Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 68


__ADS_3

"Demi istri tercinta, apapun akan aku lakukan." Ucap Abian sambil mencium istrinya.


"Gombal, makan yuk." Aneska mengajak suaminya untuk makan malam.


"Ya sudah aku hubungi koki dulu." Abian hendak masuk ke dalam kamar tapi.


"Kita makan di ruang makan aja. Kalau ramai napsu makanku banyak." Ucap Aneska.


"Apa kamu yakin?"


"Ho oh." Jawab Aneska singkat.


"Mengenai menstruasi kamu bagaimana?" ucap Abian khawatir.


"Tenang saja tidak perlu mengkhawatirkan aku."


"Ya sudah, aku mandi dulu. Kamu tunggu di sini." Sambil menunggu Abian mandi Aneska mengganti pakaiannya. Selang beberapa menit Abian sudah selesai mandi. Aneska sudah menyiapkan pakaian suaminya.


Mereka menuju ruang makan. Di ruang makan sudaha ada nyonya Rona, oma Zulfa dan Ila.


"Aneska bukannya kamu lagi sakit? mari duduk cepat." Ucap nyonya Rona sambil menuntun Aneska menuju kursi makan.


Aneska bingung dengan perubahan sikap mertuanya yang mendadak ramah. Dia melihat ke arah suaminya dan oma Zulfa secara bergantian. Dia seperti membutuhkan penjelasan dari dua orang itu.


"Tatik." Teriak nyonya Rona.


"Iya nyonya." Jawab ibu Tatik.


"Siapkan makanan untuk menantuku." Perintah nyonya Rona.


"Baik nyonya." Ucap ibu Tatik bingung.


"Aneska kamu harus banyak makan biar enggak penyakitan." Ucap nyonya Rona.


"Maaf nyonya, walaupun aku makan tidak banyak tapi bukan berarti penyakitan." Aneska mencela omongan mertuanya.


Abian dan oma Zulfa tersenyum dengan jawaban Aneska.


"Bukan itu, maksud mami makan banyak biar enggak gampang sakit." Nyonya Rona meralat ucapannya.


Mami? apa nenek sihir ini baru kena samber gledek? tiba-tiba sok akrab.


"Mami?" ucap Aneska.


"Iya mami, mulai hari ini kamu bisa panggil mami. Silahkan makan sayang." Ucap nyonya Rona.


Sayang! serasa mau muntah memanggilnya sayang tapi demi melancarkan rencanaku, aku harus bersikap baik dengannya.


Abian dan oma Zulfa menatap tajam wajah nyonya Rona. Mereka tau tidaklah mudah bagi sosok Rona untuk menerima Aneska dengan tangan terbuka.


Mereka menikmati makan malamnya tanpa ada yang berbicara. Nyonya Rona ingat tentang suatu hal.


"Mami tadi aku ketemu dengan ibu Nely." Ucap nyonya Rona.


"Oh ya, di mana kamu bertemu dengannya." Tanya oma Zulfa dengan perasaan senang.


"Di rumah sakit, tadi aku menjenguk Farid terus ketemu ibu Nely di rumah sakit." Nyonya Rona sengaja mengatakan tentang Farid di depan Abian agar anaknya bersimpati dengan kakak iparnya.


"Namanya seperti oma Nely." Gumam Aneska.


"Apa Nely baik-baik saja." Tanya oma Zulfa lagi.


"Katanya beliau sering kontrol ke rumah sakit." Ucap Rona sambil tersenyum. Di dalam hatinya dia bersorak senang, maksud hati ingin mendekatkan diri sama menantunya tapi maminya juga ikut terbawa arus.

__ADS_1


"Mami sebaiknya kapan-kapan kita main ke rumah ibu Nely."


"Ya Tuhan, mami sudah lama tidak menghubunginya. Kamu benar nanti kita main ke rumahnya." Ucap oma Zulfa.


"Iya mam, nanti sekalian sama Ila perginya." Ucap nyonya Rona.


"Ah enggak mi, aku di sini saja." Ila menolak.


"Ayolah Ila, mau sampai kapan kamu berhadapan dengan alat musik itu." Ucap nyonya Rona.


"Iya Ila, nanti temani oma ke rumah oma Nely." Ucap oma Zulfa.


"Uhuk-uhuk." Aneska tersedak mendengar ada kata oma di akhir kalimat.


Bukan Aneska, yang nama Nely itu banyak.


"Kamu enggak apa-apa." Tanya Abian sambil memberikan air putih untuk istrinya.


"Enggak apa-apa." Ucap Aneska sambil meminum air pemberian suaminya.


"Kenapa Aneska? apa kamu kenal dengan ibu Nely." Tanya nyonya Rona.


