Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 111


__ADS_3

Aneska bingung harus memulai dari mana, dia belum mempunyai bukti yang cukup untuk mengatakan ke suaminya.


"Kenapa sayang? apa kamu ragu untuk mengatakan kepadaku?" tanya Abian.


"Hemmm." Aneska mengambil ponselnya di dalam laci nakas dan memberikan ke suaminya.


"Kenapa? apa kamu ingin aku membelikan ponsel baru?" tanya Abian.


"Bukan itu, kalau bisa kamu nyalakan ponsel itu, aku ingin menunjukkan sesuatu ke kamu." Ucap Aneska.


Abian menyalakan ponsel istrinya dan mencoba menyentuh layar ponsel itu. Tapi ponsel itu tetap tidak bisa bergeser.


"Sayang layarnya pecah, jadi harus di perbaiki atau beli yang baru." Jelas Abian.


"Di perbaiki aja, aku tidak mau kamu membelikan ponsel baru untukku. Menurutku ponsel ini masih bagus hanya layarnya saja yang pecah.


"Ok kalau memang itu mau kamu, sekarang lupakan tentang ponsel, kembali ke pertanyaan yang tadi. Apa saja yang telah kamu dengar?" tanya Abian lagi.


Aneska diam sambil menatap suaminya.


"Jangan takut, katakan saja." Ucap Abian meyakini istrinya kalau dia akan selalu ada untuk istrinya tercinta.


"Aku bingung harus mulai dari mana, aku harap kamu jangan salah sangka dengan semua perkataanku."


"Iya sayang, katakanlah."


Sebelum mengatakan ke suaminya, dia menghembuskan nafasnya terlebih dahulu membuat perasaannya tenang.


"Apa hubungan rumah tangga Tanisa dan Farid baik-baik saja?" tanya Aneska.


"Sayang maksud kamu apa? kamu ingin mengatakan kalau hubungan mereka tidak harmonis, iya kan?" tanya Abian.


"Hemm bukan itu." Ucap Aneska menghindar.


"Sayang aku tau jika hubungan mereka tidak harmonis, itu di sebabkan karena Farid berselingkuh." Jelas Abian.


"Apa!" Aneska kaget.


Suami istri berselingkuh? hubungan macam apa ini.


"Sayang kenapa kamu diam?"


"Aku tidak bisa menyimpan ini sendiri. Baiklah akan aku katakan, pada saat aku pergi ke mall sama ibu, aku dan ibu melihat Tanisa dengan seorang pria, dan buktinya ada di ponselku." Jelas Aneska.


Abian merasa tidak percaya dengan ucapan istrinya, tapi dia pernah mendengar dari mulut Farid sendiri kalau Tanisa sama seperti dirinya.


"Apa lagi yang kamu tau?" tanya Abian.


"Kemarin pada saat kamu berangkat kerja, aku lapar dan keluar kamar. Tidak sengaja aku mendengar percakapan Tanisa dan Farid, kalau..." Aneska diam.


"Kalau apa sayang."

__ADS_1


"Kalau Tanisa tidak hamil, dan Farid menyuruh istrinya untuk hamil dari selingkuhannya." Ucap Aneska sambil menatap ke suaminya. Wajah Abian langsung merah, rahangnya mengeras, dia merasa di bodohi Tanisa dan suaminya.


"Sayang tenang, jangan marah. Yang aku bingungkan kenapa Farid bisa meminta istrinya untuk hamil." Ucap Aneska.


"Bagaimana aku bisa tenang kalau mereka telah mempermainkan kepercayaanku." Teriak Abian marah.


"Kenapa kamu marah ke aku." Gerutu Aneska.


Abian baru menyadari jika dia melampiaskan amarahnya ke istrinya.


"Maafkan aku sayang, aku kesal dengan mereka. Sekarang kamu bersiap, kita akan menghukum mereka semua." Ucap Abian.


"Semua? maksud kamu apa? bukannya yang melakukan itu hanya Tanisa dan Farid, tapi kenapa semua, seolah-olah banyak yang melakukan kesalahan." Ucap Aneska bingung.


Abian diam, kesalahan yang di ketahui Aneska hanya yang di perbuat Tanisa dan suaminya tapi kesalahan mami dan yang lainnya belum di ketahui istrinya.


"Iya mereka akan di hukum." Ucap Abian.


"Termasuk mami kamu?" tanya Aneska lagi.


"Iya."


"Sudahlah Abian, jangan menghukum mami kamu, beliau tidak sengaja pada saat mencakarku." Aneska mengira kesalahan maminya hanya itu.


