Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 63


__ADS_3

Teriakan Aneska mengagetkan Abian.


"Ada apa!" ucap Abian kaget.


"Apa ini." Aneska menunjuk dadanya.


"Dada." Jawab Abian sambil menguap.


"Iya aku tau, tapi kenapa bisa merah." Ucap Aneska ketus.


"Ya karena enggak biru." Jawab Abian santai.


"Pasti kamu telah melakukan sesuatu samaku semalam, iya kan?"


"Iya, semalam kata Tami, kamu harus pakai pakaian longgar. Jadi ya aku pakaikan pakaianku. Terus aku lihat dada kamu yang indah, kan sayang kalau di anggurkan." Ucap Abian jujur.


"Kamu!" Aneska marah dan memukuli badan suaminya. Abian hanya tertawa dan tidak membalas.


"Kenapa tertawa." Ucap Aneska ketus.


"Ya udah aku tidak tertawa lagi. Apa kamu sudah sembuh." Tanya Abian.


"Kamu lihat." Jawab Aneska ketus.


"Sudah sembuh ya." Abian menarik tangan istrinya dan menjatuhkan tubuh Aneska ke kasur.


Posisi Abian ada di badan istrinya.


"Abian kamu mau apa?" Aneska sudah mencium gelagat tidak baik dari suaminya.


"Aku mau memakanmu." Abian mencium bibir istrinya.


"Abian jangan." Aneska berusaha untuk mendorong tubuh Abian, tapi tenaganya tidak cukup kuat mendorong suaminya.


Abian ******* bibir istrinya, lidahnya sudah menembus pertahanan Aneska. Aneska tetap berusaha mendorong tubuh suaminya. Tapi tangan suaminya sudah mengerayangi seluruh tubuh dan dada istrinya.


Dia sengaja membuat istrinya menikmati momen itu. Sentuhan dari Abian membuatnya bergairah.


Melihat istrinya sudah tak terkendali, Abian langsung merobek baju dan celana dalam istrinya. Dia menciumi semua tubuh istrinya. Dan meninggalkan jejak di setiap jengkal tubuh Aneska.


Aneska tak kuasa menahan kenikmatan yang di berikan suaminya.


"Lepaskan sayang." Ucap Abian pelan sambil terus bekerja.


Aneska tak kuasa sampai akhirnya dia berteriak kencang sambil menjambak rambut suaminya.


Abian merubah posisinya. Dia mulai memasukkan keris saktinya. Tapi Aneska langsung berkata.


"Abian, aku takut." Ucap Aneska gemetar.


"Aku lakukan secara lembut." Ucap Abian sambil memasukkan keris sakti ke dalam mahkota istrinya. Aneska tak kuasa menahan air matanya saat selaput daranya berhasil di sobek suaminya. Tidak butuh waktu lama bagi Abian untuk melakukannya. Karena badannya yang besar dan kerisnya yang perkasa membuatnya mudah melakukannya.

__ADS_1


Abian mengguncang tubuh istrinya secara perlahan sampai akhirnya dia merasakan kenikmatan. Dan langsung menjatuhkan tubuhnya di badan Aneska.


Dia melihat istrinya banjir air mata. Abian buru-buru menghapus air mata istrinya.


"Maafkan aku sayang." Ucap Abian sambil mengecup dahi istrinya.


Aneska masih saja menangis.


"Sakit banget ya." Tanya Abian khawatir.


Aneska menganggukkan kepalanya pelan.


"Tenang sayang besok sudah membaik." Ucap Abian sambil menutupi tubuh istrinya dengan selimut. Sekilas dia melihat darah yang ada di sprei. Dia lalu memeluk tubuh istrinya.


"Terima kasih untuk segalanya, terutama untuk kehormatanmu. Kamu bisa menjaganya dengan baik. Dan memberikan kepada suamimu ini. Itu suatu yang luar biasa, karena banyak wanita sekarang yang berani memberikan mahkotanya sama pria yang belum halal. Dan kamu tidak." Ucap Abian senang.


Aneska hanya diam sambil tetap menangis. Air mata yang keluar dari bola matanya, bukan sedih karena perawannya hilang, tapi terharu karena dia bisa menyerahkan mahkotanya dan ada rasa khawatir dari dalam dirinya jika Vania datang. Dia tidak bisa membayangkan nasibnya nanti.


Aneska berusaha untuk bangun tapi kakinya tak kuat untuk berjalan. Abian langsung menghampirinya.


"Kenapa?" ucap Abian.


"Aku mau ke kamar mandi, tapi sakit." Ucap Aneska jujur. Abian langsung membopong tubuh istrinya ke kamar mandi. Aneska terlihat malu, karena dia dan suaminya seperti orang primitif tanpa ada sehelai benang di tubuh mereka.


