
"Kamu kemana saja Anes? apa Abian membawa kamu ke kantornya." Tanya oma.
"Enggak oma, aku kembali bekerja." Jawab Aneska jujur.
"Abian!" teriak oma.
Abian yang lagi nonton televisi langsung kaget.
"Oma kenapa teriak? kita sedang tidak di hutan." Ucap Abian.
Oma mendatangi cucunya yang sedang duduk santai.
Prok oma memukul bahu Abian.
"Oma datang ke kamar hanya mau memukulku?" ucap Abian bingung.
"Kenapa kamu menyuruh Aneska kerja, suami macam apa kamu! harta banyak tapi istri tetap di peras." Ucap oma marah.
"Aneska lihat." Ucap Abian.
Aneska mengangkat bahunya, dia tidak mengerti maksud suaminya.
"Oma, aku tidak pernah menyuruh istriku kerja, dia yang memaksa." Jelas Abian.
"Apa benar?" tanya oma sambil melihat istri cucunya.
"Iya oma." Ucap Aneska sambil menganggukkan kepalanya.
"Kenapa Anes? apa Abian tidak memberikan jatah bulanan sama kamu?" tanya oma.
"Ada oma, aku hanya ingin menyalurkan bakatku. Aku senang jika dapat merawat orang sakit."Jelas Aneska.
"Bagaimana dengan merawat suami kamu? apa kamu senang atau tertekan." Tanya oma.
Aneska diam sambil melihat ke arah suaminya.
"Hemm, oma tau pernikahan kami memang mendadak, walaupun seperti itu aku tetap melakukan tugasku sebagai istri dengan senang hati." Jawab Aneska.
"Iya oma, dia memang melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik, apalagi di kasur." Ucap Abian sambil memeluk istrinya dari belakang.
Oma langsung melotot.
"Ini cucu memang enggak ada malunya." Gerutu oma kesal.
"Oma sudah selesai?" ucap Abian.
"Kenapa?" ucap oma bingung.
"Ya karena ini kamar kami." Usir Abian
"Oh iya oma lupa kalau ini kamar kalian." Oma keluar dari kamar cucunya.
Aneska buru-buru melepaskan pelukan suaminya.
"Kamu mau kemana?"
"Aku melupakan sesuatu." Aneska berlari mengejar oma Zulfa.
"Oma tunggu." Teriak Aneska. Oma Zulfa menghentikan langkahnya dan melihat kearah Aneska.
"Ada apa Anes?"
"Oma, mengenai aku kembali bekerja tolong di rahasiakan." Ucap Aneska.
"Kenapa?"
"Hemmm, aku perawat yang merawat Farid di rumah sakit. Farid dan Tanisa menaruh curiga ke aku, tapi untungnya aku menggunakan masker." Jelas Aneska.
"Aduh Aneska, kalau sampai mereka tau kamu perawatnya. Bisa-bisa kembali perang." Ucap oma khawatir.
__ADS_1
"Makanya aku mohon sama oma untuk tidak mengatakan kepada siapapun termasuk nenek sihir." Ucap Aneska.
"Baiklah, oma paham kekhawatiranmu. Tidurlah, besok kamu harus kembali bekerja."
Aneska kembali ke kamarnya. Pelayan baru selesai mengambil peralatan makan mereka. Aneska melihat suaminya yang sedang duduk di atas kasur sambil bersandar pada headboard. Abian melambaikan tangannya ke arah istrinya.
"Istriku sini." Ucap Abian sambil menepuk kasur di sebelahnya.
Aneska naik ke atas kasur tapi tidak di tempat yang di sebutkan suaminya. Dia memilih menjauh.
"Baiklah, karena kamu tidak mau mendekat maka aku yang akan mendekat." Abian mendekati istrinya dan langsung memeluk Aneska.
"Jangan peluk." Ucap Aneska sambil memberontak dari pelukan suaminya.
"Oh enggak mau peluk ya, kalau cium mau kan?"
"Enggak mau juga." Bantah Aneska.
"Oh gitu, ya sudah." Abian melepaskan tangannya dari badan Aneska dan menjauh.
"Mulai besok kamu tetap di rumah." Ucap Abian sambil membaringkan tubuhnya.
"Apa!" Aneska langsung mendekati suaminya, dia mengangkat tangan suaminya agar memeluknya.
"Peluklah, cium juga boleh." Aneska memonyongkan bibirnya di hadapan Abian.
"Walaupun mulut kamu seperti ikan cucut tapi aku tidak akan menolak untuk memakanmu." Ucap Abian sambil menciumi bibir istrinya. Aneska tidak bisa mengimbangi keahlian suaminya dalam berciuman apalagi di atas kasur dia selalu kalah telak.
"Cukup Abian, nanti bibirku dower." Ucap Aneska sambil menyudahi ciuman suaminya.
"Bagus kalau dower malah lebih asik." Ucap Abian masih terus menciumi istrinya.
"Abian udah aku capek." Ucap Aneska di sela-sela ciuman panas suaminya.
"Ya sudah istirahat. Karena kamu capek besok tidak ada namanya kembali ke rumah sakit." Ucap Abian lagi.
