Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 124


__ADS_3

Keesokan harinya, Aneska mengerjapkan matanya dan melihat suaminya tertidur di atas sofa memakai pakaian yang sama.


Aneska tersenyum seraya menggerakkan tubuhnya. Dia ingin turun dari tempat tidur untuk menyelimuti suaminya.


"Aw..." Aneska meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. Dia mendorong tiang infus seraya membawa selimut.


Aneska menyelimuti tubuh suaminya. Dia memandangi wajah Abian yang tidak ada cacat sama sekali. Menurutnya Abian di ciptakan Tuhan dengan sangat sempurna.


Abian merasa tubuhnya sedikit hangat dari sebelumnya. Dia membuka matanya dan melihat istrinya sedang berdiri di sampingnya.


"Pagi..." Sapa Aneska seraya tersenyum manis.


"Sayang, apa yang kamu lakukan." Abian sontak bangun dan membawa istrinya ke tempat tidur.


"Jangan turun dari tempat tidur." Abian menekan nada bicaranya agar istrinya tidak mengabaikan ucapan ataupun peringatan darinya.


"Sayang aku capek harus berbaring terus." Gerutu Aneska.


"Kalau capek jangan banyak gerak, duduk diam di atas tempat tidur. Jika kamu butuh sesuatu bilang samaku." Ucap Abian tegas.


Aneska tersenyum, suaminya sangat perhatian dan sangat menyayanginya.


Pintu ruangan di ketuk. Seorang perawat membawakan sarapan pagi untuk Aneska.


"Selamat pagi ini sarapannya." Ucap perawat seraya meletakkan sarapan di atas meja.


"Terima kasih." Ucap Aneska pelan.


Ketika perawat tadi keluar Abian langsung menyuapi istrinya.


"Ayo makan, mumpung masih hangat." Dengan telaten Abian menyuapi istrinya.


Aneska merasa terharu, perlakuan suaminya membuatnya merasa sangat di sayang.


"Abian..." Ucap Aneska pelan.


"Iya sayang." Sahut Abian seraya menyuapi istrinya.


"Terima kasih karena telah mencintaiku." Ucap Aneska pelan.


"Sayang, jangan mengatakan seperti itu, tentu aku mencintai kamu. Kamu adalah istriku tepatnya belahan jiwaku." Abian mengecup istrinya.


"Apa penampilanku seperti ini tidak mengurangi rasa cinta kamu?" tanya Aneska.


"Sayang kamu ngomong apa? aku tetap mencintai kamu apa adanya." Abian berujar dengan penuh kelembutan.


***


Di istana Bassam.


Hari ini adalah hari libur, Zidan tidak ada kegiatan selama libur. Hanya melakukan beberapa olah raga untuk mengurangi kebosanannya.


Zidan berlari mengelilingi taman seraya melihat oma dan ibu Tatik yang sedang keluar dari istana.

__ADS_1


Dia berhenti tepat di depan dua wanita itu.


"Oma pagi-pagi mau kemana?" tanya Zidan.


"Oma mau ke rumah sakit." Jawab oma.


"Rumah sakit?" Zidan langsung memikirkan cara agar bisa bertemu kembali dengan Tiara.


"Aku akan antar oma." Ucap Zidan seraya masuk ke dalam istana.


"Tapi...." Oma belum menyelesaikan ucapannya karena Zidan sudah tidak terlihat.


"Oma, nanti nasi tuan Abian keburu dingin. Oma kan tau kalau tuan Abian sangat susah memakan nasi yang dingin." Ibu Tatik mengingatkan oma.


"Iya juga, ya udah oma berangkat. Kalau Zidan tanya bilang aja seperti tadi." Ucap oma.


"Baik oma." Oma berangkat ke rumah sakit dengan supir. Membawa pakaian ganti untuk Abian, Aneska dan anaknya nyonya Rona. Tidak lupa dia membawakan sarapan untuk ketiganya.


Selang beberapa menit. Zidan keluar dari istana dan tidak menemukan oma Zulfa.


"Oma kemana." Gumam Zidan. Ibu Tatik dari jauh memperhatikan Zidan dan segera menghampirinya.


"Pak Zidan, oma sudah berangkat. Oma berangkat lebih dulu, karena oma membawa sarapan untuk tuan Abian." Jelas ibu Tatik.


Zidan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih." Zidan langsung menuju mobilnya dan menyalakan mesin mobil. Dengan cepat dia langsung meninggalkan istana.


