
Di ruang meeting.
"Pak saham kita semakin anjlok susah untuk menaikkan kembali kecuali kita bekerja sama dengan perusahaan bonafit." Ucap salah seorang petinggi perusahaan Bassam.
Abian mendengar ide semua para petinggi. Ada yang menyuruh melelang aset perusahaan dan ada yang memberikan ide untuk pemutusan hubungan kerja kepada karyawan.
Abian belum menyetujui ide tersebut, dia masih menampung semua ide yang masuk.
"Zidan, kamu sebagai direktur pemasaran berikan ide agar perusahaan ini bisa bangkit kembali." Ucap Abian.
"Menurut saya, kita harus membuat produk baru dari segala kebutuhan rumah tangga maupun produk kecantikan." Ucap Zidan.
"Apa kita bisa bersaing dengan produk kecantikan wardinah? soalnya produk mereka mempunyai level yang tinggi." Ucap salah seorang petinggi.
"Meeting akan di lanjutkan besok, untuk produk baru saya serahkan sama kamu. Untuk laporan saham antar semua ke ruangan saya." Ucap Abian sambil keluar dari ruang meeting di ikuti sekertarisnya.
"Selama saya tidak ada, siapa yang mengambil alih perusahaan." Tanya Abian sambil terus berjalan.
"Pak Farid, ibu anda memberikan tanggung jawab penuh kepadanya." Jelas Tya.
"Semua kontrak kerjasama dia juga yang tanda tangan?" ucap Abian lagi.
"Iya pak."
Abian masuk ke ruangannya.
***
"Arif coba kamu lihat Tanisa." Ucap nyonya Rona khawatir.
"Izinkan saya periksa dulu." Ucap Arif sambil menghampiri Tanisa yang merintih ke sakitan di atas kasur.
Arif memeriksa mata Tanisa. Dia menyenter bola mata Tanisa.
"Silau tau." Ucap Tanisa.
Arif tersenyum sambil menyimpan kembali peralatannya.
"Mata kamu tidak apa-apa. Itu sakit karena bengkak. Untuk mengurangi bengkaknya bisa di kompres pakai es." Jelas dokter Arif.
"Bagaimana tidak apa-apa! jelas-jelas matanya sakit." Ucap nyonya Rona marah.
"Nyonya kalau Tanisa masih merasa silau dengan cahaya senter tadi artinya mata Tanisa tidak ada masalah hanya pembekakkan di kelopak mata." Jelas dokter Arif.
"Saya tidak memberikan resep apapun, jika ada berdarah bisa langsung bawa ke rumah sakit." Ucap Arif.
"Apa berdarah?" Tanisa panik.
"Saya bilang jika, itu bukan sesuatu yang pasti." Ucap Arif sambil pamit pulang. Di pekarangan istana Aneska sedang duduk bersama Tami. Mereka berdua sedang menunggu dokter Arif.
"Nes, dokter Arif udah keluar." Ucap Tami.
"Dokter kami di sini." Teriak Tami.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Aneska berdering. Dokter Arif sedang berjalan menuju mereka.
"Duh, Abian telepon lagi." Gumam Aneska.
"Udah abaikan aja." Ucap Tami.
"Ye, bisa-bisa di marahi aku. Jangan bilang sama dokter Arif kalau Abian yang telepon." Ucap Aneska yang berjalan menjauh.
Dokter Arif sudah berada di dekat Tami, tapi dia melihat Aneska sedang menerima panggilan.
"Siapa yang menghubunginya." Tanya dokter Arif.
"Enggak tau dok." Jawab Tami bohong. Dokter Arif dan Tami masih melihat Aneska yang mondar mandir sambil menerima telepon, jarak mereka jauh, jadi dokter Arif tidak akan mendengar percakapan antara Abian dan Aneska.
"Kamu kemana saja? kenapa enggak menghubungiku." Ucap Abian.
"Eh aku di sini saja enggak kemana-mana." Jawab Aneska gugup.
Abian merasa aneh dengan sikap istrinya yang berbicara gugup.
"Apa telah terjadi sesuatu dengan kamu." Ucap Abian curiga.
"Aku dalam keadaan baik tidak kurang satu apapun." Ucap Aneska sambil tersenyum ke arah dokter Arif.
"Yakin?" ucap Abian.
"Yakin! udah ya aku mau ke toilet." Ucap Aneska bohong karena dokter Arif berjalan ke arahnya.
