
"Apa maksud kamu." Tanya nyonya Rona.
"Mami tidak perlu berakting kepadaku, karena papi sudah memberitahukan kepadaku semuanya, jadi tidak perlu berakting lagi." Ucap Abian.
"Ada apa sebenarnya ini." Ucap Farid pura-pura tidak mengerti.
"Mana mungkin kamu pewaris semuanya, ingat anak papi bukan hanya kamu tapi ada aku dan Ila." Ucap Tanisa.
"Aku tidak pernah menganggap kalian tidak ada, tapi kenyataannya kalau tujuh puluh lima persen kekayaan Bassam adalah milikku." Jelas Abian.
"Kamu bohong, pasti kamu telah memperalat papi, benar kan?" Ucap Tanisa marah.
"Terserah, yang jelas aku sudah mengatakan kepada kalian, kalau masih mau berada di istana, cari perawat itu sampai dapat." Ucap Abian tegas sambil berlalu meninggalkan meja makan.
Semua keluarga mulai panik hanya oma Zulfa dan Ila yang terlihat santai. Mereka berdua tidak memperdulikan tentang harta kekayaan itu sama sekali. Menurut mereka hidup dengan tenang adalah impian keduanya.
"Mami jelaskan kepada kami, apa benar yang di katakan Abian." Tanya Tanisa lagi dengan tatapan tajam.
"Iya." Ucap maminya pelan.
"What! mami kenapa bisa seperti ini, anak papi bukan hanya si Abian, tapi ada aku dan Ila." Ucap Tanisa kesal.
"Mami tidak tau, papi melakukan itu sebelum meninggal, almarhum papi memanggil pengacara untuk mengurus itu semua." Jelas nyonya Rona.
"Mami kita bisa merubah itu semua, kita datangi kantor pengacara, dan mengatakan kalau Abian gila, jadi wasiat itu akan di batalkan." Ucap Farid licik.
"Hey kamu orang luar, tidak seharusnya ikut campur dalam urusan keluarga kami." Ucap Ila marah.
"Ila diam! kamu masih kecil jangan pernah menganggap mas Farid orang luar, dia suami kakak." Ucap Tanisa.
"Suami yang bagaimana dulu." Sindir Ila.
"Ila!" Bentak nyonya Rona. Gadis belia itu langsung menutup rapat mulutnya dan pergi dari ruang keluarga. Dia sama sekali tidak suka dengan sikap kakak iparnya.
"Mami tidak mau ikut campur, cuma saran mami lebih baik cari Aneska. Kalau tidak tanggung sendiri akibatnya." Ucap oma Zulfa sambil pergi meninggalkan ruang makan.
Di ruang makan tinggal tiga orang nyonya Rona, Tanisa dan menantunya Farid.
"Bagaimana dengan ideku." Tanya Farid lagi.
"Apa bisa seperti itu." Tanya nyonya Rona.
"Kita belum coba mi, apa salahnya kita coba." Ucap Tanisa.
Nyonya Rona sedang memikirkan ide menantunya. Dia menghela nafasnya dengan berat.
"Baiklah nanti mami akan menghubungi pengacara, kalian harus membantu mami untuk meyakinkan pengacara itu." Jelas nyonya Rona.
"Baik mi." Ucap Tanisa dan suaminya. Nyonya Rona meninggalkan meja makan. Tinggal pasangan suami istri itu yang berada di meja makan.
"Ingat, aku harus mendapatkan bagian dari harta warisan itu." Bisik Farid.
"Kenapa kamu harus mendapatkan bagian? kamu bukan darah daging papi." Jawab Tanisa.
"Sayang aku memang bukan darah daging papi kamu, tapi aku suami kamu, dan ide ini juga muncul dariku. Tapi kalau kamu tidak mau membantu tidak apa-apa, setidaknya mulutku bisa mengatakan kepada mami kalau kamu masih sering bertemu dengan kekasihmu." Ancam Farid.
"Kamu mengancamku." Tanya Tanisa lagi.
