
Aneska dan ibunya masih mematai Tanisa. Ibu Desi mengintip dengan tasnya sedangkan Aneska bersembunyi dari balik rambut panjangnya.
"Nes, tangan kakak ipar kamu kok tiga." Ucap ibu Desi sambil terus memperhatikan.
"Ih ibu, itu bukan tangannya, tapi tangan orang di depannya." Ucap Aneska.
"Iyakah, ibu pikir dia punya tangan cadangan." Ucap ibu Desi masih tetap melihat ke Tanisa.
Pelayan menyajikan pesanan mereka. Aneka masakan rumahan ada di depan mereka.
"Nes, jadi detektifnya istirahat dulu ya, ibu lapar." Ucap ibu Desi sambil mulai meletakkan nasi putih dan lauk pauk.
"Iya bu." Aneska merekam Tanisa dengan ponselnya.
Ibu Desi melihat anaknya yang sibuk dengan pengintaiannya.
"Nes, makan dulu, enggak usah pikirin mereka, sepertinya itu suaminya." Ucap ibu Desi.
"Suaminya?" Aneska mengingat terakhir kali dia melihat Farid.
"Wajah Farid masih bengkak enggak mungkin dia pergi ke mall bareng Tanisa kecuali dia pakai topeng." Gumam Aneska sambil melihat Tanisa kembali.
Tanisa berdiri dari tempat duduknya, di ikuti seseorang yang ada di depannya, mereka keluar bersama dari restoran. Aneska kaget karena dia melihat pinggang Tanisa di peluk seorang pria.Tanisa dan pria itu berpisah tapi sebelum berpisah pria itu mengecup bibir Tanisa. Aneska membelalakkan matanya, dia tidak menyangka kalau kakak iparnya berselingkuh. Ibu Desi memperhatikan tingkah anaknya.
"Nes, mata kamu awas keluar." Ucap ibu Desi sambil menikmati makanannya.
Aneska menundukkan kepalanya, karena Tanisa melewati jalan yang ada di samping restoran tempat Aneska dan ibunya duduk.
Tanisa berjalan tanpa melihat ke sampingnya. Dia tidak mengetahui kalau ada Aneska di mall itu.
"Nes, itu kakak ipar kamu." Ucap ibu Desi.
"Iya bu, biarkan saja." Ucap Aneska menyimpan ponselnya kembali.
"Yang duduk di depannya tadi siapa?" ucap ibu Desi, karena wanita paruh baya itu tidak melihat Tanisa keluar dengan orang lain.
"Enggak tau bu." Ucap Aneska pelan sambil mulai menikmati makanannya.
Aneska terus memikirkan kejadian yang baru saja di lihatnya, dia tidak menyangka jika kakak iparnya berselingkuh dengan pria lain.
"Nes jangan melamun, cepat habiskan." Ucap ibu Desi, membuyarkan lamunan anaknya.
Setelah selesai makan, Aneska dan ibunya pergi meninggalkan mall tersebut. Segala keperluan untuk kado Abian dan keperluan untuk di bawa ke singapura juga sudah di beli mereka. Aneska menaiki taksi yang ada di depan mall. Dia menyebutkan alamat perusahaan suaminya.
"Nes, kita mau kemana?" ucap ibunya bingung.
"Ke kantor Abian." Jawab Aneska sambil tetap memikirkan kejadian di mall.
"Nanti Abian marah." Ucap ibunya lagi.
__ADS_1
"Kalau dia marah kita pulang." Jawab Aneska singkat tanpa mau memikirkan panjang lebar.
Taksi membawa mereka ke kantor Abian, Aneska dan ibunya turun sambil membawa tentengan.
"Ibu kalau Abian tanya kita dari mana ibu jawab apa." Tanya Aneska.
"Dari mall." Jawab ibu Desi singkat.
"Iya, tapi kalau Abian tanya jangan bilang kita beli kado untuknya, ini rahasia kita." Ucap Aneska mengingatkan ibunya agar tidak keceplosan.
"Iya iya." Ibu Desi melihat gedung yang menjulang tinggi.
"Nes, ini kantor apa hotel? tinggi banget." Ucap ibu Desi.
Aneska tidak menjawab ucapan ibunya, dia membawa wanita paruh baya itu masuk ke dalam loby, di tangan mereka membawa tentengan. Aneska mendekati meja resepsionis. Sedangkan ibu Desi memilih duduk di sofa yang tidak jauh dari meja resepsionis.
"Permisi mbak, bisa bertemu dengan pak Abian." Ucap Aneska.
Resepsionis melihat penampilan Aneksa dari atas sampai bawah.
