
Dimas melajukan motornya menuju pusat kota. Dia berencana pergi ke mall, tidak ada yang dilakukannya hanya nongkrong seraya menyantap makanan yang lagi promo.
Di jalanan terlihat macet. "Ada apa pak?" tanyanya ke seorang pria yang sedang berbalik dari arah depan.
"Ada mobil nubruk gerobak pemulung." Sahut bapak itu.
Dimas manggut dan kendaraan mulai melaju secara perlahan. Motornya melewati mobil yang nubruk gerobak pemulung tapi ketika melihat sosok wanita itu Dimas langsung menolehkan kepalanya.
"Tanisa." Gumamnya dan terus melajukan motornya secara perlahan. Melihat dari spion kalau Tanisa sedang berdebat dengan bapak-bapak.
Dimas memutar motornya menuju ke arah Tanisa yang sedang berdebat dan menyalahkan pemulung.
"Bapak yang salah, kenapa bapak langsung nyelonong, padahal lampu lalu lintas dalam keadaan hijau!" seru Tanisa marah.
"Non kan orang kaya, apa salahnya memberi sedikit uang untuk bapak ini." Ujar seorang bapak yang ikut terlibat dalam perdebatan itu.
"Ada apa ini?" tanya Dimas. Melihat wajah Dimas, Tanisa langsung melongos. "Dia lagi." Gerutunya.
Bapak pemulung menjelaskan begitupun dengan bapak-bapak yang ada di sekitar itu ikut menjelaskan.
Dimas melihat ke arah Tanisa. "Kasihan mereka orang susah dari gerobak ini hasil makannya." Ujar Dimas.
"Lalu, aku harus memberi mereka makan gitu." Sahut Tanisa ketus.
"Ya enggak tapi setidaknya ganti gerobaknya dengan sedikit uang." Sahut Dimas lagi.
"Enggak mau, yang salah dia yang ganti aku enak aja." Gerutu Tanisa.
"Kalau tidak ada uang bilang." Dimas mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan menyerahkan ke pemulung.
"Ini buat bapak, lupakan persoalan ini." Ujar Dimas. Bapak pemulung itu berterima kasih ke Dimas. Bapak-bapak yang ada di sekitar situ salut dan memuji kebaikan Dimas.
Semuanya bubar dan Dimas melajukan motornya tanpa mengatakan sepatah katapun. Tanisa merasa tidak terima. Dia merasa harga dirinya sedang di injak-injak Dimas.
Karena Dimas telah jauh Tanisa berencana mengejar pria itu. "Dimana dia." Gumam Tanisa seraya melajukan mobilnya.
Dimas berhenti di salah satu mall. Sedangkan Tanisa kehilangan jejak Dimas.
Pria itu pergi ke tempat makanan siap saji. Dimana ada promosi ayam krispi. Ayam yang sangat laris dan terkenal di seluruh dunia siapa lagi kalau bukan ayam bapak yang mengenakan kaca mata.
Memesan satu porsi dan satu lagi di bungkus untuk ibunya. Dimas duduk di pinggir seraya menyantap makanannya.
Tujuan Tanisa adalah ke mall karena kejadian tadi rencananya terkendala. Dia ingin membeli pakaian di butik langganannya.
Jalan dengan anggunnya. Memakai kaca mata hitam dengan memakai pakaian branded. Sekilas dia melihat Dimas.
__ADS_1
"Itu dia." Ujar Tanisa dan berbelok ke arah tempat makan ayam krispi.
Meletakkan tas branded di atas meja dengan cukup kuat membuat Dimas kaget dan menoleh ke arah depannya.
Dimas mendengus kesal. "Kenapa harus bertemu kamu lagi." Gerutu Dimas.
"Aku ke sini mau minta penjelasan sama kamu!" seru Tanisa ketus.
"Silahkan duduk, kita bicarakan baik-baik." Ujar Dimas masih menyantap ayamnya.
"Tidak sudi aku duduk dengan pria rendahan seperti kamu." Sahut Tanisa ketus.
"Ya terserah." Sahut Dimas santai.
"Jelaskan padaku maksud kamu apa tadi?" tanyanya. Dimas cuek dan tidak menjawab pertanyaan Tanisa.
"Hei aku bicara dengan kamu!" Tanisa menggebrak meja tentu saja membuat pengunjung menoleh ke arah mereka.
Melihat hal itu membuat Dimas geram. "Duduk atau aku cium." Gertak Dimas yang membuat Tanisa keder.
Wanita cantik itu akhirnya duduk berhadapan dengan Dimas. "Aku tidak bermaksud menghina kamu tadi. Aku hanya kasihan dengan bapak itu. Jadi aku harap kamu mengerti." Jelas Dimas.
