Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 120


__ADS_3

"Bukan mbak, aku bukan sedang membicarakan diriku. Mbak kan tau kalau aku jomblo abadi, ops.." Tiara menutup mulutnya dengan tangannya dan Zidan kembali tersenyum.


Kenapa aku obral sih, dasar mulut lancip.


"Jomblo bangga." Ucap Tami.


"Siapa lagi yang bangga! ayo mbak jawab aku, sebaiknya pria itu di jadikan apa? apa aku museum kan?" tanya Tiara lagi.


"Heleh, jangan bohong, mbak kenal kamu lama, siapa pria itu? ganteng enggak?" Tami mengajukan beberapa pertanyaan.


Tiara bingung harus menjawab apa.


"Dia pendekar." Sahut Tiara.


"Wow pendekar? di zaman sekarang masih ada pendekar." Ucap Tami kagum dengan pria yang ingin mengajak Tiara bertemu.


"Bukan pendekar itu, pendekar kepanjangannya pendek kekar." Tiara sengaja mengatakan itu ke Tami agar Tami tidak menaruh curiga ke Zidan.


"Kalau kamu suka dan dia baik kenapa enggak?" ucap Tami lagi.


Mendengar celotehan Tiara, membuat Zidan menahan tawanya, mulut Tiara memang mirip Aneska.


"Giginya juga tonggos." Ucap Tiara asal.


"Apa tonggos!" Zidan langsung sewot. Reaksi Zidan membuat Tami langsung menoleh ke arah pria itu.


"Kenapa pak? apa bapak punya keluarga yang giginya tonggos?" tanya Tami.


"E enggak ada." Sahut Zidan gugup dan kembali duduk.


Tiara langsung membisikkan sesuatu ke Tami.


"Mbak, bapak itu kenapa enggak keluar-keluar sih, risih rasanya ada orang asing di sini." Bisik Tiara sambil melirik Zidan.


"Apa kamu tidak dengar kalau suami Aneska memberi tanggung jawab penuh kepadanya, itu artinya dia akan di sini sampai tuan Abian pulang." Jelas Tami.


"Oh gitu." Mereka berdua melihat ke arah Aneska. Temannya mengerjapkan matanya perlahan.


"Aneska." Ucap keduanya senang.


"Tiara, mbak Tami." Ucap Aneska senang.


"Aw..." Aneska meringis karena bekas jahitan yang ada di kepalanya terasa nyeri.


"Hati-hati Aneska, kamu baru menjalankan operasi kecil, walaupun seperti itu kamu harus berhati-hati." Jelas mbak Tami.


Zidan berdiri di samping tempat tidur berhadapan dengan Tiara.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Zidan.


"Sakit semua." Aneska tidak menemukan suaminya.


"Dimana suamiku?" tanya Aneska.


"Tuan Abian lagi membuat laporan ke kantor polisi. Mungkin sebentar lagi balik." Jelas Zidan seraya melirik ke Tiara.


Pintu di buka, Abian melihat istrinya yang telah sadar. Dia langsung memeluk Aneska dan mencium bibir istrinya di hadapan semua orang. Tami, Tiara dan Zidan langsung buru-buru memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Apa kalau berumah tangga bisa suka-suka." Bisik Tiara.


"Maksud kamu apa?" tanya Tami bingung.


"Itu? main comot tanpa memikirkan keadaan sekitar. Enggak tau apa kalau kita jomblo." Bisik Tiara lagi.


"Sstt diam. Anggap saja kita lagi menonton drama musikal." Jawab Tami asal.


Aneska menghentikan suaminya dengan menepuk lembut pipi Abian.


"Aku tidak apa-apa." Ucap Aneska dan melirik ke arah temannya. Abian paham dengan maksud istrinya.


"Tami dan ..."


"Tiara tuan." Jawab Tiara seraya berbalik ke arah Abian dan Aneska.


Begitu pun Tami ikut berbalik.


"Terima kasih karena telah menjaga Aneska." Ucap Abian.


"Tidak perlu berterima kasih, Aneska bukan hanya teman tapi juga saudara bagi kami." Jelas Tami.


Abian tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Kalian boleh meninggalkan kami, dan Zidan terima kasih." Ucap Abian lagi.


Zidan hanya menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan itu bersama dengan dua perawat tadi.


Tiara melangkahkan kakinya lebih cepat dari Tami, dia menghindari Zidan. Tami bingung dengan sikap temannya, menurutnya sikap Tiara berubah karena pria yang akan menemuinya di loby.


"Siapa pria itu." Gumam Tami seraya berjalan mengikuti Tiara dari belakang. Zidan masuk ke dalam ruangan Tanisa. Di dalam ruangan itu ada nyonya Rona dan dokter Arif juga oma.


