Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 166


__ADS_3

Penyanyi melantunkan lagu ulang tahun untuk Abian di ikuti para tamu undangan. Dan ada sosok yang anggun hadir ke tengah acara.


"Siapa wanita itu." Gumam Tiara. "Sepertinya mbak pernah lihat tapi di mana ya." Sahut Tami.


Zidan dan dokter Arif saling melirik. Mereka tau siapa yang berada di tengah acara. Host memerintahkan Abian untuk meniup lilin. Tapi tatapan Abian beralih ke sosok wanita di depannya. Melihat tatapan Abian tidak berkedip semua menoleh ke arah pandangan Abian.


"Siapa wanita itu, kenapa wajahnya seperti tidak asing." Gumam Aneska.


"Vania." Teriak nyonya Rona kegirangan dan langsung menyambut gadis anggun itu. Vania hanya tersenyum karena dia tau siapa nyonya Rona. Karena wanita paruh baya itu dia harus berpisah dengan Abian.


Mendengar nama Vania di sebut Aneska langsung lemas. Dia tidak kuasa untuk berdiri di samping suaminya. Karena Vania sangat cantik dan anggun.


"Dok siapa itu?" tanya Tami ke dokter Arif. "Itu Vania mantan Abian." Tami dan Tiara saling pandang. Menurut mereka kehadiran Vania tidak dalam waktu yang tepat.


"Abian tiup lilinnya." Oma menyadarkan cucunya. Oma lebih memikirkan perasaan Aneska ketimbang yang lainnya. Abian meniup lilin dan memotong kue ulang tahun. Abian memegang potongan kue pertama dan oma langsung berbisik ke Abian.


"Abian beri potongan kue itu untuk istri sah kamu." Bisik oma.


Abian tersadar dan dia memberikan potongan kue pertama untuk istrinya. Tidak ada keceriaan di wajah Aneska dan Abian.


Memberikan potongan kue untuk semua keluarga dan potongan terakhir Abian memberikan ke Vania.


"Selamat ulang tahun Abian." Vania mengulurkan tangannya dan di sambut Abian dengan piring yang berisi potongan kue.


Berlanjut dengan acara bebas, para tamu undangan di persilahkan untuk menikmati sajian yang telah di sediakan.


Aneska masih berdiam diri di tempatnya sedangkan Abian berdiri berhadapan dengan Vania. Aneska tidak tau apa yang sedang di bicarakan suaminya dengan Vania.


Ibu Desi menghampiri anaknya. "Nes siapa itu?" tanya ibunya.


"Vania bu." Sahut Aneska.


"Iya tapi apa hubungannya dengan Abian. Karena ibu perhatikan wanita itu menatap Abian dengan tatapan yang berbeda." Ujar ibunya.


"Mantannya bu." Sahut Aneska.


"Oh mantannya." Bu Desi menganggukkan kepalanya. "Kalau memang mantannya kenapa kamu terlihat muram?" tanya ibunya lagi yang terus memperhatikan tatapan anaknya.


Aneska meninggalkan ibunya. Dia pergi menjauh dari keramaian. Nyonya Rona tertawa senang, kehadiran Vania yang di tunggunya dalam acara ulang tahun Abian.


"Abian, aku minta maaf." Ujar Vania pelan.


Abian tidak menjawab dia hanya menatap ke arah jauh dan melupakan sosok istrinya.

__ADS_1


Aneska pergi ke bawah pohon. Tami dan Tiara mengikutinya.


"Aneska." Teriak Tami dan Tiara dan langsung memeluk temannya.


"Dia datang mbak." Ujar Aneska yang ingin menumpahkan air matanya.


"Stop jangan menangis." Tiara tidak ingin melihat temannya menangis.


"Jangan menangis Nes, belum tentu kehadiran Vania ke sini untuk merebut Abian." Ujar Tami.


"Mungkin tidak tapi Abian, mbak lihat Abian terus menatapnya. Aku akui dia cantik beda denganku." Gerutu Aneska kesal dengan pesta ini.


"Anes kenapa kamu kesal seharusnya kamu memperjuangkan cinta kamu bukan langsung kabur." Ujar Tami menasehati.


"Aku sependapat dengan mbak Tami. Kamu harus kuat, aku pikir ada cara untuk menunjukkan kalau Abian masih sayang sama kamu." Tiara membisikkan sesuatu ke telinga temannya.


"Tapi..." Aneska bengong.


"Nes, dia saja bisa kenapa kamu tidak bisa." Tiara menyemangati temannya.


