Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 178


__ADS_3

Nyonya Rona masih berada di kamar anaknya. Menatap tajam manik mata anak sulungnya.


"Tanisa sikap kamu berubah, jelaskan pada mami kenapa kamu berubah? Dan siapa yang akan melamar kamu?" tanya maminya memberikan pertanyaan beruntun.


"Ah mami sikapku tidak pernah berubah, mungkin itu hanya perasaan mami saja." Tanisa melanjutkan sarapannya. Seolah-olah tidak ada perubahan dalam dirinya.


"Oke kalau memang sikap kamu tidak berubah, sekarang jawab! siapa pria yang melamar kamu?" tanya maminya lagi.


Tanisa tidak mungkin mengatakan yang melamarnya adalah Dimas. Walaupun kenyataannya pria itu yang akan melamarnya. Jika dia mengatakan dengan jujur tentunya dia akan mendapatkan amukan dari maminya. Karena terjadi karena ulah mulutnya sendiri.


"Tanisa kenapa diam?" tanya maminya lagi seraya memperhatikan gerak gerik anaknya.


"Hemm, yang melamar ku investor di perusahaan kita." Sahut Tanisa bohong.


Seketika wajah nyonya Rona berbinar. "Investor? bagaimana kamu bisa bertemu dengannya? apa Abian yang menjodohkan kamu dengan pria itu?" nyonya Rona senang karena yang melamar anaknya orang kaya.


Tanisa tidak mau menjawab, menurutnya biarlah maminya tau pada hari H.


"Kamu harus dandan secantik mungkin untuk besok malam." Ujar maminya senang seraya keluar menghubungi designer ternama.


Tanisa langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. "Semoga histerisnya mami besok dapat membatalkan lamaran itu." Gumam Tanisa seraya tersenyum licik.


***


Di rumah sakit


Jam istirahat tiba Tiara dan Tami buru-buru ke kantin bersama dengan Aldo mereka ingin menemui Dimas. Menanyakan lebih jelas kejadian yang sebenarnya.


"Itu Dimas." Ujar Aldo ke temannya. Ketiga perawat itu langsung duduk di depan Dimas.


"Kenapa dengan kalian?" tanya Dimas bingung melihat kedatangan teman-temannya yang keroyokan.


"Ceritakan pada kami, apa benar kamu akan melamar si seksi?" tanya Aldo penasaran.


Dimas menganggukkan kepalanya. "Wah selamat ternyata jodoh kamu lebih cepat dari kami semua." Puji Aldo senang.


Tapi Dimas tidak menunjukkan ada rasa bahagia. Dari raut wajahnya terpancar kalau dia berat melakukan lamaran itu.


"Mas kenapa? ayo ceritakan sama kami? mana tau kami bisa membantu kamu." Ujar Tami.


Dimas menatap ke arah rekan sejawatnya. "Kalian tau lamaran ini karena keterpaksaan dan tentunya tidak ada cinta di dalamnya."


"Iya kami ngerti." Timpal Aldo.


"Bukan itu saja, karena semua serba mendadak untuk hantaran aja aku hanya punya sedikit uang. Apalagi dengan resepsi." Sahut Dimas bingung.


"Aku akan membantumu, sebagai kado aku memberikan lima juta untuk kamu, bagaimana?" tanya Aldo.


"Terima kasih tapi masih sangat kurang, tabunganku hanya ada tiga puluh juta. Apa keluarganya mau menerima hantaran yang tidak sampai ratusan juta?" tanya Dimas meminta pendapat teman-temannya.


"Aku akan memberikan lima juta juga untuk kamu." Ujar Tami. "Dan aku hanya dua juta, maaf aku tidak punya tabungan." Timpal Tiara malu karena nilai nominalnya paling sedikit.

__ADS_1


"Terima kasih atas bantuan kalian. Oh iya Do, aku jual motorku, mana tau ada yang mau beli." Ujar Dimas lagi.


"Ya ampun Dimas, kenapa di jual. Kamu kalau kerja mau naik apa nanti, apa mau naik unta." Ceplos Tiara.


"Aku harus menjual motor itu, setidaknya uang hantaran ku sampai seratus juta." Sahut Dimas.


"Kenapa harus seratus juta? apa itu nominal yang di minta si seksi?" tanya Aldo.


"Bukan, dia dan Abian tidak menyebutkan nilai nominalnya, hanya saja aku sadar diri. Orang kaya aku lamar dengan uang satu juta kan aneh." Jelas Dimas.


Ketiga temannya saling pandang. "Kami heran sama kamu, jelas-jelas lamaran ini karena terpaksa ngapain kamu terlalu memusingkan uang hantaran. Kalau uang hantaran kamu tidak cukup terus di tolak, kan untung buat kamu. Artinya kamu aman dan bebas dari lamaran aneh itu." Ujar Aldo.


