Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 121


__ADS_3

Zidan naik ke mobilnya dan duduk di belakang setir seraya melajukan mobilnya. Sekilas Zidan melihat Tiara yang terus komat kamit.


"Kamu kenapa?" tanya Zidan.


"Aku sedang membaca doa, agar setan yang ada di sini kepanasan." Sahut Tiara.


"Setan? maksud kamu apa?" tanya Zidan bingung.


"Jika ada dua orang yang bukan muhrim maka akan ada setan di antara keduanya." Jelas Tiara.


Zidan tersenyum, dia tau jika wanita yang ada di sebelahnya takut akan sikapnya.


"Aku tidak akan mencelakai kamu, kalau perlu aku membawa kamu ke KUA." Ucapan Zidan membuat Tiara membulatkan matanya.


"Hahaha bapak lucu." Ucap Tiara seraya memukul lengan Zidan gemes. Zidan tersenyum, sikap dan tingkah laku Tiara mirip dengan Aneska.


Tiara sadar akan sikapnya, dia langsung memalingkan wajahnya melihat ke arah jendela.


"Ngapain dia membawaku malam-malam begini, awas saja kalau dia berbuat mesum, aku timpuk dia pakai botol minum." Gumam Tiara pelan dan langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


"Halo ibu, jika Tiara tidak balik atau hilang, ibu bisa mencari Zidan, dia bekerja di perusahaan suami Aneska." Zidan langsung mengambil ponsel Tiara dan melihat ponsel perawat itu. Ponselnya dalam keadaan mati.


"Hehehe." Tiara menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Kamu kenapa?" tanya Zidan seraya tetap menyetir.


"Aku takut." Ucap Tiara pelan.


"Takut kenapa?" tanya Zidan bingung.


"Bapak tidak ingin mengambil keuntungan dariku kan?" tanya Tiara.


"Menurut kamu?" ucap Zidan seraya tersenyum.


Melihat cara tersenyum Zidan membuat Tiara ketakutan, muncul pikiran jelek di benaknya.


Dia terus memalingkan wajahnya dan memegang kuat botol minumannya. Bersiap-siap jika pria di sebelahnya mengambil keuntungan dari dirinya.


Zidan memberhentikan mobilnya di sebuah tempat yang Tiara sendiri tidak tau tempat apa itu.


"Bapak di mana ini?" tanya Tiara bingung karena banyak mobil mewah parkir di situ.


"Menurut kamu apa?" tanya Zidan balik, seraya turun dari mobil. Dia membukakan pintu untuk Tiara.


Tiara tidak mau turun, dia tetap duduk di mobil.


"Ayo turun." Zidan mengulurkan tangannya ke perawat itu, tapi Tiara tidak menyambut uluran tangan itu.


"Bapak yang terhormat, saya sudah minta maaf ke anda. Saya wanita baik-baik, sebaiknya anda mencari perempuan lain untuk memuaskan hasrat anda." Ucap Tiara tegas.


"Hasrat? kamu pikir ini di mana?" Zidan menunjuk salah satu papan yang berada di pojok. Tiara membaca tulisan itu.


"Restoran." Baca Tiara.


"Iya restoran, kamu pikir ini hotel."

__ADS_1


Tiara tersenyum kik kuk sambil mengatupkan tangannya untuk meminta maaf.


"Sudah turun, aku lapar." Ajak Zidan.


Tiara turun dan melihat seragamnya.


"Pak sebaiknya bapak saja yang makan." Ucap Tiara dan kembali lagi ke mobil.


"Kenapa?" tanya Zidan.


"Kalau seperti ini kesannya saya seperti baby sitter." Ucap Tiara jujur yang tidak pede dengan penampilannya.


"Baby sitter? siapa bayinya?" tanya Zidan.


"Bapak." Jawab Tiara singkat.


Zidan tersenyum dan mengerti akan kekhawatiran Tiara.


"Aku tau kamu sungkan karena kamu tidak memakai gaun, tapi untuk apa kamu memikirkan omongan orang, kita mau makan dan belum tentu mereka membicarakan kamu, ayo..." Zidan kembali mengulurkan tangannya ke Tiara dan wanita itu tetap tidak menyambut tangan Zidan.


Mereka berjalan menuju pintu restoran.


"Kamu bawa uang?" tanya Zidan.


"Bawa? memangnya kenapa?" tanya Tiara bingung.


"Makan malam kita kamu yang bayar."


"Apa!" Tiara langsung berhenti dan langsung balik badan, tapi Zidan langsung memegang tangan perawat itu.


"Ayo masuk." Ucap Zidan seraya tetap memegang tangan Tiara.