"Halo mbak? saya tanya bisa bertemu dengan pak Abian?" Aneska mengulangi lagi pertanyaannya karena dia merasa risih jika ada yang memperhatikannya seperti itu.
"Apa sudah membuat janji?" ucap resepsionis lagi.
"Belum, tapi katakan saja kalau Aneska datang." Ucap Aneska sambil tersenyum ramah.
"Itu istri pak Abian, perlakukan dengan baik." Ucap Tya.
"Baik." Resepsionis meletakkan gagang telepon. Dia memberikan senyuman terbaiknya.
"Ibu istrinya pak Abian?" ucap resepsionis sambil tersenyum.
"Iya." Ucap Aneska bingung dengan tingkah resepsionis yang berubah ramah.
"Maaf ibu, saya tidak tau. Silahkan masuk saja bu, tidak perlu melapor ke resepsionis." Ucap wanita itu.
Aneska menganggukkan kepalanya dan menghampiri ibunya yang sedang menengadahkan kepalanya sambil menutup matanya.
"Ibu jangan tidur di sini. Ayo kita ke ruangan Abian." Bisik Aneska.
"Hemm." Ibu Desi beranjak dari sofa dan berjalan beriringan menuju lift. Aneska menekan tombol ruangan Abian, karena ini kedua kalinya dia menginjakkan kakinya ke gedung itu, jadi sedikit banyaknya dia sudah paham ruangan suaminya.
Mereka keluar dari lift dan ketika keluar Aneska berpapasan dengan Zidan.
"Aneska, ibu Desi." Ucap Zidan.
"Apa Abian ada." Tanya Aneska.
"Tuan Abian sedang meeting, nanti akan saya sampaikan dengan beliau." Ucap Zidan.
__ADS_1
"Enggak usah, biarkan saja dia meeting. Aku akan menunggu di ruangannya." Ucap Aneska.
"Silahkan." Ucap Zidan.
Aneska melewati Zidan tapi ibu Desi masih berdiri di depan pria itu.
"Ada apa bu?" ucap Zidan bingung.
"Menantu tak jadi, ibu tau kamu sangat berat dengan kenyataan yang terjadi, tapi pernikahan ini sudah terjadi, saran ibu lupakan Aneska dan menjauhlah, ibu yakin kamu akan menemukan pasangan yang tepat." Ucap ibu Desi menasehati Zidan.
Aneska berdiri tidak jauh dari ibunya kurang lebih tiga meter jaraknya. Dia tidak tau apa yang di bicarakan ibunya.
"Iya bu, saya tau. Sangat sulit untuk melupakan kejadian itu di mana pernikahan saya dan Aneska batal." Ucap Zidan pelan.
"Memang sulit untuk di lupakan tapi jodoh ada di tangan Sang Kuasa, jadi menurut ibu ini sudah kehendak-Nya." Ucap ibu Desi.
"Iya bu, pelan-pelan saya akan melupakan Aneska walaupun sulit tapi saya akan berusaha." Jelas Zidan.
"Dengan cara apa kamu melupakan Aneska?" selidik ibu Desi.
"Dengan menjauh." Jawab Zidan.
"Kamu benar dengan menjauh tapi bukan hanya menjauh tapi membuka diri dengan perempuan lain."
Zidan melihat wanita paruh baya itu, menurutnya membuka diri untuk wanita lain hal yang sangat sulit di lakukannya.
"Ibu?" teriak Aneska memanggil ibunya sambil menggerakkan tangannya.
"Ingat pesan ibu, kalau sampai kamu jadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka, awas!" Ancam ibu Desi sambil mengepalkan tangannya ke arah Zidan.
Zidan langsung mengernyitkan dahinya, ancaman ibu Desi menurutnya bukan isapan jempol belaka.
Ibu Desi melewati Zidan yang masih diam dan menelaah semua ucapannya. Mengikuti anaknya masuk ke dalam ruangan Abian.
Di dalam ruangan itu ibu Desi lagi-lagi terpana dengan bentuk susunan dan dekor ruangan.
Semua di tanyakan wanita paruh baya itu.
"Ini ruangan apa Nes." Tanya ibunya.
"Itu kamar bu." Ucap Aneska sambil duduk di sofa.
Ibu Desi masuk ke dalam ruangan yang telah di sulap jadi kamar. Abian masuk ke dalam ruangannya sambil berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Dia kaget melihat istrinya sedang duduk cantik di ruangannya.
"Nanti saya hubungi lagi." Abian memutuskan panggilannya dan langsung duduk di sebelah istrinya.
"Sayang, aku rindu." Ucap Abian langsung mencomot bibir istrinya. Aneska membelalakkan matanya sambil melihat ibunya yang sedang melotot ke arah mereka.
Bersambung...
__ADS_1