"Tinggalkan aku sendiri." Ucap Aneska malu.


"Enggak mau, aku takut kamu jatuh. Aku tunggu di sini." Abian memasukkan istrinya ke dalam ruangan kaca yang transparan. Dia menunggu di dekat bathtub.


"Aduh cepat banget bangunnya." Gumam Abian sambil menggaruk rambutnya.


"Aduh tidak mungkin aku kocok arisan di depan istriku." Gumam Abian. Dengan berat hati Abian masuk ke dalam ruangan kaca.


"Mau apa." Tanya Aneska bingung.


"Maaf sayang, kamu telah membangunkan keris saktiku." Ucap Abian.


"Abian, aku tak tahan sakitnya." Ucap Aneska menolak.


Abian sudah menciumi kembali istrinya, dia memberikan kenikmatan dulu sama Aneska, setelah istrinya nikmat dia kembali menancapkan keris sakti. Mereka melakukan di bawah pancuran shower. Dia terus memompa tubuh istrinya dan berhenti ketika sudah nikmat.


Aneska langsung tidak sadarkan diri. Abian panik dan langsung menutupi tubuh istrinya dengan handuk. Dia meletakan istrinya di kasur.


"Aneska sadar." Ucap Abian sambil menyelimuti tubuh Aneska.


"Aneska bangun." Abian terus mengguncang tubuh istrinya.


"Apa yang harus aku lakukan." Gerutu Abian bingung. Dia memikirkan cara menyadarkan Aneska.


"Pasti oma bisa." Gumam Abian sambil berlari ke ruang ganti dan memakai baju. Dia memegang handle pintu dan melihat istrinya belum memakai apapun.


Abian mengambil baju kaosnya di dalam lemari dan memakaikan ke tubuh istrinya.

__ADS_1


"Celana dalam belum." Gumam Abian mengambil celana dalam istrinya dengan penuh perjuangan dia memakaikannya.


"Baju sudah, celana dalam." Abian keluar kamarnya dan berlari mencari omanya.


"Oma mana." Tanya Abian sama Ila.


"Oma di taman. Kakak kenapa?" Ila melihat kakaknya terlihat panik.


"Cepat panggil oma, bilang Aneska pingsan." Perintah Abian.


"Iya kak." Ila berlari mencari omanya. Abian menunggu oma Zulfa di kamarnya. Setelah beberapa menit wanita sepuh itu datang ke kamar cucunya bersama adiknya.


"Aneska kenapa lagi." Tanya oma. Abian mau menjelaskan tapi ada adiknya.


"Ila kamu keluar." Perintah Abian.


"Ah kakak, aku mau melihat keadaan kak Anes." Rengek Ila sambil keluar kamar.


Setelah Ila keluar, Abian membisikkan tentang pergumulan hebatnya dengan Aneska.


"Abian, kenapa kamu mengatakan ini sama oma." Ucap oma sambil memukul lengan cucunya.


"Aduh oma, mukulnya di tunda dulu. Sadarkan Aneska oma." Rengek Abian.


Oma mengambil minyak angin yang selalu di bawanya. Dan mengoleskan di bawah hidung Aneska.


Aneska membuka matanya perlahan, dan kaget melihat ada oma di dekatnya.


"Oma." Ucap Aneska kaget.


"Syukurlah kamu sudah sadar, aku takut sekali Anes." Ucap Abian sambil memegang tangan istrinya.


"Abian oma mau tanya, jadi selama kalian menikah. Kamu baru belah kelapa hari ini." Tanya oma.


Pipi Aneska langsung merona merah, dia menutupi sebagian wajahnya dengan selimut.


"Iya oma." Jawab Abian pelan.


"Wah hebat juga kalian, oma dulu langsung jebol enggak pakai tunda." Oma curhat.


"Ye oma, pakai acara curhat segala." Ejek Abian.


"Ya enggak apa-apa. Tapi nih akibatnya kalau kelamaan di tunda. Kamu jadi bringas, langsung menghajar Aneska sampai pingsan." Ucap oma.


Aneska hanya bisa menutupi wajahnya, dia malu jika masalah kasur harus di ketahui orang lain.


"Oma, apa ada obat untuk menghilangkan rasa perih di mahkota Aneska." Tanya Abian.


"Abian." Aneska menggerakkan kepalanya agar suaminya tidak menyinggung masalah kasur lagi.


"Enggak ada obatnya, nanti berangsur-angsur akan hilang sendiri tapi ingat jangan bolak balik di tusuk, nanti sakitnya lama sembuhnya." Ucap oma sambil berlalu keluar kamar cucunya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2