
Aneska dan Abian keluar dari ruangannya. Aneska sengaja mengajak suaminya untuk makan di luar. Dia khawatir jika lama-lama berdua dengan Abian, pertahanannya akan jebol. Ketika melewati meja sekertaris, Tya langsung menundukkan kepalanya.
Abian menghampiri sekertarisnya.
"Jangan pernah masuk ruangan tanpa izin dari saya." Ucap Abian tegas.
"Maaf pak, saya enggak sengaja." Tya khawatir kalau akan di pecat.
"Suamiku sudah." Aneska menarik lengan suaminya.
"Tya masalah yang kamu lihat di ruangan tadi harap jangan di bocorkan sama seluruh kantor ya. Kamu tau kan kalau suamiku marah bagaimana." Ucap Aneska mengancam secara halus.
"Tau Aneska." Jawab Tya terbata-bata.
"Nona Aneska bukan Aneska." Abian mempertegas ucapannya.
"Suamiku itu aku yang suruh, kita makan aja yuk. Ajak Aneska.
Mereka keluar dari lift bertepatan dengan jam istirahat karyawan. Semua mata melihat ke arah mereka berdua. Aneska menundukkan kepalanya, tatapan semua orang membuatnya malu.
Mobil Abian sudah terparkir di depan pintu loby. Pintu mobil di bukakan security. Setelah masuk dalam mobil Aneska langsung ngomel.
"Besok aku enggak ikut ke kantor." Ucap Aneska marah.
Abian menyalakan mesin mobil dan melajukan roda empat itu menuju jalan raya.
"Kenapa?" ucap Abian fokus menyetir.
"Kamu lihat tadi? semua mata melihat ke arahku. Memangnya aku salah apa sampai tidak berkedip melihatku." Gerutu Aneska.
"Kamu tidak salah, tapi beruntung. Mereka semua iri sama kamu. Karena telah menjadi istri dari pemilik Bassam corporation.
"Untung dari mana? buntung iya." Gerutu Aneska.
"Kamu harus bangga punya suami seperti aku. Tampan dan kaya." Ucap Abian.
"Aku akui sekarang kamu tampan tapi kalau kamu ke kantor dengan rambut singamu itu, aku yakin one hundred percent pasti para wanita-wanita tidak selera denganmu. Aku aja terpaksa." Jelas Aneska.
"Dan aku yakin kalau Vania melihat penampilan rambut singa kamu. Pasti dia ilfeel." Ucap Aneska.
"Aneska!" Abian marah.
"I i iya?" ucap Aneska gugup
"Yang jadi istri sahku siapa?" ucap Abian.
"Aku."
"Sekarang aku tanya sama kamu, kalau Vania datang dan ternyata aku sudah mencintai kamu. Apa yang akan kamu lakukan." Tanya Abian.
"Hemmm, meninggalkanmu dan memberikan izin kepada kamu untuk kembali ke cinta pertama kamu." Ucap Aneska pelan.
"Kalau aku tidak mau?"
"Hemmm, buat aku bisa mencintaimu." Ucap Aneska ragu.
__ADS_1
"Baik, aku akan membuat kamu jatuh cinta kepadaku." Janji Abian.
"Oke." Ucap Aneska semangat.
Mobil sudah sampai di restoran. Aneska tidak mau turun.
"Aku enggak bisa makan-makanan western." Aneska menolak.
"Kamu harus coba, mulai sekarang biasakan makan-makanan western karena akan banyak undangan para pengusaha. Dan aku mau kamu ikut setiap acara yang aku hadiri."
"Baiklah, tapi jangan tertawa ya." Ucap Aneska.
"Iya sayang." Ucap Abian spontan Aneska langsung menoleh. Kata sayang itu membuatnya deg-degan.
Pelayan restoran memberikan tempat untuk mereka berdua.
"Kamu mau makan apa?" ucap Abian.
"Aku ikut aja." Jawab Aneska. Abian memesan beberapa makanan yang bisa membangkitkan selera makan istrinya.
"Abian, apa di sini ada es krim." Bisik Aneska.
"Ada nona, kami ada sepuluh varian rasa." Timpal pelayan.
"Saya pesan satu yang paling enak." Jawab Aneska lagi.
Pelayan meninggalkan meja mereka dan mengantarkan pesanan pengunjung restoran ke dapur.
"Setelah ini kita pulang ya." Ucap Aneska.
"Ih kamu ini, asik itu aja yang di bahas. Bahas yang lain dong." Gerutu Aneska.
"Mau bahas apa? masalah hak dan kewajiban kamu sebagai istri saja belum terpenuhi." Sindir Abian.
Aneska tidak mau memperdebatkan masalah itu. Memang di akuinya kalau sikapnya salah. Karena belum siap melayani suaminya di kasur.
Makanan mereka sudah datang pelayan menghidangkan beberapa makanan di atas meja tidak lupa es krim pesanan Aneska.
Abian membantu istrinya untuk memotong daging stik pesanannya. Di awal makan Aneska menunjukkan ekspresi jelek dan aneh, tapi lama kelamaan dia mulai menikmati makanannya. Setelah selesai Aneska mulai menikmati es krimnya.
"Ya ampun enak banget, kamu mau." Aneska menyuapi suaminya.
Aneska menghabiskan es krimnya. Tiba-tiba muncul ide di benaknya untuk membatalkan pergumulan nanti malam.
