
Tanisa dan Farid terpaksa keluar dari apartemen itu. Rencananya telah gagal. Farid memukul setir mobil berkali-kali.
"Ini semua karena kamu!" Farid menuding istrinya.
"Salahkan terus aku! kalau kamu tidak mencuri tidak mungkin aku bersandiwara seperti ini." Teriak Tanisa marah.
"Awas sekali lagi kamu bilang aku pencuri!" Ancam Farid. Tanisa menutup mulutnya rapat, ingin rasanya dia memaki suaminya tapi ancaman itu lebih menakutkan dari segalanya.
"Sekarang pikirkan cara agar kamu bisa hamil." Ucap Farid.
"Aku sudah tidak bisa berpikir lagi, lebih baik kita mengatakan ke mami kalau aku mengalami keguguran." Jelas Tanisa.
"Kalau keguguran sama saja kamu tidak hamil." Farid terlihat bingung dan menghentakkan kepalanya ke sandaran kursi secara berulang.
"Lebih baik seperti itu, nanti kita minta mami untuk merayu Abian agar mengizinkan kita untuk tinggal sementara waktu, sambil memikirkan cara selanjutnya." Jelas Tanisa.
"Baiklah kalau begitu kita kembali ke istana, aku penasaran siapa yang menguping pembicaraan kita." Farid menyalakan mesin mobilnya kembali ke istana.
***
Hari sudah sore Aneska dan keluarganya bersiap-siap berangkat ke bandara, sebelum berangkat nyonya Rona mendatangi kamar menantunya.
Pintu kamar di ketuk.
"Sebentar." Teriak Aneska dari dalam kamar sambil berjalan membuka pintu kamarnya. Dia kaget melihat mertuanya ada di depan pintu kamarnya.
"Aneska boleh mami masuk." Ucap nyonya Rona.
Aneska menganggukkan kepalanya mempersilahkan wanita paruh baya itu masuk.
"Ada apa?" Aneska langsung mengajukan pertanyaan, karena dia tau mertuanya bukan wanita yang ramah ke dirinya.
"Mengenai tangan kamu yang luka, mami mohon jangan bilang ke Abian." Nyonya Rona mengatupkan kedua tangannya di hadapan Aneska.
"Kenapa? apa tante takut?" tanya Aneska ketus.
"Kemarahan Abian akan membawa bencana untuk semuanya, kamu tau bagaimana Abian sangat menyayangi kamu, apa kamu tega melihat orang tua kandungnya di siksa seperti Farid." Nyonya Rona mendramatisir keadaan.
"Aku rasa Abian tidak seperti itu, mana mungkin dia menghajar ibu kandungnya sendiri." Sahut Aneska.
"Kamu mungkin belum pernah melihatnya, tapi jika kamu mengatakan ke Abian, itu sama saja kamu membuat Abian jadi anak durhaka." Nyonya Rona membuat Aneska menjadi merasa bersalah atas tindakannya nanti.
"Jika itu kemauan tante, aku tidak akan mengatakannya ke Abian." Ucap Aneska.
"Terima kasih Aneska." Nyonya Rona senang.
"Tidak perlu berterima kasih, aku melakukan ini hanya untuk suamiku bukan tante." Ucap Aneska tegas.
Aneska tidak menginginkan suaminya menjadi pria yang temperamental, dia tau ini hanya akal-akalan mertuanya yang mengatakan Abian akan menghajar ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Jika sudah selesai silahkan tante keluar." Usir Aneska.
Nyonya Rona terlihat kesal tapi dia berusaha untuk tersenyum. Wanita paruh baya itu berjalan ke pintu kamar, kemudian dia membalikkan badannya lagi.
"Aneska, mami lihat kamu tadi bersembunyi di balik gorden, kenapa?" tanya nyonya Rona.
Aneska langsung diam, dia ingin mengatakan yang sesungguhnya ke mertuanya, tapi dia tidak ada bukti yang cukup kuat.
"Oh itu." Aneska gugup.
"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu ke mami?" tanya nyonya Rona.
"Tidak ada." Jawab Aneska cepat.
"Baiklah." Nyonya Rona meninggalkan kamar itu.
"Tunggu." Ucapan Aneska menghentikan langkah nyonya Rona.
"Apa kamu mau mengatakan sesuatu ke mami?" tanya nyonya Rona dengan wajah penuh kemenangan, karena Aneska menurutnya mau mengatakan sesuatu yang penting.
