punya ponsel ini kalau makan buahnya pernah." Aneska memeluk suaminya.
Abian mengajari istrinya menggunakan ponsel baru. Dia memotret foto mereka berdua dengan berbagai pose.
"Kurang bagus." Ucap Abian.
"Cium aku." Perintah Abian.
"Enggak ah malu." Aneska menolak.
"Ya udah kalau gitu aku yang cium." Ucap Abian mencium istrinya sambil memotret.
"Jadikan ini wallpaper di kamera kamu."
"Kok yang kissing sih." Gerutu Aneska.
"Hemmm ya udah aku ganti dengan pose belah kelapa mau." Goda Abian.
"Hahaha." Abian kembali memeluk istrinya. Ponselnya berdering.
"Suamiku ponsel kamu berdering." Ucap Aneska.
"Biarkan, aku masih ingin memelukmu."
"Ya udah, aku ambilkan."Aneska hendak turun dari kasur tapi dia merasakan masih nyeri di bagian bawahnya.
"Aw." Aneska meringis.
"Kamu jangan banyak gerak dulu." Abian mengambil ponselnya.
"Ya halo." Ucap Abian.
"Hemmm, baik satu jam lagi saya datang." Ucap Abian kemudian panggilan terputus.
"Sayang, aku harus ke kantor. Kamu tidak boleh keluar kamar. Aku akan menyuruh Tami menemanimu." Ucap Abian.
"Tapi kamu belum makan." Ucap Aneska
"Aku sudah kenyang." Ucap Abian sambil masuk ke ruang ganti.
"Kenyang dari mana?" Teriak Aneska karena ruang ganti dan kasur di tempat yang berbeda.
"Kenyang makan kamu." Ucap Abian sambil menghampiri istrinya. Dia menyerahkan dasinya kepada Aneska. Aneska memakai dasi suaminya.
"Aku akan memerintahkan koki menyiapkan makan siang untuk kamu. Ingat jangan keluar kamar." Abian mengecup istrinya.
"Iya-iya." Ucap Aneska manja. Abian sudah berangkat kerja, tidak berapa lama Tami datang bertepatan dengan pelayan lain yang membawa makanan untuk Aneska.
Setelah menghidangkan semua makanan di atas meja pelayan keluar kamar.
__ADS_1
"Anes kamu udah sembuh." Tanya Tami khawatir sambil meletakkan tangannya di dahi Aneska.
"Udah, mbak bisa ambilkan makan. Aku lapar banget."
Tami mengambilkan makanan untuk temannya.
"Mbak makan yuk, bantu aku menghabiskan semua makanan itu." Ucap Aneska.
"Kalau urusan makan pantang di tolak." Ucap Tami sambil mengambil makanannya.
"Nes, aku perhatikan Abian itu sayang banget sama kamu." Ucap Tami.
"Iya."
"Iya? berarti dia sudah suka sama kamu?" ucap Tami.
"Ho oh." Ucap Aneska singkat.
"Nes, mbak mengajukan pertanyaan sama kamu panjang tapi kamu hanya jawab iya ho oh." Gerutu Tami.
"Terus aku harus jawab apa?"
"Yang detail dong."
"Ah enggak usah di bahas tentang aku dan Abian. Mau dengar kabar gembira enggak." Ucap Aneska.
"Kabar apa?"
"Aku sudah bertemu dengan dokter Arif, dia akan mengusahakan kita untuk kembali bekerja."
"Serius Nes?"
"Ho oh." Jawab Aneska.
"Akhirnya aku bisa meninggalkan istana ini." Ucap Tami senang.
"Siapa bilang meninggalkan istana ini. Kita boleh bekerja tapi tetap tinggal di sini." Ucap Aneska.
"Ya ampun Nes, istana ini kan jauh banget. Bagaimana kalau kita masuk malam? waktu kita bisa habis di jalan." Gerutu Tami.
"Ya gimana lagi, kalau tidak tinggal di sini enggak boleh kerja." Ucap Aneska sambil menikmati makanannya.
"Nes, rayu Abian dong, izinkan mbak tinggal di mes. Kalau kamu memang enggak boleh jauh dari suami. Bantu mbak ya." Ucap Tami.
"Iya nanti kalau sudah pasti aku bicarakan. Mbak ada kabar lagi, pasti mbak terkejut."
"Apa?"
"Dokter Arif suka sama aku."
"What! gimana ceritanya?"
Aneska menceritakan tentang kejadian di kantor Abian, dari menguping sampai pengakuan dokter Arif diceritakannya.
"Terus gimana reaksi Abian?" Tami penasaran.
"Marahlah, mereka mau berkelahi tapi untungnya aku pintar. Aku berpura-pura mau bunuh diri, hahaha." Aneska tertawa kemudian meringis.
"Kenapa Nes." Tanya Tami.
"Mbak aku mau ke kamar mandi." Ucap Aneska sambil menyerahkan piringnya kepada Tami. Aneska menahan rasa sakitnya sambil berjalan ke kamar mandi.
"Ya ampun Nes, kamu pakai baju Abian? ini paha kenapa pada merah semua?" Tami melihat paha temannya yang penuh tato kepemilikan Abian.
"Nes, kalau kata ibu mbak, ini cubitan setan. Pasti kamu sering mandi menjelang magrib, iya kan?" ucap Tami berasumsi sendiri.
"Ih serem." Ucap Aneska sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Nes, jalan kamu kenapa seperti orang melahirkan." Tami penasaran lagi.
__ADS_1
"Iya mbak, aku baru melahirkan anak kucing." Jawab Aneska santai.
Bersambung.