"Aku enggak kenal nyonya." Ucap Aneska.


"Mami sayang." Nyonya Rona memperbaiki ucapan menantunya.


Aneska hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Oh iya, kalau tidak salah ibu Nely pasien tetap di rumah sakit tempat kamu dulu berkerja. Apa kamu ingat." Tanya nyonya Rona.


Aneska menggelengkan kepalanya lagi sambil mengunyah makanannya.


"Hemmm, ibu Nely punya cucu namanya Luky."


"Kamu kenapa? dari tadi tersedak." Abian bingung tapi tetap memberikan air putih untuk istrinya.


Kenapa kalau aku menyebut ibu Nely, dia langsung tersedak apalagi nama cucunya. Apa jangan-jangan ada sesuatu antara Luky dengan perawat ini.


Makan malam telah selesai. Aneska dan Abian kembali ke kamarnya. Ketika sampai ke kamar, Aneska melihat paper bag yang isinya seragam kerja mereka.


"Suamiku, aku ke kamar Tami dulu ya." Ucap Aneska.


"Untuk apa." Tanya Abian.


"Mau menyerahkan ini." Ucap Aneska sambil memegang paper bag.


"Telepon dia, suruh datang ke sini. Bukan kamu yang datang ke sana. Ingat kamu itu istriku." Ucap Abian.


"Sebentar saja." Rayu Aneska.


"Pasti kamu mau bergosip." Tebak Abian.


"Heheheh, iya." Ucap Aneska.


"Panggil dia ke sini. Kalau mau bergosip di depanku." Ucap Abian.


"Idih mana ada sejarahnya orang gosip di mentori."


"Ya sudah enggak usah kerja." Ucap Abian.


"Wah pakai acara mengancam." Gerutu Aneska.


Abian hanya tersenyum tipis. Mau tidak mau ikhlas tidak iklhas Aneska menuruti kemauan suaminya. Dalam beberapa menit Tami datang. Aneska membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Masuk." Aneska menarik tangan Tami. Kedua wanita itu melirik ke arah Abian yang sedang sibuk di kursi kerjanya.


Aneska membawa Tami duduk di sofa.


"Mbak ambil ni." Bisik Aneska.


Tami mengambil paper bag tersebut dan melihat isinya.


"Ya ampun akhirnya aku bisa kembali bekerja." Ucap Tami kegirangan.


"Ssttt." Aneska meletakkan jari telunjuk di bibirnya sambil melirik ke arah suaminya kemudian tersenyum.


Begitupun Tami ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Kita masuk kerja jam delapan, pulang jam enam." Jelas Aneska.


"Jadwalnya kok beda Nes." Ucap Tami heran.


"Iya beda, karena kita perawat khusus." Ucap Aneska pelan.


"Ok, mbak paham. Mengenai gaji bagaimana? soalnya kalau pulang jam enam udah termasuk lembur." Tanya Tami lagi.


"Kita tidak mendapatkan uang lembur karena kita hanya satu shift." Jelas Aneska.


"Ya, udah capek di jalan pulangnya lama gaji tetap." Gerutu Tami.


Abian sayup-sayup mendengar ucapan istrinya dan Tami.


"Mau gimana lagi, dari pada enggak kerja."


"Iya sih, apa kamu sudah bilang sama tuan Abian tentang tempat tinggal mbak." Ucap Tami.


"Belum, aku enggak berani. Minta izin kerja saja susahnya minta ampun. Coba mbak tanya sendiri." Ucap Aneska.


"Takut Nes, nanti kalau mbak di pukul lagi gimana?" Tami khawatir tentang kejadian beberapa bulan lalu, di mana Abian menghajarnya.


"Enggak mbak, dia sudah berubah cobalah." Ucap Aneska pelan.


"Tuan, heemmm saya mengucapkan terima kasih karena telah mengizinkan kami kembali ke rumah sakit." Ucap Tami.


"Heemmm." Jawab Abian singkat.


"Aduh Nes, cuma di jawab hemmm doang." Gerutu Tami.


"Coba lagi."


"Hemmm tuan mengenai tempat tinggal, apa boleh saya tinggal di."


"Tidak boleh." Ucap Abian tegas.


"Ya ampun Nes, belum selesai udah bilang tidak boleh." Ucap Tami pelan.


Aneska beranjak dari sofa dan menghampiri suaminya.


"Suamiku, kasihan mbak Tami. Izinkan dia tinggal di mes ya?" rayu Aneska dengan memijat suaminya.


"Iya aku izinkan tapi ada syaratnya." Ucap Abian.


"Apa?" ucap Aneska dan Tami bersamaan.


"Kamu harus mencium aku di depan Tami." Ucap Abian.


"Apa!" Aneska dan Tami kaget.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2