
Pasangan suami istri itu akhirnya terlelap, entah berapa ronde dalam satu malam yang jelas keduanya sama-sama menikmati. Mereka tertidur dengan pulasnya tanpa menyadari sang mentari sudah muncul.
Suara ketukan dari pintu mengagetkan Abian dari tidurnya. Dia melihat istrinya yang masih tertidur dengan mengenakan selimut yang menutupi tubuh moleknya.
Abian tersenyum sambil mengecup dahi istrinya.
Dia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan sebelum membuka pintu dia menyambar kimononya. Dengan mata mengantuk dia menggapai handle pintu. Ada maminya sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ngapain mami pagi-pagi begini menggangguku." Ucap Abian ketus.
"Mami mau bicara, penting!" ucap nyonya Rona menekan intonasinya sambil melirik ke dalam kamar anaknya. Mencari tau wajah selingkuhan anaknya.
Melihat mata maminya yang ke sana kemari membuat Abian keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
"Bicarakan saja di sini." Ucap Abian ketus sambil melipatkan kedua tangannya di dadanya dan bersandar pada dinding.
"Sebaiknya di ruang kerja, tidak baik jika di dengar orang." Ucap nyonya Rona.
"Ok." Jawab Abian sambil melangkahkan kakinya menuju ruang kerja, kemudian dia berbalik ke kamarnya khawatir ada yang melihat istrinya yang tidak memakai baju sama sekali. Abian mengambil kunci dari dalam kamarnya dan mengunci istrinya dari luar.
Pasti dia takut kalau perselingkuhannya di ketahui orang lain.
Nyonya Rona tersenyum penuh kemenangan dan berjalan menuju ruang kerja meninggalkan anaknya yang sedang mengunci kamarnya.
Wanita paruh baya itu duduk di sofa yang ada di ruang kerja sambil menanti kehadiran anaknya. Ceklek pintu terbuka Abian menutup pintu dengan kakinya dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
"Jelaskan padaku apa yang penting! Waktu mami hanya sepuluh menit menjelaskannya." Ucap Abian tegas sambil melihat jam dinding.
Nyonya Rona tidak menyiakan waktunya.
"Mami lihat tadi malam ada seorang wanita masuk ke dalam kamar kamu, siapa dia?" tanya nyonya Rona.
Belum sempat Abian menjelaskan maminya sudah mengajukan pertanyaan lagi.
"Apa itu selingkuhan kamu?" tanya maminya lagi.
"Hahaha." Abian tertawa.
Nyonya Rona bingung dengan sikap anaknya yang tidak ada rasa takut dama sekali. Malah anaknya tertawa seperti tidak mengalami hal besar.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Katakan siapa wanita itu? berani kamu berselingkuh di belakang Aneska." Ucap maminya seolah-olah membela menantunya.
__ADS_1
Abian mengerutkan dahinya, dia mulai mengerti maksud ucapan maminya.
"Memangnya kenapa kalau aku berselingkuh." Ucap Abian santai mengikuti permainan maminya.
"Kenapa? apa kamu tidak kasihan dengan wanita itu, dia sudah kamu paksa menikah dan sekarang kamu selingkuhi, di mana rasa kemanusian kamu Abian." Nyonya Rona berakting seperti mengasihani Aneska.
"Namanya Aneska bukan wanita itu." Ucap Abian tegas.
Nyonya Rona tambah bingung dengan sikap anaknya yang berselingkuh di belakang Aneska tapi tidak terima jika nama istrinya tidak di sebut dengan benar.
"Iya Aneska, mami tidak terima jika kamu menyakitinya. Apa lagi kalau sampai selingkuhan kamu hamil terus Aneska tau, bagaimana Abian?" ucap maminya berakting pura-pura cemas.
"Kalau selingkuhanku hamil aku nikahi dia, repot amat." Ucap Abian santai.
"Enggak mami tidak setuju hanya ada satu istri tidak boleh dua, kamu harus memilih Aneska atau selingkuhan kamu." Ucap nyonya Rona tegas.
Abian tersenyum menyeringai dia tau tentang rencana licik maminya yaitu menyingkirkan Aneska.
"Terus aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku berpisah dengan Aneska apa lagi mas kawin sudah aku berikan ke dia." Ucap Abian pura-pura bingung.
