
Abian menelan salivanya, dulu dia pernah menggunakan parang untuk membacok Farid dan sekarang parang yang berbeda di letakkan di atas meja sebagai pengganti pisau makannya.
"Terima kasih bu, saya gunakan sendok dan garpu saja." Ujar Abian menolak.
Bu Desi tersenyum karena dapat mengerjai menantunya. Beda halnya dengan pak Mirza yang tidak enak hati dengan menantunya.
Mereka makan tanpa ada yang berbicara. Semua terlihat fokus melahap dan menatap makanannya hanya ibu Desi yang terus menatap sinis ke arah menantunya.
Setelah selesai makan ibu Desi langsung nyeletuk. "Cuci piring kamu sendiri." Titah bu Desi ke Abian.
"Ibu apa-apaan ini, Abian tidak pernah melakukan pekerjaan ini." Ujar suaminya yang tidak setuju dengan ide istrinya.
"Aduh bapak seharusnya dari sekarang dia belajar hidup susah jadi kalau tiba-tiba terjadi sesuatu dengan usahanya dia tidak kaget." Jelas ibu Desi.
"Tapi...."
Abian menyela perdebatan suami istri itu.
"Tidak apa-apa pak, yang di katakan ibu benar. Seharusnya saya belajar dari sekarang." Abian membawa piring yang digunakannya. Dia mengerutkan dahinya mencari keberadaan wastafel.
"Cucinya di bawah." Ujar bu Desi tersenyum lucu melihat menantunya yang sedang dikerjainnya.
"Caranya bagaimana?" tanya Abian dengan polosnya.
"Cyra praktekkan." Titah ibunya. Cyra mulai menghampiri kakak iparnya.
"Kakak duduk di kursi kecil itu. Nah ini sabunnya nanti gosok saja pakai spons pencuci piring setelah itu bilas." Jelas Cyra.
"Oh baik." Abian tidak melepas jam tangan mewahnya dan juga tidak melepas jasnya. Menurutnya hanya satu piring tidak akan membuat pakaiannya basah.
Abian menarik kursi dan duduk sesaat dan tiba-tiba gubrak, dia langsung terjatuh ke belakang.
"Hahahah." Ibu Desi tertawa karena menantunya baru saja terduduk di lantai yang basah yang menyebabkan celananya basah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Pak Mirza tidak tega melihat menantunya.
"Tidak apa-apa pak, bu maaf kursi plastiknya pecah." Ujar Abian jujur.
Karena badannya yang besar, membuat kursi plastik itu tidak kuat menampung berat badannya.
"Tidak usah di teruskan, nanti Cyra yang mencuci semuanya." Ujar pak Mirza agar Abian tidak mengikuti semua perintah istrinya.
"Tidak apa-apa pak." Abian kekeh mau mencuci piringnya dia mulai jongkok dan krekkk celananya sobek.
__ADS_1
"Ops maaf sepertinya tidak bisa saya lanjutkan." Abian langsung berdiri. Cyra dan ibu Desi senyum menahan tawanya.
"Iya enggak usah di lanjutkan." Pak Mirza membawa Abian untuk meninggalkan dapur. Abian berjalan dengan menutup bagian yang sobek dengan tangannya. Setelah Abian meninggalkan dapur Cyra dan ibu Desi tertawa terpingkal-pingkal.
"Sebaiknya kamu menginap di sini saja, hotel juga jauh." Ujar pak Mirza dengan menatap menantunya.
"Apa bapak mengizinkan saya menginap di sini?" tanya Abian kurang yakin.
"Kamu kan menantu bapak tentu bapak mengizinkan kamu." Jelas pak Mirza ramah.
"Tapi saya tidak bawa pakaian, hanya ini pakaian yang ada di badan saya." Abian bingung karena celananya sobek, dia sangat menginginkan dapat bermalam di rumah sederhana itu tapi mengingat pakaiannya cuma satu dan celananya sobek. Dia mikir hendak menginap di rumah itu.
"Tidak usah di pikirkan soal pakaian, kalau kamu mau bisa gunakan pakaian bapak nanti celana yang sobek biar di jahit ibu." Pak Mirza masuk ke kamarnya dan kembali keluar dengan membawa pakaiannya.