"Terima kasih Arif." Ucap nyonya Rona senang karena anaknya dapat tertolong.


"Selagi bisa saya bantu pasti akan saya bantu." Ucap dokter Arif.


Nyonya Rona tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Nyonya saya permisi dulu." Dokter Arif beranjak dari tempat duduknya.


"Panggil tante jangan nyonya." Ucapan wanita paruh baya itu membuat Zidan dan dokter Arif saling melirik.


"Iya tante." Dokter Arif keluar dari ruangan itu di ikuti Zidan.


"Sepertinya kamu sudah di anggap keluarga sama nyonya Rona." Ucap Zidan.


"Mungkin." Sahut dokter itu singkat seraya meninggalkan Zidan menuju ruangannya.


***


Jam sembilan tepat semua perawat yang masuk shift kedua pulang di gantikan dengan shift ketiga.


Tiara belum mau pulang, dia tidak mau ketemu Zidan.


"Tiara ayo." Ajak mbak Tami.


"Mbak duluan aja." Ucap Tiara menolak.

__ADS_1


"Apa kamu menghindari pria itu?" tanya Tami.


"I iya." Sahut Tiara gugup.


"Ya udah jangan malam-malam pulangnya." Tami turun ke lantai dasar dengan menggunakan lift. Dia menyisir loby dengan pandangannya, mencari sosok pendekar yang bergigi tonggos.


"Tidak ada yang menarik perhatian." Gumam Tami seraya mengambil ponselnya. Dia mengetik sesuatu di situ.


Tidak ada pendekar di sini yang ada atlet.


Pesan terkirim, Tami keluar loby dan langsung menuju mes.


Tiara membaca pesan yang baru saja di terimanya. Dia mengerutkan dahinya.


"Atlet...? apa maksudnya...?" Tiara langsung menuju loby dan ketika sampai loby, dia berjalan mengendap-ngendap seraya mengedarkan pandangannya.


"Yes enggak ada." Tiara langsung berlari keluar loby dan berjalan menuju mesnya. Biasanya dia berjalan bersama teman-temannya tapi hari ini dia pulang lebih lama yang mengakibatkan dia harus jalan sendirian.


Dari jauh ada sorot lampu yang mengarah ke arahnya.


"Silaunya." Gumam Tiara seraya menutupi matanya dengan tasnya. Saking silaunya dia menabrak seseorang di depannya.


"Maaf." Ucap Tiara pelan dan tidak mengenali siapa yang barusan ditabraknya.


Matanya masih silau karena lampu sorot mobil tadi. Tiara melangkahkan kakinya dan tangannya di tarik seseorang yang menyebabkan badannya cukup dekat dengan orang itu.


"Hei mau kamu apa? aku sudah min.." Tiara diam karena yang ada di hadapannya Zidan.


"Bapak lagi bapak lagi." Tiara langsung menghempaskan tangan Zidan.


"Ikut aku." Zidan menarik tangan Tiara dan membawanya ke mobilnya, dan lagi-lagi Tiara melepaskan tangannya dari pria itu.


"Aku jalan sendiri." Ucap Tiara dan berancang-ancang akan kabur. Zidan melepaskan tangan Tiara dan perawat itu langsung lari ke dalam gerbang mes.


"Halo Arif, apa hukuman yang akan di berikan buat perawat melanggar peraturan." Ucap Zidan pura-pura sedang menghubungi dokter Arif.


Mendengar nama dokter Arif di sebut, Tiara memutar haluannya dan kembali ke Zidan.


"Hai pak, tadi pagi aku enggak sempat olah raga, jadi sempatnya sekarang." Ucap Tiara yang tidak mau kalah gertak dari Zidan.


Dia langsung masuk ke mobil dan duduk di baris kedua.


"Siapa yang memerintahkan kamu duduk di belakang?" tanya Zidan.


"Enggak ada, lebih nyaman duduk di belakang." Sahut Tiara.


"Pindah, saya bukan supir." Ucap Zidan tegas.


"Ogah." Ucap Tiara seraya menyilangkan kedua tangan di badannya.


Zidan melihat jam tangannya dan waktu terus berjalan. Dia masih berdiri di samping pintu.


"Keluar..." Titah Zidan seraya membuka pintu mobil.


"Ogah." Jawab Tiara ketus.


"Aku hitung sampai tiga..." Belum selesai Zidan berbicara Tiara sudah pindah ke depan dengan melewati celah yang ada di jok mobil di baris pertama.

__ADS_1


"Kalau mau belajar berhitung besok aja sama bapak ibu guru." Ejek Tiara seraya mengeluarkan sebagian kepalanya dari jendela mobil, dia sudah duduk di kursi depan.


Bersambung...


__ADS_2