
Aneska keluar dari istana menuju taman, Zidan mengikutinya. Aneska baru sadar ada yang mengikutinya.
"Kamu mau apa." Ucap Aneska sambil terus berjalan.
"Boleh kita bicara sebentar?" Ucap Zidan terus mengikuti Aneska sampai mereka berhenti di perkarangan.
"Apa?" Ucap Aneska.
"Aku mau minta maaf." Ucap Zidan.
"Aku maafkan." Ucap Aneska sambil berjalan lagi tapi Zidan memegang tangan Aneska.
"Mau apa lagi sih!" Aneska menghempaskan tangan Zidan.
"Anes apa kamu tidak mencintaiku." Ucap Zidan sambil menggenggam tangan Aneska.
"Aku mencintaimu? yang ada aku benci sama kamu." Ucap Aneska ketus.
"Kenapa Nes? kamu sudah memaafkan aku tapi kenapa masih membenciku." Ucap Zidan masih terus memegang tangan Aneska.
"Kenapa? seharusnya kamu sadar, karena kamu aku harus menikah dengannya, kalau saja aku tidak mengikuti saranmu pasti aku tidak menikah dengannya." Gerutu Aneska.
Abian sudah menyelesaikan arisannya, tidak tau nama siapa yang keluar. Dia mencari istrinya di dalam kamar. Abian tidak menemukan istrinya dari balkon dia melihat tangan istrinya sedang di pegang Zidan. Sontak Abian langsung bersiul. Zidan dan Aneska langsung mencari asal suara. Dari jauh mereka melihat Abian sedang berada di balkon dan memperhatikan keduanya.
Zidan langsung melepaskan tangan Aneska dari tangannya. Abian langsung buru-buru keluar kamar.
"Anes." Ucap Zidan. Aneska tidak memperdulikan Zidan, dia pergi ke taman bunga untuk mencari orang tuanya. Tapi Aneska mengurungkan niatnya untuk ke taman, dia memilih jalan lain untuk masuk ke dalam istana.
Abian sudah turun, dia melihat Zidan sedang berdiri di tempat yang sama di perkarangan.
"Mana Aneska!" seru Abian.
Zidan hanya menunjuk dengan tangannya, arah Aneska pergi.
"Jangan pernah ganggu dan rayu istriku!" seru Abian sambil menunjuk ke arah Zidan.
Abian melangkahkan kakinya mencari keberadaan istrinya. Dia menuju taman bunga, sesampai di taman bunga Abian menemukan mertuanya.
"Ibu Aneska mana?" Ucap Abian sambil melihat sekeliling taman.
"Anes kan tidur." Ucap ibu Desi sibuk dengan kegiatannya menanam bunga.
"Udah bangun bu, tadi kata Zidan, Aneska pergi ke arah sini." Jelas Abian.
__ADS_1
"Enggak ada loh, apa kamu pikir ibu menyembunyikan istri kamu." Ucap ibu Desi.
Abian keluar dari taman mencari ke sekeliling pekarangan istana tapi Aneska tidak ada.
"Apa mungkin dia di kamar." Gumam Abian sambil masuk ke dalam istana. Di dalam kamarnya Aneska juga tidak ada, Abian teringat teman istrinya yaitu Tami. Dia pergi ke arah dapur mencari keberadaan Tami.
Ibu Tatik melihat Abian yang sedang melihat sekeliling dapur. Wanita paruh baya itu menghampiri Abian.
"Ada yang bisa di bantu tuan." Ucap ibu Tatik.
"Di mana Tami dan istriku? apa kamu melihatnya." Tanya Abian.
"Tami ada bersama pelayan sedang menyiapkan meja untuk coffee time untuk para pekerja, kalau perawat itu saya tidak melihatnya." Ucap ibu Tatik.
"Nona! bukan perawat tapi nona Aneska, apa anda paham!" Bentak Abian.
"Pa pa paham tuan." Ucap ibu Tatik gugup.
"Cari istriku dan panggil Tami ke sini!"
"Baik tuan." Ibu Tatik pergi mencari Tami setelah menyampaikan pesan majikannya, wanita paruh baya itu mencari Aneska.
Abian mondar-mandir di salah satu ruangan. Tami menghampiri majikannya.
"Di mana Aneska?"
"Bukannya Anes eh nona Aneska bersama dengan tuan." Ucap Tami.