"Suamiku, boleh aku pesan es krim lagi." Ucap Aneska pelan.
Abian memanggil pelayan dan memesan es krim dengan varian rasa yang berbeda. Dalam sekejap es krim itu habis. Aneska minta di pesankan lagi. Dia menghabiskan lima macam es dengan varian rasa yang berbeda. Abian sampai menggelengkan kepalanya.
"Mau lagi?" ucap Abian.
"Aku udah kenyang." Jawab Aneska sambil menggelengkan kepalanya. Abian mengajak istrinya untuk keluar dari restoran dan menuju mall.
Abian memarkirkan mobilnya di basement mall, mall yang sama tempat dia bertemu dengan Tiara dan Aldo.
"Ayo turun." Ajak Abian.
__ADS_1
"Aku tunggu di mobil aja." Aneska menolak.
"Ayo, aku mau membelikan ponsel baru untuk kamu." Ajak Abian lagi.
"Aku kekenyangan, kamu aja yang pergi. Aku tunggu di sini." Ucap Aneska menolak.
"Tidak mungkin aku meninggalkan kamu dengan mesin mobil yang terus menyala." Abian khawatir.
"Enggak apa-apa, aku tunggu di sini saja." Tolak Aneska lagi.
"Hemmm, gini aja. Di depan pintu mall ada tempat duduk kamu tunggu di sana. Tapi ingat jangan pergi kemanapun. Tunggu aku datang." Ucap Abian.
"Baiklah aku tunggu di dalam mall dekat pintu." Abian dan Aneska jalan menuju pintu kaca, di situ ada kursi. Abian menyuruh Aneska duduk dan menunggu di situ.
"Ingat jangan pergi sampai aku datang, paham!"
"Paham cikgu." Jawab Aneska. Abian berlari kecil menuju toko ponsel terbesar di kota itu. Aneska memperhatikan orang lalu lalang yang mau masuk ke mall dan yang mau menuju basement.
Karena ruangan ber AC, tubuh Aneska mulai kedinginan dan suaranya bindeng dan hidungnya berair. Rencananya untuk membatalkan pergumulan berhasil, Aneska sengaja makan es krim banyak agar flu.
"Aduh aku kebelet pipis lagi." Gumam Aneska.
"Kalau pergi sebentar sepertinya enggak apa-apa, dari pada ngompol di sini." Gumam Aneska dengan suara bindeng.
Ini kali kedua, dia menginjakkan kakinya di mall itu Dia bingung di mana letak toilet terdekat, setelah bertanya pada petugas kebersihan akhirnya Aneska dapat menemukan letak toilet itu. Keadaan di toilet ramai jadi dia harus mengantri.
Abian kembali ke tempat di mana Aneska menunggunya, tapi dia tidak menemukan istrinya.
"Mbak lihat perempuan pakai dress warna merah marun duduk di sini." Tanya Abian.
"Enggak ada mas, saya juga baru duduk di sini." Jawab wanita itu.
"Anes, kamu kemana?" gumam Abian panik sambil mencari ke basement tempat mobilnya di parkirkan. Tapi dia tetap tidak menemukan istrinya.
"Apa mungkin dia shoping di dalam mall." Gumam Abian sambil berlari kecil masuk ke dalam mall dan mencari di pusat perbelanjaan pakaian. Abian berkeliling mencari istrinya, dia putus asa dan menyerah. Dia mendatangi pusat informasi dan mengatakan kalau istrinya hilang.
Abian mengatakan ciri-ciri Aneska dari pakaian, rambut tinggi badan dan rambut.
"Baik pak, kami akan menginformasikan." Ucap petugas.
"Pengunjung yang terhormat telah hilang seorang wanita berkulit putih, tinggi badan kurang lebih 160 cm, rambut gelombang dengan panjang sebahu, dan memakai dress berwarna merah marun. Bagi yang menemukannya harap laporkan ke pusat informasi atau bisa menemui keluarga beliau di pintu masuk basement, terima kasih." Ucap petugas.
Aneska baru keluar dari toilet, wanita yang ada di toilet langsung menyapanya.
"Mbak sepertinya keluarga mbak lagi menunggu di pintu masuk basement." Ucap salah seorang pengunjung mall yang sedang antri di toilet.
"Makasih mbak." Aneska mempercepat jalannya dan mencoba mengingat di mana letak pintu basement tempat dia duduk tadi.
"Sepertinya lewat sini." Gumam Aneska. Dia berjalan dengan langkah cukup lebar dan dari jauh dia melihat suaminya sedang berbicara dengan dua sekuriti, terlihat sekali kalau Abian kebingungan.
"Pak, sepertinya itu istri anda." Ucap bapak sekuriti." Abian membalikkan badannya dan melihat istrinya sedang berlari ke arahnya. Abian ikut berlari dan langsung memeluk istrinya. Orang-orang yang berada di situ bertepuk tangan riuh.
"Aku pikir kamu hilang. Jangan pernah ulangi lagi, aku tidak sanggup harus kehilangan dirimu." Ucap Abian khawatir sambil mengecup dahi istrinya. Terlihat sekali kalau Abian takut kehilangan istrinya. Mendapat perlakuan seperti itu hati Aneska langsung terenyuh dan senang. Ada timbul rasa dalam hatinya yang dia sendiri baru menyadarinya.
"Hasiim." Aneska bersin. Abian langsung panik dan segera membawa istrinya menuju basement.
__ADS_1
Bersambung.