
Farid terus melajukan mobilnya melewati pepohonan yang ada di kanan kiri jalan. Karena hanya itu jalan keluar dari istana Bassam menuju pusat kota.
Dari jauh terlihat ada mobil dengan kecepatan penuh.
"Tabrak." Titah Abian.
"Apa tuan." Ucap supir kurang yakin.
"Kamu dengar tidak!" ucap Abian marah.
Aneska langsung menoleh ke arah suaminya. Suaminya tidak berpikir panjang.
"Abian jangan, aku belum mau mati." Ucap Aneska pelan seraya memegang tangan suaminya. Abian baru sadar jika ada istrinya di sampingnya.
"Berhenti." Titah Abian.
Supir langsung memberhentikan mobil. Dia menarik tangan istrinya dan memerintahkan supir untuk keluar dari mobil.
"Abian apa yang kamu lakukan." Ucap Aneska ketakutan.
"Kamu diam di sini, aku tidak akan membahayakan diri kamu." Ucap Abian seraya naik ke mobil. Dia mengambil alih kemudi.
"Abian jangan. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu, hiks hiks." Aneska ketakutan, dia tau jika suaminya ingin menabrak Farid dengan mobilnya. Jika itu terjadi akan berakibat fatal untuk keduanya karena bagian depan mobil akan saling tabrakan.
"Aku cinta kamu..." Ucap Abian dan langsung menekan pedal gas dengan kecepatan penuh.
"Abian...." Teriak Aneska sambil menangis.
Farid melihat ada mobil yang sedang menuju ke arahnya.
"Abian." Gumam Farid ketakutan karena mobil mereka akan tabrakan.
Criittttt Farid mengerem mendadak. Tidak ada jalan lain selain melewati hutan. Dan hutan hanya bisa di lalui dengan berjalan kaki.
Farid buru-buru mengambil barangnya dan berlari ke hutan.
"Mau lari ke mana kamu." Ucap Abian seraya memberhentikan mobil tepat di depan mobil Farid. Dia turun dari mobil dan berlari ke hutan untuk menangkap pria yang telah memukul kakaknya.
Aneska hanya terduduk sambil menangis dia tidak sanggup jika terjadi sesuatu dengan suaminya.
"Nona sepertinya tuan muda tidak jadi menabrakkan mobilnya." Ucap supir yang dari jauh dapat melihat dan tidak mendengar ada suara tubrukan.
Aneska langsung berlari menuju mobil suaminya bersama dengan supir.
"Farid keluar kamu!" teriak Abian seraya terus menyusuri hutan. Farid terus berjalan, dia tidak tau jalan keluar dari hutan menurutnya menyelamatkan diri dari Abian itu yang terpenting.
Aneska dan supir sudah sampai di tempat mobil berhenti.
__ADS_1
"Mana Abian?" tanya Aneska ke supir seraya melihat sekeliling mobil.
"Sepertinya tuan Abian masuk ke hutan. Sebaiknya saya antar nona ke istana." Ucap supir.
"Tidak! aku mau menunggu Abian di sini." Ucap Aneska kekeh untuk menunggu suaminya.
"Nona saya mau menyusul tuan Abian sebaiknya anda di istana." Ucap supir khawatir dengan keadaan Aneska.
"Aku akan menunggu Abian di dalam mobil pergilah." Ucap Aneska dan masuk ke dalam mobil.
Supir langsung pergi ke hutan menyusul Abian. Aneska duduk di mobil sambil memperhatikan keadaan di luar.
Tubuh Tanisa di letakkan di atas tempat tidur. Nyonya Rona menangis sejadi-jadinya. Penyesalan datangnya terlambat, dia buta karena harta.
"Bangun sayang." Ucap nyonya Rona seraya menangis dan memegang tangan anaknya.
Oma Zulfa merasa kasihan dengan keadaan cucunya. Keluarga Bassam selalu mendapatkan cobaan, tragedi dan permasalahan yang selalu ada dan tidak pernah selesai. Dia berharap ada keajaiban yang terjadi setelah tragedi ini.
Abian masih mencari Farid. Farid bersembunyi, dan mengecoh Abian.
"Farid keluar kamu!" teriak Abian.
Abian tidak tau keberadaan Farid, karena dia bersembunyi di balik pohon besar. Ketika Abian berlari cukup jauh Farid keluar dari tempat persembunyiannya dan kembali ke mobilnya. Berlari secepat mungkin untuk sampai ke mobilnya.
