Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 170


__ADS_3

Tami kaget karena dokter Arif ada di depannya. Pria yang bergigi tonggos membalikkan badannya. Sebenarnya pria itu ingin menghampiri Tami tapi karena ada pria di depan wanita berbaju merah, pria itu mengurungkan niatnya.


"Dokter apa yang anda lakukan di sini?" tanya Tami masih memperhatikan pria berbaju merah.


"Menyelamatkan kamu." Sahut dokter Arif.


"Menyelamatkan dari apa?" tanya Tami tetap menutupi wajahnya dan masih mengintip dari celah-celah jarinya.


"Dari itu." Sahut dokter Arif menunjuk ke pria yang bergigi tonggos dengan gerak kepalanya.


Pria yang berbaju merah meyakinkan foto yang ada di ponselnya. Pria itu kembali lagi ke meja Tami.


"Aduh kenapa lagi dia balik." Gerutu Tami. Dokter Arif menoleh ke arah tatapan Tami.


"Permisi." Ujar pria bergigi tonggos.


"Iya." Sahut dokter Arif.


"Apa mbak yang ada di sini." Pria itu menunjukkan situs yang di dalamnya ada wajah Tami.


"Bu bukan." Sahut Tami gugup.


Pria itu masih memperhatikan Tami.


"Mbak bohong ya, ini wajah kamu kan." Ujar pria itu lagi.


"Bu bukan foto saya di curi orang." Sahut Tami bohong.


Pria bergigi tonggos itu tersenyum. "Mbak jangan bohong, ini wajah mbak dan kita janjian bertemu di cafe ini dengan memakai pakaian berwarna merah." Ujar pria itu lagi.


Tami bingung harus mengatakan apa. Jika dia jujur sama saja dia akan kencan dengan pria itu. "Memang saya jelek, ini sudah yang kelima puluh kali saya di bohongi wanita." Ujar pria itu memelas.


"Dok bagaimana nih." Bisik Tami bingung.


"Makanya mas jangan bohong. Wajar wanita membatalkan kencan dengan kamu." Timpal dokter Arif.


"Maksud kamu apa?" tanya pria itu tidak terima.


"Kalau tidak mau di bohongi jangan membohongi orang lain. Lain kali gunakan foto asli jangan pakai foto orang lain. Kalau tau orangnya kamu bisa masuk penjara." Ujar dokter Arif menakuti.


Pria itu diam seraya menundukkan kepalanya. Dia menarik kursi dan duduk di meja Tami dan dokter Arif.


"Mau ngapain?" tanya dokter Arif bingung. Tapi pria itu tidak menghiraukan ucapan dokter Arif, dia memandangi wajah Tami yang terus memalingkan wajahnya.


"Ini bunga untuk kamu." Ujar pria bergigi tonggos seraya meletakan buket bunga mawar di hadapan Tami.


"Namaku Jojo." Pria itu mengulurkan tangannya ke Tami.

__ADS_1


Tami merasa risih karena pria itu tetap ingin mengenal sosoknya. "Tami namaku Tami." Sahut Tami tanpa mengulurkan tangannya. Tapi pria itu menarik tangan Tami untuk bersalaman.


"Hei!" dokter Arif marah. Dia mencengkram kemeja Jojo.


"Belajar sopan dengan wanita." Ujar dokter Arif tidak terima jika perawatnya di perlakukan tidak baik.


"Kamu siapanya dia?" tanya pria itu.


"Dia ka.." Belum selesai Tami menjawab dokter Arif menyela ucapannya. "Calon suaminya." Sahut dokter Arif dan tentu saja membuat Tami kaget.


Pria itu menatap dan menepis tangan dokter Arif dari kemejanya.


"Jangan berbohong mas, kalau dia mau menikah tidak mungkin dia mencari jodoh di internet." Ujar pria itu kekeh ingin mengenal Tami.


Dokter Arif kehilangan kata-kata. Dia beranjak dari tempat duduknya dan memegang tangan Tami. "Kenapa kamu mencari jodoh di internet? apa kurangnya aku?" tanya dokter Arif yang membuat Tami bingung.


Tami masih melongo. "Berikan ponsel kamu." Dokter Arif mengulurkan tangannya meminta ponsel Tami.


Tami masih belum mengerti. "Ayo mana ponsel kamu." Masih memegang tangan Tami.


Tami menyerahkan ponselnya. "Hapus semua akun kamu di situs cari jodoh itu." Titah dokter Arif.


