Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 91


__ADS_3

Aneska membelalakkan matanya melihat ke arah ibunya, ibu Desi sedang berkacak pinggang melihat ke arah mereka.


"Abian cukup, ibu." Ucap Aneska sambil mendorong tubuh suaminya. Badan Abian terlalu besar jadi untuk mendorong tidak akan mudah baginya.


"Iya aku tau, ibu ada di istana." Ucap Abian sambil tetap mencium istrinya.


"Abian, itu ibu." Ucap Aneska lagi.


"Ibu Desi ada di istana sayang. Tidak mungkin ibu kamu datang ke kantorku." Ucap Abian masih mencium istrinya.


"Ehem." Ucap ibu Desi singkat.


"Kamu berdehem?" ucap Abian bingung.


"Bukan, tapi itu." Aneska menggerakkan kepalanya menunjuk ke arah ibunya.


Abian langsung menoleh ke belakang.


"Ya ampun ibu? sejak kapan ibu di situ." Ucap Abian kaget.


"Sejak kapan? kamu itu ya makanya lihat ada penghuni lain tidak di sini." Ucap ibu Desi marah sambil duduk di kursi kerja menantunya.


"Maaf bu, saya benar-benar tidak tau kalau ada ibu." Ucap Abian.


"Sekarang udah tau kan? heran apa kaca spion kamu pecah sampai tidak melihat ke belakang." Sindir ibu Desi.


"Maaf bu, untuk kejadian tadi jangan ibu ingat ya." Ucap Abian lagi.


"Mana mungkin ibu melupakan kejadian yang tadi, mata ibu ternodai dengan anak dan menantu." Ibu Desi memijat pelipisnya.


Aneska langsung menghampiri ibunya yang sedang duduk di kursi kerja Abian.


"Ibu pusingkan, makanya jangan di ingat." Ucap Aneska sambil memijat ibunya.


"Jadi kamu mau ibu hilang ingatan gitu." Ucap ibu Desi marah.


"Ih ibu amit-amit. Mana mungkin Anes mendoakan ibu seperti itu. Ibu itu harus tenang melupakan kejadian barusan dan jangan ember ke bapak."


"Memangnya kalau ember kenapa?" ucap ibu Desi bingung.


"Malu dong bu." Ucap Aneska.


"Bu, sekali lagi saya mohon maaf." Ucap Abian sambil menyalami ibu Desi.


"Hahahaha." Ibu Desi tertawa sambil berputar-putar di kursi Abian.


Aneska dan Abian saling pandang dan mengernyitkan dahinya. Mereka bingung dengan tingkah ibu Desi yang mendadak tertawa.


"Ibu gila." Ucap Aneska.


Prok ibu Desi langsung memukul lengan anaknya.


"Ih ibu, gila kok ngerti mukul." Ucap Aneska bingung.


"Hahaha, siapa yang gila ibu tadi prank." Ucap ibu Desi sambil tertawa.


"Prank?" Suami istri itu saling pandang.

__ADS_1


"Iya, ibu sih masa bodoh dengan kelakuan kalian, ibu tadi menganggap sedang nonton serial film holywood." Jelas ibu Desi.


"Bukannya ibu tadi melotot." Tanya Aneska lagi.


"Iya, tapi ibu sadar kalau kalian sudah sah, jadi karena udah terlanjur langsung aja ibu prank, hahaha." Ucap ibu Desi senang.


Aneska menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung dari mana ibunya dapat istilah prank.


Ibu Desi beranjak dari kursi kerja menantunya.


"Masuk." Ucap ibu Desi sambil membuka pintu kamar yang ada di belakang meja kerja Abian.


"Untuk apa bu." Tanya Abian bingung.


"Lanjutkan lagi di dalam." Ibu Desi menarik tangan anak sulungnya ke dalam kamar dan mempersilahkan menantunya untuk masuk ke kamar juga.


"Ibu kami lakukan di istana saja." Ucap Abian tidak enak.


"Udah tenang saja, ibu tau kalian pengantin baru jadi harus memberikan kesempatan untuk kalian berdua." Ucap ibu Desi mendorong tubuh menantunya ke kamar.


"Tapi bu." Abian bingung dengan tingkah mertuanya.


"Udah masuk." Ibu Desi menutup pintu kamar itu.


Abian dan Aneska melongo dengan tingkah ibunya.


Pintu kamar di ketuk, Abian langsung membuka pintu.


"Iya bu." Tanya Abian.


"Jangan pakai suara ya, malu kalau kedengaran orang lain." Ucap ibu Desi dan kembali menarik pintu kamar.


