Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 96


__ADS_3

Semua meninggalkan ruang kerja, begitupun dengan Aneska, dia kembali ke kamarnya karena permintaan suaminya.


Abian masih berbincang dengan Zidan tentang kedepannya. Farid masih menunggu Zidan kembali ke kamarnya. Dia ingin mengambil surat itu dari dalam tas Zidan.


Sedangkan Tanisa masih merayu maminya.


"Mami, tolong bantu Farid." Rayu Tanisa.


"Bantu apa! Dia sudah mengecewakan mami tapi beruntung karena kamu lagi hamil, kalau kamu tidak hamil pasti mami tidak akan membiarkan kalian tinggal di sini." Ucap nyonya Rona tegas.


"Mami jangan seperti itu. Walaupun Farid melakukan kesalahan tapi dia suamiku juga." Tanisa membela suaminya.


"Tapi dia salah Tanisa. Kalaulah Abian tidak tau tentang buruknya perbuatan Farid pasti kita sudah melarat." Ucap nyonya Rona sambil memandang bayangannya dari dalam cermin.


Wajahnya semakin menua garis-garis halus di wajahnya semakin jelas. Masalah Aneska belum selesai di tambah masalah baru. Semua di pikirkannya.


"Keluarlah, mami mau beristirahat." Ucap nyonya Rona ke anaknya.


Tanisa mengecup pipi ibunya.


"Selamat malam mami." Dia keluar dari kamar maminya menuju kamarnya. Di dalam kamarnya dia tidak menemukan Farid.


"Kemana sih dia?" gerutu Tanisa.


Tanisa menghubungi suaminya, tapi panggilan sedang tidak aktif.


"Aku harus cari dia, jangan-jangan dia ada di kamar Anggela." Gumam Tanisa sambil keluar kamarnya menuju kamar Anggela.


Farid masih menunggu Zidan di luar ruang kerja. Tapi pria itu tak kunjung keluar dari ruangan itu.


"Sebaiknya aku tunggu dia di kamarnya." Farid pergi ke kamar Zidan dan masuk secara menyelinap.


"Sebaiknya aku sembunyi." Gumam Farid sambil memandang sekeliling kamar mencari tempat persembunyian.


"Ah itu dia." Gumam Farid. Handle pintu bergerak secara menurun. Farid langsung berlari ke balkon bersembunyi di pinggir.


Zidan masuk ke kamarnya sambil melemparkan tasnya ke atas tempat tidur. Farid mengintip dari celah-celah jendela.


Zidan membuka pakaiannya dan mengambil handuk di dalam lemari.


"Sialan kenapa aku harus menyaksikan dia seperti itu." Gumam Farid.


Zidan melingkarkan handuk ke pinggangnya, dia berjalan menuju kamar mandi.


"Yes, kesempatan emas." Gumam Farid sambil keluar dari persembunyiannya.


Farid memegang handle pintu kaca transparan antara balkon dan kamar, tapi suara ponsel Zidan berdering. Dia kembali lagi bersembunyi, pintu sedikit terbuka.


Zidan kembali ke kamar dan melihat ponselnya dan meletakkan kembali di tempat tidur berdekatan dengan tasnya.

__ADS_1


Hembusan angin malam masuk melalui pintu yang menuju ke balkon, menghembuskan tirai yang ada di pintu itu.


Zidan mendekati pintu kaca itu, seingatnya pintu itu dalam keadaan tertutup.


"Mungkin angin." Gumam Zidan sambil mengunci pintu itu.


Dia kembali membersihkan badannya ke kamar mandi.


Farid kembali memegang handle pintu itu, tapi pintu itu tidak bisa bergerak sama sekali.


"Sialan pintunya di kunci." Gerutu Farid terus menggerakkan handle pintu secara berulang.


"Kalau aku pecahkan sama saja cari mati." Farid bingung. Dia kembali bersembunyi karena Zidan telah selesai mandi. Dan mematikan lampu kamarnya. Zidan membaringkan tubuhnya di kasur dalam sekejap dia sudah tertidur.


"Waduh bisa sampai pagi aku di sini." Gerutu Farid sambil melihat ke samping dan bawah balkon


"Ke bawah tinggi ke atas tinggi. Ke samping jauh." Farid memikirkan cara agar terbebas dari tempat itu.


Tanisa menggedor pintu kamar Anggela. Hampir sepuluh menit dia menggedor pintu itu.


"Hoaam ada apa?" Anggela menguap sambil menggaruk kepalanya.


"Mana Farid!" Tanisa langsung menggeser badan Anggela dari depan pintu.


