
"Kakak enggak akan mengizinkan kamu pergi ke luar negeri." Ucap Abian tegas.
"Tapi kak." Ucap Ila.
"Tidak ada kata tapi." Ucap Abian lagi.
"Ya sudah." Ucap Ila malas.
"Kak Anes, Cyra juga daftar loh." Ucap Ila.
"Oh ya." Aneska senang.
Wajah Aneska tiba-tiba langsung berubah.
"Kenapa kak." Tanya Ila.
"Cyra belum punya pasport terus siapa yang akan menjaganya di sana." Ucap Aneska.
"Kami akan saling menjaga di sana." Timpal Ila.
Aneska kurang yakin, dia kembali menatap wajah suaminya.
"Suamiku sayang." Ucap Aneska sambil memijat lengan Abian.
"Kamu kenapa? apa sekarang sudah beralih jadi tukang pijat." Ucap Abian bingung.
"Idih kamu itu, aku itu sedang merayu kamu." Gerutu Aneska.
"Kenapa?" ucap Abian sambil menegakkan minumannya.
"Hemmm, boleh aku ikut menemani Cyra dan Ila." Tanya Aneska.
"Uhuk uhuk." Abian langsung tersedak.
"Kamu kenapa sih." Aneska mengelus punggung suaminya.
"Kamu tetap di sini, biarkan mereka pergi berdua." Ucap Abian dengan suara berat karena baru tersedak.
"Berdua? apa kakak baru memberikan izin untukku." Tanya Ila.
"Hemm." Jawab Abian singkat.
"Tidak boleh, mereka berdua hanya boleh pergi jika ada yang menemani." Ucap Aneska tegas.
"Tapi kak." Ucap Ila bingung.
"Kamu dan Cyra, kakak Izinkan pergi dan yang akan menemani kalian ibu Desi." Ucap Abian.
"Hore terima kasih kak." Ucap Ila senang.
"Enggak bisa, ibu tidak bisa bahasa inggris. Nanti bukan ibu yang menjaga mereka tapi kebalikan." Ucap Aneska lagi.
"Terus siapa yang akan menemani mereka." Tanya Abian.
"Aku." Ucap Aneska sambil menggerakkan alisnya.
"No, kamu tetap menemaniku di sini titik." Ucap Abian tegas.
Lebih baik aku pergi, kalau kak Abian berubah pikiran bisa gawat.
Ila pergi dari ruang keluarga meninggalkan pasangan suami istri itu yang masih berdebat.
__ADS_1
"Please Abian, aku juga pingin keluar negeri." Rayu Aneska.
Abian menghela nafasnya sambil menggosok rambutnya.
"Tapi aku tidak ingin kamu jauh dariku."
"Hemmm, bagaimana kalau kita yang menemani mereka." Ucap Aneska.
"Tidak bisa, perusahan sedang dalam keadaan goyang." Ucap Abian jujur.
"Oh gitu, ya sudah." Ucap Aneska dengan wajah sendu. Abian memperhatikan wajah istrinya, ada rasa tidak tega karena tidak dapat menyenangkan istri tercintanya.
"Baiklah kamu boleh pergi menemani mereka." Ucap Abian.
"Kamu serius?" ucap Aneska.
Abian menganggukkan kepalanya. Aneska langsung memeluk suaminya.
"Ingat, kamu tidak pergi sendiri ajak ibu kamu ke sana." Ucap Abian.
"Terima kasih sayang." Ucap Aneska sambil tetap memeluk suaminya.
"Permisi." Abian dan Aneska melihat ke arah yang punya suara.
"Zidan, ada apa?" tanya Abian. Aneska langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf tuan, saya mau mengantarkan beberapa file yang harus di tanda tangani sekarang." Zidan menyerahkan file yang di bawanya ke hadapan Abian sambil melirik ke arah Aneska.
"Dan ini ponsel anda." Ucap Zidan sambil menyerahkan ponsel Abian.
Abian membawa file yang di bawa Zidan ke ruang kerja di ikuti Aneska dan Zidan. Abian baru sadar kalau istrinya ada di belakangnya bersama Zidan.
Dia membalikkan badannya.
"Boleh aku ke kebun bunga membantu oma." Tanya Aneska.
"Ya sudah sana."
Aneska berjalan menuju lift. Abian dan Zidan memperhatikannya.