***


"Jangan batalkan, kamu tidak perlu memikirkan aku. Perayaan ini hanya setahun sekali, jangan karena keadaanku semua rencana yang sudah jauh-jauh hari harus batal." Ucap Aneska merasa bersalah atas rencana suaminya.


"Tapi keadaan kamu lebih penting." Ucap Abian yang merasa khawatir dengan keadaan istrinya.


"Perayaan ulang tahun kamu di adakan di istana, jadi menurutku tidak apa-apa kalau aku tidak ikut turun. Aku akan berada di kamar selama acara." Jelas Aneska.


"Tidak! aku tidak setuju." Abian berujar dengan nada menolak semua pemikiran istrinya.


"Sayang..." Rengek Aneska seraya mengecup punggung tangan suaminya.


"Tidak apa-apa sayang, lebih baik aku beristirahat di kamar. Aku kasihan dengan para pelayan yang sudah sangat antusias dengan acara ini. Kalau kamu batalkan pasti mereka akan kecewa." Yang di katakan Aneska benar.


Acara ulang tahunnya bukan hanya perayaan semata untuk hari lahirnya. Tapi acara itu sebagai tempat berkumpul untuk semua kalangan. Pelayan yang seharusnya menghidangkan semua makanan untuk acara nanti akan menjadi tamu dan bergabung dengan tamu lainnya.


"Baiklah kalau seperti itu, masih ada beberapa hari lagi, aku berharap kamu sembuh dan dapat menemaniku di acara nanti." Ucap Abian seraya mengecup bibir istrinya.


Pintu ruangan di buka.


"Ya ampun Abian, enggak di istana enggak di rumah sakit masih saja main comot." Gerutu oma marah yang datang dengan membawa tentengan.


Melihat dia dan suaminya ke tangkap basah membuat Aneska malu, pipinya langsung merona seperti buah tomat.


"Oma ganggu saja." Gerutu Abian.

__ADS_1


"Ganggu kamu bilang! ini rumah sakit Abian, tahan sampai Aneska sembuh, enggak sabaran banget." Ucap oma marah.


"Iya oma." Jawab Abian malas.


Oma menyerahkan makanan yang di bawanya ke cucunya.


"Makan mumpung masih hangat. Oma juga membawakan baju kalian berdua." Ucap oma seraya menyerahkan bekal untuk cucunya.


"Dan ini untuk kamu sayang." Ucap oma seraya menyerahkan bekal ke Aneska.


"Aku udah makan oma." Aneska menolak.


"Ya padahal oma sudah membawanya jauh-jauh." Ucap oma sedih.


Melihat wajah keriput oma yang bersedih, membuat Aneska tidak tega.


"Baiklah aku makan, tapi kalau gak habis oma jangan marah ya." Ucap Aneska seraya mengulurkan tangannya ke oma untuk menerima bekal dari wanita sepuh itu.


Abian menikmati makanannya. Dia teringat tentang kakak dan maminya.


"Bagaimana keadaan Tanisa?" tanya Abian di sela-sela makannya.


"Tanisa sudah sadar, dia sedang menyantap makanan mami kamu." Jawab oma.


"Jadi mami enggak makan?" pertanyaan Abian membuat oma Zulfa langsung melirik cucunya.


"Nanti oma pesankan makanan untuk mami kamu, Rona masih bisa menahan laparnya." Jelas oma.


Abian menyelesaikan makannya dan beranjak dari tempat duduknya.


"Oma temani Aneska." Ucap Abian seraya berlalu keluar ruang perawatan istrinya.


"Abian mau kemana?" tanya Aneska.


Oma Zulfa mengintip dari balik pintu kamar perawatan Aneska.


"Abian ke kamar Tanisa." Jawab oma pelan.


"Semoga keluarga ini kembali seperti dulu." Ucap oma.


"Aamiin." Sahut Aneska.


Abian masuk ke dalam ruang perawatan kakaknya. Tanisa dan maminya langsung menoleh dan diam beberapa saat, kehadiran Abian membuat keduanya tidak bisa berkutik.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Abian.


"Jauh lebih baik." Sahut Tanisa.


Abian hanya menganggukkan kepalanya seraya melirik maminya.


"Mami kalau mau makan di restoran silahkan, nanti oma yang akan menjaga Tanisa." Ucapan Abian merupakan sebuah perhatian seorang anak ke ibunya. Walaupun dia kecewa dengan sikap maminya tapi dia tidak ingin orang yang melahirkannya sakit.


Bersambung...

__ADS_1


Bantu vote ya biar semangat updatenya. Untuk info novel bisa follow ig author: anita_rachman83


__ADS_2