Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 175


__ADS_3

Tiara kesal dengan tingkah Zidan. "Udah tau aku ngambek, kenapa tidak ada mesra-mesranya." Gerutunya. Tiara cemburu dengan Vania tapi dia ingin Zidan berusaha mendekatinya ataupun merayunya tapi kenyataannya sampai malam pria itu tidak ada menghubunginya seperti hilang tertelan bumi.


Di restoran


Zidan sedang menikmati makan malamnya bersama Vania. Dan diam-diam dia mengambil fotonya yang sedang menikmati makan malam bersama wanita itu.


Zidan mengirimkan fotonya ke Tami. Dia menyerahkan tugas selanjutnya ke perawat itu.


Tami masih dalam perjalanan pulang, dari siang dia di bawa dokter Arif memutari kota.


Sebenarnya Tami lelah, tapi dia tidak berani menolak. Karena jasanya dokter Arif dia selamat dari pria bergigi tonggos.


Pesan masuk ke ponsel Tami. Gadis itu membuka pesan dan melihat foto Zidan dengan Vania.


"Siapa?" tanya dokter Arif yang ternyata memperhatikannya.


"Pak Zidan." Tami menunjukkan foto tersebut.


"Mau di apakan foto itu?" tanya dokter Arif seraya menyetir mobilnya.


"Mau saya kirim ke Tiara." Sahut Tami. Dokter Arif tidak bertanya lagi, dia mengerti maksud foto itu di kirim ke Tiara.


Mobil telah mendekati mes, tiba-tiba Tami minta berhenti di jalan yang tidak jauh dari mes.


"Berhenti di sini." Titah Tami.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya dokter Arif.


"Saya mau ke warung." Sahut Tami berbohong. Dia tidak ingin dokter Arif mengantarnya sampai depan mes, alasannya untuk menghindari gosip.


Dokter Arif memberhentikan mobilnya di tempat yang di maksud perawatnya. Tami segera turun dan sebelumnya mengucapkan terima kasih ke dokter Arif.


"Tami tunggu." Ujar dokter Arif. Tami berdiri di depan pintu mobil.


"Iya dok."


"Jangan gunakan aplikasi untuk mencari jodoh." Titah dokter Arif.


Tami menganggukkan kepalanya tapi kenyataannya di dalam hatinya. Dia akan tetap melakukan untuk mencari jodohnya.


Setelah mobil dokter Arif tidak terlihat, Tami memutar badannya kembali menuju mes dan ternyata dokter Arif memperhatikan dari kaca spionnya.


Sesampai di depan kamarnya ada Tiara yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Mbak dari mana aja?" tanya Tiara.


"Jalan-jalan." Sahut Tami bohong. Tiara memperhatikan cara berpakaian temannya.


"Pakai dress?" tanya Tiara lagi.


"Iya, memangnya enggak boleh." Sahut Tami lagi. Dia malu mengatakan ke Tiara tentang kencannya yang gagal. Apalagi pria yang diharapkannya tidak sesuai dengan bayangannya.

__ADS_1


"Bukan enggak boleh, biasanya mbak pakai celana jeans sekarang pakai dress, heran aja." Tiara menaruh curiga.


"Mau ngapain?" tanya Tami mengalihkan


"Aku yang mau tanya, dari mana mbak dapat foto ini." Tiara menunjukkan foto yang di kirimkan Tami. Di dalamnya ada Zidan dan Vania.


"Oh tadi enggak sengaja mbak lewat di depan restoran itu." Sahut Tami bohong seraya menggaruk kepalanya.


Tiara menarik tangan Tami.


"Mau kemana?" tanya Tami bingung.


"Aku mau mengintip mereka." Sahut Tiara yang terus menggandeng tangan Tami.


"Nah sekarang cemburu, lebih baik jujur saja kalau kamu suka dengan pak Zidan."


"Siapa yang cemburu, aku hanya ..." Tiara malu mengakui kalau dia cemburu.


"Cemburu, iya kan." Tebak Tami.


"Ah mbak, siapa yang cemburu." Sahut Tiara malu dan masih menggandeng tangan Tami menuju gerbang mes.


Tapi Tami melepaskan tangannya.


"Mau kemana?" tanya Tami.


"Mau melihat mereka."


"Hemmm, aku di suruh Aneska untuk memata-matai Vania." Sahut Tiara asal.


