
Dokter Arif keluar dari ruangan CEO, dia kembali bertemu dengan Zidan.
"Zidan." Ucap dokter Arif.
"Iya dokter."
"Apa kamu tau tentang pernikahan Abian dan Aneska?"
"Menurut dokter?"
"Saya tau, kenapa tentang salah paham yang kamu sebutkan tadi, ternyata Abian dan Aneska sudah menikah. Kenapa kamu tidak mengatakan di awal." Gerutu dokter Arif.
"Saya sengaja melakukannya." Ucap Zidan sambil tersenyum.
"Maksud kamu apa?"
"Dokter pasti patah hati ketika mendengar kabar pernikahan mereka apalagi saya. Seharusnya yang duduk di kursi akad nikah itu saya." Jelas Zidan.
"Apa Abian datang bak seorang koboi?" ucap dokter Arif sambil melihat pria di depanya.
"Iya cuma bedanya enggak naik kuda." Ucap Zidan.
"Ternyata masih ada yang lebih patah hati dari aku." Ucap dokter Arif.
"Sekarang apa yang akan dokter lakukan?" ucap Zidan.
"Kembali ke rumah sakit."
"Bukan itu, maksud saya apa yang dokter lakukan untuk hubungan mereka." Tanya Zidan lagi.
"Oh untuk hal itu saya tidak bisa banyak berbuat apapun, tidak mungkin saya menjadi perebut istri orang. Cuma saya berdoa semoga mereka tidak harmonis." Ucap dokter Arif.
"Wow jelek juga doa dokter." Ejek Zidan.
"Munafik kalau kamu tidak berpikiran hal yang sama." Ucap dokter Arif lagi.
"Hehehe, iya dok saya juga berdoa yang sama untuk rumah tangga mereka, tapi apa doa kita akan di kabulkan." Tanya Zidan.
"Jelas enggaklah."
"Kenapa? kalau memang tidak di kabulkan kenapa dokter berdoa seperti itu." Zidan bingung.
"Kalau kita mendoakan yang tidak baik mana mungkin Tuhan mau mengabulkan. Niat kita saja sudah jelek." Ucap dokter Arif.
"Kalau begitu lebih baik tidak berdoa apapun untuk rumah tangga mereka." Ucap Zidan.
"Ya lebih bagus seperti itu. Kalau memang mereka jodoh apapun badai dalam rumah tangga pasti bisa di lalui mereka. Tapi kalau tidak jodoh, saya yakin badai kecil pasti langsung bubar. Baiklah karena sudah siang, saya harus balik ke rumah sakit." Dokter Arif kembali ke rumah sakit. Dua pria yang menaruh hati kepada Aneska harus terbiasa dengan kenyataan yang terjadi, untuk meraih bintang di langit tidak mungkin mudah di raih, hanya bisa bersabar bintang itu akan turun dengan sendirinya.
Di ruangan CEO.
Aneska sedang mencoba menerima panggilan dari ibunya. Abian memeluknya dari belakang dan menggeser rambut istrinya agar dia bisa mengecup punggung Aneska.
"Abian, kamu mau apa?" ucap Aneska sibuk menggeser panggilan masuk ke warna hijau.
"Aku mau memakanmu." Ucap Abian sambil menciumi punggung istrinya.
__ADS_1
"Stop Abian, ini kantor." Ucap Aneska.
"Yang bilang mall siapa? di rumah kamu enggak mau, jadi aku berniat mendapatkan hakku sekarang." Ucap Abian genit.
"Abian, aku enggak mau. Lihatkan ini semua karena kamu, panggilan dari ibu jadi terputus." Gerutu Aneska. Abian melirik ponsel istrinya yang retak layarnya.
"Kenapa ponsel kamu bisa begini?" Abian mengambil ponsel istrinya.
"Kan aku sudah bilang, oma menyelamatiku dengan ponselku. Tapi ponselku jadi rusak, padahal tadi masih bisa loh." Ucap Aneska.
"Pakai punyaku, kamu ingat nomor ibu." Ucap Abian sambil menyerahkan ponselnya kepada Aneska.
"Ingat dong." Aneska membawa ponsel suaminya ke sofa Abian mengikutinya sambil terus menciumi pipi istrinya.
Dia menghubungi ibunya, panggilan terhubung.
"Abian jangan ganggu." Aneska melarang suaminya dengan meletakkan telapak tangannya di wajah Abian.
"Halo ibu, ini Aneska." Aneska menggeser posisi duduknya dan Abian terus menempel sama istrinya.
"Ini siapa?" ucap ibu Desi.
"Ibu ini Aneska."
"Kok nomornya beda." Ucap ibu Desi.
"Ponsel Anes rusak bu." Jelas Aneska.
