Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 107


__ADS_3

Anggela berlari ke kamar Abian dan mengetuk pintu. Abian berjalan menghampiri pintu kamar dan memutar kunci belum sempat dia menggerakkan handle pintu. Dia kaget melihat istrinya hanya memakai bikini bottom.


Aneska bersandar di dinding sambil mengedipkan matanya, dan menggerakkan jari jemari ke arah suaminya agar mendekatinya.


Anggela masih berdiri di depan pintu, dia mendengar ada suara kunci di putar tapi pintu tak kunjung terbuka.


"Sayang apa yang kamu lakukan?" ucap Abian sambil mendekati istrinya.


"Aku ingin memakanmu." Bisik Aneska sambil menggigit telinga suaminya.


Abian tersenyum menyeringai, dia suka dengan kelakuan liar istrinya.


"Apa kamu tidak jadi berangkat ke singapura karena merindukan keris saktiku." Bisik Abian yang sudah terangsang dengan setiap sentuhan istrinya.


Aneska sudah terlalu bernafsu tapi Abian menahannya.


"Rayu aku jika kamu menginginkanku." Bisik Abian sambil menjauhi tubuh istrinya.


Aneska berdiri di atas sofa sedangkan suaminya duduk di pinggir kasur. Dia bergoyang layaknya seorang penari erotis. Dia tidak sadar apa yang sedang di lakukannya. Terus bergoyang sambil membangkitkan gairah suaminya.


Aneska melepas semua dalamannya dan melempar ke arah suaminya, dia naik ke atas paha Abian dan langsung menciumi bibir suaminya. Abian tidak melewati kesempatan itu untuk memeras gunung istrinya. Keduanya sudah terangsang. Ciuman mereka semakin ganas, dan tidak bisa terkendalikan lagi. Abian memeluk istrinya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Aneska masih berada di atas suaminya. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya.


"Apa aku masuk aja ya." Gumam Anggela. Tanpa berpikir panjang Anggela memegang handle pintu dan memasukkan sebagian kepalanya. Dia kaget melihat seorang wanita tanpa memakai busana berada di atas badan Abian.


Anggela buru-buru menutup pintu kamar dan berlari ke ruangan tempat timnya sedang menunggu.


"Anggela kenapa kamu di sini?" ucap nyonya Rona bingung.


"Abian sedang bermesraan dengan orang lain." Gerutu Anggela.


"Apa!" nyonya Rona kaget, dia langsung beranjak dari tempat duduknya. Begitupun Tanisa dan Farid kurang percaya dengan ucapan Anggela.


"Tidak mungkin Abian berselingkuh dengan wanita lain." Ucap nyonya Rona.


"Benar tante, aku masuk ke dalam kamarnya dan di dalam ada seorang wanita tidak memakai sehelai benang, dia terus menciumi Abian. Dan Abian juga menciuminya." Ucap Anggela lagi.


"Mami kalau benar Abian sedang bermesraan dengan wanita lain, ini kesempatan kita untuk memotret kelakuan Abian." Nyonya Rona setuju dengan ide menantunya.


"Tapi tidak baik kalau kita merekam aksi panggung mereka."


"Biar aku yang rekam." Ucap Farid semangat.

__ADS_1


"Enak aja, bilang saja kamu juga pengin lihat bentuk wanita murahan itu." Sindir Tanisa.


Nyonya Rona tidak ingin merekam pergumulan anaknya tapi dia penasaran dengan ucapan Anggela.


"Sebaiknya tidak perlu di potret, besok pagi pasti wanita itu sudah keluar pagi-pagi dari kamar Abian, kita akan lihat di layar monitor siapa wanita itu dan itu bukti untuk menyingkirkan Aneska."


Semuanya menganggukkan kepalanya setuju.


"Mami heran siapa wanita yang telah membuat Abian melupakan Aneska. Sepertinya kita bisa memanfaatkannya." Ucap nyonya Rona lagi.


"Lalu aku gimana?" timpal Anggela.


"Kamu sikat wc sana." Ejek Tanisa.


"Aaaah." Anggela kesal sambil menghentakkan kakinya. Dia kembali ke kamarnya dengan perasaan kecewa.


"Ayo bubar, tidak perlu menunggu, besok kita akan tau siapa yang masuk ke kamar Abian."


"Mami kenapa tidak kita lihat saja sekarang, pasti akan terlihat di kamera siapa yang masuk ke kamar Abian." Ucap Farid.


"Kamu benar." Mereka menuju ruang monitor bersama-sama.


