
Farid dan Tanisa pergi ke lantai satu tempat ruang monitor berada. Aneska mengikuti mereka dan bersembunyi di balik dinding. Ketika mereka mau masuk ke ruang monitor. Nyonya Rona keluar dari ruangan itu.
"Mami." Ucap Tanisa dan Farid bersamaan.
"Ngapain kalian di sini? bukannya kalian mau ke dokter." Ucap nyonya Rona.
"Eh iya mam, ini mau ke dokter. Kami mau pamit sama mami, iya kan sayang." Ucap Tanisa sambil memegang lengan suaminya.
"Eh iya." Ucap Farid gugup.
"Bye mami." Tanisa melambaikan tangannya sambil berlalu meninggalkan maminya yang masih memperhatikan mereka.
"Bagaimana kameranya?" bisik Farid sambil tetap menggandeng tangan istrinya keluar istana.
"Lupakan soal kamera, mami akan mencurigai kita jika masih melihat kita di istana." Ucap Tanisa.
Farid setuju, mereka meninggalkan istana tanpa tau arah tujuannya.
Aneska merasa lega, setidaknya dia masih bisa memikirkan cara untuk mengamankan kamera yang ada di layar monitor.
"Nenek sihir masih di situ, bagaimana caranya aku masuk ke ruangan itu kalau dia masih di dalam." Aneska terus bersembunyi di balik dinding sambil berpikir.
"Aha aku ada ide." Aneska berjalan ke dapur utama, di mana dapur itu di gunakan untuk para koki memasak pemilik istana.
Aneska meminta beberapa roti dan kopi yang mana akan di bawanya ke ruang monitor.
Aneska mengganjal perutnya dengan makan beberapa roti.
"Nona, roti dan kopinya mau di antar kemana?" tanya pelayan yang ada di situ.
"Biar saya yang bawa, tunggu sebentar." Aneska berlari kecil ke kamar ibunya.
"Ibu buka." Teriak Aneska sambil menggedor pintu.
"Ada apa Nes." Ucap ibu Desi pelan.
"Ibu mau bantu Anes enggak?"
"Bantu apa?" tanya ibunya.
"Anes mau mengerjai nenek sihir." Bisik Aneska merencanakan sesuatu ke ibunya.
Ibu Desi bingung dengan anaknya yang tiba-tiba mendadak jahil.
"Anes mau memberikan kopi dan makanan ke pekerja yang ada di ruang monitor, tapi nanti nenek sihir marah." Jelas Aneska.
"Kenapa dia harus marah?" tanya ibu Desi bingung.
"Karena belum waktunya coffe time bu." Jawab Aneska.
"Ya udah nanti aja pas coffe time kamu kasih kopi dan rotinya." Ucap ibu Desi.
__ADS_1
Yang di ucapkan ibunya benar, tapi dia mengkhawatirkan Farid dan Tanisa balik.
"Enggak bisa bu, harus sekarang." Aneska bukan tidak mau memberitahukan masalah yang di hadapinya, dia percaya sama ibunya tapi dia tidak percaya dengan mulut ibunya yang ember.
"Udah bu buruan." Aneska menarik ibunya menuju ruangan lain.
"Ibu sembunyi di sini. Ingat langsung matikan jika mendengar suaranya." Titah Aneska.
"Iya-iya, udah sana." Bu Desi memegang ponsel anaknya dan menghubungi nomor telepon istana. Salah satu pelayan mengangkat gagang telepon.
"Ya halo." Ucap pelayan.
"Apa betul ini kediaman Bassam." Ibu Desi menekan suaranya agar terdengar seperti suara seorang pria.
"Iya betul." Jawab pelayan.
"Bisa saya bicara dengan nyonya Rona."
"Dari siapa?" tanya pelayan.
"Dari tadi eh dari kepolisian." Jawab ibu Desi gugup.
"Sebentar." Pelayan berlari kecil menuju ruang monitor. Sedangkan Aneska mengintip di balik dinding sambil membawa nampan yang berisi kopi dan roti.
Pelayan menyampaikan ke pemilik istana. Tidak berapa lama pelayan keluar tapi tidak bersama dengan nyonya Rona. Pelayan itu menyambungkan langsung ke telepon yang ada di ruang monitor.
Wanita paruh baya itu menerima panggilan di ruang monitor.
Mendengar suara nyonya Rona, ibu Desi langsung memutuskan panggilan. Dia terus melakukan itu berulang tapi nyonya Rona tetap tidak keluar dari ruang monitor.
"Waduh kenapa tidak keluar sih." Gerutu Aneska.
