Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 165


__ADS_3

Semua masih tercengang dengan aksi Dimas yang mencium bibir Tanisa. "Ini hukuman untuk kamu yang bawel." Ujar Dimas seraya keluar dari keramaian itu.


Tanisa masih diam terpaku di tempat dansa. "Si Dimas kemana?" tanya Tami ke Aldo yang menyadarkan Tanisa.


Tanisa merasa malu, sama halnya dengan Dimas, dia pergi dari tempat pesta. "Apa Dimas pulang?" tanya Tami lagi yang masih berdansa dengan dokter Arif.


"Sepertinya tidak, mau naik apa dia pulang, kunci mobil samaku." Sahut Aldo.


Abian masih menatap tajam ke arah Aneska. "Aneska kamu cantik sekali." Puji oma Nely. Aneska hanya tersenyum kecut pujian itu bencana untuknya.


"Kamu sangat cantik Aneska." Lucky mengulurkan tangannya ke Aneska tepat di hadapan Abian.


Abian menatap Aneska dan Lucky. Oma merasa ada gelagat tidak baik. "Nely sepertinya aku belum bilang ke kamu, Aneska sudah menikah dengan cucuku Abian." Jelas oma.


Oma Nely dan Lucky tercengang, pria itu menarik tangannya kembali. "Apa pada saat kita bertemu di mall kamu sudah menikah?" pertanyaan Lucky membuat Abian mengeraskan rahangnya. Dia memikirkan sesuatu tentang istrinya dengan Lucky.


Abian terlihat marah dia langsung pergi meninggalkan Aneska, oma dan tamunya. "Permisi." Aneska mengejar suaminya yang pergi menjauh dari keramaian.


Oma Zulfa menjelaskan tentang pernikahan Aneska yang mendadak. Dengan wajah kecewa Lucky menerima kenyataan jika Aneska bukan jodohnya.


Nyonya Rona tersadar ketika temannya mengoleskan minyak ke bagian bawah hidungnya. "Jeng sudah sadar." Ujar temannya. Nyonya Rona langsung melihat ke tempat dansa, dia tidak menghiraukan pertanyaan temannya.


Mencari keberadaan Tanisa dan Dimas. "Jeng Rona bohong ya, cowok yang mencium Tanisa calonnya kan?" ucap salah seorang gengnya.


"Jeng jeng kenapa harus di sembunyikan, ganteng juga kok, tapi ngomong-ngomong pekerjaannya apa?" timpal temannya yang lain.


Nyonya Rona tambah panik dia segera meninggalkan temannya mencari anaknya dan pria yang mencium Tanisa.


Nyonya Rona menuju tempat dansa tepatnya berdiri di depan Aldo dan Ila. Wanita paruh baya itu menarik tangan anaknya. "Nyonya apa anda mau berdansa juga dengan saya?" tanya Aldo santai.


"Kamu!" nyonya Rona menuding Aldo.


"Lalu mau apa nyonya ke sini?" tanya Aldo lagi. "Di mana temanmu?" tanya Rona ketus.


"Ini dan itu." Aldo menunjuk Tami dan Tiara.


Nyonya Rona kesal dengan jawaban Aldo yang menurutnya mempermainkannya. "Bukan yang itu!" seru nyonya Rona marah.


"Mana aku tau nyonya, dari tadi aku hanya fokus menatap gadis cantik itu." Sahut Aldo seraya menunjuk Ila.


"Kamu!" nyonya Rona kesal dia langsung menarik tangan Ila.


"Jangan bunuh mami!" menuding anaknya.

__ADS_1


"Maksud mami apa?" tanya Ila bingung.


"Jauhi pria itu atau kamu akan mami kurung di kamar." Ancam maminya seraya melihat sekelilingnya. Dia melihat sosok oma Nely.


"Ikut mami." Nyonya Rona menarik tangan Ila.


Ibu Desi melihat pertunjukan tadi. "Pak, lihat nenek sihir kebakaran jenggot." Ujar bu Desi.


"Ibu-ibu mana ada wanita punya jenggot." Sahut suaminya.


"Duh itu istilah pak." Jelas istrinya seraya merapatkan giginya.


Nyonya Rona dan Ila telah berdiri di depan oma Nely dan cucunya. Oma Nely sedang mengobrol dengan oma Zulfa.


"Hai tante." Sapa Rona ke om Nely. "Hai Rona, itu siapa?" tanya oma Nely seraya menunjuk ke arah Ila.


"Ini si bungsu tante." Nyonya Rona menyodorkan anaknya ke oma Nely dan Lucky. Melihat tingkah anaknya oma Zulfa langsung menggelengkan kepalanya.


Aneska mengejar suaminya. "Abian tunggu." Ujar Aneska terus mengikuti suaminya dan ketika bisa menggapai lengan Abian, dia langsung menarik lengan suaminya.


"Abian dengarkan aku. Aku tidak pernah ada hubungan apapun dengan cucu oma Nely, memang aku pernah bertemu di rumah sakit." Jelas Aneska.


