Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 49


__ADS_3

Sang surya mulai memunculkan sinar indahnya. Aneska selalu bangun lebih awal dari suaminya. Kejadian kemaren sore membuatnya merasa malu jika membayangkan ataupun mengingatnya.


"Anes, jangan ulangi lagi perbuatan kamu. Ingat dia mencintai Vania." Aneska berbicara sambil melihat cermin.


"Kenapa aku bisa seperti ini? ya ampun jangan sampai aku terjebak ke dalam pesona dan kebaikannya."


Pintu kamar mandi di ketuk. Aneska buru-buru membuka pintu.


"Udah siap? aku mau berangkat kerja." Ucap Abian.


"Udah." Aneska keluar dari kamar mandi di gantikan dengan Abian.


"Anes, hubungi koki, kita sarapan di kamar." Ucap Abian dari balik pintu.


"Iya." Aneska menghubungi koki istana Bassam sesuai permintaan suaminya. Setelah itu dia menuju ruang ganti tempat lemari berada. Aneska melihat dan menyentuh satu persatu jas itu dengan tangannya. Dia melihat cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.


"Kenapa dia membelikan cincin semahal ini? jika aku adalah istri pajangan seharusnya dia tidak melakukan ini apalagi dia selalu bersikap baik kepadaku dan keluargaku. Sebenarnya apa yang di inginkan dia dariku? apa dia memang serius dengan pernikahan ini." Gumam Aneska.


"Kamu bicara sama semua pakaianku." Ucap Abian yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya menyisakan handuk di pinggangnya.


"Aku rasa ini cocok untuk kamu." Aneska mengambil satu setelan jas berwarna grey dan menyerahkan ke Abian. Aneska buru-buru pergi meninggalkan suaminya, tapi tangan Abian sudah menghalangi langkah istrinya.


"Jangan pergi, pakaikan." Abian menyerahkan setelan jas ke tangan istrinya.


"Aku? yang pakaikan?" ucap Aneska sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya iya kamu, apa bu Tatik?" ucap Abian.


Aneska mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah sini." Ucap Aneska membuka setelan jas dari gantungan.


Abian memakai celana dalamnya di depan istrinya sontak membuat Aneska buru-buru membalikkan badannya.


"Ini orang kenapa enggak punya malu sama sekali." Gerutu Aneska.


Abian menyentuh istrinya agar berbalik. Aneska berbalik dan melihat suaminya hanya memakai celana dalam. Aneska buru-buru menutup matanya.


"Kamu enggak malu seperti ini." Gerutu Aneska sambil menutup matanya.


"Malu sama siapa? sama kamu?" ucap Abian.


"Iyalah." Jawab Aneska sambil tetap menutup matanya.


"Kenapa harus malu, kamu saja sudah memencet hartaku kemaren." Ucap Abian.


"Aaaah." Rengek Aneska.


"Sudah buka mata kamu." Ucap Abian.


Aneska membuka matanya dan melihat suaminya sudah memakai kemeja berwarna putih. Pintu kamar di ketuk Aneska buru-buru meninggalkan suaminya di ruang ganti.


"Terima kasih." Ucap Aneska kepada pelayan yang mengantarkan makanan ke kamar mereka. Abian keluar dari kamar dengan mengenakan setelan jasnya. Aneska terpukau melihat ketampanan suaminya, dia tidak berkedip melihat suaminya.


Aduh bang kamu ganteng banget, adek lumer bang.


"Kamu kenapa? mengagumi ketampanan suami kamu." Ucap Abian sambil duduk di sofa. Dia menepuk sofa di sampingnya. Aneska langsung duduk.


Dia melayani suaminya makan, mereka menikmati makanannya.

__ADS_1


Di ruang makan keluarga sudah menunggu Abian dan Aneska.


"Kemana sih mereka." Gerutu Tanisa.


"Ma, kita makan duluan ya, soalnya aku mau berangkat ke kantor." Ucap Farid.


"Ya sudah kita makan, lupakan mereka." Ucap nyonya Rona. Setelah selesai makan Farid langsung bergegas keluar istana menuju kantor.


Begitupun dengan Abian, dia buru-buru keluar istana di dampingi istrinya. Zidan memperhatikan dari jauh dan langsung keluar istana menuju kantor karena satu hari sebelumnya Abian sudah memerintahkannya untuk ke kantor hari ini.


"Ingat hubungi aku setiap tiga puluh menit." Ucap Abian memegang tangan istrinya. Aneska menganggukkan kepalanya. Abian mencari sosok Tami.


"Hei." Abian melambaikan tangannya ke salah satu pelayan yang sedang mengelap kaca jendela.


"Iya tuan." Seorang pria menghampiri Abian.


"Carikan Tami." Perintah Abian.


"Baik tuan." Pelayan itu langsung berlari masuk ke bagian samping istana dan setelah beberapa menit kembali bersama Tami sambil berlari.


"Iya tuan." Ucap Tami dengan nafas ngos-ngosan.


"Aku mau pergi kerja, jaga istriku." Ucap Abian.


"Baik tuan." Jawab Tami singkat.


"Aku berangkat ya." Ucap Abian sambil mengecup dahi istrinya. Melihat kemesraan temannya Tami langsung membelalakkan matanya.


Abian melajukan mobil sportnya meninggalkan istana.