"Lebih baik bersiap." Ucap Abian sambil berlalu meninggalkan istrinya menuju kamar mandi.


Aneska berusaha bangun dan menutupi tubuhnya dengan selimut, ketika dia berjalan Aneska berteriak.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Abian penasaran.


"Lihat jalanku seperti ayam bekakak yang lagi jalan." Gerutu Aneska.


"Hahaha." Abian tertawa dengan busa yang muncrat ke sana kemari.


"Ih jorok sudah sana lanjutkan." Ucap Aneska menyuruh suaminya untuk kembali melanjutkan kegiatannya.


"Kenapa jalanku bisa mengkangkang seperti ini, berapa kali kami melakukan dalam semalam." Gumam Aneska.


Di taman


Nyonya Rona mulai terlihat kesal, dia masih menanti anaknya bersama dengan yang lainnya.


"Jangan-jangan Abian lupa." Ucap Anggela.


"Lupa? Abian itu selalu ingat semuanya daya tangkapnya yang cepat membuatnya jadi penerus Bassam grup." Jelas Tanisa.


"Lalu kenapa dia belum datang juga, kita sudah hampir satu jam di sini." Ucap Anggela lagi.


"Mungkin dia sedang enak-enak sama selingkuhannya." Timpal Farid.


"Sok tau kamu! selingkuhan Abian pasti sudah pulang." Ucap nyonya Rona.

__ADS_1


"Kalau memang seperti itu kenapa dia lama, atau dia sudah berangkat kerja." Ucap Farid lagi.


"Tante kalau masih lama mending aku luluran dulu." Ucap Anggela manja.


"Kamu ya! sempat-sempatnya memikirkan luluran." Ucap Tanisa marah.


Mereka melihat ada sosok yang tinggi besar datang ke arah mereka.


"Abian datang diam semua." Ucap nyonya Rona pelan. Dan dari belakang Abian muncul sosok seorang wanita yang mengenakan dress.


"Abian membawa selingkuhannya." Ucap Tanisa.


"Sepertinya dia tidak main-main dengan selingkuhannya." Nyonya Rona langsung melongo ketika melihat sosok yang di pikir mereka wanita lain ternyata Aneska.


"Mami, perawat itu kapan balik dari singapura?" tanya Tanisa bingung.


"Ssttt diam." Ucap nyonya Rona menyuruh anaknya agar tidak banyak bicara karena Abian dan istrinya sudah dekat dari tempat mereka berdiri.


"Ini selingkuhanku." Ucap Abian sambil merangkul bahu istrinya. Aneska melihat ke suaminya, dia bingung dengan ucapan Abian yang mengatakan kalau dia selingkuhan suaminya.


"Aneska maafkan mami." Nyonya Rona langsung memeluk kaki menantunya.


"Tante apa yang kamu lakukan." Aneska berusaha menghindari mertuanya dengan cara mundur beberapa langkah.


"Mami silahkan kembali ke tim mami." Ucap Abian sambil melirik ke maminya.


Nyonya Rona bangkit dari posisi sebelumnya yaitu jongkok dengan memeluk kaki menantunya.


"Hukuman untuk mami, tidak mendapatkan uang bulanan selama enam bulan dan membersihkan semua kamar mandi." Ucap Abian tegas.


"Apa! tidak Abian, membersihkan toilet itu pekerjaan yang kotor mami enggak bisa. Kenapa juga jatah bulanan mami tidak di berikan sampai enam bulan, itu sungguh kejam Abian." Gerutu nyonya Rona.


"Mami tanya kenapa? sekarang aku tanya sama mami pantas tidak perlakuan mami samaku, pantas tidak!" ucap Abian marah.


Nyonya Rona langsung menundukkan kepalanya.


"Atau aku ganti hukuman mami."


"Apa Abian?" ucap nyonya Rona berharap hukumannya jadi lebih ringan.


"Mami keluar dari istana ini." Ucap Abian tegas.


"Apa!" semua kaget termasuk Aneska langsung menoleh ke arah suaminya.


Aneska mendekati suaminya dan membisikkan sesuatu ke suaminya.


"Pasti dia yang merencanakan ini semua." Gumam nyonya Rona.


"Sayang, tidak baik kamu melakukan itu kepada orang tua kamu. Seburuk-buruknya tante Rona, dia tetap orang yang melahirkan kamu. Ingat perjuangan orang tua kamu ketika melahirkan. Nyawa taruhannya." Bisik Aneska. Dia tau karena dia seorang perawat, begitu banyaknya ibu yang meninggal karena mempertaruhkan nyawanya untuk dapat melahirkan anaknya dengan selamat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2