"Bisa di katakan seperti itu." Ucap Farid sambil berlalu meninggalkan istrinya. Tanisa merasa geram dengan tingkah suaminya yang selalu saja memperalat dan mengambil keuntungan dari dirinya.
***
Zidan dan Aneska sudah pergi menuju perkampungan tempat tinggal keluarga Aneska. Perjalanan yang di tempuh cukup jauh, mereka menghabiskan waktu kira-kira tiga jam untuk sampai di kampung halaman keluarga Aneska.
__ADS_1
Selama perjalanan keduanya baik Zidan dan Aneska tidak banyak bicara. Zidan fokus mengendarai mobil, sedangkan Aneska sedang menikmati pemandangan dari balik jendela mobil.
"Kamu berapa bersaudara." Ucap Zidan mengisi kesunyian di antara keduanya.
"Aku dua bersaudara, adikku bernama Cyra. Dia masih duduk di bangku sekolah." Jelas Aneska.
"Siapa nama bapak dan ibumu." Tanya Zidan.
"Kenapa aku harus memberitahukan semuanya kepadamu." Ucap Aneska bingung.
Zidan melirik gadis di sebelahnya.
"Aku akan melamarmu, kalau sampai aku tidak tau tentang keluargamu bagaimana?" Zidan mengajukan pertanyaan balik kepada Aneska.
"Iya iya, aku paham." Aneska menceritakan tentang keluarganya, Zidan mendengarkan dengan seksama, sambil sesali melihat ke depan.
"Ada berapa hutang keluargamu." Tanya Zidan
"Hutang? bagaimana kamu tau kalau keluargaku ada hutang." Ucap Aneska bingung.
"Dasar pelupa, hari pertama masuk ke istana, kamu minta uang down payment di transfer ke rekening orang tuamu, dan kamu menghubungi orang tuamu di depan aku dan nyonya Rona, apa kamu ingat." Ucap Zidan.
"Hehehe, aku lupa kalau telah menghubungi orang tuaku." Ucap Aneska sambil tersenyum manis. Gadis itu menceritakan tentang asal muasal hutang keluarganya ada. Zidan mendengarkan itu merasa iba, karena Aneska menjadi tulang punggung untuk keluarganya.
Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di perkampungan. Di mana perkampungan itu masih banyak sawah.
"Jalannya jelek di sini." Ucap Aneska. Mobil melaju dengan lambat, anak-anak mengikuti mereka dari belakang.
"Apa anak-anak di sini selalu seperti ini." Tanya Zidan.
"Iya, di sini mobil termasuk barang mewah jadi kalau ada mobil pasti anak-anak senang dan mengikuti dari belakang, rumahku ada di pojok." Jelas Aneska sambil menunjuk rumahnya.
Zidan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, untuk masuk ke rumah Aneska mereka harus melewati perkarangan yang sangat tersusun rapi.
Rumah keluarga Aneksa sangat sederhana, rumahnya tidak sepenuhnya dari batu, sebagian dari kayu dan lantainya hanya semen biasa.
"Assalamaualaikum bu." Ucap Aneska sambil mengetuk pintu rumahnya yang sedang dalam keadaan tertutup.
Lama pintu di buka, kemudian Aneska kembali mengetuk pintu.
Tok tok tok.
"Iya sebentar." Ucap suara seseorang dari dalam. Pintu di buka.
"Anes!" Ucap ibu Desi kaget dengan kehadiran anak sulungnya. Aneska langsung menyalami dan mencium tangan ibunya.
"Anes rindu bu." Ucap Aneska sambil memeluk tubuh ibunya.
"Kamu naik taksi online ke sini?" Ucap ibu Desi melihat ada Zidan di sebelah anaknya dan mobil yang sedang parkir di pinggir jalan.
"Boros nak, udah bayar belum." Bisik ibunya lagi.
"Bukan bu, dia bukan supir taksi online dia..." Aneska bingung mau menjelaskan siapa Zidan sebenarnya.
"Saya Zidan." Pria itu mengulurkan tangannya ke hadapan ibunya Aneska.