"Enggak salah kamar cari di sini?" Anggela mengikuti Tanisa yang sedang mencari Farid ke setiap sudut ruangan.


"Mana aku tau." Jawab Anggela santai.


"Jangan bohong! kamu sembunyikan di mana Farid!" teriak Tanisa sambil memegang kerah piyama Anggela.


"Helo nona, kamu salah alamat mungkin suami kamu sedang bunuh diri." Ucap Anggela sambil menepis tangan Tanisa dari bajunya.


"Bunuh diri? tidak mungkin dia bunuh diri." Tanisa panik.


Tapi Anggela tertawa kekeh.


"Hahaha percaya?" ejek Anggela.


Tanisa memandang wanita di depannya, dengan tatapan marah.


"Aku kasih tau ya, Farid itu tidak mungkin bunuh diri. Walaupun dia sudah bangkrut atau miskin sekalipun dia tidak akan mau mati konyol. Pasti dia sedang merencanakan sesuatu." Jelas Anggela.


Tanisa menelaah ucapan Anggela sambil terus berpikir.


"Sepertinya kamu tidak mengenal baik suami kamu sendiri?" sindir Anggela.


Anggela membuka lebar pintu kamarnya.


"Silahkan nona Tanisa, aku sangat ngantuk." Tanisa keluar dari kamar Anggela dengan pikiran yang bercabang. Dia berjalan sambil memikirkan ucapan Anggela.

__ADS_1


"Tanisa!" teriak Anggela.


Tanisa membalikkan badannya melihat ke Anggela.


"Lebih baik kamu istirahat kasihan anak dalam kandungan kamu. Urusan Farid jangan di pikirkan dia pasti tau jalan pulang." Ucap Anggela dan kembali menutup pintu kamarnya melanjutkan kembali tidurnya.


Di dalam kamarnya Tanisa terus memikirkan perkataan Anggela.


"Apa aku begitu buruknya sampai tidak mengenal watak suamiku." Gumam Tanisa sambil membaringkan tubuhnya di kasur.


"Kesukaannya atau kebiasaannya saja aku tidak tau." Gumam Tanisa.


Farid tidak putus asa, dia mengambil ponselnya dan menyalakan kembali. Dia sengaja menonaktifkan ponselnya dengan alasan agar siapapun tidak mengganggunya. Farid menghubungi Anggela.


Panggilan terhubung. Anggela yang baru tidur terkaget.


"Siapa sih." Gerutu Anggela sambil mengambil ponselnya yang ada di nakas.


"Farid." Anggela menjawab panggilan itu sambil menyalakan lampu tidur yang ada di nakas.


"Halo Farid, kamu di mana? Tanisa sedang mencari kamu." Ucap Anggela.


"Aku terjebak di kamar Zidan." Bisik Farid.


"Apa! Apa yang kamu lakukan di sana?" Anggela bingung dengan tingkah Farid.


"Nanti aku jelaskan sekarang datang ke kamar Zidan, rayu dia. Aku sedang terkurung di luar tepatnya di balkon." Bisik Farid.


"Apa kamu baru mengintip Zidan." Tanya Anggela.


"Cih, aku itu pria normal, cepat ke kamar Zidan, aku tunggu. Ingat putar kunci balkon kamu alihkan Zidan agar aku bisa keluar dari kamar itu.


"Bukannya kamu kemaren marah karena aku memeluk Zidan." Tanya Anggela lagi.


"Aduh Anggela kenapa kamu cerewet banget. Udah buruan, hemm kalau bisa kamu ambil kertas yang ada di dalam tas kerjanya." Jelas Farid sambil tetap mengintip dari celah-celah jendela.


"Tas? jadi maksud kamu? aku harus membongkar kamarnya?" tanya Anggela bingung.


"Bukan Anggela sayang, tas itu ada di atas tempat tidur. Kalau perlu kamu wok wok wok sama dia." Bisik Farid.


"Memangnya boleh? nanti kamu marah terus bulananku di potong." Ucap Anggela manja.


"Untuk kali ini boleh, ingat paksa dia untuk melakukannya. Dan ambil kertas yang ada di dalam tasnya. Ingat bebaskan aku terlebih dahulu. Aku tidak sanggup bila harus melihat kamu bermesraan dengan Zidan.


"Ok kalau begitu siapa takut." Ucap Anggela dan menutup panggilan tersebut bersiap-siap ke kamar Zidan.


Bersambung...


Sesuai janji author tambah updatenya karena rangking vote sudah masuk 10 besar, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2