Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 116


__ADS_3

Teriakan Tanisa membuat Farid panik. Dia langsung mengambil ponselnya dan memutuskan panggilan itu.


"Kurang ajar, kamu mau cari mati!" Tok Farid membenturkan kepala istrinya ke dinding sehingga membuat Tanisa pingsan.


"Dasar wanita murahan!" ucap Farid seraya membenturkan kembali kepala istrinya ke dinding.


Farid buru-buru keluar dari kamar dan membawa barang-barangnya.


***


Abian langsung menghentikan makannya.


"Kita pulang sekarang." Ucap Abian sambil meninggalkan beberapa lembar uang di meja.


"Kenapa?" tanya Aneska bingung. Dia melihat raut wajah suaminya tegang tidak ada sunggingan senyum yang sedari tadi selalu di tunjukkan Abian ke dirinya.


Abian tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dia menggandeng tangan istrinya membawa ke basement.


"Ponselnya bagaimana?" tanya Aneska di sela-sela mereka berjalan menuju basement.


"Mereka kenal denganku, mereka akan menghubungi jika ponsel sudah selesai di perbaiki." Jawab Abian dengan langkah yang sedikit lebar. Aneska harus mengimbangi langkah suaminya dengan cara berlari kecil.


Dia masih belum tau, kenapa suaminya mengajaknya pulang. Aneska tidak ingin menanyakan ke suaminya karena dia tau suaminya sedang menahan amarah.


Supir sudah berada di basement, karena Abian sudah mengatakan ke supir untuk selalu stand by di basement.


Di dalam mobil Abian langsung mengambil ponselnya. Dia menghubungi maminya.


"Cepat angkat." Gumam Abian sambil menggerakkan ponselnya.


Aneska melirik ponsel suaminya, ada nama mertuanya di situ. Aneska berinisiatif menghubungi oma dan yang pertama menjawab panggilan itu oma.


"Iya Aneska ada apa?" tanya oma dari ujung ponselnya.


"Ini Abian." Aneska menyerahkan ponsel ibunya ke Abian.


Abian langsung menyambar ponsel itu.


"Oma, jangan kasih Farid keluar dari istana!" titah Abian.


"Kenapa Abian?" tanya omanya bingung.

__ADS_1


"Oma aku tidak bisa menjawab pertanyaan oma, kita bukan sedang tanya jawab ikuti perintahku." Ucap Abian tegas.


"Iya Abian." Panggilan langsung terputus. Dan panggilan Abian ke maminya di jawab.


"Iya Abian ada apa?" tanya maminya dari ujung ponselnya.


"Jika terlalu berat membawa ponsel besok aku sita ponsel mami!" ucap Abian marah karena maminya lama mengangkat panggilannya.


Nyonya Rona bingung dengan sikap anaknya yang tiba-tiba marah. Karena seingatnya anaknya sudah tidak marah atas perbuatannya dan hukuman tentang tidak dapat uang belanja selama enam bulan sudah di sepakati.


"Maaf tadi ponsel mami silent." Jawab maminya pelan.


"Pergi ke kamar Tanisa dan jangan izinkan Farid keluar dari kamar!" titah Abian penuh ketegasan.


"Tapi kenapa?" tanya maminya bingung.


"Mami ikuti perintahku, mami akan dapat jawabannya di sana." Abian langsung menutup panggilannya.


"Apa lagi yang di perbuat Farid." Gumam nyonya Rona sambil berjalan menuju lift.


Abian menghubungi ibu Tatik, kepala pelayan di istana itu, dan lagi-lagi wanita paruh baya itu menanyakan alasan tuannya.


Oma lari kucar kacir memerintahkan para pelayan untuk menahan Farid keluar dari istana begitupun ibu Tatik juga memerintahkan hal yang sama. Nyonya Rona tiba di lantai lima tempat di mana kamar dan semua kegiatan keluarganya berada.


Farid memutar otaknya dengan menggunakan lift khusus pelayan. Dia membawa semua perhiasan istrinya. Menurutnya hanya itu yang bisa digunakannya untuk bertahan hidup.


"Tuan anda di larang untuk keluar dari istana." Ucap ibu Tatik menghalangi pria di depannya.


"Siapa kamu berani menghalangiku!" ucap Farid marah dan mendorong tubuh wanita paruh baya itu. Ibu Tatik jatuh tersungkur dan itu di saksikan oma.


