
Acara telah selesai semua para tamu undangan telah pamit pulang. "Nes, kami pulang ya. Jangan bersedih kamu harus kuat lawan wanita itu." Ujar Tiara menasehati.
"Mbak pulang ya." Ujar Tami memeluk Aneska dan ketiga sahabat itu saling berpelukan.
"Udah cukup, kalian seperti Teletubbies." Sindir Dimas.
"Ngiri bilang." Cibir Tiara.
"Dia bukan iri, tapi Dimas pengen cepat balik ke rumahnya mau cepat tidur memimpikan si seksi." Sahut Aldo.
"Ah sok tau, kamu kali yang pengen memimpikan Ila anak si nenek sihir." Ujar Dimas yang tidak mau kalah mengejek temannya.
"Tapi bagus juga kalau kalian pada jadian. Kamu dan Aneska jadi saudara." Ujar Tiara.
"Nes kalau kita saudara aku manggil kamu apa dong?" tanya Aldo.
"Nenek." Sahut Aneska jutek.
"Ye yang lagi tensi, tenang Nes memang aku akui cantik dia di bandingkan kamu." Tiara langsung menimpuk Aldo dengan tasnya.
"Kok aku di timpuk." Aldo bingung. "Karena kamu membuat Aneska sedih." Timpal Tami.
"Sampai kapan kalian berpelukan?" tanya Dimas.
"Dimas Aldo Tiara dan Tami akan kami antar." Timpal Zidan yang ikut bergabung di dalam pembicaraan para perawat.
"Kawin kawin kawanku akan kawin." Aldo bernyanyi dan langsung di timpuk Tami.
"Dimas ayo kita pulang, biarkan bidadari tak bertuan ini di antar dua pangeran itu." Ajak Aldo.
Dimas dan Aldo telah pergi meninggalkan kedua temannya.
"Nes, kami pulang ya. Besok kami masuk pagi." Ujar Tami.
"Iya mbak." Ketiganya berpelukan lalu pergi meninggalkan Aneska. Zidan mengantar Tiara dan Tami di antar dokter Arif.
Aneska melihat dari bawah, kamarnya masih menyala. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju kamarnya. Dia bisa menduga akan terjadi pertengkaran malam ini.
Membuka pintu kamar dan melihat suaminya sedang duduk di sofa dan menatap tajam ke arah istrinya.
"Apa yang kamu lakukan tadi?" tanya Abian. Aneska tidak menghiraukan ucapan suaminya. Dia memilih menuju kamar mandi tapi lengannya di tarik Abian.
"Jawab aku!" bentak Abian. Aneska merasakan tangannya sakit.
"Aku yang harusnya tanya ke kamu! apa yang kamu lakukan ketika Vania datang!" seru Aneska tidak mau kalah.
"Aku aku hanya kaget ketika Vania datang." Sahut Abian gugup.
"Kaget kamu bilang! bukan hanya kamu yang kaget! aku juga! tapi aku tidak menatapnya lama." Emosi Aneska menjadi-jadi.
Dari balik pintu nyonya Rona mendengar pertengkaran anaknya dengan Aneska. Dia tersenyum penuh kemenangan.
"Baik lupakan tentang Vania." Abian menurunkan suaranya.
"Kenapa kamu bergoyang dengan pria yang menyukaimu?" tanya Abian.
"Kenapa kamu bilang? aku melakukannya karena kamu mengobrol dengan Vania. Jadi apa salah aku ngobrol dengan pria yang suka denganku. Memangnya hanya kamu yang mempunyai penggemar." Sindir Aneska dan menepis tangan suaminya.
Dia memilih masuk ke kamar mandi dan menumpahkan semua keluh kesahnya di sana. Aneska menangis di dalam kamar mandi sedangkan Abian masih diam terpaku di sofa.
__ADS_1
***
Selama perjalan Tami dan dokter Arif hanya diam. Beda halnya dengan Tiara dan Zidan banyak mengobrol. Mereka membicarakan masalah yang sedang di hadapi Aneska dan Abian.
Ponsel Zidan berdering. Karena menyetir dia mengaktifkan speaker ponselnya.
"Nomor asing." Gumam Zidan dan tetap menjawab panggilan itu.
"Ya halo." Sahut Zidan.
"Zidan ini Vania." Mendengar nama Vania di sebut Zidan dan Tiara saling melirik.
"Iya Vania ada apa?" tanya Zidan.
"Aku tadi sudah ngomong ke Abian tentang pekerjaan di Bassam Grup, kata Abian, aku harus menghubungi kamu." Ujar Vania.
"Hemm." Zidan mengerutkan dahinya. Dia tidak tau harus mengatakan apa.
"Baiklah besok temui aku di kantor." Sahut Zidan.
"Terima kasih Zidan." Sahut Vania dan memutuskan panggilan itu.
"Wah gawat." Tiara langsung mengambil ponselnya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Zidan.
"Aku mau mengatakan ke Aneska kalau Vania akan masuk ke perusahaan suaminya. Aneska harus siaga." Sahut Tiara dan mengirimkan pesan singkat ke Aneska.
