Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 29


__ADS_3

Aneska menuju lantai atas, dia membuka pintu yang ada di dekat tangga. Aneska masuk ke dalam kamar itu dia mencari saklar lampu. Dia meraba dinding dalam keaadaan gelap. Tangannya menyentuh saklar lampu, Aneska buru-buru menyalakan lampu kamar.


"Wah bagus banget kamarnya. Kamar siapa ini." Gumam Aneska sambil menyentuh meja rias dan furniture yang ada di kamar itu.


"Heran, sudah mapan dan punya rumah sendiri tapi kenapa masih mau jadi bayang-bayang nenek lampir." Gumam Aneska.


Aneska membersihkan wajah dan giginya di kamar mandi, dia melakukan rutinitas itu setiap sebelum tidur. Setelah bersih dia langsung menuju kasur dan membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk itu.


Badannya terasa lelah tapi matanya tidak bisa terpejam. Aneska sebenarnya sangat ngantuk tapi ucapan Zidan membuatnya susah untuk memejamkan mata.


"Aduh kenapa lagi ini mata, ayo tidur." Gumam Aneska sendiri. Dia membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri tapi tetap tidak mau terpejam. Aneska meletakkan bantalnya di atas wajahnya, dia melakukan itu agar bisa tidur. Tapi tiba-tiba ada yang menarik bantal dari wajahnya.


"Hei." Ucap Aneska kaget.


"Kamu mau bunuh diri." Ucap Zidan.


"Siapa lagi yang mau bunuh diri, kenapa kamu masuk ke dalam kamarku tanpa izin, huh." Ucap Aneska ketus.


"Halo nona Aneska, ini rumah siapa?"


"Kamu."Jawab Aneska.


"Terus kamar ini punya siapa?" Ucap Zidan lagi.


"Aku." Jawab Aneska santai.


"Ini semua punyaku bukan punyamu." Jelas Zidan.


"Iya aku tau, enggak usah di perjelas, walaupun ini rumah kamu dan kamarmu sebaiknya kalau mau masuk ketuk dulu, kayak enggak tau aturan aja." Sindir Aneska.


Mendengar ucapan gadis di depannya Zidan mendengus kesal.


"Aku itu sudah mengetuk pintu tapi kamu tidak menjawab, jadi aku masuk saja, dan untungnya aku masuk dengan segera, kalau sampai terlambat mungkin kamu sudah mati." Jelas Zidan.


"Hei aku bukan mau bunuh diri, aku itu tidak bisa tidur, lagian ngapain kamu masuk ke kamar ini malam-malam." Gerutu Aneska.


"Aku mau menyerahkan ini." Zidan menyerahkan ponsel Aneska.


"Wah ponselku akhirnya kembali." Gumam Aneska. Gadis itu mencium ponselnya dengan senang.


"Cepat tidur, aku tunggu jawabannya besok pagi." Zidan keluar dari kamar Aneska, gadis itu tidak menghiraukan ucapan Zidan, dia sedang menyalakan ponselnya.


"Lah kenapa enggak bisa di nyalakan." Gerutu Aneska sambil keluar dari kamar. Aneska berlari dan sedikit berteriak dari atas.


"Kenapa baterai ponselku habis, mana cas ponselku." Teriak Aneska. Gadis itu harus berbicara sedikit berteriak karena Zidan sudah berada di lantai bawah tepatnya sedang berdiri di depan kamarnya sambil memegang handle pintu.


"Aku lupa membawa cas ponselmu. Jangan urusi ponselmu tapi urusi hidupmu." Ucap Zidan ketus sambil masuk ke dalam kamarnya.


"Dasar pria es." Gerutu Aneska sambil menghentakkan kakinya. Gadis itu kembali masuk ke kamar sambil menutup dan mengunci pintu kamar. Dia bersikap lebih waspada akan kejadian barusan.


"Ponsel di balikkan tapi casnya enggak, ngasih kok enggak niat." Gerutu Aneska. Dia berusaha untuk bisa tidur semua gaya di pakainya. Setelah berjuang akhirnya Aneska bisa tidur dengan pulas. Sampai dia tidak sadar kalau hari sudah pagi. Zidan mengetuk pintu kamar berkali-kali, tapi gadis itu tetap tidak membuka pintu kamar.


"Aneska buka pintunya." Teriak Zidan dari depan pintu sambil menggedor pintu kamar secara berulang. Zidan melakukannya secara berulang, setelah cukup lama ada suara seseorang memutar kunci dari dalam kamar yaitu Aneska.


"Berisik banget sih." Ucap Aneska dengan mata yang sedikit terpejam.


Zidan membelalakkan matanya melihat penampilan acak kadut Aneska.

__ADS_1


"Kenapa penampilanmu seperti orang baru selesai berkelahi." Tanya Zidan.


"Aku baru bangun, bukan baru selesai berkelahi." Jawab Aneska ketus.


"Tapi rambutmu kenapa berdiri? apa kamu baru kesetrum." Tanya Zidan lagi.


"Kalau hanya mau mengkritik penampilanku, aku tidur lagi nih." Ucap Aneska.


"Terserah mau macam apa penampilanmu, cepat mandi aku tunggu di ruang makan dan jangan lupa jawabannya." Ucap Zidan.


"Iya iya." Aneska menutup pintu kamar, sebelum masuk ke kamar mandi dia melihat penampilannya dari dalam cermin.


"Gila rambutku kenapa bisa amburadul seperti ini." Gumam Aneska sambil masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mandi gadis itu keluar dengan memakai pakaian yang semalam, rambutnya yang basah dibiarkan tergerai. Zidan memperhatikan gadis itu.