Walaupun sedih Aneska mengikuti ide temannya. Ketiganya kembali ke tempat acara. Abian dan Vania masih berdiri membicarakan masalah mereka.


Aneska naik ke atas panggung. "Tes tes tes." Semua menoleh ke arah panggung.


"Terima kasih para tamu undangan telah menyempatkan hadir dalam acara ulang tahun Abian. Dan untuk Vania selamat datang kembali. Waktunya berpesta." Teriak Aneska.


Aneska bergabung bersama temannya. Dia bergoyang ke sana kemari bersama temannya. Abian memperhatikan tingkah istrinya yang seperti cacing kepanasan.


Tiara menarik oma Nely dan cucunya. Oma Nely ikut bergoyang bersama dengan cucunya. Begitupun Lucky ikut bergoyang.


"Aneska maafkan aku." Ujar Lucky seraya tetap bergoyang di hadapan Aneska.


"Lupakan! waktunya sekarang bersenang-senang!" teriak Aneska dan sengaja memancing api cemburu suaminya.


"Dokter kenapa dengan Aneska, itu bukanlah sifat Aneska?" tanya Zidan. Kedua pria itu tidak bergoyang seperti para tamu undangan lainnya. Mereka sedang memperhatikan antara Abian Vania dan Aneska dengan pria yang mereka belum tau namanya.


"Sepertinya Aneska cemburu." Sahut dokter Arif.


Abian merasa cemburu karena istrinya terus ngobrol dengan Lucky sambil bergoyang. Abian ingin menghampiri istrinya. Tapi tangan Vania menarik Abian.


"Abian tunggu." Abian kembali berdiri di depan Vania.


"Ada apa?" tanya Abian.

__ADS_1


"Bisa aku kerja kembali bersama kamu?" tanya Vania.


"Maaf Vania, posisi kamu sudah di isi orang lain." Sahut Abian dan ingin segera menghampiri istrinya.


"Abian, aku tidak menginginkan posisi yang dulu. Aku hanya ingin bisa bekerja seperti dulu walaupun tidak menjadi sekertaris kamu tidak apa-apa." Jelas Vania.


Abian diam dan terus memperhatikan istrinya. "Temui Zidan hari senin." Ujar Abian dan segera menghampiri istrinya.


"Anes, tuan Abian datang." Bisik Tami.


"Hah? biarkan dia." Aneska tidak memperdulikan suaminya yang telah berdiri di belakangnya dengan berkacak pinggang.


"Cukup Aneska." Ucap Abian. Tapi Aneska tetap bergoyang. Kesabaran Abian sedang di uji. Dia menarik lengan istrinya. Dan ingin memarahi istrinya tapi Aneska bertindak cukup cepat dari Abian.


Aneska mengecup bibir suaminya di hadapan semua orang seraya melirik Vania dan mertuanya.


"Selamat ulang tahun suamiku." Aneska merapikan dasi suaminya.


Melihat anaknya mencium suaminya, ibu Desi langsung menepuk dahinya. "Pak lihat anak bapak dah kebarat-baratan." Gerutu bu Desi malu.


"Apa mungkin Aneska mabuk?" tanya pak Mirza.


"Iya mabuk cinta." Sahut bu Desi.


Aneska masih berdiri di depan suaminya. Dia merangkul bahu suaminya dengan kedua tangannya. "Vania telah hadir dan sepertinya kamu senang dengan kehadirannya." Ujar Aneska pelan.


Abian hanya diam seraya terus memperhatikan istrinya. "Kamu pikir hanya kamu yang bisa bersenang-senang! aku juga bisa!" seru Aneska dan mencium pipi suaminya.


Abian menarik tangan istrinya. "Lepaskan jangan larang aku." Aneska menepis tangan suaminya dan kembali bergoyang.


Abian tidak bisa berkata-kata. Dia pergi meninggalkan acara ulang tahunnya. Kembali ke kamarnya dan menunggu istrinya di sana.


Nyonya Rona di ajukan pertanyaan oleh geng sosialitanya. "Jeng, apa wanita yang mencium Abian tadi istrinya ya?" tanya temannya.


Nyonya Rona hanya diam, dia tidak bisa menyebutkan siapa Aneska. Karena menurutnya tidak ada yang bisa di banggakan dari menantunya.


Oma datang menghampiri geng anaknya. "Pasti pada penasaran dengan wanita yang mencium Abian." Ujar oma. Dan semua wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya.


"Itu menantu Rona pekerjaannya perawat." Jelas oma dan semua geng sosialitanya langsung melongo dan mencibir nyonya Rona.


Bersambung...


Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2