"Hahaha, aku hanya bercanda mana mungkin aku membiarkan seorang wanita membayari makanku, apa kata dunia?" Jelas Zidan.


"Hahaha, ternyata anda bercanda." Tiara melepaskan tangan Zidan dan langsung masuk ke restoran. Ketika di depan pintu mereka di sambut pelayan restoran.


"Selamat malam, apa sudah melakukan reservasi?" tanya pelayan restoran.


"Hah?" Tiara bingung dan pria di belakang langsung memegang bahunya.


"Dia bersama saya." Ucap Zidan sambil merangkul bahu Tiara, perawat itu hanya menoleh bingung dengan cara makan orang kaya.


"Maaf pak Zidan silahkan masuk, ruangan anda telah kami siapkan." Ucap pelayan restoran.


Zidan menganggukkan kepalanya seraya memegang tangan Tiara.


Wanita itu mengedarkan pandangannya ke dalam restoran. Ini pertama kali dalam hidupnya menginjakkan kakinya ke restoran, dia terus berjalan ke tempat yang berbeda dari yang lainnya.


Mereka masuk ke dalam ruangan yang lebih private dari tempat sebelumnya.


Pelayan menarik kursi untuk mereka berdua dan menuangkan air putih ke dalam gelas.


Buku menu di letakkan di depan mereka berdua. Zidan membaca dan memilih makanan yang dapat membangkitkan selera makannya.


"Kamu pesan apa?" tanya Zidan.

__ADS_1


"Saya ikut bapak aja." Jawab Tiara cepat karena dia tidak tau tentang segala jenis makanan di restoran.


Zidan memesan dua beef tenderloin beserta makanan penutup dan milk tea untuk menghilangkan dahaga keduanya. Setelah mencatat pesanan pengunjung restorannya, pelayan meninggalkan ruangan itu.


Tiara terus melihat sekeliling ruangan, dia merasa takjub dengan interior di restoran itu. Dan memperhatikan banyaknya sendok di atas meja mereka.


"Seumur-umur saya hanya tau sendok garpu, dan sendok makan oh iya sama sendok nasi, tapi sekarang ada banyak jenis sendok di sini dan pasti di gunakan untuk jenis makanan yang berbeda." Ucap Tiara sambil menyentuh sendok yang ada di depannya.


"Iya kamu benar semua sendok di gunakan untuk jenis makanan yang berbeda." Ucap Zidan.


Tiara menganggukkan kepalanya mengerti.


"Pantas makan di sini mahal pelayanannya juga bagus, sesuai dengan harga. Hemm ngomong-ngomong kenapa kita tidak makan di pinggir jalan saja? apa bapak tidak terbiasa memakan makanan orang-orang seperti kami." Ucap Tiara.


Zidan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Itu karena bapak belum mencoba, makanan di pinggir jalan banyak yang lezat tapi tetap harus melihat kebersihannya."


Pintu ruangan di buka pelayan membawa makanan mereka dan meletakkan di atas meja. Tiara langsung mengerutkan dahinya seraya melihat makanannya.


Setelah pelayan keluar dia langsung mengajukan pertanyaan ke Zidan.


"Makanan apa ini pak?" tanya Tiara.


"Itu has luar dari daging sapi, rasanya enak cobalah."


Tiara mengikuti cara makan Zidan, dia memotong bagian kecil dan mencoba mengunyah makanan itu.


"Bagaimana?" tanya Zidan.


"Enak" Tiara terus menikmati makanannya.


"Ada yang kurang pak." Ucap Tiara sambil menikmati makanannya.


"Apa?" tanya Zidan.


"Kurang nasi." Sahut Tiara.


"Hahaha, ini makanan luar dan tidak menggunakan nasi, aku yakin kamu akan kekenyangan menghabiskan makanan itu." Jelas Zidan dengan gelak tawanya.


Yang di ucapkan Zidan benar, dia tidak sanggup menghabiskan semuanya.


"Saya tidak sanggup lagi." Ucap Tiara menyerah dan ketika makanan penutup datang dia langsung bersemangat untuk menyantap makanan itu.


Zidan tersenyum dengan tingkah Tiara yang apa adanya.


Mereka telah selesai menyantap makanannya giliran Tiara yang mengajukan pertanyaan ke Zidan.


"Bapak membawa saya ke sini untuk apa? apa sekedar untuk menemani bapak makan malam atau apa?" tanya Tiara.


"Hemm..." Zidan melihat Tiara lalu menghela napasnya.


"Kenapa?" tanya Tiara.


"Saya ingin menikah dengan kamu?" ucap Zidan.

__ADS_1


"Apa!" ucap Tiara kaget.


Bersambung...


__ADS_2