Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 57


__ADS_3

Pemilik butik sudah pergi meninggalkan butiknya. Aneska masih bingung dengan semuanya.


"Apa pemilik butik selalu seperti itu." Tanya Aneska sama Lina.


"Iya, nona Zira orang yang sangat dermawan." Ucap Lina.


"Apa enggak rugi? kalau ratusan orang dapat gratisan." Tanya Aneska lagi.


"Nona Zira tidak memikirkan rugi untungnya, butik ini hanya hobinya. Bisnisnya yang lain masih banyak." Jelas Lina.


Abian melihat jam tangannya.


"Mbak, apa sudah selesai." Tanya Abian.


"Sudah." Jawab Lina singkat.


"Kalau begitu kami permisi dulu. Ucapkan terima kasih kami sama nona Zira." Ucap Abian.


"Baik, akan saya sampaikan." Ucap Lina.


Abian dan Aneska kembali ke mobil. Mobil langsung menuju Bassam corporation.


"Cantik banget." Gumam Aneska.


"Siapa?" ucap Abian.


"Pemilik butik, pasti suaminya juga ganteng." Ucap Aneska.


"Hei, kenapa kamu memikirkan suaminya." Ucap Abian cemburu.


"Aku enggak memikirkan suaminya, aku hanya berpikir kalau istrinya saja cantik apalagi suaminya." Jelas Aneska.


"Itu sama saja." Ucap Abian ketus.


"Ah malas bicara samaku." Aneska memilih untuk mengalah.


Setelah melewati beberapa lampu lalu lintas, akhirnya mobil yang di kemudikan Abian tiba di gedung perkantoran. Aneska melihat gedung yang menjulang tinggi.


"Wow tinggi banget, bersihkan kacanya gimana ya." Gumam Aneska. Pintu mobil di bukakan sekuriti. Aneska keluar dari mobil sambil terus melihat tingginya gedung.


"Awas terkilir." Bisik Abian sambil menggandeng tangan istrinya. Keadaan loby tidak terlalu ramai karena karyawan sudah mulai bekerja. Hanya ada beberapa karyawan yang ada di situ, mereka ada keperluan di loby kantor. Ketika petinggi perusahaan masuk gedung, karyawan dan resepsionis yang kebetulan berada di loby langsung mulai berasumsi tentang siapa gadis yang di gandeng Abian. Pikiran mereka tentang putusnya Abian dan Vania terjawab sudah dengan hadirnya sosok wanita yang lain.


Abian dan Aneska sudah tiba di lantai ruangan. Tya sang sekertaris langsung mengerutkan dahinya.


"Pagi pak." Sapa Tya.


"Pagi." Ucap Abian sambil menggenggam tangan istrinya masuk ke dalam ruangannya.


Aneska memperhatikan setiap sudut ruangan.


"Aku ada meeting, kamu di sini saja. Kalau butuh minum tinggal minta sama sekertaris di depan. Mau tidur ada kasur di bagian belakang ruangan." Abian menunjukkan ruangannya.


"Iya, tapi aku lapar." Ucap Aneska pelan.


"Oh iya, aku lupa kalau kamu belum makan. Tapi aku ada meeting penting." Abian bingung.


"Aku cari sendiri saja. Aku pastikan sebelum meeting selesai, aku sudah balik." Ucap Aneska.


"Enggak ada keluar gedung selain sama aku titik." Ucap Abian tegas sambil mengambil telepon yang ada di meja dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Ke ruangan saya sekarang." Ucap Abian.


Tidak berapa lama pintu di ketuk.


"Masuk." Ucap Abian. Tya masuk ke dalam ruangan bosnya.


"Iya pak." Ucap Tya.


"Siapa nama kamu?" ucap Abian.


"Tya pak."


"Ok Tya, kamu tau tempat makan yang menyajikan makanan rumahan." Tanya Abian.


"Makanan rumahan? contohnya." Tanya Tya. Abian bertanya kepada Aneska dengan menggerakkan kepalanya ke arah istrinya.


"Masakan rumahan seperti udang sambal, urap dan banyak lagi." Jelas Aneska.


"Di dekat sini saya enggak tau pak. Kenapa tidak makan di kantin saja." Ucap Tya.


"Oh iya, saya lupa kalau gedung ini ada kantin. Baiklah antarkan istri saya ke kantin." Ucap Abian. Tya langsung membelalakkan matanya, ucapan bosnya membuat dia dan karyawan lainnya akan patah hati.


"Baik pak." Ucap Tya.


"Aku mau meeting, selesai makan balik lagi ke sini. Ingat jangan keluar gerbang." Ucap Abian sambil mengelus pipi istrinya. Melihat kemesraan itu Tya langsung membalikkan badannya.


"Tya antar istri saya ke kantin." Perintah Abian.


