
Abian menghampiri maminya yang pingsan. Kakaknya Tanisa dan Farid menatap tajam ke arah Abian.
"Puas kamu." Ucap Tanisa marah.
"Kamu sengaja mau membuat kami jatuh miskin kan!" Gerutu Tanisa lagi.
Abian tidak menjawab ucapan kakaknya. Dia melihat kondisi orang tua yang melahirkannya.
Nyonya Rona sadar ketika ibunya oma Zulfa memberikan minyak angin di bawah hidung anaknya.
Wanita paruh baya itu langsung kaget dan marah ketika yang pertama kali di lihatnya adalah Abian.
"Abian! itu harta papi kamu, seenaknya kamu memberikan kepada gadis itu." Ucap maminya marah.
"Sstt, dia istriku, aku berhak memberikan kepada siapapun." Ucap Abian sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir maminya.
"Tapi bukan dengan dia, dua puluh lima persen itu tidak sedikit." Gerutu maminya.
"Aku sudah mengatakan kepada mami untuk mencari perawat itu, tapi apa? mami diam-diam menikahkan dia dengan Zidan. Ini akibatnya kalau mami tidak mendengar perintahku. Tapi aku masih berbaik hati mengizinkan kalian untuk tinggal di istana." Ucap Abian tegas.
Aneska dan Cyra beserta bapaknya sibuk menyadarkan ibunya. Bapaknya memberikan minyak angin kepada istrinya sama hal yang di lakukan oma Zulfa sama anaknya. Ibu Desi sadar sambil memegang pelipisnya. Dia melihat anak gadisnya.
"Anes oh Anes, makan apa ibu waktu hamil kamu sampai menikah sama penjahat seperti itu." Gerutu ibunya.
Aneska hanya bisa diam, sambil menundukkan kepalanya. Dia juga tidak bisa membela Abian, karena menurutnya Abian memang tidak harus di bela.
"Rambut seperti kain pel, belum lagi brewoknya seperti sikat sepatu, aduh bapak, ibu enggak kuat punya menantu macam itu. Tampangnya udah macam genderuwo." Gerutu ibu Desi.
"Terus mau bagaimana lagi? kalau kita menyuruh mereka bercerai dosa bu." Ucap bapaknya.
Zidan datang menghampiri Aneska. Wanita itu langsung berdiri dan memukuli Zidan secara berulang.
"Ini semua karena kamu, mana tanggung jawabmu. Kalau aku tidak mengikuti saranmu pasti aku tidak akan menikah dengannya." Ucap Aneska sambil memukuli badan Zidan secara berulang.
"Aw." Zidan meringis. Abian melihat istrinya memukuli pria lain. Dia langsung berteriak.
"Hei Aneska." Semua melihat ke arah Abian.
"Kondisikan tanganmu, ingat kamu istriku haram hukumnya menyentuh pria lain." Teriak Abian di saksikan semua orang.
Aneska langsung menghentikan aksinya. Dia merasa malu karena Abian menegurnya di saksikan semua orang.
Abian kembali berdebat dengan keluarganya. Dan Aneska kembali memarahi Zidan.
"Puas kamu kan! aku akan menjadi istri bonekanya." Ucap Aneska marah sambil matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku Aneska, aku tidak tau kalau tuan muda akan datang. Dan kalau tau itu bukan pistol beneran pasti aku sudah melawannya." Jelas Zidan.
"Anes, nasi sudah jadi bubur. Kamu sudah resmi jadi istrinya. Jadi berbaktilah kepada suamimu." Ucap bapaknya.
"Aduh bapak apa enggak bisa lihat suami yang bagaimana yang harus di taati. Lihat itu penampilannya saja seperti itu, ibu tidak bisa bayangkan apa kata tetangga kalau kita buat resepsi di rumah. Pasti ibu di ejek sama ibu-ibu arisan panci. Bu Desi itu menantu apa sapu ijuk." Gerutu ibu Desi.
Abian di keliling keluarganya. Maminya marah besar kepada anaknya.
__ADS_1
"Ambil kembali mahar yang kamu berikan sama wanita itu, kalau tidak mami akan bunuh diri." Ancam nyonya Rona.
"Silahkan kalau mau bunuh diri, aku tidak akan menahan mami ataupun mengambil mahar yang telah aku berikan sama istriku. Kalau mami bunuh diri harta warisan mami yang tujuh persen bisa di bagikan kepada Tanisa, Ila dan oma." Ucap Abian santai.
"Abiaannn!" Teriak maminya. Abian berjalan menghampiri keluarga Aneska, dia tidak memperdulikan ucapan maminya. Oma Zulfa dan Ila mengikutinya. Mereka memberikan selamat kepada Abian dan Aneska.
"Selamat sayang." Ucap oma. Abian menghentikan langkahnya sambil membalikkan badannya melihat ke arah suara yang memanggil namanya.
"Makasih oma." Ucap Abian sambil memeluk omanya.
"Kakak selamat atas pernikahan mendadaknya." Ucap Ila.
"Hahaha, terima kasih adik kakak yang imut." Abian mencubit pipi adiknya.