Dia sudah sampai di mobil dan melihat ada Aneska duduk di mobil Abian.
Aneska melihat sekelilingnya, dia keluar dari pintu sebelahnya dan berlari.
"Abian..." Teriak Aneska seraya berlari. Tapi langkah kakinya tidak secepat dengan gerakkan pria. Farid menarik rambut Aneska dan membawa wanita itu masuk ke mobil dan meletakkan di kursi baris kedua.
Farid melajukan mobilnya membawa Aneska bersamanya. Abian mendengar ada suara mobil dan teriakan. Dia berlari keluar hutan menuju mobilnya.
"Farid..." Teriak Abian dan langsung memutar mobilnya mengejar Farid.
Aneska merasa ketakutan, bayang-bayang penyiksaan akan menghampiri dirinya. Dia memikirkan cara untuk bisa bebas dari pria bejat di depannya.
Dia melihat jalanan aspal dan mulai mengambil ancang-ancang untuk melompat. Farid terus melihat ke arah spion, memastikan dirinya aman dari kejaran Abian. Ketika pria itu lengah. Aneska membuka pintu mobil dan langsung lompat.
Bruk... Aneska terjatuh dan berguling di aspal. Abian melihat kejadian itu, dimana orang terkasihnya jatuh dari mobil.
Abian menghentikan mobilnya tepat di depan istrinya yang terbaring di aspal.
"Aneska.." Teriak Abian sambil keluar dari mobil dan memeluk tubuh istrinya yang penuh lecet dan kepala yang berdarah.
"Aneska bangun sayang bangun." Ucap Abian menangis. Air matanya tidak pernah menetes dan hanya menetes ketika papinya meninggal dan kedua karena Aneska.
"Aneska...." Teriak Abian sambil memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
Farid berhasil kabur dan mobilnya sudah menuju pusat kota. Ada mobil yang berhenti di depan Abian.
"Abian apa yang terjadi?" tanya dokter Arif seraya turun dari mobil.
"Selamatkan istriku." Ucap Abian menangis. Dokter Arif tidak menanyakan apapun, dia bisa melihat luka yang ada di sekujur tubuh Aneska karena kecelakaan.
"Kita bawa Aneska ke rumah sakit." Ucap dokter Arif mengingatkan temannya.
Abian membopong tubuh istrinya naik ke mobil sahabatnya. Dokter Arif langsung memutar arah menuju rumah sakit dengan membawa Abian dan Aneska bersamanya.
Di istana nyonya Rona masih menunggu hadirnya dokter Arif.
"Kenapa dia belum sampai." Gerutu nyonya Rona sambil melihat jam di tangannya.
Ponselnya nyonya Rona berdering, dokter Arif menghubunginya.
"Halo nyonya." Ucap dokter Arif dari ujung ponselnya.
"Kamu di mana? kenapa belum datang." Ucap nyonya Rona cemas.
"Saya kembali ke rumah sakit bersama Abian dan Aneska, sebaiknya Tanisa di bawa ke rumah sakit, kita ketemu di sana." Jelas dokter Arif.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang!" ucap nyonya Rona marah.
"Maaf nyonya sebaiknya marah anda di tunda. Bawa Tanisa ke rumah sakit sekarang." Dokter Arif langsung menutup panggilannya. Dia melihat Abian terus mendekap tubuh Aneska.
Cinta Abian sangat besar, mungkin cintaku tidak sebanding dengannya.
"Siapa yang menghubungi kamu?" tanya oma Zulfa yang kebetulan berada di kamar Tanisa.
"Arif, dia tidak jadi datang ke sini. Dia menyuruh kita membawa Tanisa ke rumah sakit." Jelas nyonya Rona.
"Kenapa baru sekarang dia mengatakannya?" ucap oma bingung.
"Katanya dia kembali ke rumah sakit bersama Abian dan Aneska." Ucap nyonya Rona.
"Pasti telah terjadi sesuatu." Ucap oma.
"Kenapa mami memikirkan seperti itu?" tanya nyonya Rona bingung.
"Tadi Aneska menghubungi mami, dan sepertinya dia dalam keadaaan sehat-sehat saja. Jangan-jangan Farid..." Ucap oma sambil melihat anaknya.
Nyonya Rona membayangkan apa yang di katakan maminya. Dia merasa ngeri jika membayangkan perbuatan Farid dan lebih menakutkan kemarahan Abian jika terjadi sesuatu dengan Aneska.
Bersambung...
info seputar novel ada di ig ya
__ADS_1
Ig: anita_rachman83