
"Nes, suami kamu punya adik enggak." Tanya Tiara lagi.
"Ada." Jawab Tami dan Aneska bersamaan.
"Oh iya, kenalkan dong Nes. Mana tau dia jodohku. Kalau jodohkan bagus, kita jadi saudara." Ucap Tiara menghayal.
"Boleh kapan-kapan aku kenalkan." Aneska dan Tami menahan tawanya.
"Nah gitu namanya sahabat. Ngomong-ngomong siapa namanya." Tanya Tiara lagi.
"Ila." Ucap Aneska dan Tami secara bersamaan sambil tertawa.
"Aaaah." Tiara ngambek.
"Udah Tiara, jangan obral. Jodoh kamu pasti akan datang, kalau tidak ada samaku juga boleh." Timpal Aldo.
"Ogah." Mereka tertawa bersama-sama sambil menikmati makan siangnya.
"Oh iya untuk masalah pernikahanku jangan bicarakan sama orang lain ya, kalian pasti paham tentang pernikahan dadakan ini." Ucap Aneska.
"Rahasia kamu aman sama kami, kita kan geng." Ucap Tiara.
Ada sosok cowok yang mendatangi meja mereka.
"Anes, apa kabarnya?" ucap Dimas sambil menyodorkan tangannya untuk menyalami Aneska.
"Anes aja yang di tanya, aku tidak." Sindir Tami.
"Hahaha Tami, aku pikir yang duduk di depanku ini hantunya." Ejek Dimas.
"Sialan lo." Ucap Tami sambil melempar sedotan ke arah Dimas.
"Aku senang kita bisa berkumpul lagi, terutama sama kamu Nes, bisa dong malam minggu kita ngedate." Ucap Dimas tanpa malu.
"Enggak bisa." Tiara yang jawab.
"Eh aku tanya sama Aneska bukan kamu." Gerutu Dimas.
"Iya aku tau, aku wakilnya." Ucap Tiara lagi.
"Wakil dari mana?" gerutu Dimas.
"Nih lihat." Tiara menarik tangan Aneska yang ada cincin berlian.
Aneska menggelengkan kepalanya ke arah Tiara agar temannya itu tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Apa itu Nes." Tanya Dimas.
"Dia sudah bertunangan dengan pengusaha." Jelas Tiara.
"Serius Nes?" tanya Dimas lagi.
Aneska menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya putus sudah harapanku." Ucap Dimas lemas.
"Jangan putus harapan, masih ada mbak Tami yang nganggur." Ejek Tiara.
"Sialan kamu." Tami melempar gulungan tisu ke arah Tiara.
"Bercanda mbak, kita sama-sama enggak laku, hahaha." Tiara tertawa di ikuti semua temannya.
Jam istirahat selesai mereka kembali ke ruangan dan melewati loby.
"Aneska." Teriak seseorang.
__ADS_1
Dia menoleh mencari sumber suara.
"Nes, oma Nely udah kangen banget sama kamu tuh." Bisik Tiara.
"Kalian kembali duluan." Ucap Aneska sambil menghampiri oma Nely yang sedang duduk di loby.
"Aneska, apa kabar." Tanya oma Nely senang.
"Hemmm baik oma." Jawab Aneska.
"Oma lagi nunggu obat." Tanya Aneska.
"Iya, kamu baru masuk ini hari apa sudah lama." Tanya oma.
"Ini hari pertamaku oma." Jawab Aneska.
"Kamu pulang jam berapa? nanti oma suruh Luky menjemput kamu." Ucap oma.
"Ti tidak usah oma, terima kasih banyak." Aneska menolak.
"Oma kangen Nes, kalau libur main ke rumah oma ya."
"Iya oma, maaf oma. Saya harus kembali bekerja." Ucap Aneska menghindari tatapan oma.
"Ya sudah." Oma Nely memeluk Aneska begitupun sebaliknya.
***
Di kantor.
Abian menghubungi istrinya dan lagi-lagi ponselnya tidak aktif.
"Selalu di luar jangkauan. Kenapa dia tidak menanyakanku. Suamiku sudah makan, lagi ngapain." Gerutu Abian.
"Kalau aku menghubungi Arif, itu sama saja memberikan kesempatan untuk mereka bisa dekat kembali. Sebaiknya tidak usah, Aneska oh Aneska." Gumam Abian.
Waktu sudah menunjukkan jam enam sore, Aneska menunggu suaminya di depan pintu loby. Dia menulis pesan untuk suaminya.
Aku sudah pulang, kamu di mana.
