Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 93


__ADS_3

Aneska memasuki kamarnya, dan melihat suaminya sedang duduk sambil memandang berkas yang di bawanya dari kantor. Dan menaikkan kakinya ke atas meja.


"Suamiku, kita makan di ruang makan ya." Ucap Aneska sambil memeluk bahu suaminya dari belakang.


"Aku lagi tidak ingin makan bersama keluargaku." Ucap Abian menolak dan malas.


"Oh gitu, tapi kasihan ibu sama Cyra, aku khawatir." Belum selesai Aneksa berbicara suaminya langsung berdiri.


"Ayo kita makan bersama." Ucap Abian sambil mengulurkan tangannya ke depan Aneska.


"Kita enggak mandi dulu." Tanya Aneska.


"Boleh tapi makannya keburu selesai." Ucap Abian sambil menarik tangan istrinya agar badan Aneska menempel di dadanya. Dia menyentuh wajah istrinya dengan jari jemarinya.


"Kenapa." Tanya Aneska bingung.


"Jangan tanya kenapa? tapi apa yang aku dan kamu lukakan di kamar mandi." Ucap Abian sambil mencium bibir istrinya memberikan rasa hangat dan ingin selalu memiliki.


"Abian, kita makan dulu ya." Aneska mengakhiri ciuman suaminya karena dia tau ciuman itu bisa sampai panjang.


Sebelum keluar Abian membuka jasnya dan hanya menyisakan kemeja dan dasi. Lengan kemeja di gulungnya dan dasi di longgarkan. Tangannya yang kekar terlihat dari gulungan lengan kemeja itu. Aneska menyukai semua bentuk tubuh suaminya, menurutnya Abian di ciptakan sempurna untuk dirinya.


Abian menggandeng tangan istrinya menuju ruang makan. Semua sudah berkumpul hanya ibu Desi dan Cyra yang belum ada di ruangan itu.


"Abian katanya ibu Tatik, kalian tidak makan di sini." Ucap nyonya Rona sambil menikmati makanannya.


Abian tidak menjawab, dia menarik kursi makan untuk istrinya. Hal itu membuat Anggela iri sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ibu mana?" bisik Aneska.


"Mungkin sebentar lagi datang." Jawab Abian sambil duduk di tempatnya. Abian tidak duduk di sebelah istrinya tapi duduk di kursi utama atau tepatnya kursi yang selalu di duduki alamarhum papinya.


"Aku jemput ibu dulu ya." Bisik Aneska lagi.


Aneska mau beranjak dari kursinya tapi ibunya dan Cryra sudah datang ke ruangan itu.


"Selamat malam semuanya." Ucap ibu Desi.


"Malam, jawab oma Zulfa, Zidan dan Ila. Yang lain tidak menjawab ucapan ibu Desi. Wanita paruh baya itu duduk di sebelah oma dan Ila.


Nyonya Rona langsung mendengus kesal. Dia sangat membenci keluarga Aneska. Tapi di depan Abian, dia harus bersabar dan menunjukkan kalau dia sudah berubah. Suasana makan terlihat hening, Abian terus menatap tajam ke arah Farid, sedangkan Aneska terus memperhatikan Tanisa.


"Mami mumpung semua di sini, aku mau mengabarkan kalau besok aku akan berangkat ke singapura." Ucap Ila.


"Apa! untuk apa kamu ke singapura!" ucap nyonya Rona sewot sambil meletakkan sendok dan garpu ke piringnya.


"Aku akan mengikuti perlombaan piano di sana." Jelas Ila sambil melihat semua orang yang ada di ruang makan itu.

__ADS_1


"Tidak, mami tidak mengizinkan!" ucap Rona tegas.


"Tapi kak Abian sudah setuju." Ucap Ila. Nyonya Rona melihat anaknya sambil menghembuskan nafasnya secara berat. Percuma membatalkan rencana anak bungsunya, karena akan sia-sia, jika Abian sudah mengizinkan adiknya maka tidak ada yang bisa membantah dan menolak siapapun orangnya, itu pikirnya.


"Baiklah, karena kakak kamu sudah mengizinkan maka mami akan menemani kamu ke sana." Ucap nyonya Rona.


"Enggak perlu mam, aku akan pergi bersama kak Aneksa, ibu Desi dan Cyra." Ucap Ila.


Abian langsung menoleh ke istrinya, dia melupakan sesuatu jika istrinya akan menemani keluarganya ke singapura.


Nyonya Rona terlihat kesal, karena anaknya menginginkan pergi dengan keluarga orang lain di bandingkan dengan ibunya sendiri.