"Nes, kalian mesra sekali. Pasti telah terjadi sesuatu antara kalian berdua." Tebak Tami.


"Sok tau." Ucap Aneska sambil berjalan mengelilingi taman di ikuti Tami.


"Aduh mbak Tami, antara kami tidak terjadi apapun." Ucap Aneska.


"Apa sentuhan juga tidak ada." Tanya Tami lagi.


"Idih mbak Tami pertanyaannya mengandung ranjau." Ucap Aneska.


"Biasanya kalau dua orang di dalam satu ruangan terus menerus akan tumbuh namanya cinta. Tapi sebelum cinta itu akan ada namanya pemanasan, seperti kissing dan belaian." Ucap Tami.


Aneska langsung melirik temannya.


"Mbak punya pengalaman seperti itu ya." Tanya Aneska.


"Ah kamu tuh kebiasaan, kita sekarang sedang membicarakan kamu." Ucap Tami.


Aneska dan Tami duduk di taman. Tidak jauh dari tempat mereka duduk ada Tanisa dan nyonya Rona sedang bermain tenis lapangan. Tanisa memanggil maminya.


"Mam lihat, putri ada di sana." Ucap Tanisa sambil menunjuk dengan gerakan kepalanya. Nyonya Rona melihat arah kepala anaknya. Aneska terlihat sedang asik mengobrol dengan Tami.


"Akan aku kerjain dia." Ucap Tanisa mendribble bola dengan raketnya.


"Jangan nanti Abian bisa marah sama kamu." Ucap nyonya Rona mengingatkan anak sulungnya.


"Kita aman mam, Abian baru pergi ke kantor." Ucap Tanisa masih mendribble bola secara berulang.


"Dari mana kamu tau kalau Abian pergi." Tanya nyonya Rona lagi.

__ADS_1


"Dari pelayan." Jawab Tanisa dan memukulkan bola ke arah Aneska. Bug, bola mengenai dahi Aneska.


"Ops sorry." Teriak Tanisa sambil tertawa senang.


Aneska sedikit pusing, dia memegang dahinya yang sakit karena baru di timpuk bola.


"Kurang ajar banget sih dia." Gerutu Tami.


Tanisa dan nyonya Rona tertawa sambil kembali bermain tenis lapangan.


"Sakit Nes." Ucap Tami sambil memegang dahi temannya. Aneska mencari bola yang baru saja mengenai dahinya. Dia berjalan mengambil bola itu di ikuti Tami.


"Nes, jangan di balas nanti mereka akan terus mengganggu kamu." Tami melarang temannya.


"Mbak, orang seperti mereka enggak bisa di biarkan, kalaupun aku tidak membalas mereka akan terus menggangguku." Ucap Aneska marah sambil melihat jambu batu yang ada di atas pohon.


"Mbak ambilkan jambu itu." Ucap Aneska sambil menunjuk pohon jambu.


"Untuk apa." Tanya Tami bingung.


"Aku mau membalasnya." Ucap Aneska geram.


"Nes itu keras."


"Udah ambilkan saja." Ucap Aneska cepat.


"Kenapa bukan kamu yang manjat."


"Mbak kan lihat aku pakai dress kalau enggak permintaan Abian, boro-boro aku mau pakai." Jelas Aneska.


Tami memanjat pohon jambu sesuai permintaan Aneska. Dia mengambil beberapa buah jambu batu yang besar dan masih keras.


"Nih." Ucap Tami sambil menyerahkan buah jambu ke tangan temannya. Aneska mengambil satu dan mencoba melempar jambu itu.


"Ah meleset." Gerutu Aneska.


"Kamu lemparnya pakai tenaga banteng pasti kena." Ucap Tami.


Aneska mengulangi lagi untuk yang kedua kalinya meleset. Dia berjalan sedikit mendekat dan ketika Tanisa dalam posisi mendribble bola, Aneska melemparkan jambu batu ke arah Tanisa. Buah jambu itu mengenai mata Tanisa.


"Aw." Tanisa terjatuh. Nyonya Rona kaget melihat anaknya terjatuh dan lebih kaget ada buah jambu di tengah lapangan. Wanita paruh baya itu melihat ke arah menantunya. Aneska pura-pura bersiul seperti tidak tau sedang terjadi sesuatu.


"Kamu!" Teriak nyonya Rona sambil berlari melihat anaknya.


"Sakit ma, hiks hiks." Tanisa menangis menahan sakit.


"Kalau sampai terjadi sesuatu sama Tanisa, kamu akan menanggung akibatnya." Teriak nyonya Rona marah sambil memapah anaknya masuk ke dalam istana.


Aneska dan Tami tertawa senang.


"Dasar nenek sihir, sudah jelas yang pertama mengajak perang anaknya. Ketika aku melawan malah marah." Gerutu Aneska.


"Nes kalau matanya sampai buta bagaimana." Ucap Tami khawatir.


"Mbak jangan mendramatisir keadaan, menurutku enggak akan sampai buta. Kecuali benda tajam mengenai matanya." Jelas Aneska.


"Tapi kalau beneran gimana?" Tami masih khawatir.


"Tenang mbak, pemain tinju sering di pukul mata dan pelipisnya tapi enggak buta." Jelas Aneska.

__ADS_1


Tami manggut mulai sedikit lega dengan penjelasan temannya.


Bersambung.


__ADS_2