"Ini pakaian bapak-bapak, kalau baju sepertinya masih cukup tapi kalau celana bapak kurang yakin." Pak Mirza memberikan pakaiannya bersama dengan sarung yang dapat di gunakan Abian untuk tidur.
"Tidak apa-apa pak. Saya rasa ini cukup.Terima kasih pak."
"Yang paling depan kamar Aneska, masuk saja." Abian ragu untuk masuk ke kamar istrinya.
Pak Mirza memperhatikan menantunya yang hanya diam.
"Masuk saja, kamu ke sini mau bertemu istri kamu kan?" tanya pak Mirza.
Abian menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Dia masuk ke dalam kamar secara perlahan dan melihat istrinya tengah memiringkan badannya.
"Tidurlah Cyra, kakak tidak apa-apa." Ujar Aneska yang masih dalam posisi miring.
Tidak ada sahutan dari adiknya tapi Aneska tetap tidak menoleh ke belakang. Dan dia tau jika adiknya sedang duduk di pinggir tempat tidurnya.
Tempat tidur yang di gunakan Aneska berukuran single jadi dia merasakan tempat tidurnya terasa penuh jika di duduki seorang Cyra.
"Kakak bilang pergi tidur!" seru Aneska dan membalikkan badannya. Aneska kaget karena ada suaminya yang duduk di pinggir tempat tidurnya.
Aneska mengucek matanya, dia merasa sedang berkhayal sosok suaminya.
"Aku sepertinya salah." Gumam Aneska mengucek matanya dan ketika membuka mata. Dia masih melihat sosok Abian.
"Ini mimpi." Aneska menutup matanya dan memukul kepalanya dengan tangannya, dia memukul secara berulang dan tiba-tiba tangannya di tahan.
Aneska membuka matanya.
"Apa aku bermimpi?" tanya Aneska kurang yakin.
__ADS_1
"Tidak sayang, kamu tidak bermimpi ini aku." Ujar Abian lembut.
Hiks hiks Aneska menangis sesegukan. "Sayang kenapa menangis." Abian mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya.
"Aku salah Abian, maafkan atas kesalahan yang telah ku perbuat, hiks hiks." Aneska masih menangis.
"Kamu tidak salah sayang, aku tau kamu melakukan ini karena tidak ingin aku bersedih."
"Tapi kenyataanya kamu bersedih." Ujar Aneska masih menangis.
Abian menghela nafasnya mengingat kemarahan yang dilakukannya terhadap Aneska.
"Aku tidak ingin membahas masalah ini lagi, mari kita lupakan semuanya tapi..." Abian memberi jeda ucapannya. "Sebelumnya aku mau meminta maaf sama kamu, dari hati yang paling dalam aku sangat menyesal." Abian menggenggam tangan istrinya. Tangan keduanya saling bertautan.
"Aku juga minta maaf." Ujar Aneska pelan.
"Iya sayang." Abian mengecup punggung tangan istrinya.
Dia memandang isi kamar istrinya.
"Kamarku tidak semewah kamar kita, tapi kamar ini banyak sejarahnya." Ujar Aneska dan ingin duduk tapi Abian melarangnya.
"Jangan duduk berbaring saja, aku tidak sanggup melihat kamu kesakitan." Abian berujar dengan penuh rasa khawatir. Aneska tersenyum karena perlakuan Abian masih lembut seperti dulu.
"Apa saja sejarah di kamar ini?" tanya Abian yang melihat semua benda di kamar istrinya.
"Tempat ini bersejarah karena di sini aku menumpahkan keluh kesahku." Jelas Aneska. Abian melihat bingkai foto yang di pajang di dinding.
"Ini kamu?" tanya Abian kurang yakin.
"Iya, culun kan." Sahut Aneska.
"Kalau saja wajah kamu seculun ini aku tidak akan mau sama kamu."
"Aaaaaah." Rengek Aneska.
Abian langsung menghampiri istrinya.
"Bercanda sayang, walaupun kamu culun aku tetap cinta." Ujar Abian menarik hidung istrinya.
Abian memperhatikan tempat tidur istrinya.
"Aku nanti tidur di mana? tempat tidur ini tidak akan cukup untuk kita berdua." Ujar Abian bingung.
__ADS_1
"Tidur saja di sampingku, badanku tidak terlalu besar tapi cukup untuk kita berdua walaupun nantinya kita tidak bisa banyak bergerak." Jelas Aneska.
Bersambung....