
Tiba-tiba ada yang berjalan ke arah mereka. Aneska bingung mau sembunyi ataupun lari, karena tangannya masih di pegang Abian.
Aneska menghadap ke arah suaminya sambil melepaskan tangannya dari genggaman Abian.
"Aku mohon kepadamu, yang berjalan ke arah sini temanku, jangan bilang sama mereka kalau kita sudah menikah, please." Aneska merapatkan kedua tangan memohon.
Abian melihat kebelakang istrinya. Dua orang mulai mendekat.
"Kenapa harus di rahasiakan." Ucap Abian bingung.
"Aduh temanku akan shock kalau tau aku menikah dengan pasienku. Jadi please jangan bilang." Aneska memohon. Tiba-tiba bahunya di tepuk dari belakang.
"Anes, kemana saja kamu." Ucap Tiara.
"Hai, kalian berdua aja." Ucap Aneska gugup.
"Enggak lihat kami berdua, jawab pertanyaanku. Kenapa tidak mengabari aku tentang keberadaanmu, dan kenapa tidak pernah balas chat dariku. Aku pikir kamu mati." Ucap Tiara.
"Mati? jelek banget doa kamu." Ucap Aneska gugup. Tiara melihat pria yang berdiri di belakang temannya.
"Siapa dia? aku perhatikan tadi kalian sangat mesra." Ucap Tiara sambil menunjuk ke arah Abian dengan lirikan matanya.
"Oh iya, kenalkan dia Abian." Aneska memperkenalkan Abian sama Tiara dan Aldo.
"Abian, kekasih Aneska." Ucap Abian sambil menyalami Tiara dan Aldo. Aneska langsung melirik Abian kemudian melihat ekspresi kedua temannya.
Aneska langsung berbisik ke Abian.
"Kenapa kamu bilang kekasih." Bisik Aneska
"Terus aku bilang apa? kakek kamu? kan enggak lucu." Bisik Abian.
"Bilang om susah amat." Bisik Aneska sambil manyun.
"Wah, karena kalian sudah jadian traktir kami makan." Timpal Aldo.
"Iya Nes, kami mau cicip gaji kamu yang dua puluh juta." Ucap Tiara.
"Hehehe." Aneska memaksakan tersenyum.
"Ayo Nes, kamu pilih tempat makannya. Hitung-hitung beramal sama kami yang susah ini." Ucap Tiara.
"Jangan sok susah deh." Aneska menoyor kepala temannya.
"Abian, asal kamu tau sifat asli ke kasih kamu ini nih, suka menoyor kepalaku." Tiara mengadu. Abian hanya tersenyum mendengar ucapan Tiara.
"Kamu pilih tempatnya, nanti aku yang bayari." Ucap Aneska.
"Ok sip, gitu dong. Ayo Do." Tiara menarik tangan temannya. Mereka jalan di depan Aneska dan Abian.
"Aku bisa pinjam uang kamu enggak?" bisik Aneska sambil berjalan di samping.
"Pinjam?" Abian bingung.
"Iya pinjam, aku ada uang tapi receh enggak mungkin kan kalau aku bayar pakai uang receh. Apalagi mall ini keren banget." Aneska menunjukkan dompetnya yang penuh uang receh.
__ADS_1
"Dari mana uang receh itu? kamu jaga parkir." Ucap Abian.
"Terserah kamu mau bilang apa, pinjam ya." Ucap Aneska sambil memegang lengan suaminya.
"Ngapain pinjam? uangku milikmu semua." Ucap Abian.
"Aku hanya mau pinjam nanti di rumah aku balikkan. Nanti kalau kamu yang bayari pasti mereka curiga." Ucap Aneska.
"Curiga kenapa?" ucap Abian.
"Uda deh jangan banyak tanya, pinjam dua ratus aja. Boleh suamiku." Rayu Aneska.
Abian senang jika Aneska membutuhkannya, apalagi istrinya memanggilnya dengan sebutan suami. Dia mengambil dompet di saku celana. Abian menyerahkan segepok uang ke tangan Aneska.
"Waduh banyak banget, dua ratus aja." Aneska mengembalikan sisanya ke tangan Abian. Tes kedua untuk Aneska lulus.
"Nes, kita makan di sini aja ya." Ucap Tiara menunjuk salah satu tempat makanan siap saji.
"Ok." Ucap Aneska. Mereka masuk ke dalam restoran siap saji.
"Mau makan apa." Tanya Aneska.
"Aku mau fried chicken, burger, french fries dan minuman soda." Ucap Tiara.
"Aku sama." Ucap Aldo.
Mendengar pesanan temannya dia langsung menelan salivanya dengan kasar.
Tiara dan Aldo memilih tempat yang ada di pojok di ikuti Abian dari belakang. Aneska mengantri makanan, dia melihat daftar harga yang di pesan temanya.
"Aduh mana cukup dua ratus ribu." Gumam Aneska sambil menoleh kebelakang, kebetulan Abian sedang memperhatikannya. Aneska langsung melambaikan tangannya ke arah Abian. Suaminya langsung berjalan menghampirinya.
"Uangnya kurang." Bisik Aneska. Abian mau mengeluarkan uangnya, tapi Aneska menahannya.