"Ibu Desi, kamu teman anak saya." Ucap ibu Desi dengan tatapan penuh selidik.
"Ibu, boleh kami masuk, Anes haus." Ucap Aneska.
"Masuk, ibu sampai lupa menyuruh anak sendiri masuk." Ucap ibu Desi. Zidan masuk dan duduk di kursi yang terbuat dari kayu rotan.
"Nes, kenapa sepatunya tidak di lepas, apa dia kalau bertamu selalu seperti itu." Bisik ibu Desi.
__ADS_1
"Eh iya bu." Ucap Aneska gugup.
"Nes, kalau sepatunya ada taik bagaimana? adikmu baru ngepel. Suruh buka sepatunya." Bisik ibu Desi lagi.
"Sepatu kamu bisa di lepas tidak? soalnya rumahku baru di pel sama Cyra." Ucap Aneska pelan.
"Oh maaf." Zidan langsung membuka sepatunya.
"Tadi siapa namanya." Ucap ibu Desi.
"Zidan tante." Jawab Zidan.
"Tante? saya bukan tante kamu, panggil saja ibu Desi."
"Iya bu Desi." Ucap Zidan bingung dengan karakter ibu Desi hampir mirip dengan anaknya.
"Nak Zidan, kamu mau minum apa?" Ibu Desi menawarkan kepada tamu anaknya.
"Memangnya di rumah ada minuman apa saja." Tanya Aneska.
"Kopi, jus, susu, teh tapi semuanya ada di warung, di rumah tinggal air putih." Jelas ibu Desi.
"Kalau cuma air putih kenapa ibu menawarkan segala." Gerutu Aneska.
"Air putih saja bu." Timpal Zidan.
"Anes ikut ibu ke dapur, kamu bukan tamu." Ucap ibunya sambil berlalu meninggalkan Zidan dan anaknya.
"Maaf ibu memang seperti itu, ibu enggak suka kalau aku bawa pria, makanya jutek." Jelas Aneska.
"Tidak apa-apa." Ucap Zidan.
"Anes....." Teriak ibunya dari dalam dapur. Aneska buru-buru masuk ke dapur. Di dalam dapur ibunya sudah memegang sutil sambil berkacak pinggang.
"Siapa pria itu?" Ucap ibunya sambil menggoyangkan sutil.
"Ibu, nanti Aneska jelaskan, tunggu bapak pulang dulu." Ucap Aneska.
"Kelamaan nunggu bapak pulang jelaskan siapa dia, dan kenapa datang ke rumah kita. Apa kamu pacaran sama dia?" Ucap ibu Desi marah.
"Enggak bu, aduh gimana lagi ngomongnya." Aneska bingung. Tiba-tiba Zidan masuk ke dalam dapur dia mendengarkan semuanya pembicaraan ibu dan anak itu.
"Ibu bisa kita bicara di depan." Ucap Zidan.
Ibu Desi menatap tajam wajah Zidan, dia melangkahkan kakinya kembali ke ruang tamu sambil tetap memegang sutil.
"Jelaskan kepada ibuku, kalau tidak sutil itu akan melayang ke kamu dan aku." Bisik Aneska sambil kembali masuk ke dalam ruang tamu. Zidan mengikuti dari belakang. Di ruang tamu ibunya sudah duduk sambil tetap memegang sutil.
"Ibu maksud kedatangan saya dan Aneksa ke sini, karena saya ingin mempersunting anak gadis ibu." Ucap Zidan pelan.
"Apa!" Ibu Desi langsung menatap wajah anak gadisnya dengan tatapan tajam.
"Kamu hamil?" Bentak ibunya.
"Enggak bu, Anes enggak hamil, jelaskan dong." Ucap Aneska bingung memerintahkan Zidan untuk menjelaskan kepada ibunya. Belum sempat Zidan menjelaskan, bapaknya pulang bersama dengan Cyra.
"Bapak, Aneska hamil." Ucap ibunya mengadu sambil menangis.
"Apa!" Bapaknya yang baru pulang marah langsung mencengkram leher kemeja Zidan.
Bersambung.
Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.
__ADS_1