"Apa! aku sudah memberikan bibirku tapi kenapa izinnya masih di cabut." Gerutu Aneska.
"Aku enggak capek, lihat." Aneska berdiri di atas tempat tidur dia melakukan olahraga di sana.
Abian tertawa lucu melihat tingkah istrinya.
"Satu dua tiga, lihat suamiku aku bisa melakukan senam. Aku tidak capek." Ucap Aneska kemudian menyudahi senam malamnya sambil ngos-ngosan.
"Capek?" tanya Abian sambil tersenyum.
"Enggak." Aneska kembali senam di atas tempat tidur.
Abian terus memperhatikan tingkah istrinya.
"Satu dua tiga empat lima." Aneska langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur.
"Capek?" ucap Abian lagi.
"Ho oh." Jawab Aneska sambil memejamkan matanya.
"Besok tidak ada namanya kerja lagi." Ucap Abian tegas.
"Aku enggak capek." Aneska kembali bangun dan menarik kaki suaminya dengan sekuat tenaga.
"Kamu mau ngapain?" Abian bingung.
"Aku belum capek, sini aku pijat." Ucap Aneska mulai memijat kaki suaminya. Pada awal memijat dia melakukan dengan sekuat tenaganya. Lama-lama pijatannya seperti sedang mencubiti suaminya.
"Ini bukan pijat tapi cubit." Gerutu Abian.
Aneska sudah tidak menghiraukan ucapan suaminya. Berkali-kali dia menguap lama-lama cubitan itu menjadi elusan. Dan dalam beberapa menit tidak ada elusan hanya tangan yang masih menempel di kaki suaminya.
"Aneska." Ucap Abian melihat istrinya tidur sambil duduk.
__ADS_1
Abian membaringkan tubuh istrinya.
"Oh sayangku, kenapa kamu imut banget." Ucap Abian sambil memperhatikan wajah istrinya yang putih bersih.
Malam semakin larut, udara semakin dingin Abian memutuskan untuk memejamkan matanya. Karena memandangi wajah istrinya tidak akan pernah habis.
***
Suara alarm berbunyi cukup nyaring. Abian mencari asal suara itu.
"Jam lima." Ucap Abian sambil melihat ponsel istrinya dan menonaktifkan alarm. Abian kembali tidur sambil memeluk istrinya.
Waktu terus bergerak. Aneska merasa ada yang berat di dadanya.
"Ya ampun, kenapa dia tidur di dadaku." Gumam Aneska sambil membangunkan suaminya.
"Abian bangun kita mau berangkat kerja." Ucap Aneska pelan.
"Hemmm, aku masih ingin tidur di gunung kamu." Ucap Abian pelan sambil tetap memejamkan matanya.
"Alarmku kenapa enggak berbunyi ya. Mungkin waktu menonaktifkan aku enggak sadar." Gumam Aneska.
"Abian, nanti aku terlambat." Ucap Aneska sambil mengelus pipi suaminya.
"Ya ampun berat banget kepalanya. Apalagi badannya." Gerutu Aneska sambil memindahkan kepala suaminya.
Aneska buru-buru ke kamar mandi setelah membersihkan badannya dia langsung memakai seragam kerjanya.
"Abian bangun, kalau enggak bangun aku pergi sendiri." Ucap Aneska sambil berhias di depan meja rias.
"Abian bangun." Aneska menarik tangan suaminya.
"Mau kemana?" ucap Abian.
"Mau ngojek. Ayo bangun." Aneska menarik tangan suaminya.
"Jam berapa ini." Ucap Abian pura-pura tidak tau.
"Jam." Aneska melihat jam yang ada di ponselnya.
"Jam sembilan." Ucap Aneska.
"Oh." Jawab Abian singkat.
"Apa! jam sembilan!" Aneska kaget dan histeris.
"Aku terlambat, ya ampun kenapa aku tidur seperti orang mati. Ini semua gara-gara kamu." Aneska mencubit badan suaminya.
"Aw, kenapa gara-gara aku." Ucap Abian bingung.
"Ya karena kamu aku harus olah raga malam, jadinya ini terlambat." Gerutu Aneska.
"Aku enggak ada menyuruh kamu olah raga. Ingat siapa yang tadi malam membuktikan kalau dirinya tidak capek." Sindir Abian.
"Aaaaaa." Aneska merengek sambil mencubiti suaminya.
Abian menarik badan istrinya agar terjatuh di atas badannya.
"Aaaa Abian, kamu mau apa?" ucap Aneska sambil mengangkat kepalanya dari wajah suaminya.
"Berhubung kamu sudah pakai seragam, maka rawatlah suamimu ini yang sakit." Goda Abian.
"Sehat gini di bilang sakit." Ucap Aneska ketus.
"Aku benar-benar sakit sayang." Ucap Abian manja.
"Sakit panu?" ejek Aneska.
"Ih jorok, aku sakit cinta. Cinta kamu, muaahhh." Abian mengecup istrinya.
__ADS_1
Bersambung.
Untuk "MKA" season tiga akan rilis besok di youtube dengan judul "Double Zi" untuk info seputar novel bisa follow ig author: anita_rachman83