"Entah." Ucap Aneska bingung sambil mengangkat kedua bahunya.


Pintu kamar kembali di ketuk, Abian lagi-lagi membuka pintu kamar.


"Iya bu." Tanya Abian.


"Menantu, butuh waktu berapa lama kamu membuat cucu ibu." Tanya ibu Desi.


Abian langsung menelan salivanya, dia bingung harus menjawab apa.


"Ah lupakan, ibu tunggu di luar, ingat jangan banting Aneska." Ucap ibu Desi kembali menutup pintu kamar.


"Ih ibu ada-ada saja." Gerutu Aneska sambil duduk di pinggir kasur.


"Kita keluar saja, dan bilang sama ibu akan kita lanjutkan di istana." Ucap Abian sambil memegang handle pintu.


"Jangan, nanti ibu akan tetap menyuruh kita masuk. Aku sudah tau watak ibu. Ibu susah di bantah, kemauannya harus di penuhi." Jelas Aneska.


"Memangnya apa kemauan ibu kamu." Tanya Abian.


"Hemm, cucu." Jawab Aneska sambil menundukkan kepalanya.


"Oh cucu, aku juga pingin punya anak cepat. Tapi tidak mungkin kita melakukannya di sini, walaupun ibu memberi kesempatan kepada kita tapi sebaiknya kita buat anak di kamar kita saja." Jelas Abian sambil duduk di sebelah istrinya.


Pipi Aneska langsung merona merah.

__ADS_1


"Kamu tau tidak kenapa aku tidak mau melakukan di sini." Ucap Abian.


"Karena ada ibu kan?" ucap Aneska.


"Iya, tapi ada lagi yang lain." Ucap Abian sambil membelai rambut istrinya.


"Apa?"


"Kalau di sini aku tidak akan puas, dan satu lagi aku khawatir kaki kamu kembali gemetar." Ucap Abian sambil memegang dagu istrinya.


"Aaaah kamu." Rengek Aneska.


"Betul sayang." Ucap Abian sambil tertawa.


Ibu Desi yang sedang duduk di sofa mendengarkan suara tertawa Abian.


"Mereka lagi buat anak atau lagi main lawak-lawakan." Gumam ibu Desi.


"Hemmm, apa mungkin itu pemanasan anak jaman sekarang." Gumam ibu Desi sambil membaringkan tubuhnya di kasur.


"Abian, boleh aku bertanya sesuatu." Ucap Aneska sambil menatap wajah suaminya yang ganteng.


"Iya sayang, silahkan."


"Hemm sudah berapa lama Tanisa menikah dengan Farid." Tanya Aneska.


Abian langsung menatap wajah istrinya, menurutnya Aneska bukan tipe yang suka mengurusi urusan orang lain.


"Kenapa? apa sekarang kamu ingin berteman dengan mereka." Tanya Abian.


"Bukan itu, aku hanya ingin tau saja, karena aku perhatikan mereka belum di anugerahi anak." Jelas Aneska.


Abian diam, dia tidak ingin mengatakan kalau Farid pria yang tidak setia dengan istrinya dan menurutnya itu yang membuat pernikahan kakaknya sampai sekarang belum di karunia anak.


Sedangkan Aneska, berpikir kebalikan kalau Tanisa yang merencanakan untuk tidak memiliki anak.


"Hemm mungkin mereka belum rezeki." Jawab Abian singkat tanpa mau memberitahukan istrinya.


"Mungkin juga." Jawab Aneska singkat.


"Hemm, apa saja kegiatan Tanisa." Tanya Aneska lagi.


"Kegiatan? maksud kamu apa." Abian bingung.


"Maksud aku, apa Tanisa sama seperti kamu, kerja di kantoran atau ada usaha yang lain." Ucap Aneska lagi.


"Tidak ada, dia tidak mempunyai kegiatan apapun selain menghambur-hamburkan uang."


"Oh bulat." Ucap Aneska singkat.


Abian tertawa dengan ucapan istrinya. Aneska melihat jam tangannya.


"Abian sebaiknya kita keluar, aku khawatir ibu tersesat." Ucap Aneska.


"Tersesat? hahaha kamu pikir ini hutan sampai tersesat segala." Ucap Abian dengan gelak tawanya.


"Udah ayo." Aneska menarik tangan suaminya keluar dari kamar itu. Dan ketika membuka pintu mereka tertawa kecil melihat ibu Desi yang sudah tertidur sambil membuka mulutnya lebar-lebar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2