Di dalam kamar Aneska terus mengguncang dunia. Suaminya sampai heran dengan kekuatan istrinya yang bisa bertahan berkali-kali tanpa jeda. Abian sangat menikmati, menurutnya dia menemukan lawan yang tangguh.


Mereka masuk ke dalam ruang monitor, dan melihat rekaman satu jam yang lalu. Ada seseorang masuk ke dalam kamar Abian tapi wajahnya tidak terlihat cukup jelas. Karena Aneska menggerai rambutnya.


"Enggak kelihatan mami." Gerutu Tanisa.


"Iya, besok pasti kelihatan, tapi kenapa pakaiannya seperti tidak asing." Gumam nyonya Rona.


Aneska dan Abian melanjutkan kembali di kamar mandi. Entah jurus apa yang di keluarkan Aneska yang jelas dia merasa ketagihan, begitupun Abian dia terbawa permainan istrinya. Menurutnya istrinya beda dari sebelumnya. Terlalu ganas dan liar tapi dia suka.


Nyonya Rona dan yang lainnya keluar dari ruang monitor dan kembali melewati kamar Abian. Ketiganya berhenti ketika di depan kamar Abian. Mereka saling pandang dan mencoba menguping.


"Enggak kedengaran." Gumam Tanisa.


"Iya." Jawab Farid.


"Mami kurang yakin dengan ucapan Anggela, apa kita intip." Ucap nyonya Rona masih menempelkan kupingnya ke pintu.


"Ayo mam." Ucap Farid semangat.

__ADS_1


"Hust dasar genit. Sebaiknya mami aja yang masuk, kami tunggu di tempat semula." Tanisa menarik tangan suaminya agar meninggalkan maminya.


"Semoga tidak terkunci." Gumam nyonya Rona sambil memegang handle pintu. Ceklek pintu terbuka nyonya Rona memasukkan sebagian kepalanya dan melihat kamar yang sudah berantakan terutama kasur.


Dalaman wanita ada di lantai begitupun punya Abian.


"Benar sekali telah terjadi perselingkuhan di sini." Gumam nyonya Rona.


Kamar mandi tidak terkunci sehingga terdengar suara erangan wanita yang cukup menggema. Nyonya Rona buru-buru menutup pintu kamarnya.


"Yes, semoga wanita itu hamil sebelum Aneska." Gumam nyonya Rona senang.


"Nyonya, apa anda baru mengintip tuan Abian?" tanya Zidan.


"Aaa." Nyonya Rona gugup dia menggaruk kepalanya.


"Bukan saya bukan mengintip, tadi kamar Abian pintunya terbuka sedikit jadi saya tutup." Jawab nyonya Rona bohong.


Zidan menaruh curiga, jelas-jelas dia melihat majikannya sedang mengintip karena sebagian kepalanya saja yang masuk dan melihat ke dalam kamar Abian.


"Nyonya mengintip itu perbuatan yang tidak baik, apalagi itu anak anda sendiri. Selamat malam." Ucap Zidan sambil berlalu meninggalkan majikannya.


"Saya buk.." Wanita paruh baya itu ingin menjelaskan tapi Zidan keburu pergi dengan berpikiran negatif tentangnya.


Nyonya Rona kembali bergabung dengan anak dan menantunya.


"Bagaimana mami?" tanya Farid yang paling penasaran.


"Benar yang di katakan Anggela kalau Abian telah berselingkuh kamarnya berantakan dan ada dalaman wanita di lantai." Jelas nyonya Rona dengan wajah yang muram.


Tanisa memperhatikan wajah maminya.


"Kenapa mami terlihat sedih? bukannya seharusnya mami senang tanpa kita jebak Abian melakukannya sendiri." Ucap Tanisa.


"Iya kamu benar, tadi pada saat mami mengintip, Zidan ternyata ada di dekat mami, dia menasehati mami dengan mengatakan tidak baik mengintip apalagi anak sendiri." Jelas nyonya Rona.


"Waduh gawat, bisa jadi Zidan mengatakan ke Abian kalau mami telah mengintipnya, Abian bisa marah." Ucap Tanisa yang sudah bisa membayangkan kemarahan Abian.


"Kalau Abian marah ancam saja dengan perselingkuhan ini, jadi kita aman. Dan kalau perlu minta penambahan persentase harta warisan yang di miliki Abian hitung-hitung uang tutup mulut." Timpal Farid.


Ide Farid menurut nyonya Rona sangat brilian, selama ini dia tidak bisa berkata-kata jika anaknya berbicara tapi jika kartu anaknya di pegang maka dia dapat menjinakkan anaknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2