
Tanisa dan Dimas kaget. Ucapan wanita paruh baya itu membuat keduanya bingung.
"Ibu dia berbohong." Ujar Dimas seraya melihat ke arah Tanisa. Wanita itu menganggukkan kepalanya cepat. Tentu dia tidak ingin menikah dengan Dimas.
"Jangan bohongi ibu lagi! apapun yang kalian lakukan di belakang dosa tau!" wanita paruh baya itu mencari ponselnya.
"Ibu mau ngapain?" tanya Dimas yang mulai resah.
"Ibu mau telepon paman kamu. Masalah ini harus segera di selesaikan." Sahut ibunya.
Diam-diam Tanisa pergi dan di ketahui ibunya Dimas.
"Nak jangan kabur. Dimas akan bertanggung jawab." Ujar ibu itu.
Tanisa berbalik dan mendekati wanita paruh baya itu.
"Aku dan dia tidak pernah melakukan itu bu, aku melakukannya karena...." Tanisa melirik ke Dimas.
"Karena apa? karena cinta kan?" tanya ibunya.
"Bu bukan." Tanisa gugup. Wanita paruh baya itu membawa Tanisa duduk di kursi.
"Pamannya Dimas akan datang segera. Jangan tambah dosa lagi. Segera menikah." Ujar wanita paruh baya itu.
Dimas terlihat suntuk dia terus menatap tajam ke arah Tanisa.
"Siapa nama kamu?" tanya ibu Dimas.
"Tanisa."
Wanita paruh baya itu mengelus pipi Tanisa. "Cantik, di mana alamat rumah kamu? kami akan segera melamar kamu?" tanya wanita paruh baya itu.
"Bu sudahlah, dia tadi hanya mau mengerjaiku. Dia berbohong bu." Timpal Dimas yang geram dengan ulah Tanisa.
"Ssttt diam, jangan bohongi ibu. Memang sepatutnya kamu menikah!" berseru marah.
Wanita paruh baya itu memegang tangan Tanisa. "Dimas anak semata wayang, ibu lama mendapatkannya. Bapaknya sudah meninggal dari dia kelas enam sd. Sekolah dan pendidikannya dari hasil salon ini." Ujarnya.
"Ibu kenapa harus mengatakan semua kepadanya." Gerutu Dimas yang tidak setuju jika masalah keluarganya harus di ceritakan ke orang yang tidak di kenalnya.
"Dimas, dia ini calon istri kamu." Sahut ibunya.
"Enggak bu, ini salah. Sebaiknya kamu mengatakan ke ibu ku." Ujar Dimas.
Tanisa setuju, dia harus bertanggung jawab.
"Aku dan Dimas tidak pernah melakukan itu." Jelas Tanisa.
"Cukup Tanisa, ibu tidak mau mendengar lagi. Apapun yang kalian ucapkan itu hanya untuk memperbaiki citra kalian di depan ibu. Pokoknya nikah." Berujar tegas.
Tiba-tiba datang seorang pria paruh baya datang dengan menggunakan motornya. "Ada apa In?" tanya wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Dimas dan Tanisa telah melakukan hubungan suami istri." Sahut ibu Iin nama orang tua yang melahirkan Dimas.
Pria paruh baya itu hampir saja melayangkan tangannya ke wajah Dimas. Tapi ibu Iin segera menahan tangan kakaknya.
"Paman semua ini tidak benar. Dia melakukan ini hanya untuk membalas dendam kepadaku, kalau tidak percaya tanyakan sendiri kepadanya." Jelas Dimas.
Pria paruh baya itu mendekati Tanisa. "Apa benar itu?" tanya pria paruh baya itu. Dengan cepat Tanisa menganggukkan kepalanya.
"Dendam seperti apa? sampai kamu berani berbohong?" tanya pria paruh baya itu yang berdiri di hadapan Tanisa.
"Karena dia telah menciumku." Sahut Tanisa.
Paman dan ibunya Dimas sontak kaget. Keduanya menoleh ke arah Dimas. Membutuhkan penjelasan dari anaknya. Dimas mengakui dengan menganggukkan kepalanya.
"In mereka tetap harus nikah." Ujar pamannya.
"Hah!" Dimas dan Tanisa sontak kaget. Penjelasan dari Tanisa bukan memuluskannya untuk dapat keluar dari masalah itu tapi membuatnya semakin terjebak.
Paman dan ibunya Dimas berdiskusi.
"Hubungi keluarga kamu sekarang!" titah pamannya ke Tanisa.
Tanisa bingung harus melakukan apa. Ingin rasanya dia segera lari tapi kakinya terasa berat.
