
Hari yang di tunggu....
Zidan mempersiapkan penampilannya untuk hari ini. Dia menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya. Setelah semua pekerjaannya selesai dia langsung menuju mes tempat tinggal Tiara.
Zidan memarkirkan mobilnya di depan gerbang mes. Dia menghubungi nomor Tiara. Dan ada sahutan dari sana.
"Pak sepertinya tidak bisa, saya kurang enak badan." Tiara berbohong.
"Oh ya, baiklah saya akan melihat kondisi kamu." Zidan menutup panggilan secara sepihak.
"Waduh dia pasti sedang menuju ke sini. Kalau mbak Tami tau bisa gawat." Gumam Tiara.
Perawat itu berlari kecil keluar dari mes. Dan menghampiri mobil Zidan.
Tiara mengetuk kaca mobil. Kaca mobil terbuka lebar.
"Katanya mau menjenguk tapi kenapa dia malah duduk manis." Gumam Tiara.
Gumaman itu terdengar Zidan. Pria itu tersenyum.
"Saya tau ini hanya akal-akalan kamu saja. Ayo naik waktu kita tidak banyak."
Tiara masuk dan duduk di samping Zidan. Pria itu langsung melajukan mobilnya. Perawat itu terus melihat ke arah luar. Dia malas jika harus berurusan dengan pria di sampingnya.
"Kita makan siang dulu." Ucap Zidan.
Tiara tidak menjawab, dia sedang sibuk dengan pikirannya.
Menurutnya dia harus berhati-hati jika Zidan melakukan kejahatan. Di dalam tasnya ada beberapa alat perang yang akan digunakannya jika Zidan mengambil keuntungan dari dirinya.
"Tiara, apa kamu dengar ucapan saya?" tanya Zidan melirik Tiara.
"Hah?"
"Ah sudahlah." Zidan membawa Tiara ke restoran jepang. Perawat itu membaca nama restoran itu.
"Pak, apa kita mau makan di sini?" tanya Tiara bingung.
"Menurut kamu, apa tempat itu terlihat seperti bioskop." Zidan menunjuk restoran itu dengan gerak kepalanya.
"Tapi...."
Zidan sudah lebih turun dari mobil. Sekarang dia berada di samping pintu mobil dan membukakan pintu untuk Tiara.
Zidan mengulurkan tangannya. Dan lagi-lagi Tiara tidak menghiraukannya. Dia tidak marah atas perlakuan Tiara ke dirinya. Zidan tau tidak mudah menjinakkan seekor burung merpati. Semakin sulit di jinakkan semaki susah untuk dilepaskannya.
Mereka jalan beriringan, pelayan tersenyum ramah dan membawa pengunjung restorannya ke tempat yang private. Dimana tempat itu telah di pesan Zidan lebih dulu.
Ruangan itu terlihat seperti bilik kecil yang mana hanya ada meja yang terbuat dari kayu dan duduk beralaskan bantalan kecil.
__ADS_1
"Silahkan." Ucap pelayan.
Tiara merasa heran dengan bilik kecil itu. Dimana dia pernah melihat bilik kecil itu hanya di layar televisi. Tapi sekarang dia berada di dalam bilik kecil itu.
Zidan memesan berbagai makanan jepang yang Tiara tidak tau makanan jenis apa itu.
"Apa bapak sering makan di sini?" tanya Tiara.
"Iya, saya sering makan di sini tapi sendirian dan sekarang ada yang menemani saya." Ujar Zidan menatap lembut wanita di depannya.
Tiara tidak menyadari jika dia terus di perhatikan Zidan.
"Pasti makan di sini mahal." Gumam Tiara pelan.
Pelayan menggeser pintu dengan membawa pesanan mereka. Tiara lagi-lagi hanya bisa bengong karena dia kembali melihat makanan yang menurutnya sangat aneh.
"Ayo makan." Zidan mengambil sumpit dan mulai memakan satu persatu hidangan itu.
Tiara mengikuti Zidan. Dia mengambil sumpit dan mencoba memakan menggunakan sumpit. Ini adalah pengalaman dalam hidupnya harus makan menggunakan sumpit.
Karena tidak terbiasa, makanan itu selalu lepas dari sumpit. Karena jengkel dia memegang makanannya dengan menggunakan tangannya.
"Tiara kenapa pakai tangan, gunakan sumpit kamu." Zidan kembali menyerahkan sumpit ke arah wanita di depannya.