Aneska menunggu balasan dari suaminya, tidak ada balasan sama sekali. Setengah jam berlalu tapi sama sekali belum ada tanda-tanda kehadiran suaminya.
"Kalau aku pulang sama supir pasti dia marah lagi." Gumam Aneska.
"Lebih baik aku hubungi ponselnya." Panggilan terhubung tapi tidak ada jawaban dari Abian.
"Kamu kemana sih? cowok kok ngambek." Gerutu Aneska.
Aneska tidak mungkin terus di rumah sakit waktu sudah hampir menunjukkan jam tujuh malam. Dia memilih pergi ke kantor suaminya. Aneska menaiki taksi yang kebetulan berhenti di loby rumah sakit.
Rumah sakit berada di pusat kota untuk sampai ke kantor suaminya tidak perlu waktu lama tapi karena jalanan macet Aneska terlambat sampai ke kantor suaminya.
"Ya ampun udah gelap lagi." Gerutu Aneska sambil menghubungi suaminya. Panggilan masuk tapi tidak ada jawaban lagi dari suaminya.
"Ya ampun, punya suami kok gini banget." Gerutu Aneska.
Dia menghampiri sekuriti perusahaan suaminya.
"Pak, Abian ada." Tanya Aneska.
"Tuan Abian baru saja keluar." Ucap sekuriti.
"Makasih pak."
Aneska bingung harus melakukan apa. Dia memilih beristirahat di depan pintu loby kantor suaminya.
__ADS_1
"Mbak, tidak boleh duduk di sini." Sekuriti menegurnya.
"Pak, izinkan saya beristirahat sejenak." Ucap Aneska.
"Ya, silahkan." Ucap bapak sekuriti tak tega melihat Aneska yang kelelahan.
***
Abian sudah sampai di rumah sakit. Dia mencari istrinya di loby.
"Kamu kemana Aneska." Gerutu Abian sambil mencari ponselnya.
"Ponselku di mana?" Abian memeriksa saku celana dan saku jasnya.
"Sialan, pasti ketinggalan di kantor." Gerutu Abian.
Dia mendatangi sekuriti rumah sakit.
"Pak, perawat yang masuk pagi sudah pulang semua." Tanya Abian.
"Sudah dari jam dua pulang." Jawab sekuriti.
"Hemmm, yang jam enam." Tanya Abian lagi.
"Enggak tau pak, setau kami yang masuk pagi pulang jam dua siang." Ucap sekuriti.
"Kalau dokter Arif masih ada di dalam tidak." Tanya Abian.
"Dokter Arif sudah pulang pak." Jawab sekuriti.
"Makasih." Abian kembali ke mobilnya.
"Aneska, aku pastikan kamu tidak akan bisa bekerja lagi di rumah sakit." Ucap Abian marah.
Abian memutuskan untuk kembali ke kantornya. Dia ingin mengambil ponselnya agar bisa menghubungi istrinya.
"Mbak, mau kami carikan taksi." Ucap sekuriti.
"Boleh pak." Ucap Aneska sambil meluruskan kakinya di depan pintu loby. Dia merasakan kelelahan, perut lapar dan rasa kantuk datang menjadi satu membuatnya ingin segera pulang dan beristirahat.
Aneska menaiki taksi yang di pesankan sekuriti. Dia menyebutkan alamat istana Bassam. Tarif harga tidak di tawarnya lagi, di pikirannya hanya ingin membaringkan tubuhnya di kasur.
Mobil Abian baru sampai di gedung Bassam corporation, selisih lima menit dari taksi yang mengantarkan Aneska.
"Malam pak." Sapa sekuriti sambil membukakan pintu loby.
Abian melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung, tapi dia berbalik lagi ke arah sekuriti yang sedang berdiri di loby.
"Apa ada seorang perempuan datang ke sini, dia memakai seragam rumah sakit." Tanya Abian.
"Ada pak, tadi mbak itu menanyakan bapak juga, saya bilang bapak udah pulang. Dia numpang istirahat sejenak di sini." Ucap sekuriti sambil menunjukkan lantai tempat Aneska beristirahat.
"Dia seperti kelelahan." Ucap sekuriti itu.
"Sekarang dia di mana." Tanya Abian cemas.
"Baru balik naik taksi hanya selang beberapa menit dari bapak." Jelas sekuriti.
"Apa kamu tau nomor plat taksinya." Tanya Abian.
Bapak sekuriti mencoba mengingat nomor polisi taksi yang di pesannya.
"Oh iya nomor platnya xxx." Jawab sekuriti.
Bersambung.
__ADS_1