"Kamu di sini aja, kalau kurang tambahi. Ingat jangan segepok mengeluarkannya." Ucap Aneska. Abian berdiri di samping istrinya. Di belakang mereka ada juga yang ikut mengantri. Tiba-tiba tangan Abian langsung memeluk pinggang istrinya. Aneska langsung menoleh ke arah suaminya.
"Tangan tolong di kondisikan." Bisik Aneska.
"Di belakang kita ada seorang pria yang dari tadi memperhatikan belakangmu, aku enggak suka. Ini ku lakukan agar dia risih dan tidak melihatmu lagi." Bisik Abian. Aneska menoleh kebelakangnya. Pria yang ada di belakangnya, melihat ke arah lain.
Giliran Aneska. Dia memesan beberapa makanan dan minuman.
"Ada lagi." Ucap seorang wanita yang bekerja sebagai kasir sekaligus tempat menerima orderan.
"Enggak." Ucap Aneska.
"Total tiga ratus sembilan puluh lima ribu empat ratus rupiah."
Abian mau mengeluarkan uangnya tapi Aneska melarang.
"Aku ada." Aneska mengeluarkan uang dua ratus ribu dan uang receh dari puluhan sampai ribuan. Penjaga kasir menghitung uang itu sambil menghela nafasnya.
"Kenapa pakai receh." Bisik Abian.
"Udah tenang saja, aku membantu mereka untuk menukarkan uang receh." Bisik Aneska.
__ADS_1
"Uangnya pas ya, silahkan di tunggu nanti pesanan anda kami antar." Ucap wanita itu ramah. Aneska dan Abian bergabung dengan Tiara dan Aldo. Ketika mereka mau duduk berhadapan dengan temannya. Tiara melarangnya.
"Nes, kamu duduk di sini. Aldo kamu duduk sama mas itu." Ucap Tiara menarik tangan Aneska untuk duduk di sampingnya. Abian mengerutkan dahinya, karena baru sekali dalam hidupnya ada orang yang memanggilnya mas.
"Nes, di mana kamu menemukan sosok pria ini." Bisik Tiara. Abian pura-pura tidak mendengar, dia mendengar percakapan antara istrinya dan temannya.
"Hemm, kami satu kerjaan." Ucap Aneska gugup.
"Iyakah?" Tiara melihat ke arah temannya.
"Dia perawat juga." Ucap Aneska lagi.
"Oh gitu, keren amat kalau perawat macam dia. Mas kamu perawat di bagian apa?" ucap Tiara.
"Perawat? aku?" Abian bingung. Aneska tidak mau mengatakan siapa sesungguhnya Abian, karena menurutnya belum saatnya.
"Mbak Tami dan aku di tempat yang sama." Aneska mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, aku pikir mbak Tami dan kamu di bunuh." Ucap Tiara. Aneska langsung melirik ke arah suaminya. Abian menghembuskan nafasnya secara kasar. Dia merasa bersalah atas semua yang terjadi sama perawat yang pernah merawatnya.
"Bagaimana keadaan rumah sakit." Aneska mengalihkan pembicaraan lagi.
"Rumah sakit masih sama seperti yang dulu, Nes, kalau kamu sama dia bagaimana dengan dokter Arif." Bisik Tiara.
"Ehem." Abian memberikan kode.
Aneska tidak menghiraukan kode dari suaminya, karena dia sendiri tidak tau maksud kode itu.
"Oma Nely sering kontrol, dia selalu menanyakan kamu. Sepertinya kamu mau di jodohkan sama cucunya." Ucap Tiara.
"Uhuk-uhuk." Abian pura-pura batuk.
"Nes, kekasih kamu penyakitan ya? batuknya kencang banget." Bisik Tiara.
"Nanti sembuh sendiri biarkan saja." Ucap Aneska cuek. Makanan pesanan mereka datang. Semua mulai menikmati makanannya. Ketika mau minum Abian mengambil punya istrinya begitu seterusnya.
"Nes, pacar kamu itu bekerja sebagai perawat tapi kenapa memberikan virus ke kamu. Jangan minum bekas dia, nanti kamu batuk." Bisik Tiara.
Setelah selesai makan, Tiara dan Aldo pamit, karena mereka berdua sudah terlalu lama di dalam mall itu. Abian dan Aneska melanjutkan menyusuri mall.
"Apa Arif juga suka sama kamu." Tanya Abian.
"Enggak tau, tapi kami semua para perawat mengagumi sosok beliau. Udah cakep, berkharisma, ramah pintar lagi." Aneska memuji dokter Arif.
"Jangan pernah memuji pria lain baik di depan maupun di belakangku." Ucap Abian tegas.
"Kenapa?"
"Karena aku enggak suka." Abian menarik tangan istrinya menuju tempat toko perhiasan.
"Jangan kesini mahal, kita cari yang murah saja." Aneska menahan tangan suaminya.
"Kita cari yang imitasi saja, soalnya sayang kalau cincin itu kamu beli, udah mahal terus di pakai hanya sebentar, atau pakai kuningan juga boleh." Ucap Aneska pelan.
"Kamu kalau ngomong seperti itu lagi, aku cium." Ucap Abian.
__ADS_1
"Ops, sorry." Aneska menutup mulutnya. Abian menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam toko perhiasan.
Bersambung.