"Sebenarnya aku berpikiran seperti itu. Tapi ibu sangat menginginkan lamaran ini terlaksana dengan kata lain, tidak ada penolakan. Aku melakukan ini demi ibu." Jelas Dimas.


"Yang mau kawin ibu kamu apa kamu sih Mas?" tanya Tiara. Kepala gadis itu sontak ditoyor kedua temannya.


"Aw kenapa sih kalian." Gerutu Tiara dan memegang kepalanya.


"Dimas melakukan ini karena sayang sama ibunya, gitu aja enggak tau." Jelas Tami.


"Ya maaf." Sahut Tiara manyun.


"Aku akan meminta sumbangan sama dokter Arif." Ujar Tami. Dan semua temannya langsung menoleh ke arahnya.


"Hei jangan berpikiran aneh-aneh. Aku hanya mau membantu Dimas. Dan Tiara kamu minta bantuan sama calon suami kamu." Ujar Tami dan segera berlalu menuju ruangan dokter Arif.


"Duh, kenapa lagi aku harus berurusan dengan dia." Gerutu Tiara dan segera berlalu menghubungi Zidan.


"Iya halo." Sahut Zidan senang karena tidak biasanya calon istrinya menghubunginya.


"Pak bisa bantu Dimas enggak?" tanya Tiara.


"Dimas kenapa?" tanya Zidan lagi.


Tiara menceritakan tentang masalah yang di hadapi Dimas. Pria di ujung sana mendengarkan dengan seksama.


"Baiklah, berikan nomor rekeningnya saya akan mentransfer sekarang." Ujar Zidan.


"Makasih pak." Sahut Tiara kegirangan.


"Tapi ada syaratnya." Ujar Zidan dari ujung ponselnya.


"Baik pak syarat bapak akan saya sampaikan ke Dimas." Sahut Tiara.


"Ini syarat bukan untuk Dimas. Tapi untuk kamu." Ujar Zidan.


"Loh kok saya pak?" tanya Tiara bingung.


"Mau enggak?" Zidan memberikan tawaran yang tentu membuatnya bingung. Terjebak dengan syarat yang di ajukan Zidan apa membatalkan bantuan dari pria itu.


"Apa syaratnya, kalau syaratnya susah lebih baik enggak usah." Sahut Tiara.

__ADS_1


"Syaratnya gampang, jangan panggil saya bapak lagi karena saya bukan bapak kamu." Jelas Zidan.


"Oh kalau itu sih gampang." Sahut Tiara senang.


"Belum selesai." Ujar Zidan lagi.


"Memangnya bapak mau nyumbang berapa sampai memberikan persyaratan banyak." Gerutu Tiara.


"Banyak asalkan kamu memenuhi semua persyaratan dari saya."


Dengan terpaksa Tiara setuju yang penting menurutnya Dimas dapat menyenangkan orang tuanya.


"Ajarkan saya bahasa jawa." Ujar Zidan.


"Waduh jangan saya, cari aja orang lain, saya enggak bisa ngomong jawa." Sahut Tiara menolak dan tentunya berbohong.


"Tiara mau bantu Dimas tidak?" Dan Zidan membuat Tiara bimbang.


"Yah bapak, eh maaf yah Zidan." Gerutu Tiara.


"Ya terserah." Sahut Zidan.


Tiara diam dengan persyaratan yang kedua. "Iya saya bantu bapak." Sahutnya.


"Dan syarat yang terakhir."


"Waduh kok masih ada sih pak." Rengek Tiara.


"Bukan bapak tapi Zidan." Zidan menekan intonasinya.


"Ya Zidan." Sahutnya pelan.


"Syarat yang ketiga, apabila pada saat saya melamar kamu. Kamu tidak di izinkan lari dan harus menerima lamaran saya. Dan jika bahasa jawa saya tidak sebagus yang di harapkan orang tua kamu, kamu harus tetap menerima saya, bagaimana?" tanya Zidan yang memberikan persyaratan yang tentunya menguntungkan untuk dirinya.


Tiara menghela nafasnya. Dimas yang mau di bantu tapi dia yang harus menerima dan menjalankan persyaratan itu.


Iya kan aja, mana ingat dia.


Tiara bergumam dalam hatinya.


"Jangan berpikiran saya tidak ingat ini semua, semua percakapan kita, telah saya rekam. Dan jika kamu tidak memenuhi semua persyaratan, kamu harus mengganti uang yang akan saya berikan ke Dimas yaitu sebesar dua kali lipat." Gertak Zidan.


"Waduh, kenapa dia bisa membaca pikiranku." Gumam Tiara lagi.


"Iya-iya saya penuhi semuanya." Sahut Tiara dan panggilan tertutup. Tiara menghampiri Dimas dan Aldo.


Bersambung...


Yang belum follow ig author silahkan follow anita_rachman83. Author aktif di ig di bandingkan di grup.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2