"Lalu di mall apa?" tanya Abian ketus.


"Di mall itu pertemuan tidak di sengaja pada saat itu ada ibu juga, kalau tidak percaya aku akan panggil ibu." Jelas Aneska lagi. Dia tidak ingin rumah tangganya rusak hanya karena salah paham.


Tanisa hendak masuk ke istana tapi ada seseorang yang sedang duduk di bawah pohon. "Kurang ajar." Gerutu Tanisa dan melangkahkan kakinya menuju tempat Dimas bersantai menghabiskan rokoknya.


"Hei kamu!" teriak Tanisa. Dimas menoleh tapi tetap duduk di bawah pohon tanpa mau berdiri berhadapan dengan Tanisa.


"Apa yang kamu lakukan tadi salah besar!" seru Tanisa marah. Dimas hanya diam dan terus menghisap rokoknya sangat dalam.


"Aku sudah bilang, itu hukuman untuk kamu." Sahut Dimas tetap dengan rokoknya.


"Hukuman kamu bilang! kamu pikir aku wanita apa!" seru Tanisa menaikkan oktaf suaranya.


"Aku melakukannya bukan karena cinta tapi hanya untuk membungkam mulut kamu. Tapi kalau kamu mau minta pertanggung jawaban akan aku lakukan." Ujar Dimas seraya berdiri di depan Tanisa. Tanisa langsung mundur.


"Tapi sebelum aku bertanggung jawab, aku tanya ke kamu? siapkah kamu jika hidup dengan gaji suami lima juta?" tanya Dimas seperti mengajukan penawaran untuknya.


"Apa! maksud kamu apa!"


Dimas menghela nafasnya. "Nona yang cantik aku jelaskan ke kamu sekali lagi, aku pria miskin untuk menghidupi mu saja gajiku tidak akan cukup. Jadi maafkan perlakuanku tadi." Jelas Dimas.

__ADS_1


"Apa maaf kamu bilang!" Tanisa tidak terima dengan permintaan maaf Dimas.


Nyonya Rona dapat menemukan anaknya. Dengan langkah lebar dia menghampiri anaknya dan Dimas.


"Kurang ajar kamu." Nyonya Rona memukul Dimas.


Dimas bersikap gentle man dia tidak pergi ataupun menghindar ketika di pukul nyonya Rona. "Kamu telah melempar kotoran ke wajahku! apa kamu tau! kamu hanya debu!" teriak nyonya Rona marah.


"Iya saya tau, bukan hanya debu, saya hanya kotoran di sepatu anda." Sahut Dimas.


Nyonya Rona terus memukul Dimas. Tanisa melarang maminya. "Kamu membela Tanisa!" seru maminya marah ke anaknya.


"Enggak mi, aku tidak membelanya." Sahut Tanisa pelan.


Nyonya Rona kembali memukul Dimas tapi pria itu menangkis dengan tangannya sehingga tangan wanita paruh baya itu kesakitan.


"Nyonya! perlakuan ku tadi hanya aksi untuk membungkam mulut anak kamu. Dia terus mengejekku tapi kalau kamu ingin aku menebus kesalahan, aku akan siap menikahi dia." Jelas Dimas.


"Tidak akan! kamu tidak boleh menikah dengan Tanisa!" teriak nyonya Rona.


"Baik kalau begitu, mau anda sekarang apa? mau minta ganti rugi? tapi aku tidak ada uang. Atau anda ingin aku melakukan permintaan maaf di depan orang?" Karena tidak ada jawaban dari nyonya Rona.


"Baiklah aku akan umumkan permintaan maaf di depan semua orang." Ujar Dimas dan segera berlalu meninggalkan Tanisa dan maminya.


Nyonya Rona teringat tentang pesta Abian, dimana Dimas mengucapkan kata cinta di depan semua orang.


"Stop jangan lakukan!" seru nyonya Rona.


"Baiklah kalau begitu." Sahut Dimas berhenti melangkahkan kakinya.


Nyonya Rona mendengarkan host memanggil namanya. Dia tau tiba waktunya untuk acara puncak. Yaitu meniup lilin untuk yang berulang tahun.


Nyonya Rona segera bergegas menuju tempat pesta. Kue ulang tahun yang ukurannya cukup besar telah berada di tengah-tengah para tamu undangan.


Abian masih kecewa dengan sikap istrinya yang tidak mengatakan siapa Lucky. Beda halnya dengan pemikiran Aneska, menurutnya tidak ada yang harus di bicarakan ke suaminya tentang pertemuannya dengan Lucky, karena itu tidak di sengaja dan antara Aneska dan Lucky tidak ada hubungan apapun.


Dengan wajah yang tidak ceria Abian berada di depan kue ulang tahun. Di sampingnya ada Aneska dan keluarganya dan baru bergabung nyonya Rona dan Tanisa, oma beserta Ila.


Penyanyi papan atas melantunkan lagu ulang tahun untuk Abian. Dan ada sosok dengan anggunnya datang ke tengah acara.


Bersambung...


Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2