"Enggak usah terima kasih. Sampai lumutan saya tidak akan bisa menghabiskan makanan ini." Tiara berujar dengan nada jutek.
"Tunggu sebentar." Zidan keluar dari bilik itu dan kembali dengan membawa sendok di tangannya.
"Nah dari tadi kan kenyang." Tanpa malu Tiara mengambil sendok yang ada di tangan Zidan. Dan mulai mencicipi makanannya.
"Uwek." Tiara langsung melepeh makanannya di atas tisu.
"Kenapa? apa tidak enak?" tanya Zidan bingung.
"Ini mentah." Ucap Tiara merasa jijik.
"Sashimi ikan laut yang memang tidak di masak dan di makan dengan menggunakan kecap asin dan perasaan air lemon. Rasanya nikmat dan segar." Jelas Zidan.
Tiara menggerakkan kedua bahunya. Dia merasa jijik dengan makanan yang tidak matang.
"Saya pikir mereka lupa memasaknya." Ucap Tiara merasa aneh dengan lidahnya. Dia menegakkan air mineral ke tenggorokannya.
"Coba yang ini." Zidan memberikan sushi ke atas piring Tiara.
"Apa ini mentah juga?" tanya Tiara.
Zidan menganggukkan kepalanya. Sontak membuat Tiara langsung menyingkirkan piringnya.
"Bapak saja yang makan. Saya tidak terbiasa dengan makanan ini."
__ADS_1
Zidan mengerti, dia kembali keluar dari bilik dan memesan sesuatu ke pelayan restoran.
Tidak berapa lama pelayan datang dengan membawa semangkuk udon ke hadapan Tiara.
"Namanya udon, saya yakin kamu pasti suka. Dan ini sudah di masak ya." Jelas Zidan.
Tiara mencoba mencicipi kuahnya terlebih dahulu. Dan dia langsung sumringah. Karena menurutnya kuahnya saja sudah enak apalagi mienya.
Akhirnya dia dapat menikmati makanan Jepang.
***
Aneska telah meminta izin ke suaminya untuk pergi kontrol. Tidak ada kecurigaan dari Abian. Karena terlalu sibuk dia tidak mengetahui jadwal kontrol istrinya.
Aneska pergi ke rumah sakit bersama ibunya. Dengan membawa tespek di dalam tasnya.
Rasa bahagia terus terukir di bibir keduanya. Mereka sudah tidak sabar mendengar kabar dari dokter kandungan tentang perkembangan janin yang ada di rahim Aneska.
Supir telah sampai mengantarkan mereka ke depan pintu loby rumah sakit. Ibu Desi langsung mendaftarkan anaknya ke bagian registrasi. Dan di tempat yang sama khusunya di depan apotik. Nyonya Rona melihat menantu dan besannya. Dia tidak tau kenapa menantunya kembali ke rumah sakit.
Setelah mendaftar, ibu Desi menuntun anaknya menuju poli kandungan. Nyonya Rona penasaran dia ingin mengikuti. Tapi nama anaknya di panggil pihak apoteker yang mana obatnya Tanisa telah selesai.
Wanita paruh baya itu berjalan menuju poli dengan membawa kantong obat anaknya. Dan namanya di panggil seseorang.
"Tante Rona."
Nyonya Rona mencari asal suara itu. Ada dokter Arif yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Iya Arif." Ucap nyonya Rona.
"Saya mau menjenguk Tanisa."
"Masuk saja, nanti tante menyusul." Sahut nyonya Rona.
"Tapi tidak baik jika tidak ada tante." Dokter Arif merasa sungkan jika tidak ada nyonya Rona di ruang perawatan itu.
"Baiklah, kamu jalan dulu. Tante mau melihat teman tante sebentar." Nyonya Rona bohong. Dia tidak mau mengatakan siapa yang sedang di intainya.
Karena yang dia tau, dokter Arif mengerti tentang hubungannya dengan Aneska. Dimana dia sangat tidak menyukai menantunya.
Setelah dokter Arif pergi. Wanita paruh baya itu langsung berjalan menuju poli. Di mana tempat semua dokter praktek.
Dia mengintip dari balik tembok. Menyisir ruang tunggu dengan pandangannya. Mencari keberadaan menantu dan besannya.
Tapi sosok Aneska dan besannya tidak ada di ruang tunggu.
"Apa mereka sudah masuk ke dalam ruangan poli. Tapi poli yang mana." Gumam nyonya Rona.
Bersambung...
__ADS_1