Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 131


__ADS_3

Anggela masih menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin keluar sekaligus bertemu dengan Farid.


"Ayo cepat!" bentak Abian.


"Abian jangan usir aku." Anggela memohon dengan mengatupkan tangannya.


"Aku akan mengusir kamu, jika kamu tidak melakukan perintahku." Abian berbicara tegas, menatap wanita di depannya.


"Apa kamu tidak akan mengusirku jika melakukan perintahmu?" Anggela kembali mengajukan pertanyaan itu yang membuat Abian kembali marah.


"Kamu dengar tidak! aku akan mengusirmu kalau kamu masih bertanya! lakukan perintahku sekarang!"


Anggela melirik ke oma. Wanita sepuh itu menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan rencana cucunya.


Anggela mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerja Abian. Tapi Abian menahan ponsel wanita itu.


"Kamu bilang tadi aku har..." Anggela bingung dengan sikap Abian.


"Aku bilang hubungi Farid, bukan mengambil ponsel itu. Aktifkan speaker! aku tidak mau kamu membohongiku."


Anggela menghubungi Farid, tidak lupa dia mengaktifkan speaker di ponselnya. Tut tut tut panggilan tidak terhubung.


"Tidak aktif." Ucap Anggela pelan.


"Ada berapa nomor ponselnya?" tanya Abian.


Anggela melihat daftar kontak yang ada di ponselnya. Di dalam daftar itu ada lima nomor Farid.


"Ada lima." Sahut Anggela.


"Hubungi semua nomor itu. Aku yakin pasti di antara nomor itu ada yang aktif nomornya." Titah Abian.


Anggela kembali menghubungi nomor Farid yang kedua dan hasilnya sama, nomor tersebut tidak aktif. Dia melanjutkan ke nomor ketiga dan hasilnya sama. Anggela kembali menghubungi nomor keempat. Hasilnya tetap tidak terhubung.


"Ini tinggal nomor kelima. Kalau nomor ini juga tidak aktif, apa aku akan tetap di sini?" tanya Anggela dengan wajah ketakutan.


"Kerjakan dulu tugasmu!" ucapan Abian membuat Anggela gemetar. Dia bisa mengambil kesimpulan jika nomor terakhir tidak aktif. Dia akan segera di tendang dari istana Bassam.


Anggela berdoa dalam hatinya agar nomor yang terakhir aktif. Dia kembali menghubungi nomor Farid yang kelima dan panggilan terhubung.


Abian semangat karena pria bejat itu sebentar lagi akan diketahui tempat persembunyiannya.


"Halo." Ucap Farid dari ujung ponselnya.


"Farid ini aku Anggela." Anggela berkata dengan gemetar. Wajah Abian yang sangar membuat nyalinya sedikit ciut. Dia khawatir akan melakukan kesalahan.


"Kenapa kamu menghubungiku?" tanya Farid pelan.


"Aku aku di usir dari istana." Anggela berbicara gugup.


"Lalu kenapa kamu menghubungiku?" tanya Farid lagi.


"Kamu bilang kenapa! hei aku di istana ini karena kamu dan sekarang aku di usir juga karena kamu!" Anggela marah.

__ADS_1


"Ssttt diam, kamu sekarang di mana?" tanya Farid.


Anggela bingung dia menatap ke arah Abian. Pria itu langsung menuliskan nama tempat.


"Aku ada di halte di dekat istana." Ucap Anggela membaca tulisan yang baru di tulis Abian.


"Aku tidak ada mobil. Kamu datang ke jalan xx nanti aku akan menjemputmu. Kabari aku jika sudah sampai." Farid langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


"Kita pergi sekarang." Ucap Abian tegas.


"Abian ada baiknya kamu menghubungi polisi. Oma khawatir kamu membunuh Farid." Ucap oma cemas.


Abian menolak. "Aku akan melakukannya sendiri. Setelah wajahnya hancur, aku akan menyerahkan ke kantor polisi." Rahang Abian kembali mengeras, dia tidak sabar ingin bertemu dengan Farid.


"Abian, kita negara hukum. Jangan main hakim sendiri. Kalau kamu menyiksa Farid itu sama saja kamu seperti dia." Ucap oma.


Abian diam, dia masih tetap pada pendiriannya.


"Kalau kamu masih keras kepala. Oma akan menghubungi Aneska." Oma langsung keluar dari ruangan itu. Abian buru-buru mengejar oma.


"Oma jangan hubungi Aneska."


"Kenapa? apa kamu takut?" tanya oma.


"Aku tidak takut. Aku tidak mau Aneska mengkhawatirkan ku." Jelas Abian.


