
Zidan dan dokter Arif duduk tidak jauh dari teman-teman Aneska. Dokter Arif melirik ke arah semua perawatnya.
"Rupanya kalian cuti untuk melipat tisu?" celetuk dokter Arif.
"Hehehe, ini ulah Aneska dok." Tunjuk Tami. Aneska hanya tersenyum kik kuk.
"Dok, saya mengundang mereka besok bukan hari ini, tapi karena mereka datang lebih awal, ya tidak salahnya dong kalau mereka membantu." Jelas Aneska.
Dokter Arif hanya menunjukkan wajah datar tanpa berekspresi sama sekali karena dia lebih tertarik mendengar percakapan Zidan dengan Abian.
"Apa oma sudah berangkat?" tanya Abian.
"Saya tidak tau tuan, saya berangkat lebih awal mungkin oma sedang dalam perjalanan." Ujar Zidan.
"Mungkin." Sahut Abian.
"Bagaimana mami kamu?" tanya dokter Arif.
"Entahlah aku tidak yakin dia mau datang, kamu kan kenal siapa mamiku." Ujar Abian dengan rasa kecewa.
Zidan memang asik bercerita dengan dua pria yang duduk di dekatnya tapi matanya tetap memperhatikan ke arah perawat yang melipat tisu.
Tidak berapa lama datang mobil pick up membawa pesanan Abian. "Nes, apa kalian memesan ini?" tanya pak Mirza yang sedang berdiri di depan pintu.
Aneska keluar bersama suaminya. Mobil pick up membawa tempat tidur lengkap dengan kasur lemari dan meja rias.
"Sayang, apa kamu yang memesan semua ini?" tanya Aneska.
"Iya, kasur kamu terlalu kecil untuk kita berdua jadi kemarin di pasar aku lihat ada toko furniture ya aku beli saja. Tapi kualitasnya menurutku kurang bagus." Ujar Abian.
"Ah sayang, menurutku ini udah bagus!" seru Aneska senang seraya memeluk pinggang suaminya.
Tugas Aldo dan Dimas telah berganti yaitu membantu mengeluarkan tempat tidur lama ke kamar Cyra.
"Nes, kenapa hanya kami sih, itu ada tiga pria nganggur." Gerutu Aldo dengan maksud Abian, Zidan dan Arif.
"Kamu kan bilang kalau jari mereka seperti model." Sindir Aneska.
"Tapi enggak gitu juga lagi." Gerutu Dimas.
"Udah yuk angkat pindahkan ke kamar adikku." Aneska menunjuk kamar Cyra yang kebetulan adiknya sedang di kamar.
Kedua pria itu langsung mengangkat semua perabotan ke kamar Cyra tanpa ada keluhan sama sekali. Setelah selesai keduanya kembali duduk bersama Aneska dan teman-temannya.
"Nes, punya adik cakep kok di umpetin sih." Bisik Aldo.
"Iya Nes, kenali dong." Timpal Aldo.
"Idih kalau lihat cewek cantik aja matanya panu." Sahut Tiara.
__ADS_1
"Panu?" tanya semua temannya.
"Maksudku gatel." Jelas Tiara.
"Tinggal bilang gatal aja pakai istilah penyakit kulit." Gerutu Aldo sewot.
"Udah diam, adikku pemalu dia tidak akan mau bergabung jika ada cowok di sini." Jelas Aneska.
"Pemalu kepanjangan dari pemain ludruk ya Nes." Sahut Aldo.
"Terserah yang jelas adikku pemalu." Jelas Aneska lagi.
"Adiknya pemalu kakaknya malu-maluin." Timpal Dimas.
"Nah benar tuh." Aldo setuju dengan ucapan temannya.
Semuanya tertawa tidak ada yang merasa sakit hati dengan candaan mereka. Akhirnya tugas melipat tisu dapat di selesaikan. Semua perawat langsung berbaring di atas tikar tanpa memperdulikan dokter Arif dan Zidan.
"Dok kami boyok!" seru Tiara yang masih berbaring tanpa menoleh ke arah dokter Arif.
"Terus mau di obati?" tanya dokter Arif.
"Makasih dok, cuma info aja." Timpal Tami. Tidak ada rasa malu untuk mereka, mereka berbaring layaknya di rumah sendiri begitupun dengan Dimas dan Aldo ikut berbaring di sebelah teman-temannya.
Melihat hal itu Zidan tidak suka. Dia merasa cemburu jika ada pria yang di samping Tiara, apalagi posisinya berbaring walaupun hanya berbaring dan tidak melakukan apapun dia tidak suka.
