
Dokter Arif tidak menjawab ataupun menggubris ucapan Zidan. Dia tetap fokus mengendarai mobilnya menuju tempat makan atau tepatnya restoran seafood.
Ketika memasuki restoran itu mereka di sambut para pelayan.Yang langsung menunjukkan tempat duduk mereka.
Dokter Arif memesan beberapa menu makanan untuk mereka berdua. Pelayan mencatat setelah itu berlalu untuk menyiapkan pesanan pengunjung restorannya.
"Dokter, bagaimana? apa anda sudah menemukan caranya?" tanya Zidan.
"Apa kamu mau saya pukul pakai kursi?" tanya dokter Arif. Zidan langsung menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin bernasib seperti Tanisa.
"Akan aku pikirkan lagi." Dokter Arif mulai memikirkan cara agar kerabatnya segera di rawat. Tidak berapa lama pesanan mereka datang. Kembali muncul ide di benaknya.
"Apa kamu ada alergi?" tanya dokter Arif.
"Tidak tau." Sahut Zidan singkat.
Dokter Arif melihat hidangan yang ada di hadapannya.
"Coba kamu makan semua makanan ini, aku ingin melihat apa kamu ada alergi makanan seafood atau tidak." Jelas dokter Arif.
Zidan mulai memakan satu persatu hidangan di depannya, dokter Arif ikut membantu untuk menghabiskan makanan itu, seraya tetap memperhatikan Zidan.
Makanan telah habis di lahap tapi Zidan tidak menunjukkan ada gejala alergi makan seafood. Dokter Arif mulai memikirkan cara agar Zidan segera di rawat.
"Apa kamu ada alergi obat?" tanya dokter Arif. Zidan langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak tau, saya tidak pernah minum obat." Zidan berujar seraya menegakkan air yang ada di hadapannya.
"Saya menyerah, kamu pikirkan caranya sendiri." Dokter Arif mengangkat kedua tangannya. Pikirannya sudah buntu.
Kedua pria itu kembali memasuki mobil, mereka kembali ke rumah sakit. Zidan putus asa, tidak ada cara lain agar dirinya dapat bertemu Tiara.
"Bantu aku." Ucap Zidan seraya berbisik ke telinga dokter Arif.
"Apa kamu yakin?" tanya dokter Arif.
Zidan langsung menganggukkan kepala yakin.
Mereka sampai di rumah sakit. Dan langsung menuju ruang perawatan Aneska.
Di dalam ruang perawatan itu hanya ada Aneska beserta suaminya.
"Ada apa?" tanya Abian seraya menatap dua pria yang baru saja masuk ke ruangan itu.
Kedua pria itu tidak menjawab, secara perlahan Zidan langsung menghampiri tempat tidur yang di atasnya ada Aneska. Abian hanya memperhatikan perlakuan pria itu.
Tiba-tiba Zidan menjauh seraya keluar dari ruangan itu. Dokter Arif yang mengerti rencana Zidan langsung mengerutkan dahinya seraya ikut keluar mengikuti Zidan.
Aneska dan Abian saling pandang, mereka bingung dengan tingkah dua pria itu.
__ADS_1
"Zidan...." Teriak dokter Arif seraya mengikuti Zidan. Dokter Arif mengejar Zidan.
"Tadi kamu bilang mau merayu Aneska, kenapa tidak jadi?" tanya dokter Arif bingung.
"Serem tau, aku membayangkan Farid babak belur di hajar tuan Abian, dan aku tidak mau mengalami hal yang sama." Gerutu Zidan.
"Baiklah aku ada ide. Aku akan menuliskan resep nanti kamu minum itu dan lihat reaksinya setelah setengah jam. Tapi kamu harus berada di IGD kurang dari setengah jam, agar kamu segera di tangani." Jelas dokter Arif.
"Kalau sampai terlambat bagaimana?" tanya Zidan penasaran.
"Mati." Ucapan dokter Arif membuat Zidan langsung menggelengkan kepalanya.
"Kalau saya mati, mana bisa saya menemui Tiara."
Dokter Arif tertawa. " Hahahhaha, aku hanya bercanda. Kamu akan mual dan muntah hebat. Ya tapi tetap waspada, kekurangan cairan juga bahaya." Jelas dokter Arif lagi.
Akhirnya Zidan setuju untuk meminum resep obat dari dokter Arif. Dia meminum sesuai anjuran dokter Arif. Kurang dari tiga puluh menit, perutnya mulai terasa mual. Dia buru-buru ke ruang IGD, perawat yang sama langsung menghampirinya..