Nyonya Rona kesal, dia beranjak dari kursi kerja yang biasa di gunakan Zidan, dia melangkahkan kakinya keluar ruangan sambil menoleh ke arah kamera. Di dalam kamera ada dua orang yang sedang berdiri di balik tembok yaitu Aneska dan ibu Desi, mereka berdiri di balik tembok yang berbeda.
Nyonya Rona memperbesar tampilan layar kamera.
"Mereka berdua ngapain?" gumam nyonya Rona sambil memperhatikan keduanya.
Dia merasa curiga dengan tingkah ibu Desi yang memegang telepon sambil tertawa.
"Pasti dia." Gerutu nyonya Rona keluar dari kamar dan langsung mencari keberadaan besannya.
Begitu nyonya Rona keluar Aneska langsung masuk ke ruang monitor dan menyerahkan kopi dan roti ke pekerja di ruangan itu. Suara telepon terus berdering di ruangan nyonya rona.
"Maaf nona, kami tidak bisa menerima apapun dari anda, ini bukannya waktu coffee time." Ucap salah satu pekerja.
"Enggak apa-apa pak, saya hanya ingin menyerahkan ini. Silahkan pasti kalian bosan menghadapi layar monitor ini." Ucap Aneska.
Dua pria itu saling pandang, roti yang ada di nampan sangat menggugah selera mereka. Aneska mencoba mencari kabel yang ada di belakang monitor dengan gerak matanya, dia mencari waktu yang tepat untuk memutus kabel dengan gunting.
"Nenek sihir-nenek sihir memang enak di kerjain." Ibu Desi tertawa senang dia tidak menyadari nyonya Rona ada di belakangnya.
__ADS_1
"Dasar orang kampung." Nyonya Rona menarik rambut ibu Desi.
"Aw aw." Ibu Desi berteriak kencang.
"Rasakan ini!" Nyonya Rona menarik rambut besannya dengan sangat kencang. Ibu Desi tidak punya pilihan lain selain memukul nyonya Rona dengan ponsel anaknya.
"Aw." Nyonya Rona merasakan kesakitan di kepalanya.
Aneska melihat dari layar kamera pertengkaran itu, dia tidak menghiraukan niat utamanya. Dia berlari keluar mencari tempat pertengkaran itu terjadi.
Pelayan yang ada di situ tidak berani berbuat apapun.
"Ibu stop." Teriak Aneska berusaha menarik ibunya. Tapi tangannya terkena cakaran mertuanya.
"Aw." Aneska meringis.
Perkelahian masih terus berlanjut, nyonya Rona masih menjambak dan mencakar-cakar besannya. Sedangkan ibu Desi memukuli nyonya Rona dengan ponsel anaknya.
"Cepat hentikan!" teriak Aneska sambil memegang lengannya yang berdarah.
Pelayan tidak ada yang berani melerai perkelahian itu, mereka khawatir mengalami hal yang sama dengan Aneska.
Rambut ibunya sudah banyak yang rontok begitupun dengan dahi dan wajah mertuanya yang sudah lebam kebiruan.
"Abian pulangggg." Teriak Aneska.
Kedua wanita paruh baya itu langsung berhenti. Dengan penampilan yang sudah acak-acakan.
"Awas kamu ya!" ucap ibu Desi sambil menunjuk ke besannya.
"Kamu yang harus hati-hati, ini istana anakku!" Teriak nyonya Rona.
"Tapi anakmu cinta mati sama anakku huh!" ucap ibu Desi ketus.
"Bu udah." Aneska menarik ibunya agar menjauh dari mertuanya. Ibu Desi melihat lengan anaknya yang berdarah.
"Kamu berdarah Nes, pasti karena kuku hantu itu." Sindir ibu Desi ke besannya.
Mendengar Aneska berdarah, nyonya Rona panik dan takut, karena sebelumnya Abian pernah mengatakan untuk tidak menyentuh Aneska sedikitpun.
"Aneska mari mami obati." Ucap nyonya Rona mendekati menantunya.
"Merasa bersalah dia." Sindir ibu Desi.
"Tidak apa-apa tante." Ucap Aneska.
"Tapi ini berdarah." Ucap nyonya Rona lagi mencari perhatian menantunya agar tidak mengatakan hal itu kepada anaknya Abian.
Bersambung...
Jika masuk 10 besar author akan update lebih, vote merupakan bentuk penghargaan dan prestasi atas karya author dan tentunya memberi semangat untuk tetap melanjutkan bab berikutnya. Terima kasih.
__ADS_1