"Oh gitu, Nes coba tanyakan sama suami kamu, sisa uang bayar hutang boleh benerin rumah kita enggak. Soalnya kalau hujan pada bocor semua." Ucap ibu Desi.
"Sebentar bu, Anes tanya dulu." Aneska mengganti mode ponselnya menjadi mode mute.
Abian tidak menjawab dia terus mengecup semua wajah istrinya.
"Abian dengar dulu." Aneska menghalangi wajah suaminya dengan meletakkan telapak tangannya.
"Dengar pakai telinga bukan pakai mulut." Jawab Abian santai.
"Iya tapi dengar dulu, bagaimana aku mau berkonsentrasi bicara kalau mulut kamu mirip ikan koi." Gerutu Aneska.
"Apa." Tanya Abian sambil merangkul bahu istrinya.
"Ibu tanya, sisa uang bayar hutang boleh benerin rumah enggak? soalnya kalau hujan atapnya pada bocor semua." Jelas Aneska.
"Pakai, saja nanti aku kirim lagi." Ucap Abian kembali mencium istrinya.
"Abian stop, aku mau menghubungi ibu lagi." Ucap Aneska sambil menonaktifkan mode mute.
"Halo ibu." Ucap Aneska.
"Halo Aneska, kamu kemana aja. Ibu panggil-panggil enggak ada sahutan. Tapi menitnya bergerak terus."
"Anes di sini, kata Abian boleh." Ucap Aneska.
"Oh syukurlah, sampaikan makasih bapak dan ibu sama Abian, ngomong-ngomong kamu lagi ngapain." Tanya ibunya.
__ADS_1
Aneska tak kuasa dengan tingkah suaminya yang sangat agresif, jadi dia mengaktifkan mode speaker agar tangannya bisa menghalangi kegiatan suaminya.
"Ini bu, ada ikan koi lepas, mau minta cium Anes terus." Ucap Aneska berusaha untuk menghalangi suaminya.
"Ikan koi bagus loh katanya bawa hoki."
"Ralat bu, bukan koi tapi hiu." Ucap Aneska.
"Aduh Nes, kalau pelihara ikan itu yang wajar jangan ikan hiu di pelihara."
Aneska geli dengan jenggot tipis Abian yang ada di pipinya.
"Jenggotnya." Ucapan Aneksa terdengar ibunya.
"Apa Nes? kamu pelihara jenglot juga." Ucap bu Desi.
"Bukan jenglot bu, tapi jengkol." Aneska sengaja tidak menjelaskan kata sesungguhnya, dia tidak mau ibunya berpikir aneh-aneh tentangnya dan Abian.
"Ibu udah dulu ya." Aneska mengakhiri panggilannya. Abian mendorong tubuh istrinya agar terlentang di sofa. Posisi Abian sudah berada di atas badan istrinya, dia tak bisa menahan hasratnya dengan menciumi bibir istrinya. Pintu ruangan di ketuk.
"Abian ada tamu." Ucap Aneska mengingatkan suaminya.
"Biarkan, tidak ada yang berani masuk kalau tidak ada perintah dariku." Ucap Abian menciumi istrinya.
Tidak sengaja Tya masuk ke dalam ruangan bosnya dan melihat adegan itu.
"Kamu!" Abian marah.
"Maaf pak saya enggak lihat." Tya langsung keluar ruangan. Dan mengutuk sikapnya yang oon.
"Aduh bisa-bisa di pecat nih, kenapa harus di kantor sih pak. Kayak enggak ada tempat lain aja." Gerutu Tya.
"Aduh mati aku." Aneska mendorong tubuh suaminya.
"Mengganggu saja." Ucap Abian kesal.
"Aku sudah bilang dari tadi jangan genit ini kantor. Jadi malu nih." Gerutu Aneska.
Melihat penampilan yang kacau dan ada lipstik di bibir suaminya membuat Aneska tertawa.
"Buahahah." Aneska tertawa.
"Kenapa?" Abian bingung.
Aneska mengambil ponsel dan memotret suaminya, lalu menunjukkan ke Abian.
"Ya ampun, jadi waktu sekertaris itu masuk sini, lipstik kamu sudah di bibirku." Ucap Abian panik sambil mengambil tisu untuk membersihkan bibirnya yang penuh dengan lipstik.
"Iya Abiana." Jawab Aneska sambil tertawa.
"Abiana?" Abian bingung.
"Tuh ada lipstik di bibir kamu, jadi aku panggil aja Abiana, nanti malam mau nongkrong di mana?" Ejek Aneska sambil tertawa.
"Anes! puas-puas mengejekku. Nanti malam siapkan pergumulan hebat kamu."
__ADS_1
Aneksa yang tadi tertawa langsung diam. Dia harus mencari cara agar pergumulan nanti malam batal.
Bersambung.