"Hah?" Tami masih bingung. "Kelamaan." Dokter Arif mencari sendiri aplikasi itu dan menghapus data Tami dari aplikasi itu.


"Sudah saya hapus, mohon maaf sebelumnya kami bertengkar. Dia sengaja melakukan ini untuk membuat saya cemburu." Jelas dokter Arif ke pria bergigi tonggos.


"Ayo pulang." Ajak dokter Arif dan meletakan uang di atas meja. Membayar jus sirsak pesanan Tami.


"Jangan gunakan situs itu lagi." Titah dokter Arif seraya membukakan pintu mobil untuk Tami.


"Tapi saya..."


"Masuk." Titah dokter Arif.


Tami masuk ke dalam mobil. Dokter Arif melajukan mobilnya. "Ingat jangan gunakan situs cari jodoh lagi!" Titahnya.


"Tapi dokter yang bilang ke saya bisa mencari jodoh melalui situs." Sahut Tami.


"Iya benar, tapi apa kamu tidak kapok dengan kejadian yang tadi?" tanya dokter Arif yang fokus menyetir.


"Kapok sih, tapi namanya usaha dok. Saya akan tetap mencari jodoh saya melalui situs ini. Semoga saja ketemu yang tepat." Ujar Tami tidak putus semangat.


"Tami lupakan ucapan saya yang kemarin-kemarin. Saya bilang jangan ya jangan." Dokter Arif menekan intonasinya membuat Tami takut.


Tami gadis yang lembut tutur katanya sangat lembut berbeda dengan Tiara dan Aneska yang ceplas ceplos.


Tami tidak berani membicarakan masalah itu lagi. Tapi dia berniat untuk mencari jodohnya dengan situs itu. Tapi dengan berpikir cerdik.

__ADS_1


"Dok kita mau kemana?" tanya Tami heran. Karena dokter Arif membawanya ke mall.


"Melihat pria yang tidak bisa mingkem saya lapar." Sahut dokter Arif. Tami tersenyum karena dia juga lapar.


Keduanya masuk ke dalam mall dengan menjaga jarak tentunya. Berhenti di sebuah tempat makan. Memesan makanan sesuai selera masing-masing.


Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Tami fokus dengan makanannya. Semua ucapan dokter Arif di cafe tidak di hiraukannya. Menurutnya hanya untuk menyelematkannya.


Dokter Arif melirik perawatnya yang jika di perhatikan sangat manis. Berbeda jika memakai seragam yang menurutnya wajah perawatnya sama semua.


Setelah selesai makan Tami permisi ke toilet. Tempat makan mereka berada di lantai atas dekat dengan bioskop. Melihat ada film romantis yang akan tayang membuat Tami tertarik.


"Kapan lagi bisa nonton." Gumam Tami masuk ke toilet dan setelah itu kembali menemui dokter Arif.


"Dok terima kasih atas bantuannya dan makanannya. Saya permisi." Tami buru-buru pergi meninggalkan dokter Arif.


"Tami!" teriak dokter Arif dan langsung meletakkan beberapa lembar uang di meja tanpa melihat berapa yang harus di bayarnya.


"Kemana perginya dia." Gumam dokter Arif terus menyusuri mall. Karena yang memakai pakaian berwarna merah hanya segelintir, dengan gampang dokter Arif menemukan Tami yang sedang mengantri untuk membeli tiket bioskop.


"Di situ rupanya." Dokter Arif menghela nafasnya dan berjalan menuju tempat antrian tiket.


Giliran Tami untuk membeli tiket.


"Berapa orang?" tanya penjaga loket.


"Dua." Sahut dokter Arif yang berdiri di samping Tami.


"Dokter apa yang anda lakukan?" tanya Tami bingung.


"Mengejar perawat saya yang melarikan diri." Sahut dokter Arif.


"Bukan melarikan diri. Tapi saya tidak mau mengganggu waktu dokter." Jelas Tami.


"Dari tadi kamu sudah mengambil waktu saya." Dokter Arif mengambil karcis yang di berikan penjaga loket. Meninggalkan Tami yang bengong.


"Maksud dokter apa? saya tidak minta anda datang membantu saya." Ujar Tami tidak terima.


"Apa begitu cara kamu berterima kasih."


"Dokter mau apa?" tanya Tami bingung yang menurutnya sikap dokter Arif mulai menjengkelkan.


"Jangan bawel." Ujar dokter Arif dan menarik tangan Tami masuk ke dalam bioskop.


Bersambung...


Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2