Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 70


__ADS_3

"Ya ampun mbak, kenapa enggak bilang." Ucap Aneska.


"Enggak apa-apa nanti mbak beli nasi di kantin." Jawab Tami.


Tami melihat yang mengantar mereka orang yang berbeda.


"Nes, bukannya kamu bilang yang mengantar kita tuan Abian." Tanya Tami.


"Seharusnya iya, tapi dia masih tidur. Kasihan kalau aku bangunin." Jelas Aneska.


***


Abian meraba dadanya, dan mencari keberadaan istrinya. Dia membuka matanya secara perlahan.


Dia langsung lompat dari kasur dan mencari keberadaan istrinya di kamar mandi.


"Aneskaaaa!" Teriak Abian marah.


Dia mengambil ponselnya dan hendak menghubungi istrinya tapi dia melirik kertas di atas nakas. Abian membacanya.


Pagi suamiku sayang. Aku tau pasti kamu marah samaku karena hari pertama bekerja aku sudah tidak mengikuti peraturanmu. Aku tadi mau membangunkan tapi tidak tega, kamu terlihat sangat pulas. Untuk pakaian kerja sudah aku siapkan ya, Maafkan istrimu ini ya.


Abian ingin marah tapi ada tulisan sayang dan stempel lipstik di akhir kalimat.


Abian mencoba menghubungi nomor istrinya tapi panggilan sedang di luar jangkauan.


Dia langsung menuju kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantor.


***


Aneska dan Tami sudah tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang perawat khusus pasien dewasa. Melihat kedatangan Tami dan Aneska semuanya bersorak gembira terutama Tiara dan Aldo. Mereka senang karena akhirnya bisa berkumpul kembali.


Ibu susan selalu melakukan briefing sebelum jam kerja di mulai. Setelah briefing dia membagi tugas untuk semua perawatnya.


Aneska satu tim dengan Tiara dan Tami. Mereka di tugaskan untuk mengecek beberapa pasien di dalam satu lorong yang sama.


"Ini daftar pasiennya." Ibu Susan memberikan kepada Aneska.


Mereka mulai mendatangi satu persatu pasien. Tami dan Tiara mendorong meja instrumen dan Aneska memegang daftar pasien di tangannya.


"Nama pasien Farid, penyakit memar di seluruh tubuh, tanggal masuk xxx." Aneska membaca sambil menghubungkan dengan kejadian ketika Farid dan Abian berkelahi. Dia langsung melihat Tami, mereka berbicara melalui gerak mata.


"Ayo masuk." Ajak Tiara.


Keduanya mencari masker yang ada di meja instrumen, mereka langsung buru-buru memakai masker.


"Kalian berdua kenapa? pasien tidak mengidap penyakit menular." Ucap Tiara bingung.


"Lebih baik mencegah." Jawab Tami. Tiara mengetuk pintu ruang rawat inap.


Aneska langsung berbisik ke Tami.


"Mbak badge namanya di buka." Bisik Aneska.


Mereka buru-buru membuka badge nama dan menyimpan di dalam saku celananya.


"Malah ngobrol ayo masuk." Ucap Tiara.


Aneska dan Tami masuk ke dalam ruang rawat inap itu. Melihat kondisi Farid yang sangat mengenaskan mereka berdua saling pandang, terlihat Tanisa sedang tertidur pulas di sofa.


"Pagi." Tiara membangunkan Farid dan Tanisa.


"Hoam, pagi." Jawab Tanisa sambil menguap.


"Kami mau mengecek pasien." Ucap Tiara.

__ADS_1


"Iya silahkan." Jawab Tanisa masih tetap menguap. Tami mengetes suhu tubuh Farid, sedangkan Aneska mengecek tensi darah Farid.


Pria itu memperhatikan dua wanita yang ada di kanan dan kirinya. Dia seperti pernah mengenal pemilik mata indah tersebut.


"Tensinya normal." Aneska merubah suaranya sedikit berat. Tiara langsung melirik temannya.


"Ibu, kami mau mengganti sprei." Ucap Tiara.


Farid di bantu Tanisa duduk di atas sofa. Jarum infus masih terpasang di punggung tangannya.


Farid kembali pindah ke tempat tidur.


"Mbak ini obat pasien." Tiara memberikan kepada Tami.


"Obatnya di minum sesudah makan." Tami juga membuat suaranya sedikit berat. Setelah selesai mengecek kondisi Farid, ketiga perawat itu keluar dari kamar itu dan lanjut ke kamar selanjutnya.


Aneska dan Tami bersamaan membuka maskernya.


"Kalian berdua kenapa sih." Ucap Tiara bingung.


