Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 177


__ADS_3

Tami mendaftar kembali di aplikasi online untuk mencari jodohnya. Tetap menggunakan foto yang sama.


"Semoga kali ini aku bertemu dengan jodohku." Gumam Tami yang tidak menghiraukan himbauan dari dokter Arif.


Di rumahnya dokter Arif penasaran dengan aplikasi yang di katakannya. Dia iseng membuka aplikasi itu.


"Apa aku harus mendaftar." Gumamnya.


Setelah berpikir panjang dokter Arif mendaftar di aplikasi biro jodoh itu. Dia tetap menggunakan fotonya yaitu foto lamanya. Foto yang masih menggunakan brewok dan kumis.


Mencoba mendaftar dan memilih pasangan yang akan di ajaknya kencan. Melihat semua foto para kaum hawa, dia yakin jika foto itu bukan foto asli. Dan dia membulatkan matanya karena Tami masih mendaftar di aplikasi itu.


"Ya ampun Tami, kenapa kamu masih ngeyel." Gerutu dokter Arif.


Muncul di benaknya untuk berkomunikasi dengan Tami. Dokter Arif mengetik sesuatu di aplikasi itu, dia mengganti namanya menjadi Jack tetapi Tami tidak mengganti namanya, dia menggunakan nama aslinya.


Hai namaku Jack, senang berkenalan denganmu.


Tidak berapa lama dapat balasan dari Tami.


Hai namaku Tami


Dokter Arif berkomunikasi dan mencari informasi mengenai Tami. Gadis itu berkata dengan jujur tentang usianya. Mereka berkomunikasi melalui aplikasi itu, dokter Arif tahu jika itu perawatnya, hanya saja Tami yang belum sadar dengan pria yang berkomunikasi dengannya.


Pintu kamar Tami di ketuk, gadis itu membuka pintu kamarnya dan melihat ada Tiara yang baru saja pulang.


Tami langsung menutup aplikasi itu, dia tidak ingin Tiara tau tentang kencan onlinenya.


"Mbak ternyata di restoran itu tidak ada Vania." Ujarnya dan langsung berbaring.


"Loh kok enggak ada? bukannya foto itu buktinya?" tanya Tami bingung.


"Nah itu yang aku heran, kenapa foto yang mbak berikan berbeda dengan restoran tempat aku makan, apa jangan-jangan pak Zidan main dua." Ujar Tiara.


"Main dua? maksud kamu apa?"


"Maksudku dia itu berpacaran dengan Vania dan aku." Sahut Tiara.


"Ye ada yang ngaku ternyata." Ejek Tami.


"Bu bukan itu mbak, maksudku..."


Tami menarik hidung temannya. "Pak Zidan tidak seperti itu, dia serius dengan kamu. Mungkin makan malam dengan Vania hanya urusan kerja. Dan makan malam dengan kamu yang di harapkannya." Jelas Tami dan ikut berbaring di kasur di samping temannya.

__ADS_1


"Kamu udah lihat grup?" tanya Tami.


Tiara buru-buru melihat grup chatnya. "Wow banyak banget, padahal penghuninya hanya lima orang tapi kenapa seperti ratusan." Tiara tidak ingin membaca satu persatu pesan itu.


"Ada informasi apa?" tanya Tiara masih berbaring di sebelah Tami.


"Dimas besok malam mau melamar." Ujar Tami.


"Wow garcep banget dia." Puji Tiara senang dan sekarang merubah posisinya dengan miring ke samping menghadap Tami.


"Kamu tau siapa wanita itu?" Tami mengajukan pertanyaan balik ke temannya. Tiara menjawab dengan mengedikkan bahunya.


"Tanisa." Sahut Tami singkat.


"Apa Tanisa? bagaimana bisa?" tanya Tiara kaget.


Tami menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Dan semua informasi itu di dapat dari Aneska dan yang bersangkutan yaitu Dimas.


"Kenapa Dimas tidak membela diri? kan dia dan Tanisa tidak melakukannya hanya ciuman." Ujar Tiara memberikan pendapatnya.


"Udah, tapi ibunya sudah terlalu suka dengan Tanisa. Dan alasan ibunya. Dimas mirip bapaknya." Jelas Tami.


"Kenapa mirip bapaknya? kok aku enggak ngerti?" tanya Tiara penasaran.


"Karena kata ibunya, alamrum bapaknya Dimas dapat ibunya juga janda. Jadi itu alasannya."