Tami curiga dia mengambil ponselnya. "Kalau mbak enggak mau ya udah, aku pergi sendiri. Dimana alamat restoran itu."


Tami bingung, Zidan tidak menyebutkan nama restorannya.


"Di mana ya." Gumam Tami mengaktifkan ponselnya dan menghubungi Zidan dan tentunya tidak di ketahui Tiara.


"Tiara kalau kamu sudah memata-matai pak Zidan, apa yang akan kamu lakukan." Tami berbicara cukup keras agar Zidan mendengar jika dia berbicara dengan Tiara.


"Mbak kenapa teriak-teriak? aku enggak tuli." Sahut Tiara seraya menutup kupingnya.


"Apa nama restorannya?" tanya Tiara lagi.


"Apa ya nama restorannya." Tami masih teriak dan melirik ke ponselnya.


Dan panggilan terputus. "Apa mbak? ini udah malam loh."


Tami bingung secara dia tidak tau nama restoran itu. Dan ada pesan masuk di ponselnya. Tami tersenyum ternyata Zidan cepat tanggap dan mengirim alamat dan nama restoran itu.


"Tadi teriak-teriak sekarang senyum-senyum sendiri. Mbak gila atau lagi jatuh cinta." Ujar Tiara yang memperhatikannya.


"Restoran jepang." Ujar Tami.

__ADS_1


"Restoran Jepang." Tiara pernah pergi dengan Zidan ke restoran itu.


"Aku pergi." Ujar Tiara yang pergi menggunakan ojek.


Tami mengelus dadanya. Hampir saja persekongkolannya dengan Zidan di ketahui Tiara.


Sesampainya di depan restoran itu yang di lakukan Tiara yaitu menuju parkiran mencari mobil Zidan. Setelah cukup yakin mobil Zidan ada di situ. Tiara mulai melakukan rencana kedua.


"Apa aku masuk dan memergoki mereka? tapi kalau pak Zidan ge er bagaimana." Gumam Tiara.


"Aku harus masuk bagaimanapun caranya. Menyelinap tidak mungkin. Pasti pak Zidan memesan private room." Gumam Tiara yang terus memikirkan cara masuk ke dalam tanpa di ketahui pelayan restoran.


"Aku aja enggak tau nomor ruangannya. Sebaiknya aku pergoki saja mereka." Ujar Tiara dan jalan menuju pintu masuk restoran.


"Silahkan." Sapa pelayan ramah yang mengenakan pakaian khas negeri sakura.


"Hemmm." Tiara celingak-celinguk melihat ke dalam restoran.


Tidak mungkin aku makan di restoran ini, bisa habis gajiku sebulan.


"Ada yang bisa di bantu?" tanya pelayan ramah, memperhatikan Tiara yang bingung dan terus menatap ke arah dalam restoran.


"Saya mencari pak Zidan." Ujar Tiara malu. Karena menurutnya restoran itu bukan untuk mencari orang hilang.


Diluar dugaannya pelayan mempersilahkan Tiara untuk masuk mengikutinya.


Dan berhenti di depan ruangan. Pelayan membuka pintu ruangan, Tiara mengintip dan melihat ada seorang pria sedang duduk membelakangi.


Pria itu menoleh. "Tiara." Zidan beranjak dan segera menghampiri gadis itu.


Tiara bingung karena tidak ada Vania di situ. "Ayo duduk." Ajak Zidan.


Tiara melihat meja yang belum ada makanan sama sekali. Dan melihat ke bawah meja berharap menemukan tas Vania.


Tiara masih berpikir jika Vania sedang ke toilet. "Mau pesan apa?" tanya Zidan.


"Saya bukan mau makan, saya ke sini..." Tiara tidak mau mengatakan jika dia mencari Vania. Itu sama saja dia mengakui kalau dirinya cemburu.


"Ayo pesan makan."


Tiara tetap tidak mau pesan makanan. Zidan memesan makanan untuknya dan Tiara.


"Duduklah, apa kamu mau makan sambil berdiri." Ujar Zidan.


Tiara masih belum bisa menemukan Vania. Dia membuka ponselnya. Di mana foto Zidan dan Vania sedang berada di restoran. Melihat dari tempat restoran itu Tiara berasumsi jika Zidan makan di tempat yang lain dengan Vania. Tapi yang membuatnya bingung, kenapa Vania tidak ada di restoran jepang.


Bersambung...


Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2