Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 92


__ADS_3

"Apa ibu Desi kalau tidur menganga seperti itu." Ucap Abian.


"Ho oh." Ucap Aneska singkat sambil mendekati ibunya yang tidur di sofa, Aneska mensejajarkan posisi duduknya dengan cara duduk di lantai. Dia memegang tangan ibunya.


"Ibu bangun." Ucap Aneska sambil memegang lengan ibu Desi.


"Hemmm." Ibu Desi membuka matanya dan melihat ada anak sulungnya di depannya.


"Apa sudah selesai buat anaknya." Ucap ibu Desi dengan suara khas bangun tidur.


"Udah bu." Ucap Aneska singkat tanpa mau menjelaskan sebenarnya.


Ibu Desi melihat jam di dinding, dia mengerutkan dahinya.


"Belum ada tiga puluh menit ibu tidur tapi kenapa kalian sudah selesai." Ucap ibu Desi.


"Tadi kami pakai cara kilat khusus makanya cepat, ayo bu kita pulang." Ajak Aneska.


Aneska membantu ibunya untuk berdiri dari sofa, dia memapah wanita paruh baya itu keluar ruangan.


"Kita pulang naik apa." Tanya ibu Desi.


"Naik kaki bu." Jawab Aneska cepat.


"Anes, ibu sedang tidak bercanda." Ucap ibu Desi tegas.


"Sama saya bu." Jawab Abian yang sedang mengikuti mereka dari belakang.


Jam kerja sudah selesai, banyak karyawan di loby, mereka sedang mengantri abesnsi.


Aneska dan ibu Desi melewati loby, karyawan yang berada di situ langsung melihat ke arah mereka.


"Nes, mereka semua melihat ke arah kita." Bisik ibu Desi.


"Mungkin mereka berpikir siapa wanita tua yang cantik ini." Goda Aneska.


"Nes kalau menyebutkan kata cantik jangan tambah kata tua, kesannya kamu tidak ikhlas." Ucap ibu Desi.


"Hahaha Anes bercanda, ibu wanita paling cantik di bumi ini. Karena ibu Anes dan Cyra ada." Ucap Aneska sambil memeluk bahu ibunya.


Abian mendengarkan percakapan antara ibu dan anak itu. Dia senang keluarga istrinya sangat dekat satu sama lain, beda dengan keluarganya walaupun mereka banyak harta tapi tidak menjamin keharmonisan itu tercipta.


Mobil Abian sudah berada di depan pintu loby, Aneska meletakkan barang belanjaannya di bagasi belakang. Ibu Desi duduk di baris kedua sedangkan Aneska duduk di sebelah Abian.


"Tunggu sebentar." Ucap Abian keluar lagi dari dalam mobil dan kembali masuk ke dalam gedung tersebut.


"Kenapa Nes." Tanya ibu Desi.


"Enggak tau bu." Jawab Aneska.


Setelah lima belas menit, Abian keluar bersama dengan Zidan, mereka membicarakan sesuatu di depan pintu loby.


Aneska dan ibunya memperhatikan dari dalam mobil.

__ADS_1


"Nes, walaupun mereka pernah berselisih tapi mereka tetap profesional ya." Ucap ibu Desi.


"Iya bu, mereka bersikap layaknya tidak pernah terjadi apapun, Anes salut sama mereka bisa bersikap tenang seperti itu." Ucap Aneska.


Abian telah menyelesaikan urusannya dengan Zidan, dia kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan itu meninggalkan gedung tersebut dan meninggalkan Zidan yang masih berdiri di depan pintu loby.


"Apa ada sesuatu yang penting." Tanya Aneska.


"Iya." Jawab Abian singkat sambil tetap fokus mengendarai mobilnya.


Aneska tidak bertanya lagi, dia paham jika suaminya sedang tidak ingin membicarakan masalahnya kepada Aneska.


Abian melupakan sesuatu tentang belanjaan yang ada di bagasi belakang.


"Kamu dan ibu baru dari mall." Ucap Abian.


"Ho oh." Jawab Aneska.


"Kenapa tidak mengabari aku kalau kamu mau keluar istana." Ucap Abian sesekali melihat istrinya dan kembali melihat ke arah depan.


"Kamu saja tidak mengabariku, sudah berjam-jam kamu tidak mengirim pesan kepadaku." Ucap Aneska sewot.


"Ceritanya mau balas dendam dia." Timpal ibu Desi yang sedang duduk santai di belakang.


"Ih ibu, siapa yang balas dendam. Dia udah janji mau menghubungi Anes, tapi nyatanya apa." Gerutu Aneska.


"Idih anak ibu bisa ngambek juga." Goda ibu Desi.


"Maaf sayang, hari ini aku sibuk." Ucap Abian sambil mengelus rambut istrinya.