"Iya, apa kamu enggak nyimak omongan Aneska di rumah sakit, pada saat itu Aneska lompat dari mobil semua itu ulah Farid suaminya." Jelas Tami lagi.


"Aku enggak nyimak mbak." Sahut Tiara. Pada saat itu dia sedang di perhatikan Zidan, dan itu yang membuatnya tidak mendengar semua yang di ucapkan Aneska.


***


Dimas mendatangi ibunya yang sedang berada di kamarnya.


"Bu." Ujar Dimas yang berdiri bersandar di kusen pintu.


"Apa." Sahut ibunya yang sedang membongkar lemarinya. Mencari pakaian yang akan di gunakannya untuk melamar Tanisa.


"Apa ibu yakin mau menjadikan Tanisa menantu ibu?" tanya Dimas.


"Kenapa? apa kamu kurang yakin ibu cocok sama dia nantinya?" tanya ibunya balik.


"Bukan itu bu, mereka orang kaya, dari mana uang hantarannya. Tabungan Dimas enggak banyak, dan satu lagi, akan sulit buat kami bersatu." Jelas Dimas.

__ADS_1


"Ibu ada perhiasan peninggalan dari almarhum bapak kamu. Kalau di kumpulkan lumayan bisa jadi hantaran." Sahut ibunya.


"Enggak bu, perhiasan itu kenang-kenangan dari bapak. Jangan di gunakan, Dimas akan memberi semampu Dimas. Kalau seandainya di tolak, ibu jangan sedih ya." Ujar Dimas mewanti-wanti.


"Kamu jangan pasrah seperti itu, harus berusaha. Nanti ibu tanya sama paman kamu, mana tau paman ada kenalan yang bisa meminjamkan uang sebesar lima puluh juta." Ujar ibunya.


"Pinjam bu? enggak Dimas tidak setuju, mau bayar pakai apa. Lebih baik uang itu di bayarkan untuk memperpanjang sewa ruko." Sahut Dimas menolak.


"Dimas ibu tidak mementingkan ruko lagi. Melihat kamu bersanding di pelaminan ibu sudah senang." Dimas memeluk ibunya, wanita yang sangat di cintainya. Hanya Ridho dan doa ibunya yang di harapkannya. Walaupun dia tidak setuju menikah dengan Tanisa, tapi dia tidak ingin melukai hati ibunya.


"Semoga ada keajaiban nantinya." Ujar Dimas. Dan di balas ibunya dengan. "Aamiin."


***


Pagi harinya di istana Bassam


Aneska dan Abian telah bersiap di meja makan. Aneska berpenampilan berbeda seperti wanita kantoran. Memakai riasan yang natural, sedikit banyaknya dia telah belajar make up dengan Anggela.


Nyonya Rona melihat penampilan menantunya yang berubah dari biasanya, tapi untuk menanyakan ataupun beramah tamah dengan Aneska tidak mungkin di lakukannya.


Semuanya telah makan di meja makan hanya Tanisa yang belum hadir di ruang makan.


"Abian? siapa pria yang akan melamar Tanisa?" tanya maminya penasaran.


"Yang jelas seorang pria baik-baik." Sahut Abian santai seraya menikmati sarapannya.


Jawaban anaknya tidak menjelaskan semuanya. "Mengapa kamu menjodohkan Tanisa secara mendadak, kamu kan tau kalau Tanisa baru saja jadi janda." Ujar maminya.


"Bukan aku yang menjodohkan, tapi ini kemauan Tanisa, dan sebagai wali aku akan menikahkannya." Jelas Abian.


Mendengar penjelasan anaknya nyonya Rona segera meninggalkan meja makan. Dia mencari keberadaan Tanisa.


Tok tok tok pintu kamar di ketuk Tanisa membuka pintu kamarnya. Ketika melihat ada maminya di depan pintu. Wanita itu langsung menutup pintu kamarnya.


Tapi nyonya Rona telah menahan dengan tangganya. "Tanisa buka, mami mau bicara. Kalau kamu tidak mau membuka pintu ini, jangan salahkan mami dobrak pintu kamar ini." Ujar nyonya Rona dari balik pintu yang setengah terbuka.


Tanisa membuka pintu kamarnya. Dia melihat makanan yang ada di kamar anaknya.


"Apa ini? kamu sarapan di kamar? apa kamu ingin menghindari mami?" tanya maminya.


Bersambung...


Yang belum follow ig author silahkan follow anita_rachman83. Author aktif di ig di bandingkan di grup.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2