"Halo." Ucap Abian tapi panggilan sudah di putuskan oleh Aneska.
"Matanya hanya mengalami pembengkakkan, beberapa hari pasti sudah sembuh." Jelas dokter Arif.
"Siapa yang menghubungi kamu tadi." Tanya dokter Arif.
"Oh itu eh ibu." Aneska berbohong.
"Saya belum membicarakan masalah kalian sama nyonya Rona, karena pasti tidak akan di izinkan. Tapi saya akan membicarakan sama Abian. Nanti saya akan mampir ke kantornya." Ucap dokter Arif sambil memperhatikan cincin yang melingkar di jari Aneska.
"Dok sebaiknya tidak usah ke kantor Abian, kami yang akan meminta izin sama dia, benar enggak mbak Tami." Ucap Aneska sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Kenapa? justru kalau di kantornya saya bisa bebas berbicara." Ucap dokter Arif.
"Tapi dia baru masuk kerja ini hari, pasti dia sibuk. Nanti dokter sia-sia ke sana." Ucap Aneska.
Dokter ganteng itu paham dengan ucapan perawatnya. Ponsel Aneska kembali berbunyi, dan itu dari Abian.
"Belum lagi tiga puluh menit." Gerutu Aneska sambil menolak panggilan dari Abian.
"Kenapa di tolak." Ucap dokter Arif.
"Ibu yang telepon nanti saya hubungi lagi." Ucap Aneska gugup.
"Baiklah saya pamit. Kabari secepatnya tentang perpindahan kalian ke rumah sakit." Dokter Arif menyalami Tami kemudian Aneska, dia melihat cincin yang melingkar di jari manis tangan perawatnya.
__ADS_1
"Cincin apa itu." Tanya dokter Arif.
"Oh ini cincin ibu." Ucap Aneska bohong.
"Saya balik ke rumah sakit." Dokter Arif kembali menuju mobilnya. Dokter tersebut sudah meninggalkan istana.
"Nes kenapa kamu bohong tentang cincin dan pernikahan kamu." Tanya Tami.
"Mbak, untuk apa aku memproklamirkan tentang pernikahan rekayasa ini. Aku malu mbak, kalau semua orang tau tentang pernikahanku, terus tiba-tiba aku di ceraikan sama Abian. Mau di letak di mana wajahku, mungkin orang tuaku yang paling malu." Jelas Aneska.
Tami mengelus rambut temannya. Dia paham tentang ketakutan yang di alami Aneska.
Ada mobil yang masuk pekarangan istana.
"Siapa itu kencang banget bawa mobilnya." Gumam Tami.
"Farid." Jawab Aneska. Farid memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju Aneska dan Tami.
"Nes, dia berjalan ke sini." Bisik Tami.
"Iya mbak, mau apa dia? mbak kenapa wajahnya seperti babak belur." Ucap Aneska.
"Enggak tau juga, Nes sepertinya dia marah." Ucap Tami.
Farid sudah di dekat Aneska dan Tami.
"Ada apa tuan." Tanya Tami.
Plakk Farid menampar Aneska. Tubuh Aneska langsung terjatuh.
"Hei tuan kenapa kamu menampar Aneska." Tami menghalangi tangan Farid. Tapi tubuhnya sudah di dorong Farid.
Tami berteriak sekencang mungkin.
"Tolongggggggg!" Teriak Tami sekencang mungkin.
Farid mencekik leher Aneska dengan kencang. Aneska tidak bisa melepaskan tangan kekar Farid dari lehernya, dia hanya bisa memukul tangan pria itu.
Tami berusaha menarik badan Farid dari belakang, tapi badannya di dorong kembali dan terjatuh tepat di dekat ponsel Aneska. Dan bertepatan ponsel temannya berdering.
Tami melihat ada panggilan video di layar ponsel temannya. Dia buru-buru menjawab.
"Mana Aneska." Tanya Abian.
"Tuan lihat Aneska." Ucap Tami menangis dan menunjukkan tubuh istrinya sudah mulai lemas karena di cekik Farid.
"Aneska." Abian marah dan mematikan panggilan videonya.
"Tolongggggg." Teriak Tami.
Oma Zulfa dan pelayan lain berlarian ke tempat itu. Mereka berusaha untuk melepaskan tangan Farid dari leher Aneska.
"Farid, lepaskan Aneska bisa mati!" Oma Zulfa marah. Farid tidak mendengar, dia masih tetap mencekik Aneska.
__ADS_1
Bersambung.