"Maksud kamu apa." Tanya Aneska balik.


"Kenapa suara kalian mendadak berubah menjadi bass." Sindir Tiara.


"Aku batuk, uhuk uhuk." Aneska pura-pura batuk. Tiara melihat ke arah Tami.


"Aku juga batuk, uhuk-uhuk." Tami ikut batuk.


"Ok batuk, tapi kenapa suara kalian sekarang normal." Ucap Tiara penasaran.


"Tadi kami nahan batuk." Jawab Tami.


Tiara menggelengkan kepalanya, dia bingung dengan sikap kedua temannya.


Aneska dan Tami memakai kembali maksernya.


Di ruang rawat inap.


"Kamu tadi memperhatikan perawat yang mengecek tensi dan suhu tubuhku." Ucap Farid.


"Kenapa?" ucap Tanisa.


"Matanya seperti tidak asing." Ucap Farid.


"Matanya? oh jadi kamu punya selingkuhan." Tebak Tanisa.


"Hei jaga mulutmu, aku tidak seperti kamu. Perawat itu seperti tidak asing buatku." Farid. memikirkan sesuatu apalagi ada cincin berlian di jari perawat yang mengecek tensinya.


"Cincin berliannya seperti pernah kulihat." Gumam Farid pelan.


"Aku tidak mau bertengkar dengan kamu ya, jadi jangan mengurus urusanku. Pasti kamu juga punya selingkuhan, iya kan?" ucap Tanisa marah.


"Ah sudahlah. Enggak usah di bahas." Ucap Farid.


"Ini pasien terakhir, baru masuk dua hari namanya Vania, dia sakit tipes." Jelas Tiara.


"Apa!" Aneska kaget.


"Nes jangan berekspresi seperti itu kenapa?" gerutu Tiara.


"Maaf." Ucap Aneska pelan.


Mereka masuk ke dalam ruang rawat inap secara bersamaan.


Kenapa mendengar nama Vania aku jadi parno gini. Aneska di dunia ini nama Vania banyak.

__ADS_1


"Anes." Tiara menyenggol temannya yang melamun.


"Eh iya." Ucap Aneska gugup.


"Selamat pagi Vania." Ucap Tiara ramah.


"Pagi." Ucap pasien yang bernama Vania.


Kalau memang ini Vania yang di maksud Abian, betapa cocoknya mereka. Cantik, tinggi layaknya seorang model.


"Selamat pagi Vania, saya Aneska." Aneska menyapa pasien tersebut.


"Apa kalian berdua orang baru." Tanya si pasien.


"Bukan Vania, mereka bukan orang baru. Mereka baru kembali dari tugas di luar kota. Keduanya perawat senior loh." Jelas Tiara.


"Oh, senang bertemu dengan kalian." Ucap si pasien.


Aneska melakukan tugasnya untuk mengecek tensi darah pasien, Tami mengecek suhu tubuh sedangkan Tiara mencatat tentang kondisi pasien. Setelah selesai mereka kembali ke ruang perawat.


"Mbak, aku pernah cerita tentang kekasih Abian kan?" bisik Aneska.


"Hemm iya, memangnya kenapa." Tanya Tami balik.


"Apa itu Vania yang di maksud Abian." Bisik Aneska lagi.


"Hahaha, cemburu ya?" goda Tami.


"Ya enggaklah." Ucap Aneska gugup.


"Kalian ngapain sih? bisik-bisik tetangga terus?" timpal Tiara.


"Ada deh." Ucap keduanya kompak.


Abian datang ke loby rumah sakit. Dia terus mencoba menghubungi nomor istrinya tapi panggilan di luar jangkauan. Sama halnya dengan nomor Tami.


"Anes kamu di mana?" gerutu Abian.


Abian mondar-mandir di loby. Dia menghubungi temanya Arif.


"Aneska mana." Tanya Abian.


"Mungkin di ruangannya. Ada apa." Tanya dokter Arif.


"Aku mau ketemu sama istriku."


"Abian-abian, baru berapa jam kalian berpisah." Ejek Arif.


"Cepat panggilkan dia, bilang aku menunggunya di pintu loby." Perintah Abian.


"Ok ok akan aku panggilkan." Ucap dokter Arif sambil keluar dari ruangannya menuju ruang perawat.


Di dalam ruangan itu Aneska dan teman-temannya sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Tok tok tok.


"Pagi dok." Sapa semua perawat.


"Mau visit sekarang dok." Tanya ibu Susan.


"Satu jam lagi saya visit. Aneska suami kamu mencarimu." Ucap dokter Arif.


Semua yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke arah Aneska.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2