"Baik tuan, mari bu." Ucap Tya ramah. Aneska dan Tya jalan beriringan menuju lift. Sekertaris itu menekan lantai dasar tempat loby berada. Kantin berada di luar gedung di dekat area parkiran. Zidan baru memarkirkan mobilnya dan sekilas melihat sosok Aneska sedang berjalan dengan sekertaris Abian.


"Aneska." Gumam Zidan sambil mengikuti keduanya dari belakang.


"Terima kasih, kamu pasti lagi sibuk ya? tinggalkan saja aku sendiri di sini." Ucap Aneska.


"Nanti pak Abian marah kalau saya meninggalkan ibu di sini sendirian." Ucap Tya.


"Jangan panggil ibu panggil saja Aneska sepertinya kita seumuran." Ucap Aneska sambil mengulurkan tangannya.


"Tya." Ucap Tya menyambut uluran tangan Aneska.


"Yakin tidak mau saya temani." Ucap Tya lagi.


"Yakin, setelah makan aku akan langsung kembali ke ruangan." Ucap Aneska. Karena pekerjaan Tya banyak akhirnya wanita itu meninggalkan istri bosnya di kantin sendirian.


Sebelum kembali ke loby Tya berpapasan dengan Zidan.


"Pagi pak." Ucap Tya.


Zidan menganggukkan kepalanya sambil masuk ke kantin. Aneska sedang memilih gado-gado untuk mengganjal perutnya dan segelas teh hangat. Sambil menunggu makanannya di siapkan Aneska melihat ponselnya.


"Ya ampun layar ponselku udah retak lagi. Mau beli enggak ada uang." Gerutu Aneska sambil melihat nasib ponselnya.


"Syukur masih bisa di gunakan." Ucap Aneska sambil membaca beberapa pesan salah satunya dari ibunya, isi pesannya.


Kalau kamu tidak sibuk, hubungi ibu.


Aneska mau menghubungi ibunya tapi tiba-tiba pria yang seharusnya jadi suaminya duduk di depannya.


"Bu, kopi satu." Teriak Zidan kepada pemilik kantin.

__ADS_1


"Mau apa kamu di sini." Ucap Aneska ketus.


"Aku mau menanyakan kabar kamu." Jawab Zidan.


"Kamu lihat, aku sehat dan tidak kurang apapun." Jawab Aneska ketus.


"Aku senang kalau kamu dalam keadaan baik-baik saja. Bagaimana bisa tuan Farid melakukan ini." Tanya Zidan.


"Aduh jangan tanya bagaimana bisa, akupun tidak tau yang jelas dia gila." Ucap Aneska marah.


Zidan memandangi wajah Aneska yang manis.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? jangan berpikiran aneh ya! kalau sampai Abian tau kamu melihatku pasti dia bisa menghajarmu." Ucap Aneska memperingati Zidan.


"Iya aku tau, suami kamu seperti hewan." Ucap Zidan.


"Jelas dia bersikap seperti hewan, istrinya mau di bunuh!" Aneska marah.


Zidan bingung dengan sikap Aneska yang marah dan membela suaminya. Karena di awal wanita di depannya sangat benci sama Abian.


"Kamu membelanya?"


"Iya, dia sudah menjagaku dan menaikkan derajatku." Jelas Aneska.


"Apa itu tandanya kamu sudah menyukainya." Tanya Zidan.


Mendengar pertanyaan pria di depannya, Aneska langsung diam. Dia bingung kenapa Abian di belanya bahkan disanjungnya.


"Aku mau makan, jadi sebaiknya kamu jangan merusak selera makanku." Ucap Aneska sambil mulai menikmati makanannya.


"Aku mau minum." Jawab Zidan.


Aneska bukan perempuan yang bisa diam, apalagi ada pria di depannya. Dari pada pria di depannya terus memandangnya, Aneska mencoba mulai obrolan kembali.


"Bagaimana keadaan Farid." Tanya Aneska.


"Kondisinya kritis." Jawab Farid.


"Apa! berarti parah banget ya?" Aneska khawatir.


"Iya, hampir seluruh wajahnya luka." Ucap Zidan.


"Aduh kasihan, apa wajahnya di operasi." Tanya Aneska lagi.


"Dokter belum merekomendasikan untuk melakukan operasi." Ucap Zidan.


"Mungkin dokter masih menunggu lukanya sembuh." Timpal Aneska.


"Mungkin juga, kenapa kamu tau?" ucap Zidan.


"Aku perawat om, setidaknya hal seperti itu aku tau." Ucap Aneska sambil menikmati makanannya.


"Om lagi." Gumaman Zidan terdengar Aneska.


"Apa ada yang memanggil kamu om?"


"Ada, dan kamu yang ketiga. Heran apa wajahku tua banget sampai kamu dan dua perawat memanggilku om." Gerutu Zidan.


"Entah, menurutku kamu tidak tua, dan panggilan itu hanya spontanitas saja." Ucap Aneska.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2