Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 146


__ADS_3

Abian murka dengan kelakuan satu kampung itu. Ingin rasanya dihajarnya semua warga tapi pak Mirza memohon ke Abian agar tidak melakukan kekerasan.


Bu Desi mendekati RT yang mulutnya telah berdarah. "Tono, kenapa kamu selalu mengusik keluarga kami, huh! apa kamu enggak kasihan sama istri kamu si Tini dan anak kamu si Titi dan si Tuti! kalau kamu masuk penjara bagaimana nasib anak kamu!" seru bu Desi marah.


"Saya tidak mengusik tapi peraturan di sini jika ada yang menginap harus lapor tapi bapak dan ibu tidak memberikan laporan." Jelas Tono.


"Kami akui kalau kami salah." Ujar pak Mirza pelan.


"Salah apanya? yang salah ni RT seharusnya dia bertanya dulu jangan main grebek aja." Bu Desi berujar dengan penuh amarah.


Aneska mendekati Tono. "Tono, kamu tau siapa aku, kenapa kamu melakukan ini kepadaku? apa kamu masih dendam samaku?" tanya Aneska.


Tono diam tidak mungkin dikatakannya di depan semua orang jika dia masih mencintai Aneska.


Abian menarik tangan istrinya. "Jangan bicara dengannya. Aku pastikan jabatan kamu sebagai RT akan segera di copot." Abian berujar dengan emosi yang berapi-api.


"Kamu kira aku takut, para warga sekalian ini adalah contoh yang tidak baik, lama-lama kampung kita akan di jadikan tempat prostitusi." Ujar RT dengan suara yang cukup nyaring.


"Betul itu usir keluarga ini dari kampung kita!" seru semua warga.


"Apa!" ibu Desi dan keluarganya mulai di giring warga untuk meninggalkan kampung tapi untuk Abian tidak ada seorangpun yang berani melakukannya.


Suara sirine mobil polisi terdengar cukup nyaring di malam yang gelap itu. Warga ketakutan dan ingin melepaskan tangan mereka dari keluarga Amran.


"Jangan takut, kita tidak salah." Ujar RT menenangkan warganya.


Pihak kepolisian datang ke tempat tersebut dan menanyakan duduk persoalan. Tono sebagai RT langsung unjuk badan. Dia menceritakan tentang penggerebekkan yang di lakukan warganya. Bu Desi langsung menyela ucapan Tono. "Dia salah pak, anak saya telah menikah dan itu suaminya." Jelas ibu Desi seraya menunjuk ke arah Abian dan anak sulungnya.


"Apa ada bukti jika anak ibu telah menikah?" tanya pihak polisi.


Bu Desi melihat suaminya. Pernikahan itu tidak pernah di dokumentasikannya. Karena pada saat itu mereka syok karena yang menikahi anaknya orang lain dimana Abian pada saat itu sedang menodongkan pisau ke kepala anaknya. Walaupun akhirnya mereka tau jika itu bukan pistol beneran hanya korek api yang berbentuk pistol.


"Semua ikut ke kantor polisi." Ujar polisi dengan suara cukup nyaring.


"Saya tidak mau." Abian menolak.


"Jika anda tidak bersikap kooperatif, kami akan melakukan kekerasan." Ujar pihak polisi tegas.


Ketika sebagian mulai memasuki mobil polisi, ada suara cukup nyaring dan mengakibatkan angin terasa kencang dan lampu yang sangat menyorot.


Abian tersenyum orang yang di tunggunya tiba. Pak Dudu datang menggunakan helikopter yang membuat semua warga tercengang.

__ADS_1


Pria paruh baya itu datang dengan beberapa anggotanya dan langsung menghampiri kliennya Abian.


"Maaf tuan Abian, saya sedikit terlambat." Ujar pak Dudu seraya menundukkan kepalanya ke Abian yang menunjukkan rasa hormat kepada pemuda di depannya.


Warga tambah bingung dengan kedatangan orang tidak di kenal menggunakan helikopter dan terlihat cukup hormat kepada Abian. Pak Dudu menjelaskan siapa Abian dan status Abian dengan Aneska. Ternyata pria paruh baya itu bertindak cukup cepat dari yang lainnya. Dia mendokumentasikan pernikahan itu dan memberikan surat nikah kliennya dan juga maharnya. Dan semua bukti lainnya.


Akhirnya pihak polisi mengerti. Pihak kepolisian menyalami Abian karena telah melakukan kesalahan.


Pihak kepolisian menjelaskan siapa Abian dan hubungannya dengan Aneska. Warga awalnya tidak percaya tapi bukti di tunjukkan pak Dudu. Akhirnya warga tidak bisa memungkiri kenyataan yang sebenarnya.


Pihak kepolisian mendatangi Abian. "Bapak mau masalah ini di naikkan ke jalur hukum atau......?" tanya pak Polisi.


"Iya saya mau semua warga di sini di sidang, karena telah memfitnah saya dan keluarga istri saya termasuk RT satu itu jebloskan dia ke penjara dengan tuduhan mencemarkan nama baik." Jelas Abian tegas seraya menunjuk Tono.