"Jangan pernah memberitahukan kepada siapapun tentang aku bersembunyi di balik gorden, atau apapun yang tante lihat dari layar monitor." Ucap Aneska.
"Kenapa? apa ada yang membuat kamu takut?" tanya nyonya Rona sambil tersenyum sinis.
"Tidak ada yang membuatku takut karena aku tidak bersalah hanya saja aku masih mengumpulkan bukti, jika bukti itu terungkap kalian semua akan tau." Jelas Aneska.
"Bukti?" nyonya Rona tambah penasaran.
Nyonya Rona mengerutkan dahinya, sebenarnya dia ingin mengorek informasi dari anak sulungnya dan mengatakan ke Tanisa kalau Aneska yang telah menguping pembicaraan Tanisa dan suaminya, tapi jika dia mengatakan sama saja mencari mati.
"Baiklah rahasia kamu aman sama tante, tapi ingat jangan mengatakan ke Abian." Ucap nyonya Rona mengulurkan tangannya.
"Ok." Mereka berdua bersalaman. Ibu Desi yang sedang berdiri di depan pintu langsung sewot.
"Apa-apaan ini." Ucap ibu Desi marah.
Aneska dan nyonya Rona langsung melepaskan salamannya.
"Anes apa kamu baru membuat kesepakatan dengan nenek sihir ini?" tanya ibunya sambil menatap tajam ke besannya.
Nyonya Rona memilih kabur dari pada harus mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Enggak bu." Ucap Aneska sambil menutup pintu kamar.
"Lalu apa? kenapa kamu terlihat bersahabat dengannya." Ibu Desi menaruh curiga ke anaknya. Dia khawatir anaknya telah pro ke musuhnya.
"Ibu duduk dulu." Aneska membawa ibunya untuk duduk di sofa.
"Kami membuat kesepakatan." Aneska belum selesai berbicara tapi ibunya sudah menyela pembicaraannya.
__ADS_1
"Kesepakatan seperti apa?" tanya ibu Desi penasaran.
Aneska menceritakan tentang dirinya mendengar pembicaraan penting antara Tanisa dan Farid dan bersembunyi di balik gorden agar dirinya tidak tertangkap basah oleh pasangan suami istri itu.
"Kamu mendengar apa?" tanya ibu Desi lagi.
"Udahlah bu, nanti Anes kasih tau, soalnya Aneska belum punya bukti." Jelas Aneska.
"Apa hubungannya dengan nenek sihir?" tanya ibunya lagi.
Aneska menceritakan kalau dirinya terlihat di layar kamera, dia khawatir kalau mertuanya akan mengatakan ke anaknya.
"Seperti itu ceritanya bu."
Ibu Desi mulai paham, walaupun dia tidak tau apa yang di dengar anaknya, tapi dia yakin ada sesuatu rahasia besar yang membuat anaknya harus mengumpulkan bukti-bukti.
"Baiklah ibu mengerti." Ibu Desi melihat koper anaknya yang sudah tersusun rapi.
"Jam berapa kita berangkat?" tanya ibunya.
"Sekarang bu." Jawab Aneska.
"Ibu tunggu di bawah ya." Ucap ibunya sambil keluar dari kamar anaknya.
"Iya bu." Sebelum berangkat dia mengecek pakaian kerja suaminya. Yang telah di jadwalnya untuk seminggu ke depan.
Dia menarik kopernya sambil memperhatikan tempat tidurnya, dimana dia akan merindukan pelukan dan belaian suaminya.
Di depan pintu semua sudah menunggu Aneska. Koper Aneska di bawa pelayan masuk ke bagasi mobil.
Ila pamit ke maminya dan omanya.
"Semoga kamu menang." Ucap oma menyemangati cucunya.
"Doakan ya oma." Ucap Ila sambil melambaikan tangannya ke mami dan omanya.
Aneska hanya memeluk oma Zulfa.
"Aku titip Abian ya oma." Bisik Aneska.
"Iya sayang hati-hati bersenang-senanglah." Ucap oma.
Mereka memasuki mobil dan meninggalkan istana Bassam untuk seminggu ke depan.
Oma Zulfa melirik anaknya Rona.
"Apa seperti itu cara kamu melepaskan kepergian Ila." Sindir oma.
"Maksud mami apa?"
__ADS_1
"Setidaknya beri semangat untuknya agar kamu masih di anggap ada olehnya." Sindir oma sambil berlalu meninggalkan anaknya Rona.
Bersambung...