Kenapa dia terlihat seksi, apalagi rambutnya basah seperti itu.


"Apa semua ini kamu yang masak." Tanya Aneska.


Zidan sedang melamun sambil memandang gadis di depannya.


"Halo?" Aneska menjentikkan jarinya ke depan wajah Zidan.


"Kamu ngomong apa barusan." Ucap Zidan gugup.


"Pasti kamu lagi melamunkan aku yang cantik ini, iya kan?" Ucap Aneska sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri layaknya seorang model shampo.


"Geer kamu, aku heran kamu pakai shampo siapa." Zidan mengalihkan pembicaraan.


"Ya shampoku." Jawab Aneska ketus sambil menarik kursi makan.


"Aku makan ya." Aneska mengambil piring tapi dia teringat sesuatu.


"Mau makan enggak? kalau tidak aku buang." Ucap Zidan ketus.


"Jangan marah kenapa, judes amat." Gerutu Aneska sambil meludahi tangannya.


"Ih jorok, kenapa tanganmu kamu ludahi." Ucap Zidan jijik.


"Ludah ini untuk menghilangkan jampi yang ada di dalam semua makanan ini." Jelas Aneska.


Zidan menarik kursinya sendiri, mereka duduk di ujung meja saling berjauhan. Pria itu sekali-kali melirik ke arah Aneska, tapi gadis itu terlihat cuek dan menikmati makanannya.


"Apa kamu sudah ada jawabannya." Tanya Zidan di sela-sela makannya.


"Sudah." Ucap Aneska singkat.


"Apa jawaban kamu." Tanya Zidan lagi sambil menikmati makanannya.


"Kalau aku menerima lamaranmu, apa yang akan kamu lakukan untuk meyakinkan orang tuaku." Tanya Aneska balik.


"Tidak ada." Jawab Zidan singkat.


"Bagaimana tidak ada? kalau tiba-tiba aku pulang bawa seorang pria, aku bisa di pukul sapu sama ibuku." Jelas Aneska.


"Terus aku harus melakukan apa." Tanya Zidan lagi.


"Pikir dong, cari cara menjelaskan kepada orang tuaku. Jangan asal lamar saja." Gerutu Aneska.

__ADS_1


"Jadi kamu setuju dengan ideku." Tanya Zidan lagi.


"Mau gimana lagi, ini juga terpaksa." Jawab Aneska.


"Cepat habiskan makananmu, aku akan mengantarkanmu ke rumah orang tuamu." Ucap Zidan.


***


Keadaan di istana sedang kacau balau. Abian marah sejadi-jadinya. Dia kesal karena tidak dapat menemukan Aneska.


"Di mana perawat itu?" Ucap Abian marah.


"Mana mami tau." Jawab nyonya Rona takut.


"Mami sembunyikan di mana calon istriku! jawab!" Teriak Abian.


"Mami enggak tau sayang." Ucap nyonya Rona bohong. Abian marah, dia menghancurkan semua makanan yang ada di meja makan. Keluarganya sama sekali tidak berani menenangkannya.


Abian melihat sekelilingnya, dia mencari keberadaan Zidan.


"Mana Zidan!" Ucap Abian marah.


"Mami belum ketemu Zidan pagi ini." Ucap nyonya Rona bohong.


Prang prang semua piring di lemparkan ke lantai. Nyonya Rona, oma, Ila dan Tanisa hanya bisa menutup kupingnya. Sedangkan Farid hanya bisa tersenyum mengejek.


Abian berlari menuju lift, dia mencari Zidan ke segala tempat, tapi Abian tidak menemukan orang kepercayaan maminya.


Abian teringat sesuatu tentang ruang monitor, dia mencari Zidan melalui layar monitor. Zidan tetap tidak di temukan.


"Putar video kemaren malam." Perintah Abian kepada pekerja yang ada di dalam ruang monitor. Abian memperhatikan dengan seksama, dia melihat sosok wanita sedang berlari menuju garasi mobil. Abian memperbesar gambar yang ada di layar.


"Kenapa kalian tidak melihat ini semua." Ucap Abian kesal.


"Maaf tuan, kemaren malam kami ketiduran." Ucap salah seorang pekerja.


Prak, Abian memukul kepala dua pekerja itu dengan telapak tangannya.


"Kalian di bayar bukan untuk tidur? kenapa kalian bisa tidur bersamaan." Tanya Abian penasaran.


"Maaf tuan saya enggak ingat, yang kami ingat pak Zidan memberikan kami secangkir kopi. Setelah itu kami lupa." Prak Abian kembali memukul kepala dua penjaga. Dia kembali mencari maminya.


Di ruang makan oma Zulfa terlihat marah sama anaknya.


"Apa ini semua rencana kamu?" Ucap oma.


"Apa maksud mami." Tanya balik nyonya Rona.


"Jangan bohong, kamu yang merencanakan ini semua, apa kamu tidak kasihan sama Abian, dia anak kamu Rona, biarkan dia bahagia." Ucap oma.


"Mami tau apa! aku tau Abian menikahi gadis itu terpaksa karena dia." Nyonya Rona menghentikan kalimatnya.


"Karena apa mam." Timpal Tanisa.


"Karena aku adalah pewaris dari keluarga Bassam." Ucap Abian. Semua yang ada di ruangan itu melihat ke arah Abian. Termasuk Farid, dia seperti kalah satu langkah dari rencananya.


Bersambung.

__ADS_1


Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.


__ADS_2