Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 179


__ADS_3

Tiara bergabung dengan Aldo dan Dimas. "Bagaimana? apa calon suami kamu jadi menyumbang?" tanya Aldo.


"Calon suami? jangan ngaco deh!" serunya.


"Dia mau menyumbang tapi aku harus menjalankan semua persyaratannya." Kedua pria itu menoleh ke arah Tiara.


"Apa aja syaratnya, kamu tidak di suruh tidur dengannya kan." Tebak Aldo.


"Wah otaknya perlu di cuci ni." Tiara menepuk kepala temannya dengan sendok.


Tiara menceritakan syarat yang harus di penuhinya. Dan reaksi kedua temannya tertawa.


"Kenapa kalian tertawa?" tanya Tiara bingung.


"Kamu tau, sebenarnya itu modus pak Zidan untuk mengikat kamu, walaupun melalui aku tapi makasih ya." Ujar Dimas seraya tersenyum.


"Iya enak di kamu enggak enak di aku." Gerutu Tiara.


"Kamu itu wanita paling beruntung wajah pas-pasan tapi fansnya orang kaya dan ganteng lagi." Ejek Aldo.


Tiara memukuli temannya dengan sendok, dia tidak terima jika di katakan jelek. Walaupun nilai kecantikannya hanya tujuh puluh lima tapi dia masih bangga karena kecantikannya tidak mendapat nilai merah.


Ponsel Tiara berdering tertera nama Zidan di layar ponselnya. Tiara menjawab panggilan itu. "Ya halo." Kemudian Tiara menutup panggilan itu.


"Nih, aku di tagih nomor rekening kamu." Gerutu Tiara ke Dimas.


Dimas memberikan nomor rekeningnya, dan Tiara langsung mengirim balik ke Zidan.


"Ayo tebak, kira-kira berapa sumbangan yang di berikan pak Zidan." Ujar Aldo.


"Kalau kamu berapa?" tanya Tiara balik.


"Sepuluh juta." Sahut Aldo dan melihat ke Dimas.


"Kalau aku berapapun di kasih syukur Alhamdulillah." Sahut Dimas.


Kedua pria itu menoleh ke arah Tiara. "Kalau kamu berapa?" tanya kedua temannya.


"Kalau dari penampilannya tidak mungkin dia nyumbang satu atau sepuluh juta menurutku lima puluh juta." Tebak Tiara.


Dan seketika Dimas mendapatkan sms banking. Melihat nominalnya semuanya terkejut dan Tiara juga menerima pesan yang isinya bukti transfer dari Zidan.


"Tiga ratus juta." Ujar semuanya bengong dan menelan salivanya.


"Sumbangan aja sebesar ini apalagi kalau melamar kamu." Ujar Aldo ke Tiara.


"Apa itu uang semua atau uang monopoli?" tanya Tiara masih kurang yakin dengan uang yang di transfer Zidan.


"Udah kita buktikan besok malam." Sahut Dimas.

__ADS_1


"Kalau antaran segini banyak aku mau jadi calon wanitanya." Ujar Aldo dan langsung mendapatkan serangan mendadak dari temannya.


"Bercanda, tapi kalau seandainya aku melamar Ila, kalian bantu juga ya, sekalian mintakan sumbangan sama pak Zidan dan dokter Arif."


"Ogah." Sahut kedua temannya.


Tami berada di ruangan dokter Arif. Dia masih belum mengatakan niat kedatangannya. Dokter itu masih terlibat percakapan melalui ponselnya.


"Dok saya pamit ya, nanti saya ke sini lagi." Ujar Tami yang memilih keluar dari pada harus duduk dan menunggu percakapan dokter itu yang terlihat sangat panjang.


Tapi dokter Arif menggerakkan tangannya. Dia tidak mengizinkan Tami keluar dari ruangannya. Setelah menunggu sampai lima belas menit akhirnya dokter Arif selesai dengan ponselnya.


"Iya Tami ada apa?"


"Dok kedatangan saya mau meminta bantuan dokter." Tami menceritakan masalah yang sedang di hadapi Dimas.


"Wow sungguh di luar pemikiran saya. Saya tidak bisa membayangkan marahnya tante Rona nanti." Sahut dokter itu.


"Bagaimana dok, bersedia membantu Dimas? jujur Dimas mau menjual motornya untuk lamaran ini walaupun dia tidak ingin adanya lamaran ini tapi dia hanya ingin menyenangkan hati orang tuanya yang hanya tinggal satu." Ujar Tiara.