"Ampun tuan jangan, kami hanya mengikuti perintah RT." Semua warga bersimpuh di kaki Abian mengharap belas kasih pria itu.


Aneska menggelengkan kepalanya dengan arti dia tidak setuju dengan ide suaminya. Karena istrinya tidak setuju Abian akhirnya melepaskan seluruh warga itu hanya tinggal satu orang yang belum minta maaf kepadanya.


"Baiklah kasus ini tidak akan saya naikkan ke persidangan tapi dengan syarat jangan pernah mengganggu keluarga istri saya. Dan silahkan kalian minta maaf ke keluarga istri saya." Semua warga langsung menyalami keluarga Aneska dan meminta maaf atas kesalahan yang mereka perbuat.


Pak polisi menggiring pak RT ke mobilnya, tapi Aneska berteriak.


"Tono belum terlambat meminta maaf ke suamiku." Teriak Aneska. Tanpa pikir panjang RT yang tidak jelas bagaimana dia bisa menjabat posisi itu langsung berlari dan mencium punggung tangan Abian. Meminta maaf atas kerusuhan malam itu.


"Karena kalian semua sudah tau jika kami telah menikah dan resepsi belum di adakan sama sekali maka tiga hari lagi akan ada resepsi untuk pernikahan kami." Ujar Abian di sambut tepuk tangan warga.


Bu Desi langsung menghampiri Abian.


"Mana bisa dalam tiga hari mengadakan pesta." Gerutu bu Desi karena Abian hanya bisa mengucapkan tanpa memikirkan sibuknya bu Desi kelak.


"Mertua saya benar, dalam tiga hari pesta tidak akan terlaksana jadi saya minta partisipasi semua warga untuk membantu dalam resepsi ini." Semua warga bertepuk tangan tanda antusias, mereka akan membantu keluarga pak Mirza agar pesta itu berjalan dengan semestinya.


Setelah itu semua warga di minta untuk pulang karena pekerjaan mereka akan di mulai besok. Pihak kepolisian telah balik ke kantornya hanya pak Dudu yang belum balik.


"Bapak sangat keren ketika turun dari helikopter." Puji Abian.


"Hahahaha, saya bingung jika dengan jalur darat tidak mungkin bisa sampai tepat waktu. Makanya saya langsung menyewa helikopter ini." Jelas pak Dudu dengan gelak tawanya.


"Apa bapak mengkhawatirkan saya masuk penjara?" tanya Abian.


Pak Dudu menggelengkan kepalanya. Melihat respon pria paruh baya itu Abian mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Lantas?" tanya Abian bingung.


"Saya lebih khawatir dengan nasib warga." Ujar pak Dudu jujur. Karena dia tau jika kliennya telah marah akan terjadi bencana yang cukup besar.


Pak Dudu tidak lama di kampung itu. Dia harus segera kembali ke kota. Abian masuk ke dalam rumah dan dia kaget melihat ibu mertuanya telah duduk di kursi menunggunya. Dengan tatapan yang sangat tajam.


Aneska dan bapaknya telah berusaha untuk mengajak ibu Desi masuk ke kamar. Mereka takut jika ibunya membangunkan singa itu kembali.


"Duduk." Ujar ibu Desi tegas.


Abian duduk seraya melihat pak Mirza dan istrinya.


"Kamu pikir rencana kamu hebat!" ujar bu Desi tegas.


Abian mengangkat salah satu alisnya. Belum dia menjelaskan ibu Desi bertepuk tangan seperti yang di lakukan Abian di rumah sakit.


"Kamu melakukan ini di rumah sakit, apa kamu ingat?" tanya ibu Desi.


Abian menganggukkan kepalanya. Ibu Desi masih bertepuk tangan dengan cukup kencang dan lama-lama wanita itu tertawa.


"Ibu jangan kesurupan." Ujar pak Mirza takut.


Tiba-tiba tidak ada suara lagi dari mulut wanita paruh baya itu. Dia mengangkat jempolnya dengan posisi ke bawah kemudian dia mengangkat jari jempolnya.


"Apa artinya?" tanya Abian bingung.


"Aduh gitu aja enggak tau." Gerutu bu Desi.


Wanita paruh baya itu menggaruk kepalanya. " Kamu telah lulus." Ujar bu Desi pelan.


"Lulus apa bu? Abian tidak sedang sekolah." Celetuk anak sulungnya.


"Sstt diam." Ibu Desi meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.


"Kamu telah lulus dari serangkaian tes yang ibu buat."


"Tes?" tanya semua orang yang ada di ruangan itu.


"Iya tes, tes pertama kamu berhasil melewatinya yaitu mau menyusul Aneska hari itu juga kalau kamu telat satu hari langsung ibu tendang kamu dari sini. Tes yang kedua kamu berhasil makan makanan orang kampung, tes ketiga ibu bingung apa kamu lulus apa tidak karena kamu tidak dapat menyelesaikan tugas mencuci piring. Tes kelima." Ibu Desi melihat menantunya dengan tatapan serius.


"Kamu berhasil melewati tes hantu dari ibu."

__ADS_1


"Tes hantu?" tanya Abian dan yang lainnya bingung.


Bersambung...


__ADS_2