"Sebaiknya kalian berbaring di dalam." Ujar Zidan yang membuat para perawat langsung bangun dari posisi berbaring.
"Di sini banyak orang lalu lalang pasti kalian tidak bisa istirahat." Jelas Zidan.
"Hahaha bapak salah kami hanya sekedar meluruskan boyok bukan mau tidur. Dan Tiara kembali berbaring tanpa mengindahkan ujaran Zidan.
Zidan tidak dapat berbuat banyak karena status mereka masih belum jelas. Dan jika dia sudah resmi maka dia akan berencana melakukan seperti yang Abian lakukan yaitu menyuruh Tiara berhenti bekerja dan itu masih dalam tahap perencanaan. Entah kapan terwujud.
***
Tidak terasa waktu telah sore, mobil yang membawa keluarga Abian telah memasuki jalan yang hanya terbuat dari tanah.
"Ya ampun, aku tidak bisa bayangkan jika harus menginap dan tinggal di sini." Gerutu nyonya Rona jijik melihat kampung yang sebenarnya asri dan rumah penduduk yang sangat sederhana membuatnya kurang nyaman jika lama-lama di kampung itu.
"Tapi menurut mami, kita akan menginap di sini." Ujar oma.
"Apa!" Tanisa dan maminya langsung menoleh ke arah oma.
"Maksud mami apa?" tanya nyonya Rona bingung.
"Acara di adakan besok pagi jika kalian mau menginap di hotel itu tandanya kalian harus kembali lagi ke kota, dan perjalanan ke sini membutuhkan waktu berjam-jam, jadi mami yakin kalian tidak akan bisa sampai tepat waktu besok." Jelas oma.
"Mami bagaimana?" rengek Tanisa.
__ADS_1
Nyonya Rona menggunakan aplikasi yang ada di ponselnya. Dia mencari hotel yang paling dekat dari situ.
Nyonya Rona menoleh ke arah anak sulungnya. Dan menggelengkan kepalanya.
"Ah mami jadi gimana dong. Mending aku tidur di mobil aja kalau gitu." Gerutu Tanisa.
"Maaf nona, yang tidur di mobil saya." Timpal supir. Oma dan Ila langsung tertawa mendengar ucapan supir.
Mobil berhenti dan parkir di belakang mobil sejuta umat. "Apa kita sudah sampai?" tanya oma.
"Udah oma, itu mobil tuan muda dan mobil pak Zidan." Sahut supir menunjuk ke arah mobil yang parkir tidak jauh dari tempat mereka berhenti.
"Ayo turun." Titah oma ke yang lainnya.
"Mami bagaimana?" rengek Tanisa.
"Udah turun jangan buat Abian kecewa dengan sikap kalian yang mempermasalahkan rumah mertuanya."
Oma dan Ila turun dan meninggalkan Tanisa dan nyonya Rona. Pak Mirza melihat kedatangan oma langsung menghampiri wanita tua itu.
"Maaf oma, rumah kami jelek." Ujar pak Mirza merendah seraya mengulurkan tangannya.
"Ah jangan seperti itu, yang penting enggak ngontrak dan milik sendiri." Sahut oma.
"Hehehe iya oma benar yang penting rumah sendiri, mari masuk." Pak Mirza mengajak oma dan Ila masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Tanisa masih berdebat dengan maminya antara turun atau tidak.
"Oma..." Aneska langsung menyalami oma dan memeluk wanita tua itu. Begitupun dengan Ila ikut memeluk kakak iparnya.
Seperti biasa dua pria sahabat Aneska langsung berbisik. "Siapa gadis itu?" tanya keduanya dengan cara berbisik ke Tami.
"Adik iparnya Aneska." Sahut Tami.
Kedua pria itu saling melirik. "Ada dua cewek cantik di sini, satu di kamar dan yang satunya itu, kamu mau yang mana?" bisik Aldo.
Ucapan kedua pria itu terdengar Tiara. "Cewek cantik? memangnya kami enggak cantik." Gerutu Tiara.
"Kalian berdua cantik?" kedua pria itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Tami bingung.
"Kalau kalian bukan cantik tapi tua, hahahah." Ujar keduanya tertawa.
Abian menghampiri oma dan adiknya. "Mana mami?" tanya Abian.
"Tuh ada di mobil sebentar lagi pasti turun." Sahut Ila.
Oma dan Ila duduk di dekat Zidan dan dokter Arif. Tidak berapa lama dengan kehebohannya Tanisa dan maminya turun. Keduanya memakai heel yang membuat jalan mereka susah. Karena heel mereka lebih sering tertancap di tanah yang menghambat jalan keduanya.
Bersambung...
__ADS_1
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014