***
Dokter Arif memulai pembicaraan. "Bagaimana tentang cari jodoh yang kita bicarakan kemarin?" tanya dokter Arif.
"Oh itu, besok sore saya akan berjumpa dengan pria itu." Sahut Tami.
"Apa! secepat itu?" tanya dokter Arif heran.
"Dokter bilang umur saya tidak muda lagi jadi untuk apa saya menunda. Semoga dia jodoh saya." Ujar Tami.
Dokter Arif manggut. "Di mana kamu akan bertemu dengan pria itu?" tanya dokter Arif penasaran.
"Di cafe, tapi lucu kami harus janjian memakai warna pakaian yang sama." Ujar Tami lucu.
"Oh ya, warna apa pakaian kalian?" tanya dokter Arif penasaran dengan kencan buta yang akan di lakukan perawatnya.
"Warna merah dia akan membawa bunga mawar nantinya." Sahut Tami semangat menyambut hari esok.
Dokter Arif menganggukkan kepalanya. "Bisa saya lihat fotonya." Tami menunjukkan foto pria yang akan berkencan dengannya.
"Ganteng." Puji dokter Arif. Tami tersenyum dia berharap pria itu akan jadi jodohnya.
"Tapi hati-hati terkadang foto yang di berikan tidak asli." Ujar dokter Arif.
"Hah tidak asli! maksud dokter apa?" tanya Tami cemas.
"Menurut kamu pria ganteng seperti dia kenapa belum mempunyai kekasih?"
Tami mengedikkan bahunya. Dia juga tidak bisa menjawab ataupun berpikir panjang.
"Jadi menurut saya mungkin saja foto ini di ambil dari foto para model pria." Tami langsung mengerutkan dahinya. Dokter Arif memperhatikannya.
__ADS_1
"Tami yang saya katakan mungkin, jadi kemungkinan hanya kecil." Ujar dokter Arif menyemangati perawatnya.
Tami kembali tersenyum. Walaupun seperti itu dia harus waspada.
***
Aneska keluar dari kamar mandi dan tidak menghiraukan suaminya. Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Abian menghampiri istrinya, tapi Aneska menutup wajahnya dengan selimut. "Sayang jangan seperti ini." Ujar Abian.
Aneska tetap menutup wajahnya. "Aku sangat mencintai kamu."
"Bohong!" teriak Aneska dengan tetap menutup wajahnya.
"Sayang, memang aku akui kalau aku menatapnya lama tapi tidak ada perasaan apapun antara aku dan Vania." Jelas Abian.
"Bohong!" Aneska masih menggunakan kata yang sama.
Abian menarik selimut yang menutupi wajah dan tubuh istrinya. "Lihat aku!" ujar Abian tegas. Aneska menutup matanya.
"Enggak mau!" sahut Aneska tetap menutup matanya. Dan Abian langsung mencium bibir istrinya.
"Aku sayang sama kamu, aku masih mengingat tentang janjiku kepadamu untuk tidak berpaling darimu. Aku harap kamu melakukan hal yang sama."
Mendengar penuturan suaminya Aneska menangis terisak. "Sayang kenapa kamu menangis?" tanya suaminya.
"Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Jangan sakiti perasaanku lagi, hiks hiks hiks." Abian memeluk istrinya.
"Iya sayang, tidak akan ada Vania dalam hidupku. Aku ingin bersama dengan kamu." Ujar Abian dan mengecup kembali bibir istrinya.
Abian teringat sesuatu. "Sayang, dimana kado untukku?" tanya suaminya.
"Oh iya, hampir aku lupa. Tutup mata." Aneska turun dari kasur dan menuju lemari pakaian, dia mengambil sebuah kotak dari dalam lemari. Dan meletakkan di pangkuan suaminya.
"Sekarang boleh buka." Abian membuka matanya dan melihat kotak di hadapannya.
"Apa ini isinya?" Abian menggoyang kotak itu dan tidak ada terdengar suara apapun.
"Bukalah." Titah Aneska.
Abian membuka kotak kado tersebut. Dia mengernyitkan dahinya ketika melihat kado dari istrinya.
"Sayang apa ini?" tanya Abian bingung.
"Itu celana dalam aku membuatnya sendiri. Bagus kan hasil rajutanku." Sahut Aneska membanggakan dirinya.
"Sayang biasanya bahan seperti ini di gunakan untuk membuat sweater tapi kenapa ******?" tanya Abian bingung.
"Sebenarnya aku mau membuat sweater tapi waktunya tidak cukup jadi aku buat aja yang paling gampang yaitu ******." Jelas istrinya.
Abian tidak bisa membayangkan jika memakai celana dalam dari bahan yang tidak menyerap keringat dan tentunya rasa gatal yang akan di rasakannya.
Menyadari kesalahan masing-masing dan saling memaafkan sangatlah penting dalam suatu hubungan. Karena dengan memaafkan rasa mengasihi semakin besar.
Bersambung...
Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014