
Aneska dan Abian kaget karena ibu Desi datang tiba-tiba.
"Idih ibu, datang tak di undang pulang tak di antar." Ujar Aneska.
"Kamu pikir ibu jaelangkung." Sahut ibunya sewot.
"Sejak kapan ibu di sini?" tanya Aneska penasaran.
"Sejak kamu lahir ibu di sini." Sahut bu Desi cuek dan langsung berlalu meninggalkan anak dan menantunya.
"Apa ibu kamu selalu seperti itu?" tanya Abian dengan cara berbisik.
"Ibu mendengar pembicaraan kalian. Gunakan bahasa isyarat agar ibu tidak dengar." Teriak ibu Desi dan langsung masuk ke dalam rumah.
Aneska dan Abian saling pandang, menurut mereka ibu Desi bukan hanya seperti jaelangkung tapi seperti Roy Kiyosi.
***
Tiara dan Zidan masih berada di dalam mobil, tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Tiara lebih memilih melihat ke jalanan dari pada harus berbincang dengan Zidan.
"Apa kita akan seperti ini sampai tiba di kota?" tanya Zidan memulai pembicaraan.
Tiara tidak menjawab dan dia melihat ke arah mobil sejuta umat sedang berhenti di pinggir jalan.
"Stop." Titah Tiara.
"Kenapa kamu minta berhenti? apa kamu marah karena sikap saya yang kemarin malam." Ujar Zidan.
"Bukan itu udah berhenti cepat." Zidan mengikuti kemauan Tiara.
"Mundur." Zidan masih mengikuti dengan memundurkan mobilnya.
Ketika mobil telah berhenti Tiara langsung turun. "Ini cewek kenapa juga turun." Zidan khawatir dan dia ikut turun.
Ternyata dia baru mengerti jika yang di lihat Tiara adalah Aldo dan Dimas.
"Rasain loh." Ejek Tiara.
"Oh Tiara akhirnya kamu datang." Ujar Aldo senang dan ingin memeluk temannya tapi ada sosok pria di belakang Tiara yang sedang siap memakannya.
"Lihat karena sumpah kamu, mobilku mogok." Rengek Aldo.
"Makanya jangan jahil, siapa suruh menjahili perawan." Ujar Tiara ketus.
"Ye yang mau kawin langsung pamer ke calon suaminya." Sindir Dimas. Tiara tidak sadar dengan ucapannya dan ketika dia menoleh ke belakang Zidan tersenyum sumringah senang.
"Jangan pergi dulu ya pak." Rayu Aldo.
"Ogah, yuk pak kita pulang." Tanpa sadar dia menarik tangan Zidan dan ketika sampai di dekat mobil dia langsung menepis tangan Zidan.
__ADS_1
"Tadi kamu yang memegang tangan saya, kenapa sekarang di lepas?" tanya Zidan bingung.
"Tadi hanya iklan." Sahut Tiara dan langsung duduk di mobil.
Dokter Arif dan Tami sedang dalam perjalanan. Sama seperti Tiara dan Zidan, keduanya juga tidak melakukan pembicaraan.
Tami memilih mendengarkan musik menggunakan headset ponselnya. Dokter Arif hanya melirik sekilas dan dia segan untuk memulai pembicaraan.
"Pak lurus." Ujar Tami masih dengan headsetnya. Dokter Arif mengikuti ucapan Tami. "Belok kanan." Ujar Tami lagi. Dan terus berulang di ucapkan Tami.
"Tami kenapa kamu terus mengatakan lurus, belok kanan belok kiri." Gerutu dokter Arif. Tapi ucapan dokter Arif tidak terdengar oleh Tami. Dia sedang menikmati alunan musik dari ponselnya.
Karena tidak terdengar dokter Arif menarik headset perawatnya. "Dokter apa yang anda lakukan!" seru Tami sewot.
"Apa kamu dengar semua yang saya katakan dan tanyakan ke kamu?" tanya dokter Arif seraya tetap fokus menyetir dan hanya sesekali melihat ke arah Tami.
"Dokter berbicara dengan saya?" tanya Tami balik.
"Bukan, saya baru berbicara dengan setir ini." Berujar kesal seraya menunjuk setir mobilnya.
Tami membulatkan mulutnya. "Dokter ngomong apa tadi?" tanya Tami balik.
"Saya tanya sama kamu, kenapa kamu selalu memerintahkan saya belok kanan lurus belok kiri?"
"Karena anda rabun senja." Sahut Tami.
"Hah?" dokter Arif menoleh ke wanita di sampingnya.
