Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 82


__ADS_3

Aneska habis-habisan di marahi ibu Susan. Perawat senior itu tidak terima alasan yang di utarakan perawatnya.


"Ini yang terakhir, kalau sampai kamu tidak masuk tanpa izin, akan saya laporkan ke pihak management." Ucapan ibu Susan memutari isi kepalanya. Bayang-bayang kena skors sudah menghiasi pikirannya.


"Kamu kenapa?" tanya Tami.


"Biasa mbak, aku baru di tatar sama ibu Susan." Ucap Aneska.


"Udahlah Nes, saran mbak lebih baik kamu enggak usah kerja, suami kamu kan kaya." Ucap Tami sambil menyiapkan meja instrumen dan mengisi beberapa obat, botol infus dan lain sebagainya.


"Iya dia kaya, kalau aku keluar terus tiba-tiba Vania datang, bagaimana nasibku nanti." Aneska tidak bisa membayangkan nasibnya ke depan.


"Aneska, apa tuan Abian sudah mengatakan kalau dia mencintai kamu." Selidik Tami.


"Sudah." Jawab Aneska singkat sambil mendorong meja instrumen.


"Nah itu sudah, jadi menurut mbak tidak perlu mengkhawatirkan kedepannya. Mbak yakin pasti tuan Abian tidak akan tergoda dengan mantannya." Ucap Tami menyemangati sahabatnya.


***


Setelah mengantarkan istrinya bekerja. Abian memilih menghabiskan waktunya di tempat fitnes.


Nyonya Rona mendekati Anggela yang sedang duduk manis sambil menonton televisi.


"Anggela, cepat dekati Abian." Bisik nyonya Rona.


"Tapi istrinya?" tanya Anggela khawatir.


"Tante dengar istrinya kembali bekerja. Udah buruan manfaatin sekarang." Ucap nyonya Rona.


"Baik tante." Ucap Anggela meninggalkan ruang nonton sambil berjalan layaknya seorang model. Dia menuju ruang fitnes.


Pelayan melewati nyonya Rona sambil membawa nampan yang isinya jus jeruk dan buah.


"Untuk siapa itu." Tanya Rona.


"Untuk tuan muda." Jawab pelayan.


"Bawa sini." Nyonya Rona mengambil nampan dari tangan pelayan.


"Tapi nyonya." Pelayan bingung dan tidak enak hati jika pekerjaannya di ambil alih oleh majikannya.


"Sudah sana, kerjakan yang lain." Nyonya Rona mengusir pelayan itu.


"Anggela tunggu." Nyonya Rona mendekati wanita itu lagi.


Anggela membalikkan badannya dan melihat wanita paruh baya itu menghampirinya.


"Iya tante."


"Bawa ini ke dalam, kalau di tanya kenapa bukan pelayan yang bawa, kamu bilang aja pelayan lagi mengerjakan sesuatu." Jelas nyonya Rona.


"Baik tante." Nampan sudah berpindah tangan. Wanita itu masuk ke dalam ruang fitnes.


"Selamat pagi Abian, aku membawakan kamu minuman." Ucap Anggela.


"Kasih ke oma." Perintah Abian.


Anggela memutar badannya dan melihat ada oma Zulfa sedang melakukan treadmill. Wanita sepuh itu menghentikan latihannya dan mengambil minuman yang ada di nampan.


"Bawakan minuman untuk Abian." Perintah oma sambil ngos-ngosan.

__ADS_1


"Baik oma." Anggela keluar dari ruang fitnes nyonya Rona sedang menunggunya di ruangan yang berbeda, ketika melihat Anggela keluar wanita paruh baya itu mendekati gadis itu.


"Bagaimana? apa Abian senang kamu bawakan jus?" tanya nyonya Rona.


"Bukan Abian yang senang tapi oma Zulfa yang senang. Nih aku di suruh bawa minuman lagi untuk Abian." Gerutu Anggela.


"Oma? kenapa orang tua itu selalu menggagalkan rencanaku." Gerutu Rona kesal.


"Aku malas tante." Anggela meninggalkan nyonya Rona, tapi wanita paruh baya itu menarik tangan Anggela.


"Anggela, jangan menyerah. Ikuti perintah oma, kamu bisa mendekatkan diri dengan Abian melaluinya." Jelas Rona.


"Baiklah." Anggela mengikuti perintah Rona dan kembali lagi ke ruang fitnes dengan membawa segelas jus jeruk.


"Ini oma." Ucap Anggela menyerahkan gelas itu kepada oma Zulfa.


"Abian ini minuman kamu." Teriak oma.


"Iya sebentar." Ucap Abian.


"Biar aku antar ke sana." Anggela mengambil gelas tersebut dan mendekati Abian dengan cara berdiri di dekat bench tempat Abian sedang melatih otot dadanya.