"Seharusnya kamu berpikir panjang. Kalau kamu tidak mau Aneska mengkhawatirkan mu lebih baik serahkan sama pihak kepolisian. Tapi kalau kamu mau di penjara seperti Farid silahkan." Ucapan oma membuat Abian diam. Dia bingung harus melakukan apa.


Di satu sisi, dia sangat menggebu-gebu untuk menghajar Farid. Tapi dia juga mengkhawatirkan perasaan istrinya.


Akhirnya Abian mengalah, dia melakukan itu untuk rasa cintanya ke Aneska.


Abian mengabarkan ke pihak kepolisian tentang rencananya. Dan di tanggapi pihak kepolisian.


Anggela keluar istana dengan taksi dan di ikuti oma dan Abian dari belakang. Sedangkan polisi menunggu sekaligus mengintai di jalan xx.


Karena sudah larut malam, mobil tiba di jalan xx lebih cepat. Anggela turun dari taksi dan menghubungi Farid.


Panggilan terhubung.


"Aku sudah di jalan xx tepatnya di depan toko pakaian A." Ucap Anggela yang sedang berdiri di depan toko yang sudah tutup.


"Jalan terus sejauh dua ratus meter setelah itu belok kiri." Titah Farid.


Wanita itu mengikuti perintah Farid. Dia berjalan sejauh dua ratus meter dan langsung belok kiri. Dia berhenti di persimpangan jalan. Dan tiba-tiba dari belakang ada yang menutup mulutnya.


Farid menarik Anggela ke tempat yang sepi yaitu ke tempat persembunyiannya.


"Kemana perginya dia." Ucap oma yang tidak menemukan sosok Anggela.


Pihak kepolisian kehilangan jejak Anggela.


"Di mana wanita itu?" tanya Abian kepada pihak kepolisian.

__ADS_1


"Menurut anak buah saya, wanita itu tadi di simpang ini. Tapi...." Pihak polisi mengikuti jalan setapak, Abian mengikuti pihak polisi dari belakang.


Menyusuri jalan itu, yang minim dari penerangan.


"Ini jalan buntu." Ucap salah seorang polisi.


"Sepertinya dia ada di dalam bangunan ini." Ucap Abian menunjuk ke arah bangunan yang ada di depan mereka.


Pihak kepolisian langsung mengecek setiap bangunan. Yang mana bangunan itu seperti kos-kosan. Mereka menggedor satu persatu pintu kos-kosan itu.


Farid menatap tajam Anggela.


"Kamu telah menjebak ku!" plak dia langsung menampar wajah kekasihnya.


"Ampun Farid, aku terpaksa." Ucap Anggela memegang pipinya yang kena tampar.


Farid mengikat tubuh Anggela di atas kursi. Dia mencari kain untuk menutup mulut wanita itu. Tapi....


"Tolong........" Anggela berteriak sekencang mungkin.


Farid panik dan langsung memukul kepala Anggela dengan benda yang ada di dekatnya. Karena malam hari suara Anggela terdengar cukup nyaring. Pihak kepolisian beserta Abian mencari asal suara itu, pintu dalam keadaan tidak terkunci. Polisi melihat Anggela pingsang dengan tangan terikat dan kepala berdarah.


"Anggela." Ucap Abian menghampiri tubuh wanita itu.


"Sepertinya dia telah kabur." Lapor salah seorang polisi yang sedang menggeledah tempat itu.


"Anggela sadar." Abian memegang kepala wanita itu.


Anggela mengerjapkan matanya.


"Kenapa banyak bintang di kepala kamu." Anggela kembali pingsan.


Sebagian pihak kepolisian mencari kembali keberadaan Farid dan sebagian lagi berada di tempat terjadinya perkara seraya menghubungi ambulance.


Farid berlari keluar dari jalan setapak itu, dan ketika sampai di tengah jalan.


Brakkkk... dia tertabrak mobil. Oma langsung memencet klakson agar polisi segera datang ke tempatnya.


Tintinnnnn...... suara yang nyaring bukan hanya mendatangkan pihak polisi tapi membangunkan orang-orang yang tinggal di daerah itu.


Farid terkapar di aspal, polisi langsung membawa tersangka. Abian berlari ke tempat asal suara itu dan tidak menemukan Farid.


"Farid sudah tertangkap, sekarang dia ada di mobil." Lapor pihak polisi.


Polisi mendekati oma yang barusan turun dari mobil.


"Terima kasih atas bantuannya. Karena ibu tersangka tertangkap." Ucapan polisi itu membuat Abian bingung. Dia mendekati omanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Abian.


"Bukan kamu saja superhero di sini, oma juga." Ucap oma tersenyum menyeringai.


Bersambung...

__ADS_1


Karena telah masuk 10 besar author tambah updatenya terima kasih 🥰


__ADS_2