"Dan kamu percaya saja dengan ucapan Zidan dan Abian?"
Tami menganggukkan kepalanya.
"Saya jelaskan ke kamu, kalau mata saya tidak ada masalah." Jelas dokter Arif. Dan Tami kegirangan karena melihat mobil Aldo.
"Dok berhenti itu Aldo dan Dimas." Dokter Arif melihat kaca spion mobil. Dia memundurkan mobilnya.
Tami langsung turun dan membawa keluar tasnya. "Kenapa semua barang kamu di bawa turun?" tanya dokter Arif.
"Terima kasih atas tumpangannya, saya ikut Aldo." Tami menghampiri temannya. Aldo dan Dimas senang karena temannya datang.
"Mobil kalian kenapa?" tanya dokter Arif.
"Mogok dok, kami sedang nunggu mobil derek." Jelas Aldo.
"Jadi mobil ini tidak bisa di gunakan?" tanya Tami.
"Iya enggak." Sahut Aldo.
"Dok kami numpang ya, tunggu sampai mobil derek datang." Ujar Dimas dengan wajah memelas.
__ADS_1
Dokter Arif menganggukkan kepalanya dan menoleh ke arah Tami. Wanita itu kesal seharusnya dia dapat bebas dari dokter Arif, tapi nyatanya dia harus satu mobil kembali.
Tami kembali ke mobil dan tiga pria masih menunggu mobil derek. Setelah tiga puluh menit mobil derek datang. Aldo dan Dimas masuk ke dalam mobil dokter Arif.
"Ya ampun udah molor." Ceplos Aldo melihat Tami telah menutup matanya.
Dokter Arif melajukan mobilnya seraya mengobrol dengan dua perawat yang sekarang duduk di baris kedua.
"Dari jam berapa mobil kamu mogok?" tanya dokter Arif.
"Dari tadi dok, yang lama nunggu mobil derek. Tadi Tiara dan pak Zidan lewat. Tapi Tiara enggak mau menemani kami." Curhat Aldo dan melirik ke arah samping.
"Ya pada molor." Gumam Aldo.
Dimas dan Tami telah tidur. Karena tidak ada percakapan lago antara dokter Arif dan Aldo. Akhirnya perawat itu ikut tertidur. Tinggal dokter Arif sendiri yang fokus menyetir mobil. Dan ketika belokan yang tajam tanpa sengaja kepala Tami bersandar di bahu dokter Arif.
Dokter Arif ingin memindahkan kepala Tami tapi dia tidak ingin menyentuh perawatnya. Dia tetap menyetir dan sesekali melirik ke bahunya.
Belum pernah dia mengalami hal seperti ini, apalagi cukup lama bahunya di jadikan sandaran seorang wanita.
***
"Pak, saran saya tidak usah mencari guru les bahasa jawa." Tiara memulai pembicaraan.
"Kenapa?" tanya Zidan bingung.
"Karena akan sia-sia. Dan saya juga enggak mau nikah sama bapak." Jelas Tiara.
"Tapi saya mau." Sahut Zidan balik.
"Kok maksa sih." Gerutu Tiara.
"Kan sudah saya bilang kalau saya serius mempersunting kamu." Jelas Zidan.
"Pak saya kasih tau ya, nikah yang tidak di dasari cinta itu enggak enak." Tiara tetap berusaha agar Zidan membantalkan niatnya.
"Kan belum di coba, tapi pikiran kamu salah. Aneska dan tuan Abian awalnya tidak ada cinta. Aneska sangat membenci tuan Abian, tapi kamu lihat sekarang mereka saling mencintai." Jelas Zidan.
"Sepertinya bapak cukup kenal dengan tuan Abian dan Aneska. Apa bapak juga suka sama Aneska?" tanya Tiara.
Pertanyaan Tiara sangat mengejutkan buatnya. Karena dia pernah menyukai Aneska tapi sekarang dia telah melupakan wanita yang telah menjadi milik orang.
"Kenapa kamu mengatakan seperti itu?" tanya Zidan balik.
"Pak, Aneska itu perawat paling cantik, banyak perawat yang jatuh hati padanya dokter Arif aja pernah naksir sama Aneska tapi enggak tau itu gosip apa kenyataan. Dan tidak mungkin bapak gak melirik gadis secantik Aneska."
Zidan terdiam, tidak mungkin dia mengatakan tentang perasaannya dulu. Dia masih berpikir jernih untuk tidak menyakiti perasaan Tiara. Walaupun Tiara belum mencintainya tapi dia tetap menjaga perasaan calon istrinya.
Bersambung...
__ADS_1
🌹🌹🌹
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014