Abian beranjak dari kursinya, Aneska ingin mengikuti suaminya, tapi.


"Aku akan balik." Ucap Abian kembali ke kamarnya dan mengambil sesuatu di dalam ruangan itu. Nyonya Rona tidak berdebat lagi, dia dan yang lainnya menikmati makanannya. Dan tiba-tiba sesuatu melayang ke atas meja makan tepat di atas piring lauk pauk. Semua kaget meja makan sudah berantakan. Aneka lauk pauk pada tumpah dari piring dan picratannya mengenai pakaian mereka.


"Abian apa ini?" ucap nyonya Rona bingung sambil berdiri dan membersihkan pakaiannya.


"Abian kamu kenapa." Tanya Tanisa.


"Suruh suami kamu jelaskan kepadaku apa itu!" ucap Abian tegas.


Farid terlihat bingung tapi semua orang melihat ke arahnya. Dia mengambil berkas yang ada di atas meja, berkas itu sudah bercampur dengan minyak dan lainnya.


Farid membuka berkas itu dan membaca isinya.


"Jelaskan kepadaku! apa hubungan kamu dengan perusahaan itu?" Tanya Abian.


Farid diam dan bingung cara menjelaskan ke Abian. Abian mengambil air yang ada di gelasnya dan menyiramkan ke wajah Farid. Byuurr.


"Abian apa-apaan kamu?" ucap Tanisa marah sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Kamu diam!" ucap Abian tegas sambil menunjuk ke arah Tanisa


Tanisa kembali duduk.


"Kita memang bekerja sama dengan perusahaan itu." Ucap Farid pelan.


"Perusahaan itu? maksud kamu apa? perusahaan hayalan gitu!" Ucap Abian sambil menggebrak meja.


"Abian perusahaan itu memang ada." Ucap Farid.


"Bohong! perusahaan itu tidak ada, semua surat atas perusahaan itu bohong. Asal mami tau menantu kesayangan mami ini telah menyalah gunakan jabatannya selama aku tidak ada. Dia pencuri!" ucap Abian marah.


Nyonya Rona berdiri dari tempat duduknya, berjalan mengambil berkas yang ada di tangan Farid. Dia membaca berkas itu.


"Apa benar Farid?" tanya nyonya Rona.

__ADS_1


"Tidak mi." Jawab Farid pelan.


"Dasar penipu!" Abian memutari meja makan dan mendaratkan pukulan ke wajah Farid.


"Aaaaaa." Semua orang berteriak dan histeris. Mereka khawatir Abian merusak wajah Farid kembali. Zidan berusaha memegang tangan bosnya, tapi Abian terus ingin menghajar Farid.


"Aneska tolong selamatkan Farid." Ucap Tanisa cemas.


Aneska beranjak dari tempat duduknya dan langsung memeluk suaminya.


"Tenang sayang, jangan terbawa emosi." Ucap Aneska sambil memeluk suaminya.


"Keluar kamu dari sini!" teriak Abian.


"Abian, aku mohon jangan usir kami." Tanisa memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Keluarrrr!" teriak Abian.


Nyonya Rona tidak berkata-kata, dia diam dan kecewa dengan penghianatan yang di lakukan menantunya.


"Abian, izinkan Farid mengembalikan semua uang yang di curinya." Ucap Tanisa.


Farid menoleh ke arah istrinya, dia tidak setuju dengan ide Tanisa.


"Baik, aku beri waktu satu bulan untuk mengembalikan semua yang telah kamu curi, jika dalam satu bulan tidak ada pengembalian, siap-siap di penjara." Ucap Abian tegas.


Tanisa menganggukkan kepalanya cepat.


"Sekarang, keluar kalian dari istana ini, cepat!" teriak Abian sambil menunjuk arah pintu.


"Mami, bantu aku." Ucap Tanisa sambil menangis.


Nyonya Rona hanya menggelengkan kepalanya, dia sangat kecewa dengan Farid.


"Pelayannnn!" teriak Abian.


Beberapa pelayan datang ke ruang makan.


"Usir dia dan dia." Ucap Abian sambil menunjuk ke arah Tanisa dan Farid.


"Abian, aku mohon jangan Abian." Teriak Tanisa. Dua orang pelayan memegang lengan Tanisa dan membawa wanita itu keluar dari istana. Begitupun dengan Farid, dua pelayan juga menarik lengannya.


"Abian jangan usir, aku sedang mengandung!" teriak Tanisa.


Semua yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke Tanisa, begitupun dengan Farid, dia langsung melihat istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2