"Sakit kak." Ila memegang pipinya yang barusan di cubit Abian.
Kemudian dia berjalan beberapa langkah menghampiri keluarga Aneska
"Uhuk-uhuk" Abian berakting layaknya sedang batuk. Keluarga Aneska, Zidan dan Aneska melihat ke arah Abian.
"Sudah selesai rapat keluarganya. Kalau sudah saya mau membawa istri saya." Ucap Abian.
"Aku enggak mau ikut sama kamu." Aneska berlindung di balik badan bapaknya.
Abian menggelengkan kepalanya.
"Bapak KUA." Ucap Abian sambil melambaikan tangannya. Pria paruh baya langsung menghampiri Abian.
"Apa saja tugas seorang istri." Tanya Abian.
"Banyak tuan." Ucap bapak KUA.
"Sebutkan salah satunya." Ucap Abian lagi tegas.
"Tidak berdebat dengan suami. Senantiasa taat sama perintah suami." Pria paruh baya itu mau melanjutkan ucapannya lagi. Tapi Abian sudah memberi kode kepada pria itu untuk berhenti berbicara dengan mengangkat tangannya.
"Sudah dengar istriku." Ucap Abian.
"Pokoknya aku enggak mau pulang sama kamu." Ucap Aneska menolak sambil tetap berlindung di balik badan bapaknya.
"Ibu mertua ajarkan anak anda untuk sopan kepada suaminya." Ucap Abian.
"Ogah, anak saya itu takut lihat penampilan kamu. Brewok itu jangan di pelihara cukup singa yang punya brewok." Sindir ibu Desi.
Abian mendengus kesal. Dia langsung memukul pelan bahu mertuanya dan memberi kode kepada pria paruh baya itu untuk menggeser tubuhnya.
Aneska tidak berlindung lagi dari badan bapaknya, Abian langsung menggendong istrinya seperti sekarung beras.
"Turunkan aku." Aneska memberontak. Ibu Desi kesal sama suaminya karena memberi kesempatan kepada Abian.
"Bapak itu bagaimana, bukan melindungi anaknya malah membiarkan anak kita di bawa kabur." Gerutu ibu Desi sambil menimpuk tas ke badan suaminya.
"Ibu, anak kita tidak di bawa kabur ataupun di culik. Itu suaminya bu." Ucap suaminya.
__ADS_1
"Aduh bapak, ibu enggak rela anak kita sama rambut kain pel itu. Pasti dia akan memperlakukan anak kita tidak baik. Lihat caranya membawa anak kita seperti bawa galon." Gerutu ibu Desi.
Abian sudah sampai di depan mobilnya. Dia menuruni tubuh Aneska.
"Masuk." Perintah Abian.
"Enggak mau." Ucap Aneska sambil memalingkan wajahnya.
"Yakin enggak mau?" Abian sudah memoyongkan bibirnya ke arah Aneska. Wanita itu langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
"Aku masuk, tapi bagaimana keluargaku." Ucap Aneska.
Abian mundur, dia memanggil salah satu pelayan yang ada di rumah danau dengan tangannya.
"Iya tuan." Ucap pelayan.
"Bawa keluarga istriku ke istana." Perintah Abian.
"Baik tuan." Ucap pelayan sambil berlalu masuk ke dalam rumah danau.
"Ayo masuk." Ucap Abian sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Dengan terpaksa Aneska masuk ke dalam mobil. Abian menutup pintu mobil, kemudian dia memutari mobil mau masuk ke dalam mobilnya. Tapi dia melihat pengacaranya di pojokkan ke dinding oleh Farid. Di saksikan mami dan kakaknya.
"Kamu jangan keluar." Ucap Abian sambil berlari mendekati Farid dan pengacaranya.
"Hei." Teriak Abian
Farid melepaskan tangannya dari kemeja pria paruh baya itu.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan pak Dudu, kalian semua akan aku laporkan ke polisi." Ancam Abian.
Dia membawa pak Dudu menuju mobilnya.
"Tuan, keluarga anda sangat serakah. Surat-surat harta keluarga Bassam sepertinya tidak aman kalau di kantor saya. Sebaiknya surat ini saya simpan di bank." Ucap pengacara.
"Saya percayakan kepada bapak." Ucap Abian.
"Untuk surat nikah tuan muda dan nona Aneska akan selesai satu hari. Berkas-berkas sudah saya berikan kepada pihak KUA." Jelas pengacara.
"Kalau ada yang mengancam bapak, beritahukan kepada saya." Ucap Abian.
Pengacara senior itu masuk ke dalam mobil. Setelah tidak terlihat baru Abian masuk ke dalam mobil.
"Pakai sabuk pengaman." Perintah Abian.
"Huh!" Aneska memalingkan wajahnya. Abian memakaikan sabuk untuk istrinya.
"Kalau minta aku pakaikan bilang." Ucap Abian kemudian mengecup pipi Aneska. Wanita itu langsung kaget sambil memegang pipinya yang baru saja kena kecup Abian.
Bersambung
Kalau novel ini masuk 10 besar, author akan tambah updatenya, terima kasih😍.
__ADS_1