"Ibu kenapa? kesurupan." Goda Aneska.


"Bukan ayan." Ucap ibu Desi singkat.


"Menantu jangan panggil sayang di depan ibu kesannya anak ibu seperti layang-layang." Ibu Desi komplain.


"Lalu panggil apa bu? saya suka memanggil Aneska seperti itu." Ucap Abian sambil melirik kaca mobilnya.


"Panggil saja honey bunny." Ucap ibu Desi.


Aneska dan Abian saling pandang, mereka merasa lucu dengan tingkah ibu Desi yang gaul.


Mobil memasuki kawasan yang rindang, di kanan kiri mereka terdapat pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, kawasan itu jalan menuju istana Bassam.


"Menantu, kenapa kalian buat tempat tinggal di tengah hutan, kenapa tidak di tengah laut." Ucap ibu Desi penasaran.


"Kalau tengah laut tenggelam bu, papi memilih tempat tinggal di sini karena almarhum tidak suka dengan keramaian. Keramaian membuat almarhum stres bahkan sakitnya sering kambuh." Jelas Abian.


"Memangnya almarhum papi kamu sakit apa." Tanya Aneska.


"Asma akut." Jawab Abian.


"Hemm, memang penyakit asma membutuhkan udara yang sehat dan segar." Ucap Aneska.

__ADS_1


"Tapi kenapa rumah kalian bentuknya aneh apa kalian ada keturunan dari keluarga kerajaan." Tanya ibu Desi.


"Ada, darah papi mengalir darah bangsawan." Ucap Abian.


"Berarti darah kamu ada darah bangsawan juga." Tanya Aneska.


Abian menganggukkan kepalanya.


"Wah keren, ibu tidak membayangkan kalau dapat menantu dari keluarga bangsawan." Ucap ibu Desi senang.


Mobil memasuki pekarangan istana, Abian memarkirkan mobil tepat di depan pintu istana. Pelayan membukakan pintu untuk Aneska dan ibunya.


Ibu Tatik berdiri di depan pintu istana.


"Tuan dan.. " Ibu Tatik melirik Aneska.


"Dan apa." Ucap Abian sambil melihat wanita paruh baya itu.


"Dan nona Aneska, keluarga sudah menunggu di ruang makan." Ucap ibu Tatik sambil melirik Aneska.


"Kami tidak makan malam bersama." Ucap Abian sambil berlalu meninggalkan ibu Tatik.


Abian kembali membalikkan badannya.


"Bawa belanjaan istriku ke kamar." Perintah Abian sambil berlalu masuk ke istana. Ibu Tatik menganggukkan kepalanya. Aneska tersenyum ke rivalnya.


"Hai bu, apa kabarnya." Goda Aneska.


"Kamu hanya beruntung saja, kalau nona Vania datang kamu bakal di depak dari istana ini." Ucap ibu Tatik ketus.


"Siapa Vania." Tanya ibu Desi.


Aneska menarik tangan ibunya, membawa wanita paruh baya itu masuk ke istana meninggalkan kepala pelayan itu.


"Nes siapa Vania." Tanya ibu Desi sambil menahan tangan anaknya agar berhenti.


"Vania mantannya Abian bu." Ucap Aneska pelan.


"Mantan seperti apa? ibu dengar kamu akan di depak, jelaskan pada ibu." Ucap ibu Desi penasaran.


"Enggak bu, Abian mencintaiku. Ibu Tatik salah menafsirkan, mungkin di pikirnya aku hanya pelarian Abian." Jelas Aneska.


"Syukur kalau begitu, tapi kalau sampai kamu di depak dari istana ini karena mantannya. Siap-siap perang sama ibu." Ucap ibu Desi tegas.


"Ih ibu kesannya mau perang dunia aja." Ucap Aneska melihat mimik wajah ibunya yang berubah serius.


"Anes kamu tau, ibu akan membela mati-matian jika anak ibu di tendang dari sini. Apalagi di lakukan tanpa kesalahan yang kamu perbuat. Tapi jika kamu melakukan kesalahan seperti selingkuh dengan senang hati ibu senang kamu di tendang." Ucap ibu Desi tegas.


"Enggak bu, Abian tidak seperti itu. Dan Aneska tidak akan menodai rumah tangga ini dengan berselingkuh. Walaupun awalnya Aneska ingin bercerai dari Abian tapi sekarang tidak Aneska akan menjaga keutuhan rumah tangga ini."


"Bagus, kalian harus mempunyai komitmen dalam berumah tangga." Ucap ibu Desi lagi.


Ibu Desi berhenti berbicara karena dia melihat ada ibu Tatik sedang berjalan menuju mereka sambil menenteng belanjaan mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2