"Hemm." Nyonya Rona pura-pura sedang berpikir.
"Sudah, Aneska menggunakan saham itu untuk membeli perusahaan kita jadi itu artinya Aneska pemilik kedua setelah aku." Ucap Abian bohong.
Gawat! tidak mungkin Aneska bercerai sama Abian kalau dia saja pemilik nomor dua, bisa-bisa aku dan yang lainnya di tendang sama wanita itu.
"Mami jadi bingung, kamu sih terlalu baik sama Aneska coba kamu serahkan sama mami dan kakak kamu pasti tidak akan runyam masalahnya. Kalau dia tau kamu berselingkuh bagaimana?" nyonya Rona semakin panik.
Ingin Abian tertawa sekencang-kencangnya. Maminya kejebak dalam permainan dan ucapannya sendiri.
"Saran aku biarkan masalah ini aku yang hadapi." Ucap Abian sambil beranjak dari sofa.
"Bagaimana dengan selingkuhan kamu? apa kamu mencintainya?" tanya nyonya Rona penasaran.
"Tentu aku mencintainya malah sangat mencintainya apalagi tadi malam kami telah melakukannya berkali-kali." Jelas Abian.
"Berkali-kali? Abian, mami tidak ingin kamu mempunyai dua istri, ceraikan Aneska atau tinggalkan wanita selingkuhan kamu." Ucap nyonya Rona tegas.
"Tidak akan, aku masih sanggup melayani keduanya. Kalau perlu keduanya akan aku letakkan dalam satu kamar yang sama." Abian keluar dari ruang kerja dengan tersenyum menyeringai. Sedangkan nyonya Rona merasa jijik dengan ucapan anaknya yang ingin meletakkan dua wanita dalam satu kamar.
Abian masuk ke kamarnya dan melihat istrinya masih tertidur. Dia merapikan rambut halus yang menutupi sebagian wajah indahnya.
__ADS_1
"Sepertinya tadi malam bukan Aneska yang aku kenal, kamu sangat liar sayang tapi aku sangat suka." Ucap Abian sambil melihat wajah istrinya.
Dia mencoba memikirkan penyebab perubahan sikap istrinya yang jadi liar.
"Aku sangat menyukai permainan kamu tadi malam tapi aku akan mencari tau." Gumam Abian sambil keluar dari kamarnya dan menuju ruang monitor.
Abian memegang handle pintu ruang monitor dan menggerakkan handle itu tapi pintu tidak bergerak sama sekali.
Tok tok tok Abian mengetuk pintu.
"Buka pintunya!" teriak Abian.
"Maaf tuan, kata nyonya tidak ada siapapun boleh masuk ke dalam ruangan ini selain nyonya." Ucap seorang pria yang sedang memantau layar kamera.
"Siapa yang gaji kalian? Saya apa mami!" teriak Abian lagi.
Kedua pria yang ada di ruang monitor saling pandang.
"Nyonya Rona memang nomor dua untuk usia umur dari oma Zulfa tapi kekuasaan tertinggi ada di tangan tuan Abian." Ucap salah satu pekerja.
Akhirnya pintu di buka.
"Maaf tuan." Ucap para pekerja.
"Mulai hari ini tidak ada yang boleh masuk ke ruangan ini tanpa seizin saya." Ucap Abian tegas.
"Tapi nyonya Rona bilang." Ucap pekerja gugup.
"Siapapun itu, jika mereka mau masuk harus minta izin dari saya, kalian paham!" ucap Abian tegas.
"Paham tuan." Ucap keduanya.
"Sekarang kalian berdua keluar, jaga pintu jangan beri izin kepada siapapun."
"Baik tuan."
Abian memutar rekaman video satu hari yang lalu. Dia melihat ada kakaknya sedang berbicara dengan suaminya dan Aneska mencoba menguping pembicaraan Tanisa dan Farid. Sampai Aneska menabrak sesuatu dan bersembunyi dan pasangan suami istri itu mencari orang yang mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.
"Apa yang di dengarkan Aneska. Apa itu sesuatu yang sangat penting sampai mereka ketakutan." Gumam Abian.
bersambung...
__ADS_1