"Pak, saya permisi. Tidak perlu menikahkan kami." Ujar Tanisa beranjak dari tempat duduknya.
"Tidak bisa seperti itu. Anak ibu telah mencium seorang gadis yang belum sah menjadi istrinya. Itu sama saja Dimas menodai kamu." Sahut ibu Iin.
Menghubungi siapa Tanisa tidak tau. Dan jika menyebutkan alamat rumahnya sama saja membawa petaka baru untuknya. Tapi dia terus di desak keluarga Dimas.
Dengan terpaksa Tanisa menghubungi Abian.
***
Abian sibuk dengan beberapa berkas. Sedangkan Aneska berada di luar ruangan. Tepatnya berada di sebrang meja Tya. Aneska sedang belajar banyak hal dari Tya.
Panggilan terhubung...
Melihat ada nama Tanisa di layar ponselnya membuat Abian mengerutkan dahinya. Pasalnya Tanisa tidak pernah menghubunginya jika tidak terjadi sesuatu dengannya.
"Ya halo." Sahut Abian.
Tanisa menceritakan tentang masalah yang di hadapinya. Sontak Abian beranjak dari kursi kerjanya keluar ruangan dengan ponsel masih berada di telinga sebelah kiri.
Abian masih mendengarkan cerita Tanisa. Dia menghampiri istrinya.
"Sayang kita pulang sekarang." Ujar Abian. Aneska bingung, melihat raut wajah suaminya, dia mengerti telah terjadi sesuatu. Dan dia belum tau dengan siapa Abian berbicara.
Keduanya menuju loby bersamaan, setelah berada di dalam mobil Aneska memberanikan diri untuk bertanya dan tentunya setelah Abian tidak berkomunikasi dengan ponselnya.
"Siapa yang menghubungi kamu?" tanya Aneska.
__ADS_1
"Tanisa." Sahut Abian singkat dan segera melajukan mobilnya.
"Kenapa dengan Tanisa?" tanya Aneska penasaran.
"Orang tua Dimas mau menikahkan mereka berdua." Sahut Abian fokus menyetir. Aneska membulatkan matanya.
"Tapi kenapa tiba-tiba? Tanisa dan Dimas tidak saling menyukai malah mereka sering ribut?" tanya Aneska bingung.
"Ini semua ulah Tanisa. Karena mulutnya dia terjebak dalam masalah ini." Jelas Abian.
"Maksud kamu apa?" tanya Aneska masih penasaran.
"Tanisa mengikuti Dimas, ketika bertemu ibunya, dia membuat cerita kalau Dimas menodainya." Jelas Abian.
"Apa! waduh jadi runyam begini. Jadi apa yang harus kamu lakukan?" tanya Aneska lagi.
"Aku akan meluruskan masalah ini dan menyuruh Tanisa untuk meminta maaf. Dan aku akan..." Abian diam dan menoleh ke arah istrinya.
"Akan apa?" tanya Aneska lagi.
"Akan mengatakan status Tanisa. Mungkin orang tua Dimas tidak tau status Tanisa." Jelas Abian.
Aneska paham dan menurutnya status Tanisa akan membatalkan rencana orang tua Dimas untuk menikahkan anaknya dengan Tanisa.
Mobil Abian telah sampai di depan salon yang di sebutkan Tanisa. Keduanya berjalan beriringan menuju salon.
Ibu Iin melihat sosok Aneska yang pernah di ingatnya. Sekarang sosok itu berdiri di depannya.
"Ibu seperti pernah melihat kamu?" tanya ibu Iin.
Aneska tersenyum. "Iya bu, saya teman satu kerjaan Dimas." Sahut Aneska.
"Oh iya ibu ingat di kamar Dimas ada foto kamu." Ujar ibu Iin yang tentu membuat Abian menatap tajam ke arah Aneska dan Dimas.
Melihat tatapan tajam itu membuat Dimas tidak enak hati. Sama halnya dengan Abian, Tanisa juga kaget dan mengambil kesimpulan kalau Dimas pernah menyukai Aneska.
"Maaf tuan, itu foto jadul aku lupa membuangnya." Jelas Dimas membela dirinya.
"Tuan? dia siapa Dimas?" tanya ibunya bingung.
"Dia adalah tuan Abian suami dari Aneska. Abian dan Tanisa saudara." Jelas Dimas.
"Tapi kenapa kamu memanggil tuan?" tanya pamannya.
"Karena beliau pemilik istana Bassam." Sahut Dimas lagi dan sontak membuat saudara kandung yang berumur tidak mudah lagi langsung membungkukkan badan dan bersimpuh di kaki Abian. Meminta maaf atas perbuatan Dimas kepada Tanisa.
Bersambung...
Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014