"Kalau dia bersama denganku ngapain aku tanya kamu!" Ucap Abian marah.
"Kamu ingat tugas kamu untuk menjaga dan melaporkan semua tentang istriku, tapi apa! belum satu hari kamu sudah lalai." Ucap Abian marah.
"Maaf tuan, saya membantu pelayan yang lain." Ucap Tami sambil menundukkan kepalanya takut.
"Itu tidak penting, tugas kamu menjaga dan menemani istriku, paham!" bentak Abian lagi.
"Paham tuan." Ucap mbak Tami.
"Sekarang cari keberadaan istriku kalau perlu ajak pelayan yang lain untuk mencari Aneska, dan ingat sebelum makan malam harus udah ada kabar." Ucap Abian sambil berlalu meninggalkan Tami. Tami langsung bergerak cepat mencari Aneska. Karena batas waktu hanya beberapa jam lagi, Tami melewatkan coffee time sore hari, dia lebih memilih mencari keberadaan Aneska.
Setelah coffee time selesai, Tami meminta bantuan kepada pelayan lainnya untuk mencari Aneska. Suasana istana menjadi ricuh karena sudah dua jam Aneska tidak di temukan. Keluarga Aneska juga panik, pikiran ibu Desi tentang anaknya jadi entah kemana.
"Pak, ibu takut kalau Aneska bunuh diri." Ucap ibunya khawatir.
__ADS_1
Abian mendengar perkataan mertuanya, mendengar hal itu dia tambah khawatir dan panik. Hilangnya Aneska terdengar sampai ke telinga nyonya Rona dan anaknya. Mereka terlihat sangat senang kalau itu menjadi kenyataan. Tapi Farid berpikir beda, dia tidak senang kalau Aneska mati atau hilang.
"Mami jangan senang dulu, kalau sampai Aneska hilang atau bunuh diri, harta warisan yang dua puluh lima persen tidak akan pernah kita dapatkan, harta itu akan tertanam selamanya." Jelas Farid.
Nyonya Rona dan anaknya memikirkan ucapan Farid, ucapan Farid ada benarnya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan." Tanya nyonya Rona bingung.
"Kita harus ikut mencari keberadaan wanita itu." Ucap Farid.
"Baiklah kerahkan seluruh pelayan untuk mencari wanita itu, dan mami akan mengecek di layar monitor." Ucap nyonya Rona.
Semua mencari keberadaan Aneska dari luar istana sampai dalam istana, tapi wanita itu tetap tidak di temukan. Telah tiba waktu makan malam, Aneska masih belum ketemu.
"Bapak Aneska kemana, hiks hiks." Ibu Desi menangis.
"Bapak juga tidak tau, kita berdoa semoga Aneska cepat di temukan." Ucap pak Mirza.
Abian mencoba mencari melalui ruang monitor. Di dalam ruangan itu ada Zidan dan maminya.
"Di mana mami sembunyikan Aneska!" Ucap Abian marah.
"Mana mami tau, mami juga sedang mencarinya di sini." Ucap nyonya Rona sambil menunjuk arah monitor yang langsung menghubungkan ke kamera.
"Apa ada hasil." Tanya Abian.
"Belum ada." Jawab maminya.
"Putar beberapa jam yang lalu." Perintah Abian kepada dua pria yang bertugas mengawasi monitor kamera.
Video beberapa jam yang lalu di putar semua yang ada Aneska di tampilkan. Dan pada saat di lorong dekat kamar, Aneska langsung tidak ada.
"Seharusnya dia ada di belakang pelayan yang sedang bersih-bersih tapi kenapa tiba-tiba menghilang." Ucap Abian bingung.
"Perbesar lagi kameranya di tempat yang sama pada saat Aneska hilang." Perintah Abian. Salah satu pria memutar lagi dan memperbesar video tersebut.
"Tunggu, lihat itu ada tangan yang memegang handle pintu kamar Aneska, dia tidak hilang tapi badannya tertutupi sama pelayan gemuk tinggi ini." Ucap Abian sambil berlari dari luar ruang monitor. Zidan mengikuti Abian dari belakang.
Ibu Desi dan suaminya melihat Abian sedang berlari tergesa-gesa.
"Pak, sepertinya Aneska sudah di temukan, ayo kita ikuti Abian." Ucap ibunya.
Bersambung.
__ADS_1
Sesuai janji author ya, update lagi😍