"Jangan kamu pandangi istriku, ingat dia sudah ada pemiliknya." Ucap Abian tegas sambil berlalu meninggalkan Zidan. Pria itu mengikuti bosnya dari belakang menuju ruang kerja. Mereka membahas masalah launching produk baru.
Aneska menemui oma yang sedang sibuk di kebun bunga.
"Hai oma, boleh aku bantu." Ucap Aneska.
"Oh Aneska, mana Abian." Tanya oma sambil melihat ke arah belakang Aneska.
"Ada di ruang kerjanya." Aneska membantu oma, memindahkan beberapa bunga ke pot yang lebih besar.
"Aneska, kenapa kamu membiarkan Tanisa dan Farid tinggal di sini." Tanya oma.
"Aku kasihan oma." Ucap Aneska jujur.
"Aduh Aneska, kamu itu terlalu baik. Apa mereka pernah memikirkan kamu. Dengar ya Anes, jangan pernah percaya bujuk rayu dari mereka. Mereka semua mengincar harta warisan yang ada sama kamu." Jelas oma.
"Oma enggak boleh berburuk sangka, berburuk sangka itu dosa. Bisa saja mereka benar-benar sudah bertobat." Ucap Aneska sambil tetap membantu oma Zulfa memindahkan bunga.
"Anes-anes, kamu itu baik apa lugu sih? mereka itu tidak tulus, percaya sama oma." Ucap oma lagi.
"Iya oma." Ucap Aneska singkat.
__ADS_1
Suara lonceng jam makan siang berbunyi. Para pekerja sudah keluar dari taman menuju ruang makan.
"Aneska sudah tinggalkan. Ayo kita makan." Ucap oma mengajak Aneska keluar dari kebun.
"Aku baru selesai makan sama Abian." Jawab Aneska.
"Udah ayo, ngapain juga kamu di sini sendirian." Oma menarik tangan Aneska untuk keluar dari kebun bunga.
Mereka berjalan beriringan menuju istana. Dari jauh ada sosok seorang wanita tinggi semampai sedang turun dari taksi di sambut Tanisa dan nyonya Rona.
"Oma apa itu Vania?" tanya Aneska.
"Mana?"
"Itu oma yang baru turun dari taksi."
Oma Zufla memicingkan matanya untuk melihat dari jarak jauh.
"Enggak kelihatan." Jawab oma.
Mereka berjalan terus menuju istana. Ketika sudah mendekati istana. Nyonya Rona, Tanisa dan wanita yang tinggi semampai itu melihat ke arah Aneska.
"Aneska sayang, sini mami kenalkan." Nyonya Rona menarik tangan Aneska dari genggaman ibunya.
"Mau apa kamu." Tanya oma Zufla marah.
"Mami aku hanya mau memperkenalkan Aneska dengan tamu kita. Aneska kenalkan ini sepupu Farid." Ucap nyonya Rona.
"Hai Aneska, kamu pasti istrinya Abian, kenalkan aku Anggela." Ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Hai." Aneska membalas uluran tangan wanita itu.
Oma Zufla buru-buru menarik tangan Aneska dan membawa istri cucunya masuk ke dalam istana.
"Jangan terlalu akrab dengan mereka." Bisik oma.
"Oma kalau ada orang baik, apa aku harus bersikap kurang ajar." Bisik Aneska.
"Ya enggak sih, tapi lihat dulu siapa orangnya." Bisik oma lagi.
Mereka sampai di ruang makan. Di ruang makan sudah ada Ila yang sedang bermain dengan ponselnya.
Aneska duduk di tempat biasa sama halnya dengan oma.
"Silahkan duduk Anggela." Ucap nyonya Rona ramah.
"Pelayan ambilkan piring lagi." Ucap nyonya Rona.
"Aneska mana Abian." Tanya nyonya Rona.
"Ada di ruang kerja, apa mau aku panggilkan." Ucap Aneska.
"Enggak perlu. Ayo Anggela kamu harus bertemu dengan pemilik istana ini." Ucap nyonya Rona. Anggela dan nyonya Rona meninggalkan meja makan. Tanisa masih berada di kursinya.
"Kenapa kak Tanisa tidak mengikuti mami." Sindir Ila.
"Hei anak kecil, jaga bicaramu!" ucap Tanisa marah.
"Tanisa! yang di katakan adik kamu itu benar, biasanya kamu selalu ada di belakang Rona." Ucap nyonya Zulfa marah.
"Ah oma, aku lagi malas." Ucap Tanisa beranjak dari kursinya meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Bersambung....