"Suruh Dimas ke sini." Titah dokter Arif.


"Baik dok." Tami beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu, bagaimana dengan biro jodoh itu? apa kamu masih melakukannya?" tanya dokter Arif.


Di ruangan dokter Arif menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu harus berbohong Tami."


Tami bergegas ke kantin. "Mbak bagaimana?" tanya Tiara penasaran dengan nominal yang di berikan dokter Arif.


"Dimas kamu di minta dokter Arif untuk datang ke ruangan beliau." Ujar Tami.


Dimas menuju ruangan dokter Arif dan tentunya semua temannya jadi ekornya. Berdiri di depan pintu sedangkan Dimas masuk ke dalam ruangan dokter Arif.


Di depan pintu...


"Mbak, pak Zidan nyumbang tiga ratus juta." Ujar Tiara.


"Hah? banyak banget?" tanya Tami kaget dengan nominal yang sangat besar.


"Iya banyak, tapi Tiara harus bersedia kawin dengannya." Celetuk Aldo dengan gelak tawanya.


"Enggak apa-apa. Masa depan kamu terjamin dengan beliau." Ujar Tami.


Tidak berapa lama Dimas keluar dengan wajah yang sumringah. "Berapa sumbangannya?" tanya semua temannya.


"Dua ratus juta." Sahut Dimas senang dan menunjukkan sms bangking yang baru saja di terimanya.


"Itu udah lebih dari cukup, jadi sumbangan dari kami batal ya." Ujar Aldo.

__ADS_1


"Eh enggak boleh gitu, kamu udah ngomong di awal. Enggak boleh menariknya kembali." Sahut Tami.


"Iya-iya."


***


Setelah selesai fitting baju kebaya modern. Nyonya Rona segera bergegas menuju Bassam grup. Kedatangannya ke sana ingin mencari calon menantunya sekaligus ingin bertemu dengan Vania.


Masuk ke loby dengan membusungkan badan dan berjalan dengan angkuhnya. Semua karyawan yang bertatapan dengannya menyapanya tapi wanita paruh baya itu tidak membalas. Menurutnya karyawan di perusahaannya hanya orang rendahan dan tidak perlu bersikap ramah.


Sebelum masuk ke dalam ruangan anaknya, nyonya Rona harus melewati meja sekretaris. Dan ketika melihat ada menantunya membuatnya kaget.


"Kamu!" serunya bingung.


"Halo mami mertua." Sapa Aneska tersenyum lucu melihat ekspresi mertuanya yang bingung.


Tanpa bertanya nyonya Rona masuk ke dalam ruangan anaknya.


"Mami! apa yang mami lakukan di sini?" tanya Abian bingung.


"Abian kenapa wanita itu ada di sini?" tanya maminya.


Abian langsung mengerti maksud maminya. "Namanya Aneska dan dia istriku." Abian menekan intonasinya.


"Iya Aneska. Kenapa dia di sini?" tanyanya lagi.


"Apa mami lupa kalau dia orang nomor dua di perusahaan ini." Penjelasan anaknya membuatnya panik. Panik karena Aneska telah merambah dunia bisnis dan tentunya akan menguasai semua harta Bassam.


"Abian, Aneska perawat. Perawat tidak cocok berada di gedung ini." Ujar maminya dan langsung duduk di sofa depan anaknya.


"Perawat juga bisa melakukannya dan tidak ada larangan. Selagi punya ini." Abian menunjuk ke dahinya.


"Selagi punya otak bisa berpikir kenapa enggak." Sahut Abian santai.


"Iya tapi menurut mami lebih baik kamu buatkan satu klinik untuk Aneska. Jadi dia bisa menyalurkan bakatnya di sana." Ujar maminya yang tidak ingin Aneska berada di dalam Bassam grup.


Abian meletakkan penanya. "Apa kedatangan mami ke sini hanya mau mengatakan ini?" tanya Abian.


Wanita paruh baya itu lupa maksud kedatangannya ke kantor anaknya. "Mami dengar dari Tanisa, pria yang melamarnya nanti investor? mami ingin menemui calon menantu mami."


Abian mengerutkan dahinya, dia tau jika ini hanya akal-akalan kakaknya agar terbebas dari interogasi maminya.


Bersambung...


Yang belum follow ig author silahkan follow anita_rachman83. Author aktif di ig di bandingkan di grup.


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014

__ADS_1


__ADS_2