"Wah tidak bisa di biarkan, Aneska kenapa kamu harus kerja sih." Gerutu oma.


Oma memikirkan cara agar Aneska cemburu dan segera pulang.


"Aha, aku ada ide." Ucap oma sambil mengambil ponselnya dan memotret Anggela yang sedang berdiri di samping Abian yang sibuk dengan otot dadanya.


Oma Zulfa mengirimi foto itu ke ponsel Aneska.


Dia menuliskan pesan singkat.


Masih mau terus bekerja?


Anggela sengaja menyentuh jari jemari Abian, meninggalkan kesan intim.


"Silahkan kamu keluar." Usir Abian.


Anggela menganggukkan kepalanya sambil melangkahkan kakinya keluar ruang fitnes. Dengan perasaan kesal dia meninggalkan ruangan itu.


"Oma mau ke kebun dulu." Ucap oma.


Anggela mengadu sama nyonya Rona.


"Bagaimana?" tanya Rona.


"Awalnya baik, oma membiarkan aku menyerahkan gelas berisi jus itu sama Abian, aku sempat bersentuhan dengan jari-jemarinya, tapi setelah itu aku di usir." Anggela mengadu kesal.


"Tenang Anggela, yang penting kalian sudah bersentuhan." Ucap Rona.


Oma Zulfa mendengarkan percakapan antara anaknya dengan Anggela. Dia merasa geram dengan tingkah anaknya yang selalu berusaha ingin memisahkan Abian dan Aneska.


"Anggela." Teriak oma. Oma Zulfa menoleh ke arah kanan.


"Iya oma." Jawab Anggela.


"Rupanya kamu di sini." Oma Zulfa mendekati Anggela dan menarik tangan wanita itu.


"Mami mau di bawa kemana Anggela?" tanya Rona.


"Mami mau minta bantuannya, dia ternyata anak yang rajin." Ucap oma pura-pura memuji.

__ADS_1


Nyonya Rona mengangkat jempolnya ke arah Anggela. Dia sangat suka jika Anggela bisa akrab dengan ibunya.


***


Waktu istirahat tiba, Aneska dan teman-temannya makan siang di kantin. Aneska memilih makan nasi liwet dan temannya memilih makan rumahan lainnya.


Mereka mengobrol panjang lebar sambil diiringi gelak tawa. Aneska teringat kalau dia belum mengaktifkan ponselnya selama istirahat.


Dia membaca pesan yang masuk. Ada satu pesan dari ibunya yang mengatakan akan datang ke rumahnya besok. Dia tersenyum membaca pesan dari orang tuanya. Dan ada satu nomor asing yang belum masuk dalam daftar kontaknya.


Aneska melihat ada foto Abian sedang berbaring di tempat bench fitnes dan di sebelahnya ada wanita. Aneska memperbesar foto itu.


"Anggela." Gumam Aneska.


Dan dia membaca pesan yang di kirim.


Masih mau terus bekerja?


Dia melihat foto di nomor kontak itu.


"Oma." Gumam Aneska pelan.


"Anes, ayo makan letakkan ponsel kamu dulu. Waktunya sekarang istirahat jangan pikirkan masalah yang lain." Tari mengambil ponsel Aneska dan meletakkan di atas meja.


"Iya." Ucap Aneska gugup sambil perlahan mulai memakan makan siangnya.


Pikirannya tidak bisa konsentrasi, dia memikirkan tentang suaminya dengan Anggela.


"Aneska, jangan melamun." Tami membuyarkan lamunannya.


"Teman-teman mohon maaf ini sepertinya hari terakhir aku bekerja. Untuk hari ini aku traktir kalian." Ucap Aneska sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Tapi kenapa Nes? bukannya kamu sangat menginginkan bekerja lagi?" tanya Aldo.


"Iya, tapi sebagai istri yang baik aku seharusnya mengikuti kemauan suamiku untuk tidak bekerja lagi." Jelas Aneska.


"Nah ini dia istri soleha, seperti ini yang harus di contoh. Aku mendukungmu Nes." Ucap Tiara.


"Mbak juga." Ucap Tami.


Aneska menyalami dan memeluk dua sahabat perempuannya.


"Jangan lost kontak." Ucap Tiara.


"Tenang saja, minggu depan ultah suamiku, aku mau kalian hadir." Ucap Aneska.


"Yes makan enak." Ucap Aldo senang.


"Makanan aja di otak kamu." Tiara menoyor kepala temannya.


"Akhirnya aku akan menginjakkan kaki ke istana Bassam." Gumam Tiara ikut senang.


"Bye semuanya." Aneska pergi meninggalkan temannya.


"Aneska mau kemana." Teriak Dimas.


"Mau menyusul suaminya." Ucap Tiara.


"Suami?" Dimas bingung.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2