"Tapi perbuatan kamu telah mempermalukanku!" seru Tanisa.
Dimas mendengus kesal dan menatap tajam ke arah Tanisa. "Jangan buat aku marah. Aku membeli ayam ini untuk ibuku dan kamu menjatuhkannya!" seru Dimas marah.
"Aku bisa membelikan seratus ayam sekarang." Sahut Tanisa sombong.
Karena kesal Dimas menjawab dengan ketus. "Tidak perlu, jangan habiskan uang kamu untuk orang susah seperti kami. Uang kalian hanya untuk kalangan ke atas." Sahut Dimas dan segera berlalu meninggalkan Tanisa.
Tanisa merasa Dimas mengejeknya. Dia melupakan tujuannya. Dia terus mengikuti Dimas. Tapi Dimas menuju parkiran. Tanisa ikut menuju parkiran mencari keberadaan mobilnya. Tapi dia melihat sosok dokter Arif sedang menyetir mobil bersama seorang wanita di sampingnya. Dan wanita itu di kenalnya.
Tanisa melupakan dokter Arif. Masuk ke mobil dan mengikuti Dimas. Dia masih dendam dengan Dimas.
Mengikuti pria itu dengan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Tanisa memperhatikan Dimas yang sedang membeli makanan untuk ibunya. Setelah itu dia kembali melajukan motornya. Tanisa masih mengikutinya.
Dimas berhenti di salon ibunya. Seorang wanita paruh baya keluar dari salon. Dan Dimas menyerahkan bungkusan yang berisi makanan untuk ibunya.
"Pasti itu ibunya. Baiklah kamu pikir hanya kamu yang bisa. Aku akan mempermalukan kamu di depan orang tua kamu." Gumam Tanisa.
Tanisa turun dari mobilnya. Dan mengintip keadaan di dalam salon. Dimas sedang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Tanisa belum melihat sosok wanita paruh baya itu.
"Mas, ibu bawa sendok dua, ayo kita makan." Ujar ibunya keluar dari dalam ruangan dengan membawa sendok dan air minum.
"Ini untuk ibu. Dimas udah makan tadi." Sahut Dimas masih menutup matanya.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu mulai menikmati makanan yang di bawa anaknya. "Bagaimana keadaan salon?" tanya Dimas. Tanisa masih mencoba menguping.
"Seminggu ini sepi, malah bulan depan harus bayar sewa ruko." Sahut ibunya.
Tanisa merasa iba tapi melihat sikap Dimas yang menurutnya kurang ajar kepadanya, membuatnya melupakan rasa iba itu.
Tanisa masuk ke dalam salon itu. "Ada yang bisa di bantu?" tanya ibunya.
Dimas tidak tau jika Tanisa telah berada di dalam salon ibunya. Tanisa melirik Dimas.
"Ibu orang tuanya Dimas?" tanya Tanisa pura-pura. Dimas membuka matanya dan ketika melihat Tanisa sontak dia duduk tegak.
"Iya saya orang tuanya. Ada apa ya mbak?" tanya ibunya.
"Dia telah mempermainkan saya." Sahut Tanisa.
Dimas masih menatap Tanisa dan memikirkan tujuan wanita itu datang.
"Maksudnya mbak apa?" tanya ibu Dimas lagi.
"Dia telah menodai saya." Sahut Tanisa.
"Apa!" Wanita paruh baya itu langsung melemparkan sendok ke arah anaknya.
"Ya Allah Dimas, ibu dosa apa sampai kamu melakukan itu." Ujar ibunya seraya melempar makanan yang di beli anaknya.
"Enggak bu, ini bohong. Dimas tau dosa bu." Dimas melihat ke arah Tanisa. Di mana wanita itu tersenyum mengejek. Sedangkan ibunya menangis sejadi-jadinya.
Dimas menarik lengan Tanisa. "Maksud kamu apa, hah!" seru Dimas marah.
"Bagaimana aktingku bagus kan." Ujar Tanisa berbisik tersenyum mengejek.
"Kamu!" Dimas menuding Tanisa.
"Stop Dimas, dia wanita ibu juga wanita tidak ada pilihan lain sebelum janin itu berkembang, kalian harus menikah." Ujar ibunya tegas seraya menangis.
"Apa!" Tanisa dan Dimas kaget. Tanisa berpikiran rencananya akan mulus seperti jalan tol tapi kenyataannya dia terjebak dalam permainannya sendiri.
Bersambung...
Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.
🌹🌹🌹
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
__ADS_1