"Ada apa pak?" tanya perawat itu.
"Saya mau muntah." Ucap Zidan.
"Kalau mau muntah ke toilet pak, jangan di sini." Perawat berujar dengan nada ketus.
"Tapi...." Belum selesai Zidan menjelaskan dia sudah muntah di ruang IGD, dan bukan hanya sekali dia muntah berkali-kali. Ruang IGD mendadak rusuh karena ulah Zidan. Dia bukan saja memberikan aroma baru di dalam ruangan itu tapi menambahkan pekerjaan buat para cleaning service.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan akhirnya dia di rawat.
"Tidak ada." Ucap Zidan bohong yang telah terbaring lemas di atas tempat tidur.
"Menurut pemeriksaan, bapak telah memakan sesuatu." Ucap dokter seraya melihat hasil pemeriksaan.
Zidan teringat tentang makan siang tadi.
"Siang ini saya makan seafood." Ucap Zidan pelan.
"Bukan itu pak, menurut hasil pemeriksaan bapak minum obat cacing melebihi dosis." Jelas dokter lagi.
"Obat cacing!" sontak Zidan kaget.
Sialan, aku di kerjai.
Zidan menggerutu dalam hatinya.
"Iya obat cacing." Ucap dokter IGD seraya menatap pasiennya.
"Oh iya, cacing saya suka demo kalau telat makan, jadi saya basmi dengan meminum obat cacing biar tidak jadi ular." Jelas Zidan asal.
Dokter hanya mengerutkan dahinya. Menurutnya Zidan sedang bercanda dan sayangnya dokter itu tidak tertawa.
__ADS_1
Dokter memeriksa pasien yang lain. Zidan masih berada di ruang IGD menunggu di pindahkan ke ruang perawatan.
Setelah tiga puluh menit Zidan bertanya ke perawat.
"Suster, kapan saya di pindahkan?"
"Bapak beruntung tidak di rawat, setelah cairan infus ini habis bapak bisa pulang." Jelas perawat seraya menunjuk botol infus yang tergantung di tiang infus.
"Pulang!" Zidan sontak kaget.
"Iya pulang, dokter bilang di rawat di ruangan ini hanya sampai cairan infus habis." Jelas perawat lagi.
Zidan merasa ini hari sialnya, udah di tampar, minum obat cacing belum lagi muntah, tapi yang dilakukannya sia-sia. Dia langsung mengirim pesan ke dokter Arif.
Sia-sia, saran anda tidak berhasil.
Dokter Arif membaca pesan itu, dia merasa kasihan dengan Zidan.
Ibu Desi beserta dua gadis belia baru tiba di tanah air. Mereka langsung menuju rumah sakit, membawa koper ke dalam rumah sakit itu.
Wanita paruh baya itu mulai berpikiran jelek. Dia berpikir jika kecelakaan yang di alami anaknya perbuatan nyonya Rona.
Ketika memasuki ruang perawatan itu. Ibu Desi langsung berteriak histeris.
"Anes...." Teriak ibu Desi seraya memeluk anaknya yang sedang terlelap.
Aneska sontak kaget, karena ada sosok ibunya di dekatnya.
"Ibu jangan lebay, Anes belum mati." Ucap Aneska.
"Huss, kamu itu ngomong apa! ibu lagi menjiwai." Ucap ibunya asal.
"Ah ibu." Rengek Aneska seraya memeluk ibunya. Abian hanya memperhatikan keluarga istrinya. Dia merasa orang yang paling bersalah atas kecelakaan itu.
"Anes, kenapa badan kamu jadi seperti ini." Gerutu ibunya seraya melihat kulit anaknya banyak luka yang mulai mengering.
"Anes, juga enggak mau bu. Tapi sudahlah yang penting Anes selamat." Ibu Desi menggenggam tangan anaknya seraya berbisik.
"Apa ini perbuatan nenek sihir itu?" tanya ibu Desi berbisik.
"Bukan bu, ini perbuatan kakek sihir." Sahut Aneska.
"Kakek sihir? apa nenek sihir sudah menikah lagi?" tanya ibu Desi penasaran.
"Ih ibu, bukan itu. Ini perbuatan Farid." Ucap Aneska.
"Parit? maksud kamu got gitu?" tanya ibunya lagi.
Aneska langsung menggaruk kepalanya. Ibunya kelamaan di negara tetangga sedikit lola loading lama.
__ADS_1
Bersambung....
Ayo mana votenya?