"Farid!" teriak oma.


"Apa oma mau menghalangiku juga?" tanya Farid seperti mengejek.


"Iya, oma tidak takut sama kamu!" ucap oma berani dan mendekat ke arah Farid.


Plak Farid langsung menampar oma.


"Tua bangka! sudah mau mati masih sok hebat!" ucap Farid seraya merapatkan giginya.


Tamparan itu sangat kuat sehingga membuat oma jatuh, pelayan mengerumuni Farid. Pria itu menarik ibu Tatik dan meletakkan pisau lipat di leher wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Berani mendekat aku bunuh dia!" ancam Farid seraya meletakkan ujung pisau di leher ibu Tatik.


Wanita paruh baya itu ketakutan, keringatnya sudah mengucur deras. Farid membawa ibu Tatik menuju mobilnya dan mendudukkan kepala pelayan itu di kursi depan di samping kursi pengemudi.


Para pekerja mengejar mobil itu dan berdiri di depan pagar untuk menghalangi Farid.


"Buka gerbangnya kalau tidak aku bunuh dia!" teriak Farid dari mobil sambil mengeluarkan sebagian kepalanya dari jendela mobil.


Pelayan tidak menginginkan ada pertumpahan darah, mereka menggeser tubuhnya dan membukakan gerbang. Mobil Farid langsung melaju, pelayan pria berusaha mengikuti dengan cara berlari dari belakang.


Farid melajukan mobilnya kira-kira sudah melaju tiga ratus meter dia memperlambat mobilnya dan mendorong ibu Tatik dari mobil. Tubuh wanita itu jatuh dan membentur aspal. Badannya lecet dan penuh luka. Pelayan pria yang mengikuti tadi langsung membantunya dengan cara membopong tubuh wanita paruh baya itu secara bersama-sama.


Nyonya Rona belum mengetahui kejadian di luar istana. Begitupun dengan Anggela, dia masih sibuk melakukan serangkaian perawatan di kamarnya.


Nyonya Rona mengetuk pintu kamar anaknya. Karena tidak ada sahutan dia membuka pintu dan memasukkan sebagian kepalanya ke kamar. Wanita paruh baya itu melihat isi lemari yang telah keluar dari tempatnya. Dan kotak perhiasan anaknya telah kosong.


"Tanisa." Nyonya Rona panik dan langsung mencari anaknya di kamar mandi. Dia ingat jika sebelumnya Farid mengatakan kalau Tanisa sedang di kamar mandi.


Ketika pintu kamar mandi di buka. Nyonya Rona teriak histeris.


"Tanisa...." Nyonya Rona mendekati anaknya yang duduk di lantai. Kepalanya menempel ke dinding dan darah mengalir dari dahi anaknya.


"Tanisa bangun sayang bangun." Nyonya Rona teriak histeris sambil memeluk anaknya. Wajah anaknya babak belur tidak tau apa yang di perbuat Farid kepada anaknya. Perbuatan Farid kepada Tanisa, membuatnya merasa murka dan bersalah atas perjodohan yang dilakukannya.


Ponselnya nyonya Rona berdering kembali, Abian menghubunginya.


"Abian, Tanisa Abian." Ucap maminya menangis. Abian mengepalkan tangannya dan memukul kursi mobil secara berulang. Aneska melihat kemarahan suaminya untuk yang ketiga kali, pertama pada saat dia memukul Farid karena telah berani memukul dan mencekiknya, yang kedua karena permasalahan pencurian yang di lakukan Farid di perusahaan Bassam dan yang ketiga karena ulahnya Farid lagi. Walaupun dia belum tau apa yang di lakukan Farid, tapi dia bisa menebak kesalahan yang fatal terjadi lagi.


"Hubungi Arif." Ucap Abian dan langsung menutup panggilannya.


Oma Zulfa menghubungi cucunya.


"Farid berhasil kabur, oma dan pelayan yang lainnya tidak bisa menghalanginya." Ucap oma sambil memegang pipinya yang serasa kebas karena baru mendapatkan tamparan dari Farid.


"Halangi jalan Farid, jangan kasih dia keluar." Ucap Abian ke supirnya.


"Baik tuan." Ucap supir itu.


"Jalan menuju istana Bassam hanya ada satu, mau lari kemana kamu Farid." Ucap Abian sambil merapatkan giginya menahan amarahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2